
Suasana duka menyelimuti rumah Tasya, kematian Safira membuat Tasya sangat terpuruk dalam penyesalan yang teramat sangat karena sudah tak mempercayai Safira. Tasya masuk ke kamar Safira netranya mengeluarkan airmata tak henti henti penuh penyesalan.
Di pemakaman Safira;
"Selamat tinggal adikku tersayang, kakak janji akan menuntut keadilan untuk kamu. Mereka bertiga yang sudah membuat kamu hancur harus mendekam di penjara, atau dihukum mati biar kamu bisa tenang di alam sana Safira." lirih Tasya penuh kesedihan dan penyesalan.
Rania sangat dendam kepada ketiga pria yang menghancurkan kehidupan Safira.
"Safira aku janji demi apa pun di depan makam kamu, kalau aku akan membalaskan dendam kamu. Mereka bertiga akan mati di tanganku sendiri. Aku tak akan pernah membiarkan mereka hidup tenang setelah apa yang mereka lakukan padamu Safira." geram Rania mengambil tanah kuburan Safira lalu mengepal kedua tangannya penuh dendam kedua netranya terpancar kebencian yang teramat sangat.
Tasya pun ke makam mama dan papanya karena dekat dengan pemakamannya Safira.
"Mama papa.....maafkan Tasya ma sudah menjadi kakak yang tidak baik untuk Safira. Tasya sudah gagal menjadi kakak yang baik, Tasya sudah mengingkari janji Tasya untuk melindungi Safira karena Safira tewas mengenaskan karena sikap Tasya kepada Safira yang tidak pernah mempercayai perkataan Safira bahkan sampai mengusirnya andai saja waktu dapat berputar kembali, Tasya tidak mau semua ini sampai terjadi. Tasya akan selalu melindungi Safira dari kebejatan teman teman Tasya." ujar Tasya sedih menangis di pemakaman orang tuanya.
Pemakaman telah usai, Tasya masuk ke kamar Safira dan mengambil foto Safira yang bersama Tasya berdua.
"Safira sayang, maafkan kakak yang tak bisa menjadi kakak yang baik untuk Safira. Kakak sayang banget sama Safira (menangis). Maafkan kakak sayang kamu harus hancur seperti ini hingga kamu tewas bunuh diri. Kakak sangat menyesal sekali, kakak memang bodoh, kakak tidak bisa menjaga kamu sebagai adik kakak. Maafkan kakak yang tak pernah bisa mempercayai omongan kamu selama ini, padahal kamu hanya ingin membela diri kamu. Kakak memang bukan kakak yang baik untuk kamu Safira, kakak sudah melanggar janji kakak terhadap mama dan papa untuk selalu menjaga kamu. Maafkan kakak Safira maafkan kakak." ujar Tasya histeris menjerit penuh kesedihan dan penyesalan sambil memeluk foto Safira berdua dengan Tasya.
Rania sangat kehilangan teman barunya itu. Meski pun teman baru tapi sudah banyak kenangan indah bersamanya. Setelah dari pemakaman Rania pun ke rumah sakit untuk menjenguk Salsa.
"Rania." ujar Salsa yang melihat Rania masuk ke kamar rumah sakit tempat Salsa di rawat.
"Hai Salsa, gimana kabarmu hari ini. Apakah sudah baikkan." ujar Rania masih dalam suasana berkabung.
"Allhamdulilah sudah lebih baik Rania, kata dokter besok aku sudah boleh pulang." jawab Salsa dengan tersenyum.
"Syukurlah kalau kamu sudah boleh pulang besok Salsa." ujar Rania.
Lalu Salsa memperhatikan wajah Rania yang nampak jelas kesedihannya terpancar dari wajah cantiknya.
"Rania kamu kenapa sih kok kelihatannya sedih banget." tanya Salaa memperhatikan Rania yang lagi bersedih.
"Sa.....Safira Ca Safira." ujar Rania yang langsung meneteskan air mata kehilangan.
"Iya Safira kenapa Rania." tanya Salsa.
"Safira tewas bunuh diri." lirih Rania menangis.
"Apa (kaget), ya ampun kok bisa." ujar Salsa kaget.
