Psikopat Cinta

Psikopat Cinta
Salah Paham


__ADS_3

Rania masih merasa sedih karena kesalahpahaman, dan Rania pun bingung karena Rania tak mau mengangkat teleponnya. Azka bingung dan cemas dengan keadaan Rania.


"Sayang, kamu kenapa sih. Kenapa kamu tidak angkat telepon aku dari kemarin. Sebenarnya ada apa sih dengan kamu Rania." ujar Azka bingung.


Rania merebahkan tubuhnya dalam kamarnya, dengan kesedihan yang tak bisa dibendung lagi.


"Kak Azka kenapa sih kamu tidak pernah jujur kalau kamu sudah punya pacar. Aaaa.....aku kecewa sama kamu kak." ujar Rania menangis sedih dalam kamarnya tak ada semangat untuk pergi ke kampus.


"Tapi aku harus ke kampus, jangan gara gara patah hati aku mengabaikan janji aku pada ibu. Iya aku tidak boleh begini, aku harus bangkit aku harus semangat." ujar Rania yang langsung bangun dari tempat tidurnya dan bersiap siap untuk mandi.


"Ini tidak bisa, aku biarkan lagi. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Rania." ujar Azka yang mengambil kunci mobilnya untuk menemui Rania.


Sewaktu Azka mau pergi ke rumah Rania tiba tiba Sabrina datang menemui Azka dengan tersenyum manis pada Azka karena Sabrina yakin kalau Rania sangat marah sekali pada Celine karena ketidak jujurannya sudah mempunyai pacar padahal Azka dan Sabrina itu sebenarnya memang sudah putus makanya Azka kembali lagi ke Indonesia.


"Hallo sayang, kamu mau kemana pagi pagi sekali." sapa Sabrina.


"Itu bukan urusan kamu Sabrina." jawab Azka ketus.


"Aduh sayang jangan ketus gitu dong. Ayolah sayang lebih baik kita jalan bareng yuk sayang ke agency tapi sebelumnya, karena masih pagi kita cari sarapan dulu nostalgia lah karena udah lama banget kita tidak jalan berdua." ajak Sabrina yang memegang tangan Azka tapi Azka melepas pegangan Sabrina dengan kasar hingga hampir terjatuh.


"Maaf Sabrina aku lagi terburu buru jadi tidak ada waktu ngeladenin kamu." ujar Azka ketus yang langsung naik mobilnya tanpa mempedulikan Sabrina


"Sayang, tunggu sayang tunggu. Aaa...." teriak Sabrina.


"Oke baiklah. Tidak apa apa sayang ku ke rumahnya gadis kampung itu, karena aku yakin kalau gadis kampus itu tidak akan memaafkan kamu karena dia pasti sangat marah dan kecewa mendengar perkataan aku kemarin hahahaha......" ujar Sabrina tertawa.


Safira turun ke meja makan ternyata ada ketiga teman kakaknya dan Safira tidak jadi makan di meja makan tapi Safira langsung berangkat ke kampus.


"Pagi Safira." tegur Aydan, Gibran, dan Reyhan serentak dengan senyum penuh kepalsuan tapi Safira cuek tak menjawab.


"Kak aku langsung berangkat aja ke kampus." ujar Safira matanya bengkak karena habis menangis semalaman badannya pun lemas.


"Kamu tidak sarapan dulu Safira." tanya Tasya.


"Safira tidak nafsu makan kak." ujae Safira yang sinis melihat Aydan, Gibran, dan Reyhan. Safira langsung berangkat ke kampus.


"Oh ya udah hati hati." ujar Tasya cuek.


Rania sudah rapi dan siap siap untuk berangkat ke kampusnya dengan keadaan tak bersemangat karena baru patah hati tiba tiba Azka datang pas Rania membuka pintu rumahnya.


"Hai sayang kamu mau berangkat ke kampus ya. Kebetulan sekali ya sayang kakak datang sebelum kamu jalan ke kampus." ujar Azka.


