
Vera sangat bersedih akan kematian Vero. Vera sangat terpukul sekali, sampai tiga hari tak keluar kamar tapi hati pun harus bangkit karena Vera harus mencari pembunuh Vero sebenarnya.
"Sayang, ayo makan dulu. Sudah tiga hari kamu menyendiri di kamar sayang, nanti kamu sakit loh." kata Yunita.
"Tidak ma, Vera tidak mau makan." kata Vera sedih.
"Pa, bagaimana nih pa Vera. Dia tidak mau keluar kamar, terus mengunci diri di kamar. Mama takut Vera sakit pa." kata Yunita khawatir dengan keadaan Vera.
"Kamu tenang ya sayang, Vera sangat terpukul sekali akan kematian saudara kembarnya." kata Judika.
"Iya, mama juga seperti itu pa. Mama juga sangat terpukul sama kematian Vero. Tapi kita harus bangkit tidak boleh tenggelam terus dalam kesedihan." kata Yunita.
Vera diam diam menguping pembicaraan Yunita dan Judika lalu membuka pintu kamar.
"Ma.....pa.....maafin Vera ya, yang udah membuat kalian cemas. Vera janji Vera akan bangkit ma, pa demi membalaskan dendam kematian Vero." kata Vera.
"Apa (kaget) kamu mau membalas dendam. Jangan sayang, pembunuh itu sangat berbahaya. Mama dan papa tidak mau kehilangan anak lagi karena kamu anak satu satunya yang mama punya." kata Yunita.
"Iya sayang, kamu jangan main main sama pembunuh berdarah dingin yang membunuh Vero. Dia itu sangat berbahaya sekali." kata Judika.
"Tapi tekad Vera sudah bulat ma pa, pokoknya mama dan papa tenang aja. Vera akan berhati hati, Oh iya besok Vera mau kuliah di kampusnya Vero ya ma." kata Vera.
"Iya boleh, baguslah kalau kamu udah semangat lagi. Besok mama daftarin ke kampus bumi cerdas ya sayang." kata Yunita.
"Siap ma." kata Vera hormat dan tertawa.
"Ya sudah sekarang kamu makan yuk, mama sudah masakkin masakkan kesukaan kamu." kata Yunita.
"Oke ma, chiken steak ya ma." kata Vera.
"Iya sayang." kata Yunita.
"Asyik sudah lama Vera tidak makan masakkan mama." kata Vera senang yang berjalan ke meja makan.
Keesokkan harinya kampus bumi cerdas kedatangan seorang mahasiswi baru.
"Anak anak hari ini kita kedatangan mahasiswa baru. Ayo Vera masuk." kata bu Tamara.
Vera masuk dan semua kaget melihat kedatangan Vera yang percis banget mirip Vero.
"Vero." kata Monik dan Aleta serentak saling bertukar pandang tersenyum senang melihat teman barunya mirip sekali dengan Vero sahabatnya tapi bedanya Vera rambutnya suka sekali dikuncir.
"Hai semua perkenalkan nama saya Veranica Judika saya adalah saudara kembarnya Vero panggil saja saya Vera. Semoga kita bisa berteman baik." kata Vera.
Lalu Monik dan Aleta menghampiri Vera dan memeluk Vera yang mukanya mirip sekali dengan Vero sahabatnya.
"Vero." kata Monik dan Aleta serentak.
"Maaf aku Vera bukan Vero. Kalian berdua siapa." tanya Vera bingung.
__ADS_1
"Oh, maaf habis kamu benar benar mirip sekali dengan Vero. Oh iya kenalin aku Monik sahabat baiknya Vero." kata Monik yang mengulurkan tangannya.
"Kalau aku Aleta sahabatnya Vero juga." kata Aleta yang mengulurkan tangannya.
"Oh, iya aku Vera saudara kembarnya Vero." kata Vera menyambut tangan Monik dan Aleta.
"Kok Vero tidak pernah cerita ya kalau dia punya saudara kembar." kata Monik bingung.
"Oh mungkin dia lupa karena dari kecil aku sama Vero sudah terpisah, aku tinggal di surabaya. Sedangkan Vero di jakarta." kata Vera.
"Oh gitu iya mungkin." kata Monik.
