Psikopat Cinta

Psikopat Cinta
Curhatan Salsa


__ADS_3

Salsa sangat memikirkan sahabatnya Emeli, karena merasa tidak enak akan perlakuan mama dan saudara tirinya. Dia bermaksud meminta maaf pada Emeli dengan membawa makanan dan minuman untuk Emeli. Tanda permintaan maaf Salsa kepada Emeli. Salsa mencari cari Emeli ternyata Emeli lagi melamun di taman kampus seorang diri.



"Emeli....." panggil Salsa.


Emeli menengok ke arah Salsa.


"Eh....Salsa." kata Emeli.


"Ini untuk kamu Emeli, tanda permintaan maaf aku kemarin." kata Emeli.


"Terima kasih ya Salsa." kata Emeli sambil mengambil makanan dari Salsa.


"Emeli, aku benar benar minta maaf banget sama kamu ya. Aku kemarin mikirin terus tahu jadi tidak enak aku sama kamu Emeli karena sikap kejamnya mama tiriku juga Monik dan Bella." kata Salsa.


"Sudahlah Salsa lupakan saja tidak usah dipikirkan, aku paham kok Salsa. Kamu kan tidak salah, ngapain mesti kamu yang minta maaf." kata Emeli.


"Terus kamu tinggal di mana?" tanya Salsa khawatir.


"Di jalan Gagak, nanti pulang kamu main ke rumah aku saja ya. Biar kamu tahu rumah aku, bila perlu kamu menginap di rumah baru aku." kata Emeli.


"Kamu ngontrak di situ." tanya Salsa.


Emeli menggelengkan kepala.


"Terus....." tanya Salsa bingung.


"Aku kemarin ketemu rumah tua yang sudah lama tak berpenghuni, dari pada aku tidak punya tempat tinggal. Mending aku tinggal di rumah tua itu saja deh. Karena kasihan ibu kalau harus lontang lantung di jalan tidak ada tujuan, malah hujannya sangat lebat lagi. Aku takut ibuku sakit karena kehujanan" kata Emeli.


"Oh, gitu. Kamu sangat beruntung sekali Emeli karena menemukan rumah yang sudah lama tak berpenghuni, jadikan rumah itu bisa kamu tempati sama ibu kamu." kata Salsa tersenyum terpaksa.


"Ya begitulah aku dan ibu memang sangat beruntung sekali." kata Emeli tersenyum.


"Tapi ngomong ngomong kamu tidak takut apa Emeli. Biasanya nih rumah yang sudah lama tak berpenghuni banyak hantunya." kata Salsa menakut nakuti Emeli.


"Tadinya sih aku juga berpikir seperti itu. Tapi ternyata tidak ada apa apa ah.....aku tidur nyenyak nyenyak saja, tidak ada yang aneh." kata Emeli tersenyum.


Emeli menyadari bahwa sahabatnya pun juga merasa ada kesedihan yang mendalam pada hatinya karena mukanya yang biasanya ceria tampak murung, terlihat senyumannya penuh kepalsuan, tatapan matanya pun juga kosong.


"Salsa....kamu kenapa?" kata Emeli memandangi wajah Salsa, dan Salsa pun tertunduk menyadari kalau sedang diperhatikan Emeli.


"Kamu lagi ada masalah ya. Cerita aja sama aku Salsa, dari pada kamu pendam sendiri." lanjut Emeli.


Salsa sebenarnya ingin curhat pada Emeli, tapi Salsa ragu.


"Eh.....ti....tidak ada apa apa kok Emeli." kata Salsa berbohong.


Emeli tahu kalau sahabatnya sedang menutupi masalah, karena terlihat jelas dari wajahnya yang menyembuyikan sesuatu rahasia. Tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan tersenyum.


"Salsa kamu sahabatku, aku sangat mengenal kamu Salsa. Kamu tidak pandai berbohong (memandang Salsa dan memegang dagunya memperhatikan, Salsa tetap menunduk penuh kesedihan).


"Emeli aku tidak kuat Emeli, aku tidak kuat." tangis Salsa memecah.


"Kamu tenang dulu Salsa, ini minum dulu (Emeli menyodorkan minuman yang tadi Salsa kasih), gimana kamu sudah tenang belum Salsa." kata Emeli.


"Iya, sudah Emeli." kata Salsa.


"Nah, sekarang lanjutkan cerita kamu ya Salsa. Sebenarnya ada apa sih dengan kamu Salsa. Sampai kamu sesedih ini tidak seperti Salsa yang aku kenal, yang selalu ceria." kata Emeli.


"Mama tiri aku Emeli, mama tiri aku sangat jahat dan kejam sekali." kata Salsa menangis.