"Kak Azka." ujar Rania kaget.


"Rania kamu tidak apa apa kan sayang. Aku khawatir loh karena dari kemarin kamu tidak bisa dihubungi." ujar Bima yang memeluk Rania karena khawatir.


"Iya kak aku tidak apa apa kok. Kak Azka ngapain kemari. Maaf kak, Rania mau buru buru ke kampus takut telat." ujar Rania yang mendorong tubuh Azka Azka pun kaget dengan perubahan Rania.


"Rania, Rania tunggu dulu. Baru jam segini kamu belum telat sayang (bingung). Rania sebenarnya kamu kenapa sih sayang, bukankah kita kemarin baik baik aja." tanya Azka.


"Sudah deh kak jangan pura pura tidak tahu, jawab dengan jujur ya kak. Sebenarnya kakak masih punya pacar kan di Singapura waktu kita udah jadian. Kakak sendiri yang rekomendasikan pacar kakak itu di agency tempat kakak bekerja biar sama sama lagi. Iya kan kak. Jujur saja deh kak, jangan bohong. Meski kejujuran kakak menyakitkan, Rania terima kok kak. Tapi Rania tidak terima kalau kakak menjadikan Rania cadangan saat pacar kakak tidak ada di sini." ujar Rania ketus, Azka kaget mendengar perkataan Rania.


"Ma....maksud kamu apa sayang. Pacar pacar yang mana." ujar Azka bingung.


"Sudah deh kak, kakak jangan pura pura tidak tahu. Aku sudah tahu semuanya kak, karena kemarin pacar kakak sendiri yang menemui aku di taman seroja dan menceritakan semuanya." ujar Rania ketus.


"Oh, maksud kamu Sabrina. Rania dengar penjelasan kakak dulu, kamu tidak bisa mendengarkan dari satu orang saja. Bukankah kita saling mencintai dan cinta itu harus saling percaya satu sama lain. Rania kita harus menyelesaikan kesalahpahaman kita. Ya udah sekarang kita duduk dulu di dalam ya Rania, boleh kan kakak masuk." ujar Azka.


"Iya kak silahkan." kata Emeli.


Bima dan Emeli pun masuk ke dalam rumah Emeli lalu duduk di ruang tamu.


"Sekarang apa yang harus kakak jelaskan, setelah itu kakak boleh pergi dari sini. Karena Emeli takut terlambat ke kampus." kata Emeli ketus.


"Emeli kamu harus percaya sama kakak ya (pegang tangan Emeli) Emeli kakak sama Eva itu sudah tidak ada hubungan apa apa. Karena Eva sudah mengkhianati kakak dulu dengan teman modelnya di singapura. Maka dari itu kakak patah hati dan balik ke Indonesia, apa orang yang sudah putus tidak boleh punya pacar lagi Emeli. Setelah kakak patah hati lalu kakak bertemu dengan kamu. Kamulah yang mengobati luka hati kakak Emeli, kakak benar benar cinta sama kamu Emeli. Maafkan kakak karena kakak tidak cerita sama kamu tentang kedatangan Eva dan dia menjadi model kakak di agency kakak sehingga terjadi kesalahpahaman seperti ini. Kamu tahu Emeli bukan kakak yang merekomendasikan dia di agency kakak, tapi agency itu milik temannya Eva yang bernama Daymond hingga dia meminta Daymond untuk menjadi model di agencynya. Dan kakak menjadi fotografernya, ya mau tidak mau kakak harus menerimanya karena ini demi kepentingan kita Emeli (memegang tangan Emeli) kakak tidak mau kehilangan pekerjaan ini. Karena kakak ingin mengumpulkan duit untuk kita menikah." kata Bima meyakinkan Emeli.


"Apa itu semua benar kak." tanya Emeli.


