
Monik tanpa ampun membuat Rania menderita dengan membasahi seluruh pakaiannya, hingga Rania menggigil kedinginan. Monik tidak mau berhenti sebelum Rania memutuskan Gerry.
"Rania, pokoknya kamu harus putuskan Gerry. Kamu tidak pantas sama Gerry akulah yang pantas sama Gerry." ujar Monik yang sambil menenggelamkan kepala Rania ke bak mandi, Rania pun ngap ngapan tidak bisa bernapas.
"A....aku tidak mau Monik, meski kamu bunuh aku sekali pun. Aku akan tetap bertahan mempertahankan hubungan aku sama Gerry, karena aku cinta sama Gerry. Gerry itu cinta pertama aku Monik, paling kalian bertiga yang di penjara kalau aku mati." ujar Rania.
"Sudah deh Rania kamu lepaskan saja Gerry, dari pada nyawa kamu melayang gara gara cowok." ujar Kayra.
"Kalau dia tidak mau melepaskan Gerry, siram terus jangan kasih ampun Mon." ujar Vero.
"Siram aja aku terus Monik. tenggelamkan aku saja ke bak mandi sepuas hati kamu, karena sampai kapan pun aku akan tetap mempertahankan hubungan aku sama Gerry. Paling jika aku mati kalian bertiga yang di penjara." tantang Rania tertawa.
"Aduh Monik....sudah lepaskan saja Rania, aku takut Monik kalau dia kenapa napa, kita yang akan di penjara. Aku tak mau berurusan dengan polisi." ujar Vero menampakkan wajahnya ketakutan.
"Sudah deh Vero kamu jangan takut, Rania itu cuma nakut nakutin kita saja. Pokoknya kamu tenang saja Vero Rania tidak akan kenapa napa kok, percaya deh sama aku Ver." ujar Monik menenangkan Vero yang ketakutan karena omongan Rania.
"I.....iya Monik." ujar Vero terbata bata.
Monik terus menyiram Rania dan menenggelamkan kepala Rania ke bak mandi dan tiba tiba bu Tamara datang.
"Apa apaan ini." ujar bu Tamara
Monik, Kayra, dan Vero pun kaget melihat kedatangan bu Tamara
"I....ibu....." ujar Kayra kaget.
"Ibu kok bisa di sini." tanya Monik terkejut.
"Iya bu, bukannya di kamar mandi guru saja bu. Ngapain ke kamar mandi murid kan kamar mandi murid jorok bu, bau lagi." ujar Vero dengan polosnya.
"Tadinya ibu mau ke kamar mandi guru, tapi ibu mendengar ada ribut ribut di kamar mandi murid. Ya ibu ke sini deh eh ternyata benar kalian telah membully teman kalian." ujar bu Tamara berbohong.
"Ih.....ibu siapa yang ngebully Rania bu. Kami ini di sini cuma lagi main main aja kok bu, sama Rania, i....iya kan Rania." ujar Monik berbohong sambil melihat Rania memberi kode sambil pura pura tersenyum palsu.
"I....iya benar bu kata Monik, ki....kita enggak ngebully Rania bu dari pada ngebully mendingan makan nasi kebuli bu, enak...." ujar Vero dengan polosnya.
"Ih....Vero malah bercanda lagi (nyenggol badan Vero), ibu jangan salah paham. Kita di sini cuma lagi main air saja bu. Biar tambah akrab bu sama Rania, i....iya kan Rania." ujar Kayra berbohong.
"Bo.....bohong bu." ujar Rania yang kedinginan karena pakaiannya basah kuyup.
"Loh kok, bohong sih Rania." ujar Monik, Kayra dan Vero kecewa dengan jawabannya Rania.
"Mereka bertiga memang ngebully saya bu, bukan hanya sekali tapi sering bu, dan mengancam saya. Hanya gara gara pria yang Monik suka lebih memilih saya dari pada Monik bu. Untung ibu lekas datang ke sini kalau tidak saya bisa mati kedinginan bu." ujar Rania yang menggigil kedinginan gara gara seluruh tubuhnya basah kuyup.
"Kalian sungguh memalukan. Hanya gara gara laki laki, kalian hampir mencelakai teman kalian. Kalian tahu ini bisa membahayakan nyawa teman kalian, karena kalian sudah keterlaluan. Kalian bertiga ibu skor selama satu minggu." ujar bu Tamara tegas.
