
Azka datang ke rumah Rania dan Rania memperkenalkan Azka pada Safira.
"Sayang ini Safira teman baruku waktu itu aku bertemu dengannya pas dia dikejar oleh mantan pacarnya dan kedua temannya karena mau diperkosa lalu aku menolongnya." ujar Rania tersenyum.
"Oh iya Bima pacarnya Emeli." Kata Bima mengulurkam tangannya.
"Jahat banget ya mantan kamu. Ada ya laki laki yang ingin memperkosa pacarnya bareng dengan temannya berarti itu laki laki yang tidak setia karena ingin pacarnya di sentuh oleh laki laki lain." Kata Bima.
"Ya begitulah Kak, untung aku ketemu dengan Emeli. Kak Bima beruntung loh punya pacar sebaik Emeli." Kata Safira memuji Emeli.
"Iya sangat beruntung sekali." Kata Bima memandang Emeli penuh cinta.
"Kamu bisa saja Safira, dan mirisnya lagi Kak dia itu difitnah oleh ketiga laki laki berengsek itu di depan Kakaknya, terus ternyata kakaknya lebih percaya kepada ketiga pria itu karena teman SMP nya dibandingkan adik kandungnya sendiri parah kan Kak." Kata Emeli.
"Iya parah banget sih kakak kamu. Kok bisa ya seorang kakak tidak percaya sama adik kandungnya sendiri malah lebih percaya dengan teman SMP nya itu, mentang mentang ketiga pria itu teman SMP nya harusnya kakak kamu percaya pada kamu." Kata Bima kesal.
"Iya Kak aku juga bingung kepada Kakak aku, kok bisa tega meragukan cerita dari Adiknya sendiri padahal aku bicara yang sebenarnya Kak." Kata Safira sedih.
"Ya sudah kamu sabar saja ya Safira, nanti juga suatu saat mata Kakak kamu akan terbuka lebar dan melihat kebenarannya." Kata Bima menenangkan Safira.
"Iya Kak terima kasih, kalau gitu lanjutkan deh Kak bicaranya pada Emeli, saya mau permisi dulu ke kamar." Kata Safira.
"Oh oke deh Safira. Tenangkan pikiran kamu dulu ya." Kata Bima.
"Iya Kak." Kata Safira.
Setelah Safira ke kamarnya.
"Kasihan ya Kak Safira." Kata Emeli.
"Iya makanya kamu sebagai teman barunya harus menghibur dan selalu melindungi Safira biar dia tidak putus asa dan merasa sendiri ya sayang." Kata Bima menasehati Emeli.
"Iya Kak Emeli akan selalu menjaga dan melindungi Safira. Meski Emeli baru kenal sama Safira tapi Emeli yakin kalau Safira itu teman yang baik." Kata Emeli.
"Iya itu bagus, Kakak bangga sama kamu Emeli yang masih mau peduli sama orang yang baru di kenalnya. Pertahankan terus ya Emeli sifat baik kamu." Kata Bima.
"Iya Kak." Kata Emeli tersenyum dan saling bertukar pandang terhanyut dalam cinta.
Safira sangat sedih karena Kakaknya Tasya tidak pernah mencari Safira apa lagi untuk menyuruhnya kembali ke rumah. Hari kian berganti Safira selalu melampiaskan kesedihannya dengan buku diary kesayangannya semua di tumpahkan oleh Safira, Safira juga merasa tidak enak karena menumpang terlalu lama di rumah Emeli. Sudah seminggu Safira menumpang menginap di rumah Emeli.
"Kak Tasya kenapa Kakak begitu tega tidak mencari Safira Kak. Padahal Safira sayang dan kangen banget sama Kak Tasya. Apa Kakak sudah lupa akan janji Kakak kepada Papa dan Mama untuk selalu menjagaku apa pun yang terjadi. Tapi kenapa Kakak malah seperti ini padaku. Mengusirku dan tidak percaya akan kejahatan teman teman Kakak padaku, aku kecewa Kakak lebih percaya kepada mereka bertiga dari pada mempercayai aku sebagai Adik kandung kakak sendiri." Kata Safira sedih, kedua netranya mengeluarkan airmata, Emeli pun masuk ke kamar Safira dan melihat Safira yang sedang menangis.