"Tatap mata kakak Emeli, apakah mata kakak sedang berbohong. Ini serius Emeli, kakak benar benar mencintai kamu." kata Bima meyakinkan sambil memegang tangan Emeli dan menatap mata Emeli hingga mereka berdua terbius dalam tatap tatapan penuh cinta.


"Iya kak Emeli percaya, maafkan Emeli ya kak. Karena Emeli langsung percaya dengan omongan mantan kakak sebelum bertanya pada kakak terlebih dahulu. Padahal Emeli kan baru kenal kak Eva." kata Emeli penuh penyesalan.


"Iya sayang tidak apa apa. Tapi lain kali kamu jangan seperti ini ya, kakak khawatir tahu sama kamu. Tapi kakak senang kalau kamu cemburu sama kakak berarti kamu sangat mencintai kakak dong." kata Bima yang menggoda Emeli, Emeli tersipu malu.


"Ih......kakak apaan sih." kata Emeli tersipu malu, Bima tersenyum dan memeluk Emeli.


Bima lega karena kesalahpahamannya telah berakhir.


"Akhirnya kesalahpahaman kita kelar juga ya sayang." kata Bima tersenyum lega.


"Iya kak, Emeli juga lega ternyata semua omongan Kak Eva itu bohong. Hanya untuk menghancurkan hubungan kita saja." kata Emeli.


"Iya makanya kamu jangan mudah terhasut dengan Eva. Dia itu senang kalau hubungan kita hancur." kata Bima meyakinkan.


"Iya kak maaf." kata Emeli.


"Iya kakak maafin. Ya sudah sekarang kakak berangkat kerja dulu ya sayang, kakak sempatin ke sini karena kakak khawatir sama kamu kemarin kamu tidak bisa di hubungin, kakak kan cinta mati sama kamu." kata Bima.

__ADS_1


"Iya kak hati hati di jalan. Emeli juga mau berangkat ke kampus dulu ya kak." kata Emeli tersenyum dan kembali bersemangat untuk ke kampus.


"Iya kamu juga hati hati ya kesayanganku." kata Bima.


Eva menunggu Bima di agency pemotretan dengan sangat tidak sabaran mendengar kabar baik dari Bima.


"Pasti sekarang Bima sudah putus sama perempuan itu." kata Eva sangat yakin sekali.


Eva pun melihat Bima datang dan memarkir mobilnya di sebelah mobil Eva.


"Nah itu dia Bima (menghampiri Bima) hai sayang." kata Eva setelah Bima keluar dari mobilnya.


"Mau apa sih kamu Eva pakai nyamperin segala, nanti aku juga masuk ke sana kan tugasku memotret kamu karena kamu adalah model aku." tanya Bima ketus.


"Ya iyalah sekarang kita emang cuma partner kerja tapi bentar lagi kita kan akan segera balikkan iya kan sayang." kata Eva pede.


"Pede banget kamu Eva." kata Bima sinis.


"Aduh aduh sayang. Sudah deh sayang to the point aja ya lebih cepat lebih baik, cepat katakan sayang aku kan mau dengar kabar bahagia dari kamu Bima. Aku sudah tidak sabaran nih sayang." kata Eva yang tersenyum penuh harapan dan keyakinan.


"Oh, jadi kamu mau dengar kabar bahagia aku Eva. Yakin kamu mau mendengarnya." kata Bima tersenyum.


"Yakinlah." kata Eva tersenyum bahagia menatap Bima.


"Oh baiklah Eva....memang hari ini aku sangat bahagia sekali Eva. Kamu tahu kenapa Eva karena aku semakin makin harmonis bersama Emeli, terima kasih ya karena kesalahpahaman yang kamu buat aku jadi semakin harmonis pada Emeli." kata Bima dengan tersenyum bahagia.


"Lah kok bisa." kata Eva kaget senyumnya memudar dari wajah cantiknya.