"Iya kalau itu sih aku juga tahu Salsa. Mama tiri kamu kan memang super duper jahatnya dan dia tidak pernah peduli sama sekali perasaan orang lain." kata Emeli.


"Bukan hanya itu Emeli, tapi ternyata mama tirikulah dalang dari penyebab kematian papa aku Emeli." kata Salsa menangis.


"What (kaget) kamu serius Salsa.....ja....jadi nyokab tiri kamu yang sudah membunuh bokap kamu." tanya Emeli.


"Iya aku serius Emeli mama tiri aku yang cerita sendiri sama aku kemarin waktu dia mengusir kamu keluar dari rumahku." kata Salsa menangis pilu.


"Terus dengan cara apa Salsa mama tiri kamu membunuh papa kamu." tanya Emeli penasaran.


"Mama tiri aku membunuh papaku dengan cara mencampurkan racun di kopi yang mamaku buat untuk papaku, lalu mamaku memanipulasi seolah olah kematian papaku itu karena serangan jantung. Dan di saat polisi menyarankan untuk otopsi mayat papaku karena kematian papaku sangat mendadak sekali, mamaku bersandiwara dan meyakinkan polisi kalau kematian papaku itu murni karena sakit jantung. Tujuan nyokab tiri aku untuk membunuh papa adalah agar mama tiri aku bisa menguasai semua harta warisan papa dan menjadikan aku babu di rumahku sendiri." kata Salsa menangis pilu.



"Terus, kenapa kamu tidak melaporkan kejahatan nyokap tiri kamu ke polisi Salsa, kan ini sudah tindakkan kriminal biar nyokap tiri kamu itu di penjara seumur hidup atau sekalian saja dikasih hukuman mati karena ini sama aja pembunuhan berencana." kata Emeli menyarankan tapi Salsa menunduk sedih.


"Pengennya sih gitu Emeli, tapi aku tidak bisa. Karena aku tidak ada bukti yang akurat untuk melaporkan kejahatan nyokap tiri aku ke polisi. Yang ada nyokab tiri aku malah mengancam aku kalau misalnya aku sampai melaporkan masalah ini ke polisi aku yang akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa Emeli." kata Salsa terpuruk dalam kesedihan.


"Loh kok bisa sih Salsa." tanya Emeli kaget.

__ADS_1


"Iya, karena mama tiri aku itu sangat licik dan kejam. Dia mengancam aku Emeli kalau sampai aku melaporkan nyokab tiri aku ke polisi. Nyokab tiri aku akan menuduh aku memfitnah nyokab tiri aku dan aku akan di kira gila, lalu nyokab tiri aku memasukkan aku ke dalam rumah sakit jiwa untuk selamanya. Aku bisa apa Emeli, karena aku kan tidak mau masuk rumah sakit jiwa." kata Salsa sedih.


"Ya ampun, aku tidak menyangka ternyata nyokap tiri kamu sejahat itu bukan hanya jahat saja tapi kejam, bengis, licik, dan maruk harta. Pokoknya kamu yang sabar ya Salsa (memegang pundak Salsa), suatu saat nanti kejahatan nyokap tiri kamu itu akan terungkap dan nyokap tiri kamu pasti akan masuk penjara seumur hidup karena ini namanya pembunuhan berencana." kata Emeli memeluk Salsa.


"Iya Emeli." kata Salsa memecahkan tangisnya.


"Dan aku akan selalu ada buat kamu Salsa karena aku adalah sahabat kecil kamu. Dari kecil kan kita selalu bersama dalam suka maupun duka jadi bagaimana pun keadaannya aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sendiri dalam kesedihan." kata Emeli.


"Iya, terima kasih Emeli." kata Salsa.


"Kamu jangan sedih lagi dong Salsa nanti cantiknya hilang loh." kata Emeli tersenyum dan menghibur sambil mengangkat dagu Salsa pelan.


Salsa pun tersenyum.


"Nah gitu dong tersenyum, kan aura kecantikannya terpancar." kata Emeli tersenyum Salsa jadi tersipu malu mendengar pujian Emeli.


Monik, Aleta, dan Vero datang mengganggu Emeli dan Salsa.


"Eh....eh.....eh.....eh.....ada gembel di sini (menyindir Emeli, Salsa dan Emeli kaget lihat ke belakang), gimana rasanya.....diusir dari rumah aku. Terus kamu tinggal di mana? di kolong jembatan atau emperan jalan. Lagian pede banget sih kamu Emeli, mau menumpang di rumahku. E....tidak tahunya malah diusir sama nyokab aku hahahahaha......kasihan deh kamu Emeli." kata Monik sambil tertawa diikuti oleh Aleta, dan Vero yang ikut tertawa.