"Safira." Panggil Emeli, Safira pun menengok ke arah Emeli.
"Emeli." Kata Safira kaget yang langsung menghapus airmata Safira.
"Maaf ya aku tidak sopan dan lancang masuk ke kamar kamu tanpa permisi, tapi aku tadi mendengar kamu menangis." Kata Emeli.
"Iya Emeli tidak apa apa kok." Kata Safira.
"Safira kamu pasti sangat sedih sekali ya, Kakak kandung kamu tidak peduli dengan keberadaan kamu. Kamu yang sabar ya sayang." Kata Emeli.
"Iya Emeli terima kasih. Terima kasih karena kamu telah mengizinkan aku untuk menumpang menginap di rumah kamu. Aku merasa tidak enak sekali sama kamu selalu merepotkan kamu." Kata Safira.
"Ah.....kamu tidak merepotkan aku kok Safira, aku malah senang banget kamu menginap di rumahku jadi aku tidak merasa kesepian lagi karena ada kamu yang temanin aku." Kata Emeli.
"Kamu memang baik sekali Emeli, beruntung banget orang tua kamu memiliki kamu. Dan pasti Mama Papa kamu tenang di alam sana." Kata Safira.
Emeli hanya tersenyum.
"Kamu tidak tahu Safira kalau Ayahku sebenarnya masih hidup. Tapi dia sudah menghancurkan keluarganya sendiri maka itu dia sudah mati dalam hatiku dan aku kubur hidup hidup kenangan buruk waktu bersama Ayah. Dan kamu tidak tahu Safira kalau Ayahku tidak menginginkan aku hadir dalam hidupnya justru dia mencampakan dan menelantarkan aku." Batin Emeli.
"Ya sudah ayo kita sarapan, aku sudah buat sarapan untuk kita. Sudah itu seperti biasa aku antar kamu ke kampus ya." Kata Emeli.
"Iya Emeli terima kasih." Kata Safira yang langsung menaruh foto dan buku diary di tasnya Safira lalu bangun dari tempat tidurnya.
Selesai sarapan Safira dan Emeli pergi ke kampus.
"Nanti pulang kampus kita ke rumah sakit yuk." Kata Emeli.
"Rumah sakit (bingung) memang siapa yang sakit Emeli." Tanya Safira.
"Sahabatku dia bernama Salsa. Nasibnya sungguh tragis dia dicelakai oleh saudara tirinya dan sempat tidak sadarkan diri di rumah sakit tapi syukurlah sekarang Salsa sudah siuman." Kata Emeli.
"Syukurlah." Kata Safira tersenyum.
"Iya aku mau kenalin kamu dengan Salsa dia juga orangnya sangat baik sekali ceer sama teman. Pasti kamu juga cocok berteman dengan dia Safira." Kata Emeli.
"Oh iya boleh tuh Emeli." Kata Safira.
"Ya sudah nanti aku jemput ya Safira pulang kuliah." Kata Emeli.
"Oke Emeli." Kata Safira yang turun dari mobil yang berhenti karena sudah sampai kampus Anggrek Biru.
Safira ingin masuk ke kampus lalu Aldo datang menemui Safira.
"Safira tunggu." Kata Aldo.
"Kamu (kaget) mau apa lagi kamu ke sini. Belum puas kamu dan kedua teman kamu membuat aku menderita. Kamu dan kedua teman kamu sudah membuat Kak Tasya membenci aku dan mengusirku dari rumah." Kata Safira tersirat dari matanya sinar kebencian terhadap Aldo.
"Aku ke sini mau berdamai sama kamu Safira." Kata Aldo.
"Berdamai hahahaha.......(tertawa) orang licik seperti kamu ingin berdamai denganku. Kak Aldo Kak Aldo kamu pikir aku percaya dengan omongan kamu Kak Aldo." Kata Safira.
"Hayolah Safira, aku cuma ingin berdamai. Aku ingin kita pacaran lagi seperti dulu, karena aku benar benar mencintai kamu Safira. Dan aku janji aku akan memperbaiki hubungan kamu dengan Kakak kamu Safira." Kata Aldo.
