
Setelah pemakaman Anggun, Kayra membereskan pakaiannya dan siap siap pindah ke rumah Azka. Siska menghampiri Kayra yang sedang bersedih di kamarnya, melihat sekeliling rumah mengingat almarhuma maminya.
"Mi.....Kayra tidak pernah menyangka secepat ini mami pergi meninggalkan Kayra mi. Mami papi benar benar berubah papi ngusir Kayra dari rumah ini mentang mentang Kayra bukan anak kandung papi. Untungnya ada kak Azka mi. Kontrak kak Azka kerja di Singapura nya habis mi. Kayra juga bingung mi kalau kak Azka tidak datang, gimana nasib Kayra nanti mi. Karena Kayra sudah di usir oleh papi." lirik Kayra menghela napas penuh kesedihan terasa sangat beban beratnya kehilangan mami tercinta. Lalu melanjutkan kata katanya.
"Papi akan segera menikah dengan tante Siska dan karena Kayra juga bukan anak kandung papi. Jadi papi tidak ada hak wajib untuk tetap mengurus Kayra." ujar Kayra yang bersedih sambil memandangi foto bertiga dengan mami Anggun dan papi Galvin.
"Gimana Kayra rasanya di usir." sungut Siska, Kayra pun kaget karena Siska tiba tiba berada di belakang Kayra.
"Tante Siska, lancang banget ya tante masuk ke kamar aku tanpa permisi." ujar Kayra kesal.
"Apa kamar kamu hahahahaha....." ujar Siska tertawa lalu tersenyum sinis kepada Kayra dan menghampiri Kayra.
"Lebih tepatnya mantan kamar kamu kali Kayra karena kamu kan bentar lagi sudah mau pergi dari rumah sini jadi jangan kamu tetap mengakui kamar ini menjadi kamar kamu." kata Marisa tersenyum.
"Sudah ya tante, Aleta tidak ada waktu untuk meladeni tante." kata Aleta yang sambil melipat pakaiannya lalu memasukkannya ke dalam koper satu persatu.
"Ya....ya.....sekarang saya yang akan menguasai rumah ini hahahahaha.....(tertawa) Hem....saya memang tidak mencintai mas Ronald, melainkan saya hanya mencintai harta mas Ronald saja. Jadi saya tidak peduli jika mas Ronald kalau nantinya main sama cewek lain lagi asal hidup saya berlinangkan harta yang buanyak sekali. Saya juga rela kok di madu, asal tidak di talak hahahaha.....biar bisa menikwati hartanya mas Ronald." kata Miranda tertawa.
"Tante Miranda memang orang gila ya, gila harta, dasar pelakor." kata Aleta marah.
"Duh....duh....duh.....Aleta cantik apa kamu tidak sadar dengan sebutan kata pelakor (memegang pipi Aleta) sepertinya kata pelakor itu lebih pantas untuk mami kamu, bukankah dulu mami kamu telah merebut papi kamu dari tangan istrinya apa kamu lupa, anak manis (tersenyum) gara gara mami kamu ada anak yang terlantar di campakkan. Mungkin ini karma untuk mami kamu, mati mengenaskan karena mau ditinggal suami hahahahaha.....
(tertawa) pelakor di rebut suaminya juga impas kan hahahaha....." kata Marisa tertawa.
"Sudah tante lebih baik tante keluar (mengusir) Aleta mau beres beres biar cepat keluar dari rumah ini, jadi jangan ganggu Aleta lagi. Itu kan yang tante mau untuk menguasai harta papi kalau Aleta pergi dari rumah ini." kata Aleta sambil membereskan barang barangnya.
"Yupz betul sekali anak pintar hahahaha..... (tertawa) asal kamu tahu ya setelah kamu pergi dari rumqh ini, tante akan menikah dengan papi kamu. Dan setelah menikah tante akan suruh papi kamu menandatangi seluruh kekayaannya atas nama tante, karena saya bukan wanita yang bodoh seperti kedua mantan istrinya termasuk mami kamu Aleta. Jadi jika papi kamu menikah dan menceraikan saya, Semua hartanya sudah atas nama saya dan papi kamu akan jatuh miskin hahahahaha.....(tertawa). Dan saya akan pastikan kalau kamu tidak akan mendapatkan sepeser pun harta warisan papi kamu, hahahaha....." kata Marisa tertawa jahat.
