
Di koridor kampus Kayra dan Sindi sedang membicarakan kejadian kemarin bersama Rachel, Mella, dan Jessy.
"Ternyata dugaan kita salah, Rania bukan dalang dari pembunuhan itu." ujar Kayra.
"Kok kamu bisa seyakin itu sih, Kay." tanya Rachel.
"Iya karena kemarin aku sama Cindi mengikuti Rania sampai rumah sakit. Dan ternyata dia juga hampir menjadi korban pembunuhan kalau kita tidak datang menolong dia. Entah mungkin sekarang Rania juga sudah tidak ada kali di kampus ini dan beritanya heboh." jawab Kayra.
"Iya, benar kata Kayra. Aku aja seram banget kemarin membayangkannya, kalau sampai Rania tidak ada yang nolong pasti Rania akan jadi korban pembunuhan yang tragis juga, soalnya kemarin sepi banget rumah sakitnya." sambar Cindy.
"Ihhh....seram banget ya." kata Adelia, Yunita, dan Jessy.
"Berarti selama ini kecurigaan aku salah dong." kata Jessy menyesal.
"Kamu sih Jess, asal nuduh orang sembarangan aja. Itu sama aja fitnah tahu." kata Yunita menyalahkan Jessy.
"Iya iya aku minta maaf." kata Jessy sambil cemberut.
"Atau jangan jangan itu orang yang lagi cari tumbal lagi. Seperti ilmu hitam gitu." kata Yunita.
"Iya Yun bisa jadi, kamu benar pasti orang itu berguru ilmu hitam untuk mencari tumbal. Kalau gitu seram banget dong ih....." sambar Adellia.
"Iya seram banget kalau gitu. Jadi takut deh ke mana mana kalau sudah tidak aman gini." kata Gracia.
"Iya betul aku juga takut banget, ih amit amit deh jangan sampai aku jadi korban tumbal juga." kata Retta bergidik seram.
Lalu Aleta dan Vera tidak terima kalau mereka sudah tak mencurigai Emeli lagi.
"Kalian jangan percaya begitu saja." kata Vera yang datang mencoba mengompor ngomporin.
"Iya siapa tahu aja itu trik Emeli untuk mengelabui kita semua." sambar Aleta.
"Sudah deh Aleta, Vera kalian jangan coba coba lagi ngompor ngomporin kita. Jelas jelas kemarin aku lihat sendiri dengan mata kepala aku sendiri kalau Emeli itu hampir jadi korban pembunuhan juga." kata Gracia kesal.
"Iya, aku tahu kalian berdua kan benci banget sama Emeli malah kalian sama Emeli itu bermusuhan tapi jangan fitnah dia juga keles seperti ini." sambar Retta kesal.
"Iya lagian semua orang di kampus ini juga tahu, kalau kalian sama Emeli lebih baik Emeli kalian kan geng sok cantik yang suka ngebully teman teman kampus di sini kalau kalian tidak suka dengan mereka." kata Adellia.
"Yupz betul sekali, kalian juga sering ngebully Emeli. Mencari cari kesalahan Emeli, padahal kan tidak salah apa apa, kalau kalian benci sama Emeli ya jangan nyuruh kita ikut benci Emeli juga dong. Menurut kita Emeli masih yang terbaik dari pada kalian." kata Jessy.
"Ta...tapi aku." kata Vera tak bisa meneruskan kata katanya karena disambar lagi oleh Yunita.
"Ah.....sudah kamu Vera, Aleta tidak jelas. Yuk mending kita bubar dari pada mendengar kata kata mereka yang mau memfitnah Emeli." kata Yunita.
"Iya benar, jahat banget kalau kita percaya lagi dengan omongan mereka berdua. Kemarin aja kita sudah salah menuduh Emeli masa sekarang aku harus menuduh Emeli lagi gara gara omongan mereka." kata Jessy.
"Iya tidak usah percaya omongan mereka berdua, karena kemarin kan faktanya Gracia dan Retta sudah membuktikan sendiri kalau Emeli itu hampir menjadi korban pembunuhan. Mending kita semua pergi ninggalin nih provokator." kata Yunita.
"Yuk bye bye provokator." kata Adellia meledek Aleta dan Vera.
Gracia, Retta, Adelia, Yunita, dan Jessy pergi meninggalkan Aleta dan Vera yang lagi kesal.
"Ah..... sial, aku masih tidak percaya kalau Emeli bukan pembunuhnya." kata Vera.
"Tapi Ver, katanya Gracia dan Retta Emeli hampir menjadi korban pembunuhan juga." kata Aleta ragu, dan Vera pun melihat Aleta bingung.