"Apa cinta (sinis) hahahaha.....(tertawa) kamu tidak cinta sama aku Kak tapi kamu hanya melihatku penuh nafsu, jadi aku tidak sudi balikkan sama laki laki yang sudah menghancurkan hubungan baikku dengan kak Tasya hingga Kak Tasya tega mengusirku kak Aldo jadi lebih baik pergi dan jangan pernah hadir lagi dalam hidupku karena aku sudah muak dengan kamu Kak Aldo." Kata Safira penuh emosi dan langsung masuk ke kampus.
Safira ke toilet dan menangis.
"Sebenarnya aku juga masih cinta sama kamu Kak Aldo, tapi kamu sudah tega menghancurkan hubungan aku dengan Kakak aku." Kata Safira bicara dalam heningnya toilet kampus.
Setelah pulang kuliah Emeli menjemput Safira.
"Emeli tadi Kak Aldo datang ke kampusku." Kata Safira.
"Apa.....Kak Aldo datang ke kampus kamu (kaget) terus dia apain kamu Safira." Kata Emeli.
"Dia sih tidak apa apain aku Emeli, tapi tadi Kak Aldo ngajak aku balikkan dan dia janji akan memperbaiki hubungan aku dengan Kak Tasya." Kata Safira.
"Terus kamu mau Safira." Tanya Emeli.
"Memangnya aku orang bodoh Emeli, aku sudah tahu sifat Kak Aldo itu licik dan berengsek, ya jadi aku tidak mau jatuh ke lobang yang sama." Kata Safira.
"Cerdas sekali." Kata Emeli tersenyum.
Salsa lagi memikirkan kedua saudaranya yang tewas mengenaskan dan hatinya pun bertanya mengapa mama tirinya tidak datang menjenguknya.
"Mama ke mana ya kok Mama tidak pernah datang menjengukku mungkin karena Mama bukan Mama kandungku jadi Mama tidak peduli sama aku." Kata Salsa sedih.
Emeli dan Safira datang menjenguk Salsa yang lagi bersedih.
"Salsa....." Kata Emeli tersenyum.
"Eh.....Emeli." Kata Salsa.
"Gimana keadaan kamu hari ini." Tanya Emeli.
"Keadaan aku hari ini cukup baik kok." Kata Salsa.
"Syukurlah kalau kamu sudah baikkan nanti pasti akan cepat pulang." Kata Emeli.
"Oh iya ini siapa." Tanya Salsa.
"Oh iya kenalkan ini Safira teman baruku. Kasihan dia diusir kakaknya dari rumah gara gara fitnah mantan pacarnya dan temannya. Karena Kakaknya lebih percaya dengan mereka mantan pacarnya kan teman kakaknya." Kata Emeli.
"Ya ampun kasihan banget kamu sabar ya, aku Salsa. Memangnya fitnah apa sih." Tanya Salsa kepo.
__ADS_1
"Waktu itu aku diajak ke ulang tahun teman mantan aku tapi di sana mereka bertiga malah mabuk mabukkan dan setelah mereka mabuk malah aku mau diperkosa oleh mantanku dan kedua temannya. Aku ngadu ke kakak aku eh mereka malah mereka memutar balikkan fakta kalau aku yang mengkhianati mantanku dan mau meninggalkannya makanya mereka bilang ke kakakku kalau aku mengarang cerita menuduh mereka bertiga ingin memperkosa aku." kata Safira sedih.
"Ya ampun jahat banget sih mereka Safira. Laki laki memang berengsek ya." kata Salsa kesal.
"Ya begitulah." kata Safira.
Keesokan harinya seperti biasa Emeli mengantar Safira ke kampus. Safira sangat sedih memikirkan kakaknya yang tak pernah mencari nya dan peduli padanya. Di taman kampus dia menulis kesedihannya itu di buku diary miliknya tak terasa airmata mengucur deras di pipinya. Mengingat kenangan indah dengan kakaknya saat belum pacaran dengan Aldo, Tasya sebenarnya sangat menyayangi Safira tapi fitnah itu sangat kejam hingga membuat kakaknya tak lagi mempedulikan adik kandungnya.
Pulang kuliah Emeli yang ingin menjemput Safira ke jebak macet hingga lama Safira menunggu tapi Emeli sudah mengabari lewat hp. Suasana kampus sangat sepi mahasiswa mahasiswi sudah pada pulang ke rumahnya. Aldo, Billy, dan Ray yang ingin pergi ke rumah Tasya melihat Safira menunggu sendiri duduk di dekat kampus.