"Semoga kita bisa bersahabat baik seperti Vero. Karena Vero adalah sahabat terbaik kita." kata Aleta.
"Iya semoga aja." kata Vera tersenyum.
"Ayo kita duduk, kamu duduk di bangkunya Vero ya." kata Aleta.
"Oh oke, di mana bangkunya Vero." tanya Vera.
"Tuh di sana." kata Monik dan Aleta serentak sambil menunjuk bangku bekas Vero.
"Oh iya, terima kasih yuk." kata Vera tersenyum sambil berjalan ke bangku bekas Vero.
Emeli yang melihat kemiripan Vera dengan Vero melihat sinis.
"Hem, iya semoga aja." kata Emeli.
"Ya tapi walaupun Vero rese rese gitu, aku juga sedih tahu. Kalau Vero kematiannya sangat mengenaskan (bicara pada Emeli tapi Emeli sibuk memperhatikan Vera) menurut kamu gimana Emeli (Salsa bingung melihat Emeli memperhatikan Vera terus) Emeli." kata Salsa.
"Eh, i....iya aku juga sedih kok." kata Emeli.
"Kamu kenapa sih dari tadi lihatin Vera mulu." tanya Salsa.
"Ah....ti.....tidak aku cuma tidak nyangka aja kalau Vero itu punya saudara kembar." kata Emeli tersenyum.
"Iya mirip banget ya Emeli bagai pinang di belah kapak." canda Salsa tertawa.
"Bisa aja kamu ah Sal, namanya juga saudara kembar ya mirip lah." kata Emeli tersenyum.
"Iya juga ya." kata Salsa nyengir sambil menggaruk garukkan kepalanya.
Monik, Aleta, dan Vera lagi duduk di koridor kampus dan dia melihat Emeli dan Salsa lewat.
"Eh, Ver lihat tuh. Dua orang itu adalah musuh kita, sebelum kematian Vero itu tuh yang pakai cardigan merah namanya Emeli. Dia sering berantem sama saudara kembar kamu itu." kata Monik mengompor ngompori Vero.
"Apa kamu serius Monik (melihat Emeli) berani banget tuh orang cari masalah sama saudara kembarku (kesal) hem.....apa jangan jangan dia yang membunuh saudara kembar aku ya, sepertinya aku harus cari tahu (batin Vera sambil melihat Emeli) Terus apa lagi yang kamu tahu tentang dia." kata Vera.
"Jelas aku tahu, dia itu perempuan yang rese terus suka buat masalah sama kita. Pokoknya dia itu nyebelin banget deh." kata Aleta kesal.
"Oh gitu kayanya aku harus labrak dia." kata Vera yang langsung menghampiri Emeli.
__ADS_1
"Yess, kita berhasil ngompor ngomporin Vera." kata Aleta tos sama Monik.
"Iya biar tahu rasa tuh Emeli, sepertinya Vera lebih buas dari pada sih Vero." Monik tertawa bersama Aleta.
"Eh Emeli." kata Vera yang mendorong Emeli hingga terjatuh.
"aaaww....." teriak Emeli, Monik dan Aleta tertawa senang melihat Vera melabrak Emeli.
"Eh, Vera kamu apa apaan sih datang datang main jorokkin Emeli aja. Kamu anak baru juga buat masalah aja." kata Salsa marah melihat sahabatnya di dorong.
"Memang kenapa kalau aku anak baru hah, aku tidak ada urusannya sama kamu ya (nunjuk Salsa) aku ada urusannya sama Emeli (nunjuk Emeli) eh....aku tahu Emeli sebelum Vero meninggal dia berantem kan sama kamu. Oh atau jangan jangan kamu yang menyebabkan Vero meninggal." kata Vera, Emeli kaget mendengar tuduhan Vera karena yang dituduhkan Vera itu benar. Monik dan Aleta juga kaget mendengar tuduhan Vera.
"Eh, kamu jangan asal tuduh aja ya, sahabat aku tidak mungkin melakukan hal seperti yang kamu tuduhkan. Untuk membunuh semut aja dia tidak tega apa lagi membunuh manusia jadi jaga perkataan kamu ya Vera." kata Salsa penuh emosi.