"Ya bu, jangan di skor deh bu. Nanti apa kata mama saya bu." ujar Monik melas.
"Iya bu, nanti mama bisa marah lagi sama Vero bu." ujar Vero.
"Hukuman yang lain saja deh bu, asal jangan di skor. Please....." pinta Kayra memelas tapi bu Tamara tetap tegas akan keputusannya.
"Keputusan ibu tidak bisa diganggu gugat, dan sekarang kamu harus membersihkan semua ruangan kampus. Termasuk toilet sampai bersih." ujar bu Tamara tetap tegas.
"Ya bu, kita pulang telat dong bu. Ja....jangan deh bu. Kita sudah di skor masa harus membersihkan toilet lagi sih bu." ujar Monik.
"Iya bu jangan deh bu, jangan banyak banyak dong bu hukumannya untuk kita. Pilih salah satu saja mau di skor atau disuruh membersihkan toilet bu." sambar Vero setujuh akan perkataan Monik.
"Betul bu, jangan banyak banyak ya bu hukumannya. Please......" pinta Kayra menangkupkan kedua tangannya di dada tanda memohon.
"Jangan ngebantah, kalian kan yang memulai masalah duluan. Berarti kalian bertiga juga harus berani bertanggung jawab." ujar bu Tamara.
"Ayo Rania." ajak bu Tamara.
Lalu bu Tamara memapah Rania yang lemas karena menggigil kedinginan dan membawanya pergi.
"Huh....ini semua gara gara sih cupu, tunggu pembalasan aku cupu. Jangan kamu pikir aku akan diam saja sampai di sini." Ancam Monik saat bu Tamara dan Rania menjauh dari toilet.
"Iya benar Monik kita harus balas dendam sama Rania." sambar Kayra kesal.
"Pokoknya aku tidak terima kita dihl hukum gara gara sih cupu. Apa kata orang tua kita nanti, kalau mereka tahu kita diskor gara gara ngebully sih cupu, ah....bete banget deh aku." ujar Vero kesal.
Nayla yang dari tadi mondar mandir di koridor kampus, karena mencemaskan Rania dan langsung menghampiri begitu melihat Rania datang bersama ibu Tamara.
"Rania, kamu tidak apa apa kan." ujar Nayla yang mencemaskan Rania.
"A....aku tidak apa apa kok Nayla, kamu jangan khawatir ya." ujar Rania menenangkan.
"Gimana aku tidak khawatir Rania, aku takut kalau kamu di apa apain sama geng yang tidak punya hati itu. Tuh lihat saja pakaian kamu sampai basah kuyub semua, benar benar keterlaluan mereka." ujar Nayla sambil memegang tubuh Rania dan sangat kesal sama perbuatan geng Kucing Liar.
"Wild Cats Naynay." ujar Rania membenarkan perkataan Nayla.
"Sama aja kan bahasa Indonesianya itu Kucing Liar, ngomong pakai bahasa inggris keserimpet mulut aku." kekeh Nayla, Rania pun ikut terkekeh.
"Untungnya ada Nayla, Rania jadi ibu bisa datang tepat waktu. Kalau ibu telat takutnya Monik, Kayra, dan Vero ngebully kamu lebih parah lagi." ujar bu Tamara.
"Oh jadi semua ini karena kamu yang mengadukan sama bu Tamara. Terima kasih banget ya Naynayku sayang kamu memang sahabat terbaikku." ujar Rania ingin memeluk Nayla, tapi Nayla menolak pelukkan dari Rania.
"Eh.....eh.....eh.....basah basah baju kamu Rana. Nanti baju aku ikutan basah lagi.....nanti jadi nyanyi basah basah basah seluruh tubuh....." ujar Nayla dengan ekspresi yang lucu buat Rania terkekeh sambil menyanyikan lagu mandi madu bu Tamara pun ikut terkekeh senang melihat persahabatan antara Rania dan Nayla.
"Oh iya lupa....maaf maaf deh Nayla yang cantik." kekeh Rania.
"Sama sama Rania hanya ini yang aku bisa lakukan untuk kamu." ujar Nayla.