"Al lihat itu, itu kan mantan kamu Safira." kata Billy.
"Oh iya Bill. Kok dia sendirian aja sih, dia lagi nunggu siapa ya." kata Aldo bingung.
"Kaya nya ini kesempatan kita untuk melanjutkan aksi kita yang kemarin yang tertunda di ultahnya Billy. Mumpung lagi sepi." kata Ray berfikir jahat.
"Hem itu ide yang bagus. Aku juga lagi pengen neh." kata Aldo tertawa yang segera memberhentikan mobilnya.
"Neng belum pulang." tegur Obet satpam kampus.
"Belum pak lagi nunggu teman aku jemput." jawab Safira.
"Oh ya udah bapak mau beli kopi dulu ya." kata Obet yang tak menutup gerbang kampus dan kemudian ke warkop.
Tiba tiba Aldo, Billy, dan Ray datang menghampiri Safira.
"Hai cantik." tegur Aldo.
"Kok sendiri aja." sambar Billy.
"Lagi nunggu siapa." tanya Ray.
Safira kaget melihat Aldo, Billy, dan Ray.
"Mau apa lagi kak Aldo ke sini bukannya sudah aku katakan kemarin aku tidak mau balikkan lagi sama kak Aldo."
"Aku ke sini tidak mau ngajak kamu untuk balik lagi sayang." kata Aldo.
"Terus mau apa kamu dan teman teman kamu ke sini." tanya Safira sinis.
"Ya mau bersenang senanglah dengan kamu, melanjutkan yang tertunda kemarin di ulang tahun Billy. Siapa suruh kamu menolak balik lagi padaku, Tidak apa apa aku tidak balik lagi sama kamu tapi aku ingin merasakan tubuh kamu yang indah Safira sayang." kata Aldo.
"Ti......Tidak mau. Tolong jangan macam macam sama aku.....atau aku akan berteriak....." ancam Safira.
"Hayolah sayang nikmati aja, kita akan bersenang senang hari ini." kata Aldo.
"Tidak......jangan.......tolong.....tolong." teriak Safira yang kemudian berlari ke dalam kampus dan Aldo, Billy, Ray mengejar Safira.
"Mau kemana kamu sayang ayo jangan lari." kata Aldo.
Safira terjatuh kemudian Aldo, Billy, dan Ray membawa Safira ke kelas yang kosong. Billy dan Ray memegang tangan Safira, Safira meronta ronta teriak minta tolong tapi tak ada yang mendengarnya.
Safira memukul Billy dan menggigit tangannya hingga teriak kesakitan, dan menendang keperkasaan Ray hingga kesakitan. lalu Safira ingin mencoba melarikan diri, tapi sewaktu Safira sampai pintu kelas Safira berhasil di tangkap oleh Aldo, Aldo menampar wajah Safira berulang kali hingga Safira tak berdaya.
"Billy, Ray cepat pegangin tangan Safira dan rebahkan di meja itu." perintah Aldo.
"Baik Aldo." jawab Billy dan Ray yang segera memegang tangan Safira kemudian merebahkan Safira di meja kelas.
"Ayo." kata Billy dan Ray.
"Tidak......tolong lepasin aku." kata Safira.
"Sudah nikmatin aja Safira, saatnya kita bertiga bersenang senang sama kamu, nanti setelah ini kamu juga kita lepasin." kata Aldo.
"Benar cantik nikmatin aja sekarang jangan menolak lagi." kata Ray.
"Iya sayang, kamu tenang ya. Nikmati aja semuanya oke cantik." kata Billy.
"Tolong......ja.....jangan lakukan itu padaku jangan......aaaaa......" teriak Safira penuh air mata.
"Astaga kok perasaanku jadi tidak enak begini ya, kenapa tiba tiba aku jadi kepikiran Safira (punya firasat buruk membunyikan klaksonnya tidak sabaran) aduh masih macet lagi." kata Emeli khawatir pada Safira.
Karena suasana kampus sepi jadi Aldo berhasil merenggut keperawanan Safira. Terus di gilir oleh Billy dan Ray.
"Terima kasih sayang." kata Aldo, Billy, dan Ray tertawa.