"Ya bisalah. Aku tahu rencana busuk kamu Eva yang ingin menghancurkan hubungan aku dengan Emeli, kemarin kamu mengikuti aku kan ke taman seroja dan diam diam kamu mengarang cerita palsu tapi sekarang aku sudah menjelaskan sama dia. Dan dia percaya sama aku jadi aku harap kamu jangan coba coba merusak hubungan aku lagi dengan Emeli. Karena percuma apa pun yang kamu akan lakukan aku dan Emeli akan tetap bersatu paham kamu Eva Mustika Harun" kata Bima yang langsung masuk ke dalam agency model meninggalkan Eva seorang diri penuh emosi kekesalan pada Eva.


"Aaaa.....sialan ternyata rencana aku gagal. Pokoknya aku tidak akan menyerah aku harus buat hubungan mereka hancur sehancur hancurnya dan Bima balik lagi ke aku." kata Eva kesal dan langsung masuk ke kantor agency model.


Siang hari di kampus Safira, ternyata di jemput oleh ketiga teman kakaknya. Safira pun kaget melihat kedatangan Aldo, Billy, dan Ray.


"Kak Aldo, kak Billy, kak Ray." kata Safira kaget.


"Hai cantik." sapa Aldo.


"Mau apa kalian bertiga kemari, lebih baik kalian pergi dari sini." kata Safira.


"Mungkin kemarin kamu bisa lolos dari kita, tapi kita tidak akan pernah lepasin kamu burung merpati kecilku yang cantik." kata Aldo yang mencolek dagu Safira tapi Safira menghindar.


"Berengsek kamu kak Aldo, sampai kapan pun aku tidak akan pernah jatuh ke tangan kalian. Dan aku tidak menyesal putus sama laki laki berengsek seperti kamu kak, yang beraninya cuma memfitnah saja." kata Safira kesal.


"Kita lihat saja nanti cantik. Ayo guys...." kata Aldo yang langsung pergi dari hadapan Safira, Safira pun sedih dan sangat cemas sekali akan ancaman Aldo. Tapi di depan Aldo, Billy, dan Ray Safira harus kelihatan sebagai wanita pemberani biar tidak di injek injek harga dirinya sebagai wanita.


Tasya memikirkan adiknya di butik, pekerjaan Tasya mempunyai butik keluarga.


"Ma....pa Tasya bingung kenapa Safira jadi seperti ini, Safira jadi wanita yang jahat yang mau memfitnah sahabat sahabat Tasya. Maafkan Tasya mama papa kalau Tasya harus mendidik Safira dengan tegas biar Safira tumbuh menjadi wanita yang terpandang dan tidak suka menggonta ganti pasangan." kata Tasya.


Safira pun merenung seorang diri di sepanjang perjalanan hingga Emeli ingin menabrak Safira waktu menyebrang jalan untungnya Emeli bisa mengerem mobilnya.


"Eh nona kalau mau nyebrang lihat kanan kiri dong." teriak Emeli yang membuka kaca mobilnya.


"Eh....ma.....maaf." kata Safira yang menengok ke arah Emeli dan Safira kaget melihat Emeli.


"Emeli." kata Safira.


"Safira." kata Emeli kaget.


Emeli turun dari mobilnya menghampiri Safira. Dan Safira memeluk Emeli erat dengan tangisan yang menyayat hati.


"Emeli." kata Safira.


"Kamu tenang dulu Safira (mengelus punggung Emeli) ada apa kok kamu menangis." tanya Emeli.


"Aku sedih Emeli, aku sedih." kata Safira.


"Ya sudah Safira, kita cari tempat yang enak yuk untuk kamu menceritakan apa yang terjadi pada kamu sebenarnya." kata Emeli.


"Iya ayo." kata Safira.


Safira naik mobil Emeli dan mencari tempat yang enak untuk bercerita pada Emeli dan Emeli mengajak Safira ke danau pusaka.


"Wah Emeli tempat ini enak sekali ya, indah lagi." kata Safira terpesona melihat pemandangan danau pusaka.


