Psikopat Cinta

Psikopat Cinta
Pulangnya Salsa Dari Rumah Sakit


__ADS_3

Azka menelepon Rania yang lagi sedih karena memikirkan kematian Safira yang tragis.


"Hallo sayang." jawab Azka suara dari seberang telepon.


"Iya hallo kak." balas Rania.


"Sayang kamu menangis." tanya Azka.


"Iya kak, Rania habis menangis." ujar Rania.


"Menangis kenapa sayang." tanya Azka.


"Safira kak Safira." isak Rania.


"Iya Safira kenapa sayang." tanya Azka.


"Safira tewas bunuh diri kak, karena di perkosa oleh mantan pacar dan kedua temannya itu." ujar Rania.


"Apa Safira bunuh diri." Lirih Azka kaget.


"Kamu yang sabar ya sayang. Kamu lagi di pemakamannya Safira nih sekarang." tanya Azka.


"Nggak kak Azka, Rania sudah pulang dari pemakamannya Safira." lirih Rania


"Kenapa kamu tidak telepon kakak pas lagi di pemakaman Safira Rania. Kan kakak bisa nemenin kamu yang lagi sedih." ujar Azka.


"Maaf ya kak Rania tadi sibuk mengurus pemakaman Safira, jadi tidak sempat telepon kak Azka." ujar Rania.


"Ya sudah kamu yang sabar ya sayang. Tenangkan diri kamu dulu, sekarang kamu istirahat ya jangan terlalu banyak pikiran." ujar Azka menenangkan Rania yang sedih dilanda kesedihan karena telah kehilangan sahabat barunya.


"Iya kak terima kasih." ujar Rania menutup telepon dari Azka dan kembali menangis.


Keesokkan harinya :


Rania membuka pintu rumah Salsa, karena Salsa sudah diizinkan pulang dari rumah sakit.


"Selamat datang Salsa. Akhirnya kamu pulang juga ke rumah." ujar Rania senang.


"Iya Salsa, kamu harus jaga kesehatan ya. Jangan buat sahabat sahabat kamu khawatir lagi." ujar Azka tersenyum.


"Iya terima kasih semuanya, aku super duper senang banget. Akhirnya aku bisa sampai ke rumah." ujar Salsa matanya melihat lihat sekitar rumah.


"Iya Salsa, kamu jangan sakit sakit lagi ya Cacaku sayang." ujar Fani tersenyum manis.


"Betul itu Salsa, kalau kamu sampai sakit aku tidak tega melihat Fani terus menerus menangis karena memikirkan kamu yang terbaring lemah di rumah sakit." ujar Zaki kekasih yang sangat mencintai Fani.


"Aduh so sweet banget, Iya terima kasih kalian memang sahabat sahabat aku yang baik. Maafkan aku ya kak Zaki kalau aku buat kekasihmu menangis terus (tersenyum tapi senyumnya pudar menjadi kesedihan), tapi di sini kelihatan sepi tanpa Monik dan Bella." ujar Salsa.


"Sudah ya Caca, kamu tidak boleh sedih memikirkan saudara kamu yang tidak punya peri persaudaraan." ujar Rania.


"Iya Rana tapi walau gimana pun mereka tetap saudara tiri aku (reflek mencari mamanya) oh iya.....mama ke mana ya kok tidak kelihatan." ujar Salsa sedih, Rania langsung kaget mendengar pertanyaan Salsa.


"Hem.....entahlah Caca. Ya sudah mending kamu istirahat saja dulu, kan baru sembuh jangan terlalu banyak pikiran, yuk......" ujar Rania yang langsung membawa Salsa ke kamarnya mengalihkan pembicaraan Salsa yang mencari mama tirinya.


"Kak Azka tunggu di sini ya sama kak Zaki. Aku mau anterin Salsa dulu ya ke kamarnya. Kan kamar perempuan jadi laki laki dilarang masuk." ujar Rania.


"Siap sayang." jawab Azka dengan posisi hormat sambil tersenyum manis dan menambah pesona aura kegantengan Azka yang membuat Rania semakin mencintai Azka.


"Oke Rania." ujar Zaki.


Di kamar Salsa;


"Aduh kangen kasur, akhirnya bisa tidur di tempat tidurku yang nyaman dan empuk." ujar Salsa, Rania dan Fani membantu Salsa turun dari kursi roda ke tempat tidurnya.