Selesai puas melakukan aksi bejadnya mereka pergi meninggalkan Safira yang sangat terpukul sekali dengan tertawa bahagia karena puas sudah melakukan aksi bejadnya.
Akhirnya Emeli putar balik dan melewati jalan sepi yang tidak macet memang agak jauh sih tapi itu satu satunya jalan yang lancar yang bisa di tempuh ke kampus Safira. Emeli membawa mobil dengan kecepatan tinggi karena rasa khawatirnya pada Safira.
"Aaaaa.....(teriak Safira) aku sudah kotor, kesucianku sudah direnggut oleh mereka. Mereka berhasil merenggut keperawananku yang selama ini aku jaga." kata Safira menangis histeris karena merasa kotor dan memukul mukul badannya penuh rasa jijik.
Safira mengambil buku diary di tasnya menumpahkan kesedihannya yang tak menyangka musibah buruk terjadi padanya tepat di kampusnya lalu Safira berjalan naik ke tangga rooftop kampus dengan keadaan lemas dan sempat terjatuh berapa kali karena kesedihannya.

"Aku sudah tak suci lagi lebih baik aku mengakhiri hidup aku. Kakak kenapa kakak tidak percaya pada aku kalau teman teman kakak itu berengsek, dia sudah berhasil memperkosa aku kak. Harusnya kakak percaya padaku dan menjagaku dari niat busuk teman teman kakak itu. Aku benci kak Tasya aku kecewa sama kak Tasya, kak Tasya jahat." teriak Safira menumpahkan kesedihannya di rooftop kampus.
Akhirnya Emeli sampai juga di kampus Safira. Dan memarkirkan mobilnya, lalu Emeli mencari Safira. Menelepon Safira pun nomernya Safira pun tidak aktif dan akhirnya Emeli pun bertanya pada satpam di kampus Safira.
"Kok nomer Safira tidak aktif ya (bingung) nah itu ada satpam, coba deh aku tanya." kata Emeli yang berjalan ke pos satpam.
"Pak maaf lihat Safira tidak ya." tanya Emeli.
"Tadi sih sebelum saya ke warkop neng Safira menunggu di bangku itu tapi setelah saya dari warkop neng Safira kok tidak ada bapak kira udah di jemput sama neng." kata Pak Obet.

"Belum kok pak, ya sudah saya izin ke dalam ya pak untuk mencari Safira." kata Emeli.
"Baik baik neng mari bapak bantu cari neng." kata pak Obet.
"Baik pak ayo......" kata Emeli.
"Neng Safira......neng Safira di mana?" kata pak Obet.
"Safira....Safira kamu di mana Safira." panggil Emeli.
"Selamat tinggal duniaku, aku sudah tak sanggup lagi hidup di dunia ini karena masa depanku telah hancur." kata Safira menangis dan akhirnya Safira melompat dari atas rooftop dengan terjatuh tepat di depan Emeli. Emeli kaget melihat Safira terjatuh bersimbah darah.
"Sa.....Safira." kata Emeli sedih kemudian memeluk Safira.
"Tolong pak satpam tolong." kata Emeli.
Pak Obet langsung berlari menuju teriakan Emeli.
"Ada apa neng ada apa." kata pak Obet.
"Tolong pak telepon ambulance Safira jatuh dari rooftop." kata Emeli.
"Ba.....baik neng baik." kata pak Obet.
"Safira kamu bertahan ya kamu pasti selamat." kata Emeli.
"Ti..... tidak Safira tidak a.....aku ti....tidak bi....bisa ber....bertahan lagi, a....aku se....sengaja bunuh di...diri." kata Safira terbata bata.
"Kenapa Safira kenapa kamu bunuh diri." kata Emeli menangis.
"Mereka....mereka su....sudah berhasil me...merenggut keperawananku Emeli." kata Safira terbata bata.
"Siapa siapa yang telah merenggut keperawan kamu Safira." tanya Emeli.
"A....Aldo,Bi.....Billy, dan Ra...Ray." kata Safira terbata bata.
"Apa (kaget) kurang ajar banget mereka. Maafin aku Safira, maafin aku karena telat menjemput kamu." kata Emeli penuh penyesalan.