"Ya sudah Rania, sekarang kamu ganti pakaian dulu deh. Nanti masuk angin, soalnya basah kuyub." ujar bu Tamara.
"Tapi bu, Rania tidak bawa pakaian ganti." ujar Rania.
Lalu Nayla mengambil pakaian ganti di tas Nayla dan memberikannya pada Rania.
"Makanya lain kali bawa pakaian ganti emergency kalau ada apa apa, kaya aku selalu bawa pakaian ganti. Ya sudah nih kamu pakai saja punyaku Rania. Kan badan kita sama jadi pasti muat untuk kamu pakai. Aku biasa bawa ganti takut keringetan kamu tahu sendiri kan aku kalau keringetan tidak betah banget. Selain mencegah bau badan tapi enggak enak banget kalau pakaian kita lepek." ujar Nayla.
"Iya terima kasih ya cantik, sekali lagi." ujar Rania.
"Terima kasih mulu, sekali lagi kamu bilang terima kasih lagi. Aku kasih mobil nih....." canda Nayla.
"Eh.....mau." sambar Rania.
"Tapi tanpa mesin ya." canda Nayla.
"hahahaha.....(tertawa).....kamu bisa saja Nayla, mati dong mobilnya." ujar Rania.
"Iya, dari pada tanpa rem hahahaha....." kekeh Nayla.
__ADS_1
"Nabrak dong hahahahaha......" kekeh Rania menyambar.
Bu Tamara dan Rania tertawa terbahak bahak mendengar candaan Nayla.
Amanda sangat dendam sekali pada Rania jika sudah patah hati. Amanda tidak mau melepaskan mangsanya hidup dengan tenang.
"Kalian bela saja terus itu Rania. Sebenarnya yang sahabat kalian itu aku atau Rania sih." geram Amanda.
"Bukan gitu Amanda aku cuma tidak mau kalau kamu dapat masalah, terus di DO dari kampus ini. Kan kamu itu sahabat aku Amanda." kata Gracia.
"Iya, benar Amanda. Maafkan kita ya, kita tidak ada maksud untuk membela Emeli, Amanda." kata Retta.
"Ah.....kalian tuh berdua, memang tidak niat kan belain aku. Terus saja belain Emeli." kata Amanda kesal.
"Bu....bukan gitu." kata Gracia dan Retta serentak.
"Ah.....tidak ada alesan. Pokoknya aku harus balas dendam sama Emeli, aku tidak akan biarkan Emeli bahagia di atas penderitaanku." kata Amanda kesal.
"Ta....tapi Amanda." kata Gracia dan Retta serentak.
"Diam kalian, jangan ikut campur urusanku atau kalian berdua juga akan jadi musuhku." Ancam Amanda yang langsung pergi.
Gracia dan Retta wajahnya tampak dalam kecemasan karena Amanda hilang kontrol kendali ingin balas dendam pada Emeli, Gracia memegang tangan Retta.
"Aduh gimana nih. Sepertinya Amanda lagi kesurupan setan kebencian jadi dia bisa seanarkis itu." kata Gracia.
"Kita harus hentikan niat buruk Amanda pada Emeli." kata Retta.
"Iya Retta, tapi gimana caranya." kata Gracia.
"Kita harus ikutin gerak geriknya Amanda, biar kita tahu niat apa yang dia rencanakan untuk Emeli. Sudah itu kita bantuin Emeli diam diam tanpa ketahuan Amanda." kata Retta.
"Iya kamu benar Rett. Ayo kita ikutin dia." kata Gracia.
Monik, Aleta, dan Vero membersihkan toilet.
"Aduh masih banyak lagi kerjaan kita. Aku sudah capek nih. Malah toiletnya kotor, bau sangat menjijikan sekali." kata Monik mengeluh sambil duduk dan membanting pel kesal.
"Iya aku juga tidak terima nih. Kita jadi kerja bakti kaya gini. Double hukuman kita, sebel deh aku." kata Aleta.
"Pokoknya kita harus balas Emeli jangan sampai tuh sih cupu bebas lepas dari genggaman kita." kata Vero menggengam tangannya kesal.
"Yoyoy, itu pasti." kata Monik dan Aleta serentak.