"Tante Marisa, Aleta tidak menyangka ya kalau tante itu benar benar jahat dan licik." kata Aleta.
Tapi ternyata tiba tiba Ronald mendengar percakapan kejahatan Marisa dan Aleta Ronald yang mendengar sangat murka sekali pada Marisa dan meminta maaf pada Aleta. Akhirnya Ronald meminta Aleta dan Bima untuk tinggal di rumahnya.
"Marisa ternyata ini rencana kamu terhadapku, aku benar benar tidak menyangka ya di balik wajah kamu yang cantik ternyata sifat kamu jahat dan licik." bentak Ronald.
Marisa kaget tidak menyangka niat busuknya ketahuan, ketawanya berubah jadi ketakutan dan kesedihan.
__ADS_1
"Ma....mas Ronald, sejak kapan mas Ronald ada di situ." kata Marisa.
"Cukup lama untuk mendengar niat busuk kamu Marisa (menunjuk Marisa) Kenapa....kamu kaget ya, saya tahu semuanya (tersenyum) saya tidak menyangka ternyata hati kamu sebusuk itu Marisa. Hati kamu tidak secantik wajah kamu. Untung saja ya saya belum menikah dengan kamu, gara gara saya tergoda dengan kecantikkan kamu. Saya jadi kehilangan orang yang saya sangat cinta yaitu Alexa." kata Ronald geram.
"Ma....maafkan saya mas. Saya mohon jangan tinggalkan saya, saya tulus mencintaimu." pinta Marisa merayu memegang tangan Ronald.
"Cinta (tersenyum sinis) bukankah kamu hanya mencintai harta saya saja (tanya Ronald santai) Saya sudah tidak percaya dengan perkataan kamu Marisa. Karena saya sudah mendengar jelas dari mulut kamu sendiri, kalau kamu hanya menginginkan harta saya saja. Jadi saya putuskan mulai saat ini kita sudah tidak ada hubungan apa apa lagi (Ronald geram lalu Ronald menarik tangan Marisa dan melemparkannya keluar) Ayo, pergi dari rumah saya." kata Ronald tak bisa membendung lagi amarahnya.
"Ja....jangan mas, jangan." pinta Marisa berontak untuk di tarik, namun Ronald melemparkan Marisa keluar rumah dengan paksa.
"Saya ingatkan ya pada kamu, jangan pernah datang kemari lagi (dengan nada tinggi) atau kamu akan mati di tangan saya. Oh iya mulai besok kamu sudah tidak bisa datang ke kantor lagi kamu aku pecat." kata Ronald menutup pintunya.
"Mas tolong mas jangan lakukan itu padaku." kata Marisa yang menggedor pintu rumah Ronald.
"Papi, itukah wanita yang papi pilih untuk menggantikan mami. Hingga papi jahat sama mami, padahal mami itu sayang dan cinta pada papi tulus, tapi papi sangat tega mengkhianati mami. Itu kan wanita yang papi banggakan, kata papi dia wanita yang baik, papi tidak percaya dengan omongan Aleta kalau wanita itu sangat jahat." tanya Aleta penuh kekecewaan.
Ternyata Aleta mengikutinya ke teras rumah dan Ronald langsung memeluk Aleta penuh haru dan amat menyesal Ronald minta maaf pada Aleta akan sikapnya yang sudah kelewat batas pada keluarganya.
"Aleta sayang maafkan papi (memeluk Aleta dan meneteskan airmata) papi menyesal. Gara gara papi, mami jadi meninggal. Papi mohon jangan tinggalkan papi, papi janji akan anggap Aleta sebagai anak papi sendiri. Dan tidak akan berlaku kasar lagi sama Aleta." pinta Ronald penuh penyesalan.