"I....ini semua bukan sa....salah kamu Emeli, terima kasih ka....kamu su....sudah membantu a....aku se...selama ini. Ka...kamu me....memang sa....sahabat yang ba....baik. A....aku beruntung se....sekali kenal sa....sama kamu Emeli. To....tolong kasih bu....buku diary ini pa....pada kak Tasya." kata Safira sambil memberikan buku diary nya ke Emeli dan kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
__ADS_1
"Safira....Safira bangun Safira. Safira....." teriak Emeli histeris menangis.
Pak Obet datang membawa ambulance.
"Sudah terlambat pak nyawa Safira tidak tertolong lagi." kata Emeli sedih dan pak Obet pun ikut sedih akan tewasnya Safira. Kemudian Safira di angkat oleh ambulance. Dan Emeli membaca buku diary milik Safira. Dia melihat semua isi diary itu tertumpahkan semua kesedihan Safira dalam buku diary itu termaksud kejadian yang baru saja menimpanya sebelum Safira menghembuskan napas terakhirnya.
Emeli membaca buku diarynya penuh airmata yang mengalir deras di pipinya. Dia memeluk buku diary Safira dan mengingat kejadian indah bersama Safira. Lalu Emeli matanya mulai memancarkan dendam dan kebencian pada Aldo, Billy, dan Ray.
"Aldo, Billy, Ray kalian sudah membuat hidup Safira hancur. Tunggu aja pembalasanku kalian bertiga akan aku buat menderita terlebih dahulu sebelum kematian menjemput." kata Emeli sambil menggenggam tangannya penuh dendam.
Emeli ikut mengantar mayat Safira dengan mobil ambulance dia terus menangis memandang perih Safira yang sudah tak bernyawa lagi. Emeli ingin mengantarkan jenazah Safira ke rumah kak Tasya.
"Safira aku janji aku akan membalaskan dendam kamu kepada ketiga pria yang sudah menghancurkan hidup kamu. Mereka bertiga tidak akan aku biarkan hidup bebas setelah apa yang mereka lakukan pada kamu." kata Emeli bicara pada mayat Safira.
Aldo, Billy, dan Ray lagi bercanda ria bersama Tasya tanpa rasa bersalah terhadap Safira menyembunyikan kejadian yang baru saja dilakukan waktu di kampus.
Emeli mengetuk pintu rumah Tasya.
"Tok tok tok." suara ketukan pintu.
"Siapa ya yang mengetuk pintu rumah." kata Tasya bingung.
Aldo, Billy, dan Ray pun bingung sekaligus takut kalau yang mengetuk pintu itu Safira.
"Tunggu ya aku buka pintu dulu." kata Tasya.
"Baik Tasya." kata Aldo, Billy, dan Ray serentak.
"Al gimana nih takutnya itu Safira yang datang. Gimana kalau dia menceritakan semua kejadian waktu di kampus tadi kepada Tasya." kata Billy panik.
"Iya benar aku takut di penjara Al." sambar Ray.
"Kalian tenang aja pasti Tasya akan lebih percaya pada kita dari pada sama Safira." kata Aldo meyakinkan.
Tasya membuka pintu rumahnya dan kaget melihat Emeli.
"Kamu (kaget) mau apa kamu datang kemari." tanya Safira ketus.
Emeli melihat Aldo, Billy, dan Ray yang lagi tersenyum penuh kebencian dan dendam bersinar dari mata Emeli.
"Kak Tasya kakak harus tahu kalau ketiga pria itu bukan pria yang baik baik seperti yang kakak kenal." kata Emeli menujuk Aldo, Billy, dan Ray.
"Maksud kamu apa." kata Aldo yang berdiri dari sofa yang dia duduki.
"Kamu jangan pura pura tidak tahu deh kak. Kalian bertiga sudah menghancurkan masa depan Safira, kalian bertiga sebelum ke sini kalian ke kampus Safira dan memperkosa Safira. Iya kan jujur aja deh." kata Emeli.
"Lancang kamu bicara itu pada kami." kata Billy.
"Kalian bertiga tidak bisa mungkir lagi deh." kata Emeli menghampiri Aldo, Billy, dan Ray.
"Tasya tolong Tasya jangan percaya pada dia. Dia pasti mau membela Safira aja." kata Ray yang menghampiri Tasya.
"Membela....iya Safira memang pantas di bela karena di perlakukan tidak adil pada kalian termasuk kakak kandungnya sendiri yang lebih percaya pada temannya dibandingkan adik kandungnya sendiri." kata Emeli.