Keesokan harinya Amanda selalu memantau Emeli dan mengikutinya. Seketika ada waktu dia beraksi, Kali ini Amanda mau menabrak Emeli dengan mobilnya.
"Gracia lihat tuh sahabat kita, mau apa ya dia." kata Retta.
"Gawat, sepertinya dia mau menabrak Emeli. Gimana nih, kita harus bantu Emeli." kata Gracia cemas.
"Tapi gimana caranya Gracia." kata Retta
"Aha....akyu punya ide." kata Gracia.
"Ide....ide apaan Gracia?" tanya Retta.
"Hem.....(pura pura mikir). Nah itu ada Salsa, kita harus nemuin Salsa tanpa sepengetahuan Amanda. Biar Amanda tidak marah kalau kita di balik semua ini. Kamyu tunggu di sini ya Retta, akyu mau ke sana dulu." kata Gracia sambil membuka pintu mobil.
"Oke Retta.....(Gracia mindik mindik seperti maling memanggil Salsa). Salsa......" panggil Gracia pelan.
"Eh.....Gracia, kamu ngapain di situ." tanya Salsa.
"Huts.....sini (jari satu di bibir), jangan berisik nanti ketahuan Amanda. Soalnya ada masalah penting yang aku ingin kasih tahu ke kamu." kata Gracia.
"Oh....oke deh Gracia." kata Salsa sambil melihat kanan kiri, lalu bersembunyi di balik mobil bersama Gracia.
"Ada apa sih Grac." tanya Salsa bingung.
"Salsa dengarkan aku ya baik baik, Amanda sepertinya punya rencana untuk menabrak Emeli." kata Gracia pelan.
"Apa....Amanda mau menabrak Emeli." kata Salsa kaget.
"Huts....pelan pelan ngomongnya Salsa nanti kedengaran Amanda. Kalau sampai kedengaran Amanda aku yang menggagalkan rencananya pasti Amanda juga akan memusuhi aku." kata Gracia jari satu di bibir.
"Oh iya, maaf....maaf Gracia." kata Salsa pelan.
"Jadi rencana aku adalah, kamu harus gercep panggil Emeli. Sebelum mobil Amanda menabrak Emeli lalu kamu membujuk Emeli jangan sampai dia pulang lewat sana. Aku tidak mau sahabat aku Amanda kena masalah kalau sampai dia nabrak Emeli. Jadi kamu harus gercep nolong Emeli paham kan Salsa." kata Gracia.
"Iya iya aku paham Gracia. Terima kasih ya Gracia, atas informasinya. Aku tidak tahu kalau kamu tidak ngomong sama aku, gimana nasib Emeli pasti Emeli bisa ditabrak sama Amanda." kata Salsa
"Iya sama sama (tersenyum), Eh lihat itu Emeli (nunjuk Emeli yang berjalan ke arah mobil Amanda). Aduh cepat kamu ke sana sebelum terlambat Salsa." kata Gracia panik.
Salsa menengok ke arah Emeli yang sedang berjalan menuju mobil Amanda, dan kaget melihat Emeli mau ke arah mobil Amanda.
"Oh iya ya. Ya sudah aku ke sana dulu, sekali lagi terima kasih Gracia." kata Salsa menepuk pundak Gracia, dan kemudian Salsa langsung berlari ke arah Emeli yang mau jalan ke arah mobil Amanda.
"Semoga saja Salsa berhasil menghentikan Emeli, agar dia tidak jadi ditabrak sama Amanda." kata Gracia tegang dan kemudian kembali ke mobil.
"Gimana Grac, sudah." tanya Retta.
"Sudah, semoga Salsa berhasil mencegah Emeli lewat sana ya." kata Gracia.
"Iya semoga saja deh, aduh aku deg degan banget nih." kata Retta.
"Rasain kamu Emeli kali ini kamu tidak akan selamat pelakor, kamu harus mati. Makanya Emeli jangan pernah buat masalah sama aku karena aku akan mengirim kamu ke neraka. Selamat tinggal Emeli." kata Amanda yang sedang ingin menjalankan mobilnya.
Gracia dan Retta pun deg degan dan khawatir melihat ke arah mobil Amanda dan Emeli.
"Emeli, tunggu." panggil Salsa.
"Salsa, ada apa." kata Emeli.
"Sini Emeli, aku mau ngomong sama kamu." kata Salsa sambil melambaikan tangan.