"Terus kamu juga percaya kalau Emeli bukan dalang dari pembunuhan itu." tanya Vera kesal.
"Ya aku juga bingung Ver." kata Aleta bingung.
__ADS_1
"Kita harus mencari bukti untuk meyakinkan teman teman kalau Emeli lah dalang dari pembunuhan itu Aleta, bukannya kamu juga ikut terpengaruh oleh triknya Emeli. Aku yakin kalau ini hanya trik dari Emeli untuk mengelabui kita. Tapi sayangnya aku bukan orang bodoh yang mudah dikelabui." kata Vera meyakinkan Aleta.
Emeli yang mendengar percakapan mereka pun tertawa senang kalau rencananya berhasil membuat semua mahasiswa mahasiswi tak mencurigai lagi kecuali Vera yang masih mencurigai Emeli.
"Akhirnya semua sesuai rencana, mereka tak lagi mencurigai aku. Rasain kamu Vera sekarang semua berpihak padaku dan kamu mau mencari bukti kalau aku pembunuhnya hahahahaha......(tertawa) jangan mimpi karena sampai mati pun kamu tak akan menemukan bukti itu karena aku akan selalu main cantik hahahaha......" kata Emeli sambil tertawa meninggalkan Aleta dan Vera yang kebingungan.
Aleta dan Vera menghampiri Emeli yang lagi jalan sendirian di koridor kampus.
"Emeli tunggu." panggil Vera yang menarik Emeli.
"Aduh, apa apaan sih kamu Ver." kata Emeli polos merasa tak tahu apa apa.
"Kamu jangan pura pura lugu deh. Ayo ngaku kamu kan dalang dari pembunuhan itu." tanya Vera.
"Iya kamu ngaku aja kan pembunuh dari Vero dan Monik juga Amanda." kata Aleta menuduh.
"Apa pembunuh.....(pura pura kaget) apa yang aku harus akuin Aleta, Vera karena aku memang bukan pembunuhnya jadi kalian berdua jangan asal nuduh ya." kata Emeli.
"Sabar Emeli, mereka hanya memancing emosi kamu. Biar semua curiga lagi kalau kamu dalang dari pembunuhan, jadi kamu harus sabar menghadapi mereka dengan tampang polos kamu. Hem....oke kalau gitu kita ikutin saja permainan ini." bathin Emeli.
"Aduh Aleta, Vera aku tidak tahu apa apa. Kok kamu malah nuduh aku seperti itu sih." kata Emeli mengeluarkan airmata buayanya pura pura ketakutan.
"Kamu apa apaan sih Aleta, Vera. Fitnah orang sembarangan aja." kata Naina yang tiba tiba datang menghampiri Emeli yang lagi dibully oleh Aleta dan Vera bersama Melindah dan Tara.
"Iya nih, kamu jangan nyudutin Emeli seperti itu dong. Kasihan dia." kata Melindah.
"Tahu nih, kamu Vera anak baru sukanya buat masalah aja. Emang kamu ada bukti kalau Emeli adalah pembunuhnya." kata Tara.
"Cukup Aleta, Vera kalian jangan nuduh Emeli lagi. Belum puas tadi kalian berdua dengar penjelasan kita kalau Emeli bukan pembunuhnya melainkan semalam dia juga hampir jadi korban pembunuhan." kata Gracia marah.
"Kalian berdua benar benar jahat ya, kerjanya hanya membully Emeli terus. Belum puas kalian berdua menyakiti Emeli. Apa mau kita aduin ke pak rektor biar kalian di DO dari kampus ini." ancam Retta.
"Kalian semua pasti akan menyesal karena tidak percaya sama kita." kata Vera.
"Kita tidak akan menyesal Vera, justru kita akan menyesal kalau kita percaya sama omongan kamu dan jahatin orang baik seperti Emeli." kata Gracia.
"Aku peringatin ya sama kamu jangan ganggu Emeli lagi karena dia tidak bersalah, paham kamu......ayo Emeli, kita pergi dari sini." kata Retta sambil menuntun Emeli yang lagi berakting menangis.
"Ba....baik." kata Emeli.
"Anak baru selalu buat masalah aja, ditambah satu geng yang dari dulu jahatnya tidak pernah berubah." kata Naina.
"Iya benar tidak punya malu setiap hari kerjanya selalu membuat masalah aja ngebully orang terus." kata Melindah.
"Tidak ada kapoknya ya kalian selalu ngebully Emeli, Emeli emangnya salah apa. Ternyata saudara kembar itu sifatnya sama aja. Sama sama jahat. Nih juga Aleta dari dulu tetap aja sifatnya tidak ada berubahnya masih jahat sama Emeli padahal ketua gengnya sudah tewas terbunuh." kata Tara.