"Hem....seandainya kamu tahu Salsa, apa yang diomongin Vera itu benar. Kalau aku yang sudah membunuh Vero. Apa kamu masih mau jadi sahabat aku Salsa." batin Emeli.
"Ayo Emeli." kata Salsa yang menolong Emeli bangun dan pergi meninggalkan Vera. Vera masih mengingat kesal kepergian Emeli.
"Aku yakin kalau Emeli lah yang menyebabkan kematian saudara kembarku." batin Vera.
Monik dan Aleta pun menghampiri Vera dan tertawa.
"Aku suka gaya kamu Vera." kata Monik dan Aleta serentak.
"Heran aku sama Vera, kok bisa bisanya dia menuduh kamu yang membunuh Vero. Padahal itu semua kan tidak mungkin. Aku tahu dan sangat mengenal kamu Emeli, karena kamu sahabat kecil aku yang baik hati dan mempunyai perasaan yang lembut untuk membunuh seekor semut aja kamu tidak tega apa lagi membunuh manusia yang ada pasalnya jadi kamu tidak mungkinlah membunuh Vero meski kamu memang selalu tersakiti oleh sikap Vero yang selalu ngebully kamu Emeli." kata Salsa yang masih kesal dengan omongan Vera.
"Tapi semua itu benar Salsa. Aku yang sudah membunuh Vero karena sakit hati, aku yang sudah menyebabkan Vero tewas mengenaskan, entah kenapa sejak kematian ibu emosiku jadi tidak bisa terkontrol, aku belum puas jika musuh musuhku belum mati mengenaskan di tanganku." batin Emeli masih melamun.
Salsa pun tersadar dan melihat Emeli yang dari tadi Emeli melamun sedang memikirkan sesuatu dan Salsa membuyarkan lamunan Emeli.
"Emeli, kamu kenapa sih kok dari tadi kamu melamun aja (duduk di sebelah Emeli) ini semua pasti karena kamu memikirkan omongannya Vera ya. Sudahlah Emeli tidak usah dipikirkan. Obatnya habis kali tuh orang jadi ngaco ngomongnya mentang mentang kamu habis berantem sama Vero terus kamu malah di tuduh yang membunuh Vero, sudah ya Emeli kamu tidak usah dengerin omongannya Vera anggap aja itu semua angin lalu, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. kata peribahasa anjing menggonggong khafilah berlalu Okay." kata Salsa tersenyum menenangkan.
"Heemmmm....Oke deh." kata Emeli tersenyum terpaksa.
Di koridor kampus Vera masih memandang dari kejauhan Emeli dan Salsa yang lagi ngobrol.
"Ada yang aneh sama Emeli, sepertinya dia menyimpan berjuta rahasia. Hem.....(mikir) aku benar benar mencurigai Emeli yang sudah menyebabkan kematian saudara kembar aku. Pokoknya aku harus cari tahu, kalau emang itu benar bahwa dia yang membunuh Vero habis dia karena aku tidak akan membiarkan orang yang membunuh adik aku hidup tenang." batin Vera matanya tak lepas pandangannya dari Emeli.
"Eh Ver, kok kamu bisa menuduh Emeli yang membunuh Vero." kata Monik bingung membuka percakapan.
"Iya aku juga bingung dengan omongan kamu tadi Ver." kata Aleta.
"Ya aku cuma curiga saja sama Emeli kalau dialah penyebab kematian Vero." kata Vera.
"Tapi tidak mungkin deh sepertinya Ver, karena Emeli itu kan cuma gadis yang cupu dan lemah." kata Monik.
"Iya betul kata Monik Ver, Emeli itu cuma gadis lemah. Di bully aja sama kita dia diam aja." kata Vera.
"Oh gitu ya." kata Vera.
Tapi Vera tetap tidak percaya dengan omongan Monik dan Aleta, Vera terus memperhatikan Emeli yang lagi ngobrol sama Salsa. Matanya terpancarkan kecurigaan terhadap Emeli yang menyebabkan Vero tewas mengenaskan. Vera pun ingin menyelidiki Emeli. Dan dia tidak akan memaafkan orang yang membunuh saudaranya bebas berkeliaran di luar sana karena Vero ingin membalas dendam sama pembunuh saudara kembarnya.
* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘
__ADS_1