"Iya." kata Emeli menghampiri Salsa.
"Loh, Emeli mau ke mana, ah...sialan rencanaku gagal." kata Amanda kesal.
Gracia dan Retta menghela napas menandakan ketenangan dalam hati, rencana Amanda gagal.
__ADS_1
"Syukurlah Salsa berhasil menghentikan Emeli lewat situ, berarti kita berhasil menggagalkan Amanda yang ingin mencelakai Emeli." kata Gracia.
"Iya syukurlah aku lega sekarang sahabat kita tidak jadi seorang pembunuh, untung saja kamu punya ide untuk mengabari Salsa. Kalau tidak kita pasti juga merasa bersalah kalau terjadi apa apa pada Emeli dan Amanda." kata Retta.
Salsa mengajak Emeli duduk di Taman kampus.
"Loh Salsa kok kamu ngajak aku ke sini sih Salsa (bingung), aku kan mau cepat pulang. Takutnya ibu aku khawatir jika aku pulang kesorean." kata Emeli bete.
"Iya, boleh Emeli, tapi tunggu semuanya aman ya baru kamu bisa pulang. Dari pada ibu kamu lebih khawatir lagi jika kamu kenapa napa." kata Salsa.
"Aman....aman kenapa Salsa, memangnya ada apa sih." kata Emeli bingung.
"Tadi Gracia menemui aku, dan katanya Amanda punya rencana jahat untuk menabrak kamu Emeli. Jadi aku harus gercep menyelamatkan kamu, karena kalau tidak gercep aku akan merasa bersalah banget karena kehilangan sahabat sebaik kamu." kata Salsa.
"Astaga, kamu serius Sal." kata Emeli kaget.
"Iya aku serius Emeli. Cuma tadi Gracia ngomongnya sembunyi sembunyi biar tidak ketahuan sama Amanda, kalau dia yang gagalin rencana Amanda. Kalau sampai ketahuan dia juga ikut dimusuhi sama Amanda Emeli." kata Salsa.
"Ya ampun.....nekad banget tuh orang (megang tangan Salsa). Salsa.....makasih banget ya Sal.....kali ini kamu menyelamatkan aku lagi." kata Emeli.
"Iya sama sama Emeli." kata Salsa tersenyum.
"Ah....sialan, rencanaku gagal untuk menghabisi pelakor itu. Oke Emeli kali ini kamu bisa selamat tapi lain kali, kamu bakal mati di tanganku." Ancam Amanda.
"Emeli kok tumben sih Gerry tidak nganter kamu. Biasanya sebelum pacaran dia getol banget nganterin kamu Em, tidak mau lepas lepas kaya perangko yang sudah di lem perekat hahahaha......padahal baru jadian loh." kata Salsa sambil tertawa.
"Iya katanya dia lagi buru buru. Soalnya maminya minta di jemput di salon." kata Emeli.
"Oh....begonoh." kata Salsa.
"yoyoy." kata Emeli.
Berjam jam Emeli dan Salsa menunggu Amanda pergi dan semuanya sudah kembali aman.
"Emeli sepertinya sudah aman. Kita bisa pulang sekarang nih." kata Salsa.
"Oh, iya ayo kita pulang. Aku takut ibu aku khawatir sama aku nungguin aku kok jam segini belum pulang." kata Emeli.
"Ya sudah, kamu hati hati ya Emeli. Kalau jatuh minta bangunin Gonto aja hahahahaha......." kata Salsa sambil tertawa.
"Iiihhh tidak banget deh Sal." kata Emeli.
"Eh, Rania belum pulang." ujar Gathan cengengesan.
"Tuh kan Nayla, kamu sih pakai manggil nama dia, kan dia jadi datang." bisik Rania ke Nayla, Nayla hanya tertawa.
"Iya Gathan, belum." jawab Rania.
"Ya, sudah Gathan anterin yuk." kata Gathan.
"Ti......tidak usah, aku pulang sama Nayla aja (menggandeng tangan Nayla kasih kode). Iya kan Nayla." ujar Rania tersenyum terpaksa.
"Eh, iya Gathan. Rania pulang bareng aku. Sudah gih sana pulang duluan. Nanti mami kamyu nyariin lagi." ujar Rania kata katanya seperti mengusir Gathan.
