Psikopat Cinta

Psikopat Cinta
Curiga Pada Emeli


__ADS_3

Dalam suasana duka, Jasmine pun juga ketakutan akan teror yang ada di kaca riasnya. Karena dia sekarang hidup seorang diri di rumah warisan yang sebenarnya milik Salsa yang telah dirampas paksa oleh Jasmine.


Jasmine segera ke dapur karena ketakutan dan dia membuat secangkir hot cokelat untuk menenangkan pikirannya karena semua masalah dalam hidupnya.


"Kenapa, sekarang hidupku jadi tidak tenang begini sih. Baru saja kehilangan Bella, sekarang juga harus kehilangan Monik. Dan sekarang ada teror di kaca riasku." kata Jasmine yang mengambil secangkir hot cokelat di dapur.



Emeli menjenguk Salsa yang masih koma dan berbicara pada Salsa ;


"Tinggal selangkah lagi Salsa, satu orang lagi yang membuat hidup kamu selama bertahun tahun menderita mereka harus tewas mengenaskan tapi sebelum kematian mereka harus hidup dalam ketakutan terlebih dahulu biar dia rasakan penderitaan kamu selama ini Salsa. Dan kamu harus tetap semangat ya Salsa, kamu lawan koma kamu Sahabatku. Aku di sini sangat merindukan kamu Salsa." kata Emeli yang menangis sedih.


Aleta sangat sedih akan kepergian Monik, dia menangis seorang diri di kamar sambil memandangi foto Monik dan Vero.


Waktu pernah foto bertiga di kampus.


"Kenapa, kenapa kalian berdua harus pergi meninggalkan aku. Vero aku kangen sama kamu, baru saja aku kehilangan kamu. Sekarang aku harus kehilangan Monik juga." kata Aleta sambil menangis.


Bima datang menghampiri Aleta untuk menenangkan adik tercintanya.


"Aleta, kamu yang sabar ya Let." kata Bima dan Aleta langsung memeluk Bima.


"Kakak....." kata Aleta menangis dalam pelukkan Bima.


"Kakak ngerti kok kalau kamu lagi sedih akan kematian kedua sahabat kamu, tapi kakak minta kamu jangan terus terpuruk ya. Kamu harus bangkit ya sayang, kakak percaya kalau kamu itu orang yang sangat kuat sayang. Kamu pasti bisa melewati ini semua Aleta." kata Bima.


"Iya kak." kata Aleta.


"Sekarang kalau mau menangis, menangislah sepuas hati kamu. Tapi besok kamu harus kembali semangat seperti sedia kala." kata Bima tersenyum.


"Baik kak." kata Aleta.


"Ya sudah kakak tinggal dulu ya sayang." kata Bima yang langsung keluar dari kamar Aleta.


Jasmine pun tertidur setelah meminum hot cokelat, dalam mimpi Jasmine bertemu dengan kedua anak anaknya Monik dan Bella yang mengajak Jasmine untuk pergi ke alamnya.


"Mama, ayo ma temanin Bella di sini ma, Bella kangen sama mama." kata Bella melambaikan tangannya mengajak Jasmine.


"Kita kumpul lagi di sini ma, mama sayang kan sama Monik dan Bella, ayo ma ikut bersama kami ma." kata Monik sambil melambaikan tangannya mengajak Jasmine.


"Bella....Monik...." panggil Jasmine karena mimpi diajak oleh kedua anaknya. Tidur Jasmine pun tidak nyenyak.


"Ayo....ma ayo ikut ma." kata Monik dan Bella sambil manggil manggil Jasmine.


"Tidak Monik tidak Bella....mama tidak mau ikut dengan kalian, maafkan mama sayang." kata Jasmine yang langsung terbangun dengan nafas yang ngos ngosan.


"Monik, Bella mama kangen kalian. Maafkan mama sayang karena mama tidak bisa memenuhi ajakkan kalian." kata Jasmine sedih.


Di setiap koridor kampus banyak orang yang membicarakan kematian Monik.


"Kok anehnya, di kampus ini banyak mahasiswi yang mati mengenaskan." kata Luna.



"Iya, ih aku jadi takut deh. Lama lama kampus ini sangat menyeramkan sekali banyak pembunuhan misterius dan mahasiswa yang hilang tiba tiba." sambung Rania.



"Tapi, aneh ya. Kok aku jadi curiga sama Emeli sih." kata Metha.