"Iya tadi waktu Safira menunggu aku jemput. Safira di perkosa oleh mantan dan kedua temannya di kampusnya." ujar Rania menangis.
"Ya ampun jahat banget mereka." ujar Salsa penuh emosi.
"Dan Safira merasa kotor dan tidak berharga lagi di dunia ini jadi Safira bunuh diri dari rooftop kampus. Ini semua gara gara aku Salsa coba kalau aku tidak telat jemput dia karena macet, pasti kejadiannya tidak mungkin seperti ini." ujar Rania menyalahkan diri sendiri, Salsa langsung memeluk Rania yang lagi sedih.
"Ini semua bukan salah kamu Rania, kamu tidak perlu merasa bersalah seperti ini. Mereka bertiga yang harus bertanggung jawab atas kematian Safira Rania, mereka yang sudah menghancurkan masa depan Safira. Kita harus melaporkan mereka bertiga ke polisi." ujar Salsa menenangkan Rania.
"Iya kamu benar Salsa, mereka bertiga harus bertanggung jawab akan kematian Safira." ujar Rania penuh dendam.
"Berarti kemarin pertemuan pertama dan terakhirku dengan Safira." ujar Salsa.
Setelah dari rumah sakit Rania langsung mencari Aydan, Gibran, dan Reyhan untuk balas dendam. Dan pada akhirnya Rania menemukan Reyhan di saat mau ke rumah Aydan sedang membawa koper mau pergi jauh dari luar kota menghindar dari polisi.
"Itu dia, aku tidak akan membiarkan kamu pergi jauh dari sini kak Reyhan. Kamu harus tanggung jawab akan kematian Safira." ujar Rania bicara dari mobil yang kemudian melaju kencang mobilnya dan menabrak Reyhan hingga Reyhan terlempar jauh kepalanya terbentur batu besar. Setelah itu Rania turun dari mobilnya dan membawa Reyhan ke rumahnya. Lalu Reyhan di ikat sangat kencang dan kemudian Rania meninggalkan Reyhan sendiri yang lagi pingsan dan mencari juga Aydan dan Gibran.
__ADS_1
Rania melihat Aydan dan Gibran yang sedang menunggu Reyhan.
"Mana sih Reyhan kok lama banget sih, ini keburu polisi datang menjemput kita." ujar Aydan panik.
"Iya nih lama banget sih dia. Kalau lama mending kita tinggal saja deh dari pada kita juga kena tertangkap polisi mending kita korbankan dia saja ya Ay." ujar Gibran yang ikutan kesal.
"Itu dia mereka." ujar Rania matanya pancarkan dendam yang membara.
Aydan dan Gibran ke mobilnya, Rania juga turun dari mobil dan membawa stik golf lalu Rania memukul kepala Gibran hingga pingsan.
"Gibran kamu kenapa." ujar Aydan kaget dan dia melihat ke belakang ternyata Rania sudah ada di belakangnya dengan penutup wajah.
"Ka....kamu siapa." ujar Aydan kaget.
"Kamu harus mati." sungut Rania yang ingin memukul Aydan tapi Aydan mencoba menghindar dari pukulan Rania dan berlari tapi Rania melayangkan stik golf yang di pegang ke arah Aydan hingga stik golf itu mengenai kepala Aydan sangat kencang dan Aydan pun jatuh pingsan. Rania membawa Gibran dan Aydan ke mobilnya lalu Rania melajukan mobilnya ke rumah Rania.
Sesampainya di rumah Rania. Rania mengikat Gibran dan Aydan dengan sangat kencang, kemudian Rania menyiram Aydan, Gibran, dan Reyhan dengan air hingga mereka bertiga terbangun dari pingsannya.
"Ka.....kamu siapa." Tanya Gibran penasaran.
"Iya kenapa kamu menculik kita." Sambar Gibran.
"Aa....lepaskan ikatan aku." ujar Reyhan meronta ronta.
"Reyhan ternyata kamu di sini juga." Tanya Aydan.
"Iya Ay.....tadi waktu aku mau ke tempat kamu ada mobil yang menabrak aku." Jawab Reyhan.