"Dek sudah siap ayo kita pergi." kata Bima.
"Pi....pi.....pi jangan pi. Sebenarnya Aleta memang sangat kecewa sekali sama papi karena gara gara papi Aleta jadi kehilangan mami, Aleta sedih pi, Aleta masih belum terima kalau mami sudah tidak ada di dunia ini. Tapi Aleta juga sudah terlanjur sayang banget sama papi, Aleta sudah menganggap papi sebagai papi kandung Aleta sendiri. Jadi Baiklah pi Aleta akan beri satu kesempatan lagi, untuk papi membuktikan bisa menjadi papi yang baik untuk Aleta dan kak Bima. Jadi Aleta akan maafkan papi dan Aleta juga tidak akan pergi dari rumah ini pi." kata Aleta tersenyum dan Bima yang mendengar perkataan Aleta kaget.
"Dek kamu yakin dengan keputusan kamu ini." tanya Bima bingung.
"Iya kak yakin (tersenyum) sepertinya papi benar benar tulus menyesal akan sikapnya selama ini pada mami dan Aleta, jadi tidak ada salahnya kak kalau kita memberi kesempatan untuk papi menebus semuanya kesalahannya pada aku dan mami kak. Karena Aleta yakin mami akan senang di sana kalau kita hidup bersama sama, karena mami sangat mencintai papi. Makanya mami nekad bunuh diri setelah tahu papi akan menikah lagi dengan tante Marisa. Karena papi adalah cinta pertana dan cinta terakhirnya mami." kata Aleta dengan tersenyum.
"Heemmmm.....baiklah kalau kamu memang yakin. Ya sudah pi kita maafkan kesalahan papi, tapi ingat jangan ulangi lagi kesalahan papi ya." kata Bima tersenyum
"Iya baik Bima baik." kata Ronald sambil memeluk Bima dan Aleta tersenyum bahagia.
"Ayo kita ke dalam." sambung Ronald merangkul Aleta dan Bima.
"Ayo pi." kata Bima dan Aleta serentak.
Sementara itu Emeli sangat senang karena dendamnya kepada wanita yang menghancurkan keluarganya telah terbalas, sebelum kematian Alexa yang sangat tragis. Emeli berhasil membuat hidup Alexa menderita hingga dia bunuh diri karena ketidak sanggupan di kucilkan suami sendiri hingga berkhianat dan ternyata wanita itu hanya ingin menguasai seluruh kekayaan Ronald Kertajasa.
__ADS_1
"Ibu, satu lagi yang menghancurkan keluarga kita telah mati bu. Dendam kita sudah terbalaskan (tertawa) wanita pelakor itu mati bunuh diri bu. Dan satu persatu keluarga Kertajasa akan mati mengenaskan bu, Emeli janji bu, mereka harus mati. Karena mereka harus membayar sakit hati kita bu, kekecewaan yang teramat sangat dalam, mereka lakukan pada keluarga kita." mata Emeli penuh dendam dan kebencian.
Marisa sangat kesal karena niat busuknya ketahuan untuk merampas seluruh kekayaan Ronald, penuh amarah dan kebencian Marisa ingin membalaskan dendam pada keluarga Kertajasa.
"Sialan....semua rencanaku untuk menguasai semua harta warisan mas Ronald bisa gagal, lihat aja keluarga Kertajasa. Saya akan membalas semua perlakuan kalian, jangan pikir kalian semua bisa hidup tenang setelah apa yang kalian lakukan padaku." Dendam Marisa.
Aleta bahagia karena papinya sudah bersikap baik lagi, seperti dulu meski bukan papi kandung tapi Aleta sudah menganggap papi tirinya seperti papi kandungnya sendiri. Dan Aleta sangat menyayangi papi Ronald.
"Pi Aleta senang deh keluarga kita bisa utuh lagi seperti ini (tersenyum) meski kurang lengkap tanpa mami, tapi Aleta yakin mami sudah tenang di alam sana." kata Aleta.