"Iya kamu suka." tanya Emeli.


"Iya aku suka Emeli." kata Safira.


"Ya udah kamu ceritakan Safira apa yang terjadi sebenarnya." tanya Emeli.


"Kakak aku Emeli." kata Safira menunduk sedih.


"Kakak kamu kenapa." tanya Emeli.


"Kakak aku tidak percaya dengan omongan aku, kemarin aku coba menceritakan kejadian sebenarnya sama kakak aku. Tiba tiba mantan aku bersama kedua temannya datang dan dia memfitnah aku Emeli, dia bilang pada kakak aku kalau aku yang selingkuh dan meninggalkan mantan aku hingga kakak aku marah padaku dan kecewa. Kakak aku menampar aku padahal selama ini kakak aku tidak pernah menampar aku." kata Safira sedih.

__ADS_1


"Apa (kaget) benar benar keterlaluan tuh ketiga cowok berengsek itu dan kakak kamu juga sangat keterlaluan, kenapa sih dia lebih percaya sama ketiga temannya yang berengsek itu dari pada adik kandungnya sendiri. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus bicara sama kakak kamu Safira." kata Emeli.


"Kamu mau menjelaskan semuanya ke kakak aku." kata Safira.


"Ya iyalah, kamu kan teman baruku jadi aku siap membantu kamu Safira. Ayo kita ke tempat kakak kamu." kata Emeli.


"Iya ayo." kata Safira.


Aldo, Billy, dan Ray datang ke butik Tasya dan Tasya mengajak ketiga temannya itu ke cafe sebelah butiknya. Emeli dan Safira datang, Safira memanggil salah satu pegawai butik kakaknya.


"Ratna." panggil Safira.


"Eh mbak Safira." kata Ratna.



"Kak Tasya ke mana." tanya Safira.


"Mbak Tasya ada di cafe sebelah mbak sama tamunya." kata Ratna.


"Tamunya (bingung) oh ya udah terima kasih ya, ayo Emeli." kata Safira.


Safira dan Emeli datang menyusul Tasya.


"Kak Tasya." panggil Safira.


"Safira." kata Tasya kaget.


"Kakak tidak percaya kan pada Safira, ini Emeli kak yang menyelamatkan Safira dari ketiga cowok bajingan itu." kata Safira yang menunjuk Aldo, Billy, dan Ray penuh amarah. Aldo, Billy, dan Ray pun saling bertatapan dan nampak cemas tapi berusaha menutupi kecemasannya di depan Tasya biar tidak curiga.


"Harusnya kakak percaya dengan omongan adik kakak sendiri dibandingkan temannya karena Safira tidak mungkin berbohong dengan apa yang dia katakan kemarin. Saya kemarin menolong Safira, dia sangat ketakutan sekali dikejar oleh mereka bertiga." kata Emeli menjelaskan.


"Kamu jangan membela Safira, kita tidak pernah kenal sebelumnya. Jadi saya mohon pada kamu tolong jangan pernah ikut bantu memfitnah kita di depan Tasya. Aku tahu Safira kemarin mengkhianati aku dengan lelaki lain dan dia langsung pergi dari ulang tahun temanku mungkin Safira kemarin dikejar oleh brandalan tapi karena dia mau putus sama aku jadi dia mengarang cerita bahwa aku dan kedua temanku ini mau menodai kehormatannya. Padahal jelas tidak mungkin kami mau memperkosa adik dari sahabat kami sendiri." kata Aldo memasang wajah kesedihan.


"Yang Aldo katakan itu semuanya benar, dibayar berapa kamu sama Safira hingga kamu mau mengarang cerita sejahat itu untuk memfitnah kami." kata Billy.


"Maaf ya kak, aku tidak dibayar oleh Safira tapi aku mencoba bicara yang sejujur jujurnya tentang apa yang sebenarnya terjadi." kata Emeli.