"Kalian mau tahu siapa saya sebenarnya, baiklah." ujar Rania yang kemudian melepas topengnya.
"Ka....kamu bukannya kamu temannya Safira." ujar Gibran kaget.
"Cerdas sekali, aku memang temannya Safira." ujar Reyhan tersenyum.
"Tolong lepaskan kami." Pinta Aydan meronta ronta ingin melepaskan tali yang melilit tangan dan tubuhnya.
"Apa melepaskan kalian hahahahaha.....(tertawa) tak semudah itu karena nyawa harus dibalas dengan nyawa, kalian bertiga sudah menyebabkan Safira tewas bunuh diri jadi tak semudah itu lepas dari genggamanku karena kalian harus mati." Kata Emeli yang berjalan menuju lemari es untuk mengambil darah korban dan di suguhkan untuk Aldo, Billy, dan Ray.
"Ini aku suguhkan untuk ketiga tamu istimewaku, silahkan bersulang hahahaha......" Kata Emeli tertawa yang meminumkan darah ke Aldo, Billy, dan Ray. Aldo, Billy, dan Ray memuntahkan darah yang di minumkan Emeli.
"Dasar wanita gila itu kan darah yang kamu minumkan ke kita." Kata Ray.
"Benar sekali tepatnya darah korban aku juga, laki laki yang sukanya menyakiti para wanita hahahahaha....." Kata Emeli tertawa menggema di udara.
"Dasar wanita psikopat, lepaskan kami lepaskan." Kata Billy meronta ronta.
"Kalian pikir kalian bisa bebas berkeliaran begitu saja setelah apa yang kalian lakukan pada Safira hah.....tidak kalian bisa kabur dari kejaran polisi tapi tidak dari aku yang akan membuat kalian tewas mengenaskan." Kata Emeli tertawa.
"Jangan Emeli jangan, tolong lepaskan kami. Kami janji akan menyerahkan diri ke polisi asal kamu mau melepaskan kami." Kata Aldo memelas.
"Melepaskan kalian hahahahahaha......(tertawa) jangan mimpi, kalian tidak akan aku lepaskan karena kalian sudah menghancurkan hidup wanita sampai wanita itu bunuh diri. Jadi kalian bertiga harus mati." Kata Emeli penuh dendam dan amarah.
"Emeli jangan Emeli jangan......tolong..... tolong...." Teriak Aldo, Billy, dan Ray.
__ADS_1
"Teriaklah teriak sepuasnya karena tak akan ada satu pun yang mendengar teriakan kalian bertiga hahahaha....." Kata Emeli tertawa.
"Hem (mikir) mulai dari siapa dulu ya. Cap cip cup (nunjuk satu satu dan berhenti di Ray) ternyata kamu dulu. Dan untuk kalian berdua selamat menyaksikan teman kalian hahahahaha....." Kata Emeli tertawa menghampiri Ray sebelumnya mengambil pisau yang terpajang di tembok.
"Ja.....jangan." Kata Ray ketakutan.
"Kamu sudah memfitnah dan membuat kehidupan Safira hancur jadi lidah ini harus aku potong." Kata Emeli yang motong lidah Ray dan Ray teriak mengucur darah segar dari mulut Ray.
"Ray...." Teriak Aldo dan Billy ketakutan menutup matanya.
"Dan tangan ini yang sudah menyentuh paksa Safira harus aku potong juga." Kata Emeli yang kemudian memotong tangan Ray dan mengucur darah segar dari tangannya. Tapi Ray tak bisa berteriak karena lidahnya sudah dipotong oleh Emeli yang berteriak justru Aldo dan Billy.
"Aduh sepertinya kamu sudah sangat kesakitan sekali ya kak Ray, lebih baik aku langsung akhiri hidup kamu saja ya." Kata Emeli yang mengambil gergaji di dinding lalu menyalakan gergaji mesinnya dan mengarahkan ke Ray hingga gergaji listriknya menembus jantung, ginjal, dan hati Ray. Ray yang sangat ketakutan menembuskan nafas terakhirnya.

"Ray....." Teriak Aldo dan Billy histeris.
"Sekarang giliran kamu Kak Billy." Kata Emeli menunjuk Billy. Billy pun sangat ketakutan.