"Cukup lebih baik kamu pergi Emeli dari rumahku." kata Tasya mengusir Emeli.
"Kamu dengar kan Emeli, Tasya sudah mengusir kamu lebih baik kamu pergi daru sini." kata Aldo merasa puas.
"Iya tunggu apa lagi lebih baik kamu pulang dari sini Emeli." sambar Ray.
"Apa pun yang kamu katakan pasti Safira tidak akan percaya dengan omongan kamu. Jadi kalau kamu masih punya malu lebih baik kamu pergi dari rumahnya Tasya. Pergi sana......" kata Billy.
"Oke baik saya mau pergi lagi pula saya juga tidak mau berlama lama di rumah kakak kandung yang sudah jahat sama adik kandungnya sendiri." kata Emeli.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu Emeli." tanya Tasya ketus.
"Memang kak Tasya sangat jahat kan sama Safira. Kakak tega mengusir Safira adik kandung kakak sendiri dan tidak percaya dengan omongan dia. Pasti kakak akan menyesal sudah mengusir Safira dan tidak mempercayainya." kata Emeli.
"Eh udah di usir malah belum pergi juga, ayo pergi dari sini." kata Billy dan Ray yang memegang tangan Emeli berniat mengusirnya sebelum kejahatan Aldo, Billy, dan Ray terbongkar.
"Lepaskan......(melepas pegangan Billy dan Ray kasar) aku bisa pergi sendiri. Tapi tujuanku datang ke sini sebenarnya hanya untuk mengantar jenazahnya Safira saja yang meninggal karena bunuh diri setelah di perkosa oleh mereka bertiga." kata Emeli penuh emosi dan Tasya pun kaget mendengar kematian Safira.
"A....apa Safira tewas bunuh diri." tanya Tasya kaget.
"Bohong jangan percaya dengan dia Tasya. Dia hanya ingin membela Safira saja." kata Aldo mengelak.
"Kamu jangan mengelak kak Aldo, semua bukti ada di diary ini menunjukkan diary ke Aldo dan menatapnya tajam) Safira bunuh diri kampusnya itu semua karena mereka bertiga. Kalau Safira selama ini bohong kenapa dia sampai bunuh diri di rooftop kampus kak karena diperkosa oleh mereka bertiga. Kalau kak Tasya tidak percaya oke silakan itu hak kakak mau percaya atau tidak tapi semua kesedihan dia dan bukti ada di buku ini. Silakan kakak baca buku diary nya Safira." kata Emeli yang memberikan buku diary Safira pada Tasya. Dan Tasya mengambil buku diarynya dan membacanya. Airmata Safira pun mengalir deras penuh penyesalan karena lebih percaya omongan teman temannya dibandingkan adik kandungnya sendiri. Tasya pun terjatuh lemas.

Wajah Aldo, Billy, dan Ray pun tampak pucat saling memandang karena sudah terungkap kejahatannya pada Safira.
"Maafin kakak Safira maafin kakak." kata Tasya dan kemudian Jenazah Safira dibawa masuk dalam rumah dan Tasya pun berlari menghampiri jenazah Safira.
"Safira bangun Safira bangun." kata Tasya histeris dalam tangisan sambil menggoyang goyangkan jenazah Safira.
Melihat Aldo, Billy, dan Ray penuh kebencian.
"Tasya tolong jangan percaya pada Emeli, dia hanya ingin memfitnah kita bertiga aja." kata Ray tampak ketakutan.
"Benar itu Tasya, dia hanya ingin merusak persahabatan kita. Percayalah pada kami Tasya." lanjut Billy wajahnya pucat pasi kebusukkannya sudah terbongkar.
"Diam kalian bertiga mau mengelak apa lagi semua bukti sudah ada di sini, kalian....kalian udah menyebabkan adik aku bunuh diri. Bodohnya aku sebagai kakak tidak mempercayai adik kandungku sendiri selama ini, aku lebih percaya dengan fitnah kalian bertiga terhadap Safira." kata Tasya yang menghampiri Aldo, Billy, dan Ray sambil menampar dan memukul mukul karena kebenciannya.