"Sorry ya Monik, aku tidak tinggal di kolong jembatan atau di emperan jalan seperti yang kamu maksud." kata Emeli kesal menghampiri.


"Aduh bau (menutup hidung), kalian berdua cium bau gembel tidak sih di sini hahahaha....." kata Monik tertawa acuh tanpa mendengarkan jawaban Emeli.


"Iya.....bau bingit euy.....jijik." kata Vero ikut menutup hidungnya.


"Kayaknya, ada gembel nih dekat kita." kata Aleta sambil menyemprot minyak wangi di sekitarnya.


"Eh.....kalian bertiga, benar benar keterlaluan ya. Ada temannya susah malah ditertawakan seperti ini dan di bully." kata Emeli kesal.


"Aduh geng, ada gembel marah. Ayo kita kabuuuurrrr....." kata Monik tertawa lalu pergi meninggalkan Emeli.


"Iya ayo ayo ayo geng." jawab Aleta dan Vero.


"Uhhh....Monik itu sama saja ya kayak nyokabnya, hatinya sama sama busuk." Emeli kesal.


"Sudah ya Emeli, kamu sabar saja. Bukan kamu kok yang gembel tapi mereka yang mulutnya kayak gembel. Bau....hahahaha....." kata Salsa tertawa.


Emeli ikut tertawa mendengar kata kata Salsa.


"Iya, kamu benar Salsa hahahaha.......mereka bertiga yang gembel." kata Emeli tertawa


"Hahahahaha......(tertawa). Oh....iya Emeli, rencana kamu sama ibu kamu ke depannya apa untuk menyambung hidup." tanya Salsa.


"Oh....semoga saja ya laris manis dagangannya." kata Salsa tersenyum.


"So pasti laris lah kan kue buatan ibuku enak enak banget."


"Iya benar Emeli kue buatan ibu kamu itu memang enak enak banget Emeli, dan bikin ketagihan. Semangka Emeli." kata Salsa tersenyum


"Semangka....kamu mau semangka Salsa. Aduh di mana ya ada tukang buah di sini." kata Emeli menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena kebingungan dengqn wajahnya yang polos membuat Salsa pun tertawa.


"Hahahahaha......(tertawa). Bukan, itu maksud aku Emeli hahahahaha......(tertawa). Semangka yang aku maksud itu semangat kakak hahahahaha...." kata Salsa yang menertawakan kepolosan Emeli, Emeli tersipu malu.


"Oh.....itu maksudnya, jadi malu hahahahaha......." kata Emeli tertawa geli.


"Aduh.....Emeli.....Emeli itu kamu polos banget sih hahahaha......(tertawa geli). Emeli, bersama kamu aku selalu bahagia meski aku dalam keadaan sedih sekali pun tapi kepolosan kamu bisa membuat aku tertawa bahagia. Aku senang banget Emeli punya sahabat seperti kamu dan aku tidak mau kehilangan kamu sahabatku." batin Salsa melihat Emeli yang menertawakan kepolosannya sendiri.


Sepulang kuliah Salsa main ke rumah Emeli.


"Nah, ini Salsa rumah baru aku." kata Emeli sambil membuka kunci rumah.


"Ibu, kamu belum pulang dagang ya Emeli." tanya Salsa.


"Iya, belum Salsa (membuka pintu). Ayo masuk Salsa ke istana baruku." kata Emeli tersenyum mempersilahkan Salsa masuk.


"Waw.....rumahnya gede juga ya Emeli, tapi kok agak seram ya." kata Salsa.


"Iya, tapi tidak ada hantunya kok (Emeli tertawa). Kamu mau minum apa Salsa." kata Emeli.


"Hem.....apa saja deh Emeli. Yang penting segar, soalnya hawanya lagi panas kaya gini pengennya yang segar segar." kata Salsa sambil memegang tenggorokkannya.


"Oke sip.....ya sudah kamu duduk dulu ya Salsa, jangan berdiri terus nanti tinggi loh kaya tiang listrik." kata Emeli tertawa Salsa pun ikut tertawa.


"Kamu bisa saja Emeli." kata Salsa tertawa.


Hanna sudah pulang dagang, dan kue kue dagangannya pun laris manis tak tersisa.


"Eh.....ada Salsa." kata Hanna tersenyum manis.


"Eh....tante cantik. Baru pulang ya tante." kata Salsa sambil salaman sama Hanna.

__ADS_1


"Iya nih Salsa, Oh iya kamu sudah makan belum." tanya Hanna.


"Belum tante." kata Salsa.


"Ya sudah, tante masakkin dulu ya. Kita makan bareng bareng." kata Hanna.


"Ah....tante tidak usah repot repot tante." kata Salsa.