"Oh, ya sudah deh. Dadah sayangku Rania." ujar Gathan kisbay sok mesra, Rania dan Nayla hanya melihat jijik dengan Gathan karena dia senyum pepsodent memperlihatkan giginya yang hitam.
"Eh, i...iya..." ujar Rania dan Nayla serentak.
"Dadah....dadah....." ujar Gathan yang melihat Rania dan tersandung Nayla dan Rania tertawa girang.
"Hati hati Gan, jangan meleng." teriak Rania yang tak bisa menahan tawanya.
"Eh.....i....iya Rania, terima kasih sayang atas perhatianmu." ujar Gathan malu malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak ada rambutnya lalu bangun dan langsung pulang.
"Dih.....siapa juga yang perhatian."bisik Rania pada Nayla.
"Aneh, tidak di mana tidak di mana kaya jaelangkung saja tuh sih Gonto. Kalau di sebut namanya pasti nongol." kata Emeli.
"Ya iyalah namanya juga pejuang cinta Emeli (tertawa), jadi selalu hadir di mana dikau berada." kata Salsa sambil mempuisikan kata kata.
"Ih...lfil banget aku." kata Emeli merasa jijik.
"Jangan gitu Emeli, nanti kamu kesemsem lagi hahahaha......" ledek Salsa tertawa.
"Ngaco kamu kalau ngomong Salsa." kata Emeli.
"Ciye.....ciye.....Emeli....." goda Salsa menyenggol lengan Emeli.
"Apaan sih Salsa." kata Emeli.
"Tuh kan mukanya merah, ciye.....ciye.....sudah dari pada sama Gerry mendingan sama Gathan saja." ledek Nayla.
"Iihhh....Salsa apaan sih, ya mending Gerry lah ke mana mana dari pada Gonto. Ya sudah deh aku pulang dulu ya. Kamu hati hati ya Salsa di jalan." kata Emeli.
"So.....Pasti, kamu juga hati hari Emeli di jalan." kata Salsa.
"Ok siap." kata Emeli.
Amanda sangat kesal rencananya gagal, Amanda memukul stir karena kesal.
"Sialan rencanaku gagal, awas kamu Emeli sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan kamu. Karena kamu sudah merebut lelaki yang sangat aku cintai. Pokoknya dendam aku sama kamu tidak akan berhenti sampai sini. Aku akan selalu buat hidup kamu menderita Emeli." kata Amanda penuh dendam.
Hanna khawatir menunggu anak kesayangannya belum pulang kuliah, mondar mandir lihat jam. Emeli baru membuka pintu Hanna langsung memeluknya.
"Emeli." kata Hanna.
"Ibu, kenapa." tanya Emeli.
"Ibu, khawatir sama kamu nak. Kenapa jam segini baru pulang." kata Hanna.
"Oh....ibu jangan khawatir ya tadi Emeli ada pelajaran tambahan di kampus. Jadi pulang telat deh." kata Emeli berbohong untuk menenangkan hati ibunya.
"Sayang, kamu pakai baju siapa." tanya Hanna.
"Oh ini Emeli pinjam sama Salsa bu, soalnya tadi Emeli keringetan bau badanya, jadi pinjam baju Salsa deh." kata Emeli berbohong lagi.
"Maafkan Emeli ya bu harus berbohong. Emeli tidak mau ibu khawatir kalau Emeli tadi beberapa kali di jahatin sama teman kampus Emeli." batin Emeli.
"Oh gitu, ya sudah kamu ganti baju dulu ya sayang. Terus sudah itu kamu makan kebetulan tadi dagangan ibu laris manis jadi ibu bisa masakkin makanan kesukaan kamu, sayang." kata Hanna.
"Wah, asyik Emeli ganti baju dulu ya bu." kata Emeli langsung menuju ke kamar.
"Iya, sayang." kata Hanna mengusap rambut Emeli.
Setelah Emeli mengganti pakaian, Emeli dan ibu langsung makan sore. Emeli begitu menikmati masakkan kesukaan Emeli yang di masak oleh ibu dengan lahapnya. Apa lagi baru jadian sama Gerry napsu makannya semakin bertambah karena hati lagi berbunga bunga.
__ADS_1
* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