"Semua gara gara kalian harusnya aku lebih percaya kepada adik kandungku sendiri dari pada dengan laki laki berengsek seperti kalian bertiga. Aku kehilangan adik kandungku sendiri karena kebodohanku, kalian bertiga memang licik kalian harus dilaporkan ke polisi biar Safira tenang di sana." kata Tasya
"Jangan Tasya tolong maafin kami." pinta Aldo, Billy, dan Ray berlutut di hadapan Tasya.
"Tidak kesalahan kalian bertiga Tidak bisa aku maafkan, karena gara gara kalian bertiga adik aku bunuh diri. Kalian jahat." kata Safira penuh amarah.
Aldo, Billy, dan Ray mendorong Tasya dan kabur dari rumah Tasya takut dilaporkan ke polisi.
"Mau kemana kalian bertiga jangan lari, kalian harus mempertanggung jawabkan kesalahan kalian terhadap Safira." kata Tasya yang mengejar namun semua sia sia karena mobil Aldo sudah melaju dengan cepatnya. Tasya menangis histeris dan menghampiri kembali jenazah Safira.
Tasya mengingat kenangan indah bersama Safira dengan penuh penyesalan dan kesedihan karena sebelumnya tidak mempercayai Safira dan lebih percaya dengan Aldo, Billy, dan Ray.
Tasya terpuruk dalam kesedihan dan masih tak percaya kalau Safira telah meninggalkan Tasya untuk selamanya. Tasya mengingat janji Tasya di makam kedua orang tuanya.
Flasback di makam kedua orang tua Tasya dan Safira ;
"Mama......papa.....yang tenang ya di sana. mama papa tenang aja ya pokoknya Tasya akan menjaga Safira dengan sebaik baiknya meski nyawa Tasya taruhannya. Dan Tasya akan menjadikan Safira orang yang sukses." kata Tasya perjanjian di makam orang tuanya.
"Safira kamu jangan nangis lagi ya, kakak janji akan jadi kakak yang baik untuk Safira dan selalu melindungi Safira." kata Tasya yang memeluk Safira lagi menangis .
"Iya kak." kata Safira menangis dalam pelukan Tasya.
Flasback Off.
"Safira maafkan kakak sayang, kamu harus bangun kakak janji kakak akan menjaga kamu. Kakak janji tidak akan meragukan kamu lagi. Bangun Safira bangun." kata Tasya menangis.
"Percuma kak Tasya, Safira tidak akan bangun lagi, semuanya sudah terlambat. Kak Tasya sudah gagal menjadi kakak yang baik untuk Safira. Dan Safira meninggal dalam kesedihan dan kecewa yang besar terhadap kakak yang tidak bisa percaya kepadanya." kata Emeli.
"Iya Emeli aku sangat menyesal, aku emang kakak yang bodoh. Aku telah melanggar janji aku kepada mama dan papa untuk menjaga Safira. Mungkin mama dan papa sangat marah kepadaku karena menyia nyiakan adik kandungku sendiri. Dan sekarang dia telah tewas sangat mengenaskan sekali itu semua karena kesalahan dan kebodohanku sebagai seorang kakak." kata Tasya histeris penuh kesedihan.
"Ya sudahlah kak semuanya sudah terjadi mau menyesal pun juga sudah percuma karena Safira sudah tidak ada di dunia ini. Lebih baik kita urus pemakaman Safira." kata Emeli.
"Iya baik. Maafkan aku Emeli karena aku juga waktu itu telah mengusir kamu padahal niat kamu baik untuk menjelaskan semua yang terjadi tapi aku malah termakan omongan manis dan airmata palsu mereka." kata Tasya tampak jelas penyesalannya.
"Sebenarnya aku masih kecewa sama sikap kakak waktu itu, tapi semua sudah terjadi dan Safira pun sudah tiada jadi lupakanlah." kata Emeli.
"Ternyata kamu benar dan sekarang aku memang benar benar menyesal karena sudah membela laki laki berengsek seperti Aldo, Billy, dan Ray yang menyebabkan adik aku hancur dan bunuh diri." kata Safira sedih.
"Ya sudah kak, ayo kita urus pemakaman Safira." kata Emeli.
Emeli dan Tasya pun mengurus pemakaman Safira. Tasya merasa sangat menyesal sekali karena sikapnya terhadap Safira yang membuat Safira terluka dan kecewa.
* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘
__ADS_1