"Tidak, merepotkan kok sayang. Bentar ya." kata Hanna tersenyum manis.


"Iya, tante. Keluarkan saja semuanya yang ada hehehehehe....." canda Salsa tertawa.


"Ah.....kamu bisa saja Salsa. Tunggu bentar ya Salsa sayang." kata Hanna sambil tersenyum.


"Siap.....tante cantikku." kata Salsa tersenyum.


Hanna ke dapur untuk memasak makan siang untuk Emeli dan Salsa.


"Eh....ibu sudah pulang dagang bu, gimana bu laris manis tidak bu dagangannya." kata Emeli sambil salaman.


"Iya sudah sayang, hari ini dagangan ibu laris manis. Makanya kita hari ini bisa makan enak. Ayam kecap pedas manis kesukaan kamu. Ibu masak dulu ya sayang." kata Hanna


"Asyik kita makan enak hari ini. Ya sudah bu Emeli bantu ya, ibu pasti capek habis dagang." kata Emeli tersenyum.


"Tidak usah sayang, ibu tidak capek kok. Ya sudah temanin Salsa sana, kasihan dia sendiri." kata Hanna.


"Siap bos." kata Emeli dengan tersenyum dan bergaya hormat pada ibunya.


Setelah selesai masak. Hanna, Emeli, dan Salsa makan bareng mereka bertiga sangat bahagia dan menikmati masakkan Hanna.



"Hem.....memang ya masakkan tante ini dari dulu. Sangatlah lezat dan nikmat. Bikin lagi.....lagi dan lagi.....pokonya bikin ketagihan deh." puji Salsa.


"Kamu tuh ya Salsa, paling bisa deh kamu kalau memuji tante." kata Hanna.


"Benaran tante, Salsa bukan hanya memuji tapi ini fakta yang tersirat dalam kalbu (seperti puisi)." kata Salsa.


"Iya, kamu benar Salsa. Aku saja kalau makan masakkaan ibu, bisa nambah berkali kali." kata Emeli.


"Kamu mah bukan doyan, tapi rakus Emeli hahahaha......" canda Salsa tertawa.


"Ya sudah Salsa, jangan malu malu makan yang banyak ya. Nambah lagi nasi sama ayamnya." kata Hanna.


"Oh.....itu so pasti tante tidak usah di suruh Salsa mau nambah lagi." kata Salsa sambil menyendok nasi ke piringnya.


"Hahahaha....Salsa jangan dihabisin ya, sisain aku. Aku juga mau nambah lagi." canda Emeli.


"Oh....tenang saja Emeli, nanti aku sisain piringnya ya hahahahaha....." kata Salsa tertawa.


"Kok piringnya sih Salsa. Tidak mau pokoknya aku mau nambah lagi." kata Emeli yang kemudian menyendok nasi ke piringnya dan mengambil ayam kecap pedas manis.


Hanna ikut tertawa mendengar leluconan Salsa dan Emeli yang sambil tertawa. Setelah selesai makan dan kenyang, Salsa pun pamit pulang.


"Tante, Emeli. Salsa pulang dulu ya. Terima kasih nih makanannya Salsa jadi kenyang." kata Salsa.


"Kamu tidak nginap Salsa." kata Emeli.


"Ah.....tidak lain kali saja ya Emeli." kata Salsa.


"Ya sudah kamu, hati hati ya sayang." kata Hanna.


"Siap tante cantik. Lain kali masak lagi ya untuk Salsa." canda Salsa sambil bergaya hormat.


"Iya siap siap beres. sering sering saja kamu main ke sini ya Salsa." kata Hanna.


"Oke siap tante." kata Salsa yang langsung salaman pada Hanna.


"Jangan sering sering bu, nanti kita bisa bangkrut hahahahaha......" canda Emeli.


"Ih.....Emeli." kata Salsa cemberut.


"Canda Salsa, jangan masukkin ke hati ya langsung ke jantung saja hahahaha......" kata Emeli tertawa.


Salsa ikut tertawa.


"Ya sudah kamu hati hati di jalan ya, jangan nyopet." canda Emeli.


"Tidak nyopet kok, paling ngejambret puas kamu." balas canda Salsa.


Salsa, Hanna, dan Emeli pun tertawa bahagia.

__ADS_1


Salsa pun pulang dari rumah Emeli, saat bersama Salsa Emeli selalu tersenyum bahagia karena Salsa selalu menghibur Emeli dengan canda tawanya begitu pun sebaliknya karena mereka saling mensupport satu sama lain dan Hanna pun senang karena Emeli mempunyai sahabat sebaik Salsa. Dan Salsa pun sudah dianggap oleh Hanna sebagai anaknya sendiri.


* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘


__ADS_2