"Uhhh....." kata Aleta dan Vera kesal lalu pergi meninggalkan kerumunan dari mahasiswa mahasiswi kampus.
Gracia dan Retta menenangkan Emeli dengan mengajaknya ke taman kampus karena habis di bully Aleta dan Vera.
"Kamu duduk di sini dulu ya, yang tenang Emeli. Kamu harus sabar ya Emeli. Kita berdua ada di samping kamu." kata Gracia menenangkan hati Emeli.
"Iya kamu tidak usah pikirkan perkataan Vera dan Aleta ya, mereka tidak ada habisnya selalu buat masalah sama kamu." kata Retta.
__ADS_1
"Iya Gracia, Retta terima kasih ya." kata Emeli.
Gracia dan Retta hanya tersenyum melihat Emeli.
"Akhirnya trik aku untuk berpura pura berakting di depan seisi kampus berhasil. Semua sekarang lebih berpihak pada aku dari pada dengan mereka. Mereka semakin terkucilkan, hahahaha......siapa suruh kalian berdua bermain main sama aku." batin Emeli sambil tersenyum melihat Gracia dan Retta.
"Ah.....sialan lagi lagi mereka lebih percaya Emeli dari pada kita." kata Vera kesal.
"Iya aku kesal banget sama Emeli, semua orang jadi pada menghujat kita." kata Aleta kesal.
Mata pelajaran telah usai di kampus, Aleta pun menunggu jemputan dari Bima. Lalu Miranda datang menghampiri Aleta.
"Hai Aleta apa kabar." kata Miranda.
"Ta....tante Miranda." kata Aleta ketakutan.
"Kenapa kamu kok tampak ketakutan. Jangan takut sayang, tante hanya mau ngajak kamu jalan jalan saja. Ayo ikut tante." kata Miranda yang menarik tangan Aleta kasar.
"Tidak mau tante, Aleta tidak mau ikut tante." kata Aleta yang menahan tarikkan dari Miranda.
"Ayo ikut." kata Miranda.
"Aleta tidak mau ikut. Tolong, tolong....tolong....." teriak Aleta tapi semua orang tak ada yang menolongnya mengingat kelakuan Aleta yang suka ngebully teman teman di kampusnya. Jadi mahasiswa mahasiswi kampus hanya melihat Aleta sedangkan Vera sudah pulang duluan.
"Kenapa Aleta, semua orang di sini hanya melihat kamu. Tidak ada yang menolong kamu, apa karena kamu di kampus ini sangat nakal jadi semua orang tidak ada yang mau menolong kamu (tertawa) sekarang ayo ikut tante Aleta percuma teriak teriak tidak akan ada yang mau menolong kamu." kata Miranda yang masih menarik Aleta sambil tertawa senang karena tidak ada yang mau menolong Aleta.
Lalu Bima pun datang yang melihat Aleta dikasarin dan ingin diculik oleh Miranda. Dan segera menolong Aleta.
"Aleta....." kata Bima yang segera berlari ke Aleta.
"Tolong.....tolong...." teriak Aleta.
"Lepaskan adikku." kata Bima yang mendorong Miranda kasar.
"Aww....." rintih Miranda.
"Jangan sentuh adikku, atau tante Miranda akan terima akibatnya." kata Bima marah.
"Bi....Bima." kata Miranda kaget dan ketakutan.
"Lebih baik tante pergi dari sini, atau tante mau Bima hajar, meski tante perempuan. Bima tidak segan segan menghajar tante Miranda karena sudah berniat menculik Aleta." kata Bima marah.
"Ba.....baik." kata Miranda ketakutan yang langsung pergi meninggalkan Aleta dan Bima.
"Kakak....." kata Aleta yang langsung memeluk Bima sambil menangis karena ketakutan.
"Tenang sayang tenang, tante Mirandanya udah pergi. Kamu jangan takut lagi ya sayang." kata Bima menenangkan Aleta.
"Iya kak." kata Aleta.
"Tapi kenapa masih banyak teman kampus kamu, kok tidak ada satu pun yang mau menolong kamu sih Aleta, apa kamu mahasiswi yang nakal di sini." tanya Bima bingung.
"Ti......tidak kok kak, mungkin mereka hanya takut sama tante Miranda aja kak." jawab Aleta gugup.
"Oh gitu, ya sudah ayo dek kita pulang." ajak Bima.
"Iya kak, ayo." kata Aleta yang langsung ke mobil.
Bima membukakan pintu mobil untuk Aleta yang masih syok karena Miranda yang hendak menculik Aleta.
__ADS_1
* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