"Tapi semua yang kamu katakan itu tidak benar. Mungkin kamu juga salah satu korban Safira yang melihat dari kepolosannya Safira hingga kamu percaya dengan omongannya Safira. Tasya kamu jangan percaya dengan kata kata dia karena itu semuanya tidak benar." kata Ray.


"Sudah cukup tolong jangan membela adik saya lagi. Lebih baik kamu pergi dari sini. Dan kamu Safira kakak benar benar kecewa sama kamu, mulai hari ini lebih baik kamu pergi dari rumah dan jangan pernah kembali sebelum kamu sadar apa yang telah kamu lakukan Safira." kata Tasya.


"Kakak tega mengusir aku kak hanya karena teman teman kakak." kata Safira.


"Iya ini pelajaran buat kamu biar kamu tidak semena mena lagi pada teman teman kakak maafkan kakak Safira." kata Tasya.


"Tolong kak jangan usir Safira, dia itu tidak salah apa apa kak. Mereka bertiga yang salah." kata Emeli.


"Kamu bukan siapa siapa Emeli, jadi kamu jangan pernah ikut campur dengan urusan keluargaku. Paham kamu...." kata Tasya.


"Kak Tasya aku tidak bermaksud ikut campur dengan urusan keluarga kak Tasya, aku hanya ingin mengungkapkan kebenaran saja." kata Emeli.


"Sudah Emeli percuma di jelaskan juga sampai mulut kita berbusa pun kak Tasya tidak akan pernah percaya dengan omongan kita karena dia sudah di butakan oleh omongan ketiga temannya itu." kata Safira yang bicara pada Emeli lalu dengan sifat kecewa dia pada kakak tercintanya dia langsung bicara dengan ketus pada kak Tasya.


"Baik kak Safira akan pergi dari rumah kakak bila perlu dari hidup kakak sekalian. Tapi ingat kak kebenaran suatu saat pasti akan terungkap dan kak Tasya pasti akan menyesal karena kakak lebih percaya dengan omongan ketiga teman kakak yang berengsek ini dibandingkan adik kandung kakak sendiri." kata Safira yang pergi dari cafe Lestari sambil menangis pilu.


Emeli pun menyusul Safira yang lagi sedih dan putus asa.


"Safira tunggu." teriak Emeli.


"Kamu dengar sendiri kan Emeli kakak lebih percaya mereka dibandingkan omongan adiknya sendiri." kata Safira sedih.


"Kamu yang sabar ya Safira, aku yakin suatu saat nanti kakak kamu akan percaya dengan omongan kamu dan terbuka matanya. Pasti dia akan menyesal karena dia sudah mengusir kamu dari rumah." kata Emeli.


"Iya Emeli terima kasih, tapi aku bingung sekarang aku harus tinggal di mana." kata Safira.


"Kamu jangan bingung, kamu boleh kok tinggal di rumahku Safira." kata Emeli.


"Terima kasih Emeli terima kasih." kata Safira memeluk Emeli.


Sesampainya di rumah Emeli.


"Nah ini rumahku, dan itu kamar kamu. Kamu jangan segan ya sayang anggap aja ini sebagai rumah kamu sendiri." kata Emeli.


"Terima kasih Emeli. Kamu tinggal sendiri Emeli." kata Safira.


"Iya orang tua aku sudah meninggal." kata Emeli.


"Oh maaf ya Emeli aku tidak bermaksud." kata Safira yang melihat Emeli sedih sebelum melanjutkan kata katanya Emeli menyambar perkataan Safira.


"Iya tidak apa apa ya udah kamu istirahat dulu sana tenangkan pikiran kamu." kata Emeli.


"Iya Emeli." kata Safira.


Safira masuk ke kamar yang ditunjuk Emeli, dan Safira mengeluarkan buku diary nya yang selalu dia bawa kemana pun dan menumpahkan kesedihannya di buku diary miliknya.


* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘

__ADS_1


__ADS_2