"Jangan tolong maafkan aku Emeli." Pinta Billy.
"Maaf maaf, kamu pikir maaf kamu bisa mengembalikan nyawa Safira hah......" Kata Emeli kesal dan menjambak Rambut Billy lalu membenturkan kepalanya ke tembok sangat kencang sekali hingga kepalanya bocor dan mengeluarkan darah segar.
"Aaaa......sakit." teriak Billy.
"Lebih sakit mana Kak Billy waktu kamu memfitnah Safira hingga dia tidak dipercayai Kakak kandung sendiri, kamu mikir tidak sih perbuatan fitnah kalian melukai hati Safira apa lagi sesudah kalian fitnah, kalian juga memperkosanya." Kata Emeli kesal.
"Ampun Emeli ampun jangan siksa aku lagi sakit Emeli sakit." Pinta Billy.
"Laki laki macam kalian bertiga tidak pantas hidup. Kalian harus musnah dari muka bumi ini aaaa....." Teriak Emeli penuh emosi, kemudian langsung mengambil gergaji listriknya dan menyalakannya lalu. Emeli memenggal kepala Billy memotong tangan dan kaki Billy, mengarahkan gergaji listrik asal asalan ke arah organ tubuh Billy hinggan Billy mati termutilasi oleh gergaji listrik Emeli dan darah tercecer ke mana mana termasuk ke wajah Emeli juga Aldo dan lalu Emeli mengeluarkan jantung, ginjal, dan hati Billy.
"Sekarang terakhir giliran kamu Kak Aldo, aku sengaja membunuh kedua teman kamu terlebih dahulu biar kamu menyaksikan sakitnya mereka karena kamu sudah mengorbankan pacar kamu dan menyerahkan ke teman teman kamu." Kata Emeli penuh emosi dan dendam yang memuncak.
"Jangan Emeli jangan aku masih mau hidup, aku tidak mau mati. Tolong jangan siksa aku." Pinta Aldo ketakutan.
"Oh....jadi kamu tidak mau di siksa, oke baiklah berarti kamu minta untuk dimatikan begitu kan maksud kamu Kak Aldo." kata Emeli.
"Bukan gitu aku mohon lepaskan aku, jangan bunuh aku Emeli." Pinta Aldo dengan wajah memelas.
"Kamu pikir kesalahan kamu bisa dimaafkan begitu saja Kak Aldo. Tidak bisa karena kesalahan kamu sangat fatal sekali Kak Aldo sudah membuat hidup Safira menderita di benci Kakak kandungnya sendiri jadi kamu harus merasakan sakit hati yang Safira rasakan Kak. Dan sekarang kamu harus mati." Kata Emeli penuh kebencian dan dendam.
Emeli mengambil gergaji listrik dan menyalakannya lalu Emeli menembus kan gergaji listrik itu ke jantung Aldo.
"Aaaaa......" teriak Aldo histeris kesakitan.
Dan dari dalam jantung gergaji itu merobek robek organ tubuh Aldo hingga tubuh Aldo hancur tak berbentuk.
"Lihat Safira kamu lihat kan di sana. Mereka bertiga laki laki yang sudah membuat hidup kamu menderita dan merusak masa depan kamu telah mati di tanganku. Sekarang kamu bisa hidup dengan tenang di sana Safira." Kata Emeli.
Setelah kematian Aldo, Emeli mengambil jantung, ginjal, dan hati Aldo, Billy, dan Ray untuk dimasukkan ke aquarium lalu darah mereka ditaruh ke gelas. Emeli membuang mayat Aldo, Billy, dan Ray di kolam buaya untuk santapan buaya buaya nya yang kelaparan.
"Buaya buayaku makan yang kenyang ya karena aku kasih tiga mayat sekaligus untuk makanan kalian." Kata Emeli.
Kemudian Emeli balik ke kamar ruang bawah tanah untuk membersihkan lantai yang bercecer darah dari ketiga korbannya. Emeli tersenyum puas karena laki laki yang menghancurkan kesuciannya dan menyebabkan Safira bunuh diri telah tewas di tangannya.
__ADS_1
* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