"Iya Aleta papi sangat menyesal sekali karena dulu papi tidak bisa menerima keadaan mami kamu apa adanya (sedih) padahal mami kamu adalah wanita yang sangat papi cintai dari dulu. Kalau saja waktu itu papi tidak berlaku kasar terhadap mami kamu mungkin mami kamu masih hidup saat ini, maafkan aku Alexa maafkan aku yang tak setulus cintamu padaku. Padahal kamu cinta pertamaku, tapi di saat kamu cacat aku malah menghina juga mencampakkanmu dan aku juga mengkhianati kamu dengan wanita yang ternyata hatinya sangat jahat dan licik." Ronald menyesal penuh kesedihan.
"Sudahlah pi percuma kita terpuruk dalam penyesalan (memegang pundak papi) yang sudah berlalu biarlah berlalu, ibarat nasi sudah jadi bubur tidak mungkin bisa mengembalikan semua yang sudah terjadi. Karena mami tidak akan mungkin kembali lagi, sekarang biarlah itu menjadi pelajaran untuk papi, jangan pernah meninggalkan yang terbaik hanya untuk yang tercantik karena yang tercantik belum tentu bisa menjadi yang terbaik." kata Alexa.
"Benar itu pi (tersenyum) yang penting papi jangan pernah mengulangi kesalahan, untuk kedua kalinya. Dan meninggalkan anak anak yang menyayangi papi, meski papi bukan papi kandung kita tapi kita menyayangi papi setulus hati kita." sambar Bima.
"Kalian memang anak anak yang baik (meluk Bima dan Aleta) pasti mami kalian bahagia mempunyai anak seperti kalian berdua." kata Ronald
Ronald memeluk Aleta dan Bima penuh haru kali ini bukan airmata kesedihan tapi airmata kebahagiaan, papinya sudah menyadari kesalahan. Meski maminya sudah meninggal tapi tidak ada kebahagiaan yang lebih berharga yang Aleta dapatkan selain penyesalan papinya.
"Oh iya besok kita ke pemakaman mami ya, papi mau minta maaf sama mami kamu." kata Ronald.
"Iya pi." kata Bima dan Aleta serentak tersenyum.
Keesokkan harinya di pemakaman Alexa. Ronald menabur bunga ke makam Alexa.
"Alexa maafkan aku ya atas kesalahan aku. Gara gara aku kamu harus tewas sangat mengenaskan. Aku sungguh menyesal dan aku janji akan menjaga anak anak kamu dengan sepenuh hatiku Alexa. Dan menganggap Aleta dan Bima sebagai anak kandungku sendiri." kata Ronald menangis penuh penyesalan, lalu Aleta dan Bima memeluk Ronald.
"Sudah ya pi, mami pasti juga akan memaafkan papi. Dan Aleta juga janji akan menjadi anak yang baik buat papi dan tidak akan menyusahkan papi." kata Aleta.
"Iya pi, meski kita tidak punya hubungan darah tapi Bima akan menjadi anak yang baik untuk papi. Anak tiri rasa anak kandung." canda Bima, Ronald dan Aleta pun tertawa.
Akhirnya mereka pulang dari pemakaman Alexa dengan bahagia. Karena hati Ronald pun tenang setelah meminta maaf pada Alexa. Sementara itu Marisa hanya memantau dengan mobilnya matanya melihat Ronald, Aleta, dan Bima penuh dendam.
"Lihat saja tunggu pembalasan aku. Jangan harap kalian akan bahagia setelah apa yang kalian lakukan terhadapku." kata Marisa tersenyum sinis.
Marisa tidak terima karena gagal menikah dengan Ronald dan harapannya untuk menguasai harta warisannya Ronald pun juga sudah kandas karena obsesinya yang tinggi untuk menjadi kaya. Apa lagi Marisa juga harus kehilangan pekerjaannya, dipecat dari kantornya Ronald semakin meledak ledak dendam Marisa pada Ronald. Dan Marisa berjanji akan balas dendam pada Ronald dan keluarganya.
__ADS_1
* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