"Kok kamu bisa berpikir seperti itu sih Meth." kata Rania.

__ADS_1


"Iya benar Meth, kamu kok bisa berfikir seperti itu." kata Luna.


"Kalian pikir aja sendiri, karena korbannya itu yang mati mengenaskan setelah berantem sama Emeli." kata Metha.



"Hemmm, masuk akal juga sih kamu Meth, tapi apa mungkin Emeli bisa berbuat senekad itu." kata Luna ragu.


"Ya maybe karena rasa sakit itu bisa melakukan apa saja jadi hilanglah otak kewarasannya." kata Metha.


"Hem......kamu benar juga Meth." kata Rania.


Ternyata perbincangan tiga mahasiswi itu di dengar oleh Vera dan Aleta juga Gracia dan Retta.


"Tuh kan Aleta jadi selama ini. Mereka juga mencurigai Emeli, seperti aku yang mencurigai Emeli." kata Vera.


"Iya sepertinya kecurigaan mereka masuk akal. Karena semua korbannya itu yang hilang ataupun tewas setelah berantem sama Emeli." kata Aleta.


"Dengar tidak Gracia, mereka membicarakan Emeli. Apa benar yang mereka tuduhkan ya kalau dalang di balik kematian Monik dan Vero itu karena ulah Emeli." kata Retta.


"Hem.....aku juga tidak tahu (mikir) karena setahu aku Emeli tidak mungkin melakukan pembunuhan itu." kata Gracia.


"Tapi aku jadi curiga deh, sebenarnya kematian Amanda itu bukan karena bunuh diri tapi karena di bunuh." kata Retta yang membuat Gracia kaget melihat Retta yang penuh curiga.


"Masa sih, kalau itu benar. Kita harus cari pembunuh Amanda. Lalu kita balaskan dendam Amanda." kata Gracia.


"Maka itu Grac kita harus cari tahu." kata Retta.


"Iya kamu benar Retta, kita harus awasi Emeli. Meski aku sendiri sih tidak yakin kalau Emeli yang melakukan semua itu, Tapi tidak ada salahnya juga kan kalau Emeli adalah target utama kita yang perlu diawasi." kata Gracia.


"Yupz....betul." kata Retta.


Tapi ternyata Emeli mendengar percakapan Gracia dan Retta juga mahasiswi lainnya.


Vera dan Aleta mulai menyelidiki Emeli begitu juga dengan Gracia dan Retta yang mengikuti Emeli. Emeli sebenarnya tahu kalau dirinya lagi diikuti tapi Emeli pura pura tidak tahu. Dan Emeli pun melakukan hal yang tak di curigai. seperti membaca buku di perpustakaan, ke kamar mandi, dan makan.


"Retta, kayanya tidak ada deh gerak gerik yang mencurigakan dari Emeli." kata Gracia.


"Hem, iya juga ya. Berarti dugaan kita salah dong." kata Retta.


"Eh, belum tentu." kata Vera yang tiba tiba datang di belakang Gracia dan Retta bersama Aleta.


"Kalian baru mengikuti Emeli hanya di kampus aja kan." kata Vera.


Maksudnya." kata Gracia dan Retta serentak.


"Coba kalian ikuti Emeli bukan hanya di kampus melainkan setelah selesai kuliah kalian tetap mengikuti Emeli." saran Vera.


"Iya betul, dia tidak mungkin membunuh seseorang kan kalau masih di lingkungan kampus." sambar Aleta.


Gracia dan Retta pun diam sejenak mikir.


"Hem, benar juga kalian berdua. Kok oneng ya kita berdua tidak kepikiran sampai ke situ." kata Gracia menggaruk garuk kepalanya.


"Baiklah aku akan ikuti Emeli terus setelah pulang kuliah." kata Retta.


Setelah pulang kuliah pun Emeli langsung menjenguk Salsa di rumah sakit. Tapi di saat Emeli berjalan di koridor rumah sakit yang sepi ada seorang wanita memakai jaket hitam dan bermasker mengikuti Emeli.


"Rett....Retta.....itu siapa....wanita yang mengikuti Emeli." kata Gracia khawatir.


"Oh iya sepertinya wanita itu mau berbuat jahat pada Emeli." kata Retta.

__ADS_1


"Awas Emeli....." teriak Gracia dan Retta.


Tiba tiba Emeli terkena pisau di lengan tangannya hingga mengeluarkan darah segar.


"Awww......" teriak Emeli yang terjatuh karena kaget dan memegang lengannya.


Lalu Gracia dan Retta pun mengejar wanita yang berjaket hitam dan bermasker itu yang lari ketakutan karena kaget.


"Woy tunggu." kata Gracia dan Retta serentak yang lari menghampiri Emeli. Tapi wanita bermasker itu larinya sangat cepat hingga tak bisa di tangkap.


"Emeli kamu tidak apa apa kan." kata Gracia.


"Iya aku tidak apa apa." kata Emeli kesakitan.


"Ya ampun kamu terluka Emeli, kamu harus segera diobati lengan kamu Emeli. Kalau tidak nanti bisa infeksi." kata Retta.


"Iya terima kasih ya.....kalian sudah nolongin aku kalau tidak, mungkin nasib aku akan sama seperti mahasiswi lain yang tewas sangat mengenaskan." kata Emeli yang dituntun oleh Gracia dan Retta ke dokter untuk mengobati tangannya yang terluka.


Gracia dan Retta menunggu Emeli diobati.


"Ternyata kita salah paham pada Emeli, untungnya tadi kita mengikuti Emeli. Kalau tidak, aku tidak tahu Rett apa yang akan terjadi pada Emeli. Pasti dia akan jadi korban pembunuhan selanjutnya. Dan kita akan kehilangan teman kita lagi di kampus." kata Gracia.


"Iya kamu benar Grac, kasihan Emeli kalau dia juga harus mati mengenaskan. Selama ini di kampus hidup Emeli sudah menderita, kasihan Emeli kalau dia harus mati mengenaskan juga untunglah kita datang tepat waktu." kata Retta.


Emeli keluar dari ruang perawatan tangannya sudah diperban.


"Kamu tidak apa apa kan Emeli." tanya Gracia.


"Iya tidak apa apa." kata Emeli tersenyum.


"Kok kalian bisa ada di sini." tanya Emeli.


"Eh, i....iya tadi kebetulan ada saudara aku yang sakit. Makanya aku ngajak Gracia ke sini untuk menjenguk saudaraku. I....iya kan Gracia." kata Retta sambil menyenggol Gracia.


"Eh....i....iya Emeli." kata Gracia.


"Oh gitu." kata Emeli tersenyum.


"Ya sudah kalau gitu kita pulang dulu ya Emeli." kata Retta pamit.


"Iya sudah malam nih." kata Gracia.


"Oh oke deh, kalian hati hati ya." kata Emeli tersenyum menyambut kepergian Retta dan Gracia.


"Akhirnya rencana aku berhasil. Mereka tidak curiga lagi padaku, tidak apa apalah tanganku luka asal mereka berhenti mencurigaiku lagi. Besok sepertinya akan heboh di kampus kalau aku hampir jadi korban pembunuhan." kata Emeli tersenyum.


Flasback ;


Emeli menemui seorang wanita yang berjaket hitam dengan kupluknya lalu menggunakan masker hitam.


"Ini aku bayar, asal kamu mau nurutin permintaanku." kata Emeli.


"Permintaan apa." kata Vanza wanita bermasker hitam.



"Hari ini aku mau ke rumah sakit. Dan kamu harus pura pura mengikuti aku lalu kamu lukai tangan aku pakai pisau ini. Tidak apa apalah sampai berdarah biar mereka tidak curiga lagi sama aku. Lalu kamu langsung lari ninggalin aku sebelum mereka berhasil menangkap kamu karena kalau sampai tertangkap rencana kita akan berantakan, setelah itu selesai kita tidak ada urusan apa apa lagi. Ini aku bayar di muka." kata Emeli memberi segepok uang dengan amplop coklat.


"Oke, kalau gitu. akan aku laksanakan bos." kata Vanza.


Setelah kepergian Vanza Emeli tersenyum. Emeli menemui Vanza ketika mereka lengah, setelah menyusun rencana itu Emeli sengaja melewati jalan yang ada Gracia dan Retta nya biar rencananya berjalan lancar. Ternyata rencana Emeli berjalan lancar dan Gracia juga Retta tak mencurigai Emeli lagi.

__ADS_1


Emeli seorang gadis psikopat jadi Emeli berani tangannya terluka dengan membayar orang lain untuk pura pura membunuhnya agar tak ada yang curiga padanya kalau selama ini Emeli adalah seorang Psikopat berdarah dingin.


* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘


__ADS_2