"Sudah ya Caca, sekarang kamu istirahat ya di sini oke. Jangan banyak pikiran." ujar Rania.


"Iya benar kata Rania biar kamu bisa lebih pulih dan bisa langsung beraktivitas lagi oke Cacaku sayang." ujar Fani.


"Iya iya baik, sahabat sahabatku yang cantik jelita tiada tara sejagad raya." jawab Salsa tersenyum.


"Apaan sih kamu Caca marica hehey lebay tahu ah." ujar Rania.


"Hahahahaha......emang nya aku yang suka ngisep madu lebay." seloroh Salsa.


"Itu lebah cungkring." ujar Fani terkekeh.


"Enak aja aku dibilang cungkring, iya deh yang montok hahahahaha....." kekeh Salsa.


Rania, Salsa, dan Fani pun terkekeh bersama.


"Pokoknya aku dan Fani hari ini akan menginap di rumah kamu untuk jagain kamu. Dan kak Azka juga kak Zaki akan jagain kita di bawah." ujar Rania.


"Yup.....betul sekali. Takut kamu butuh apa apa, kita siap siaga." sambung Fani.


"Iya iya terima kasih Rana, Nini kalian memang sahabat aku yang super duper baik banget." puji Salsa tersenyum.


"Sama sama Caca sahabatku yang cantik." ujar Rania dan Fani serentak lalu tersenyum dan memeluk Salsa.


Zaki ingin sekali minum kopi menghilangkan kejenuhan menunggu Fani, Salsa, dan Rania. Zaki menawarkan Azka kopi sekalian karena Zaki ingin buat kopi.


"Kak mau minum kopi tidak." tanya Zaki.


"Boleh Zaki." jawab Azka.


"Ya sudah Zaki buatkan dulu ya kak, tapi Zaki lihat dulu ada kopi tidak di dapurnya Nayla." ujar Zaki.


Zaki melihat lihat di dapur mencari kopi ternyata Zaki tidak menemukan kopi.


"Ya kak ternyata kopinya tidak ada, ya sudah Zaki ke warung dulu ya kak untuk beli kopi." ujar Zaki.


"Oke deh." ujar Azka sambil menyalakan tv dengan remot.


"Ya sudah kamu makan ya Caca, aku mau buatkan kamu bubur ayam dulu." Ujar Rania.


"Oke deh baby sister cantik." canda Salsa tersenyum.


"Nini, temanin Caca dulu ya." ujar Rania.


"Nini......Nini memangnya aku sudah tua apa di panggil Nini." jawab Fani cemberut.


Rania dan Salsa terkekeh melihat Fani cemberut karena di panggil nama kecilnya karena Nini itu kan bahasa Sunda dari nenek.


"Duh bibir manyun aja hahahahaha (tertawa)....iya iya deh Fani cantik. Jangan manyun aja nanti cantiknya luntur loh." goda Rania.


"Luntur luntur emang pakaian apa....." ujar Fani makin manyun bibirnya.


Rania dan Salsa semakin terkekeh melihat Fani cemberut, karena wajahnya sangat lucu kalau ngambek jadi Rania dan Salsa suka kalau menggoda Fani. Rania langsung ke bawah untuk membuatkan bubur buat Salsa.


Rania turun ke bawah.


"Kak kok sendiri aja, kak Zaki mana." tanya Rania.


"Lagi beli kopi di warung sayang." jawab Azka.


"Oh gitu. Ya sudah kakak santai saja di sini ya, aku mau buat bubur ayam dulu buat Salsa. Kakak mau dibuatkan nggak kak sekalian." ujar Rania.


"Tidak usah sayang sudah kenyang kakak cuma mau ngopi aja. Kamu mau dibantuin tidak sayang." ujar Azka.


"Tidak usah kak cuma bubur ayam aja kok, gampang." ujar Rania.


"Oh ya sudah kalau gitu." ujar Azka yang masih menonton tv.


Zaki beli kopi di warung dan di warung ternyata ada tiga wanita sedang bergosip membicarakan mobil yang meledak waktu itu.


"Bu kopinya dua ya, sama susu kaleng dan cemilan cemilan." ujar Zaki kepada ibu warung.

__ADS_1


"Baik mas." ujar ibu Maryam pemilik warung.



"Hai bestie.....kalian tahu nggak ternyata mobil yang waktu itu meledak mobilnya bu Jasmine loh, yang tinggal di ujung sana tuh yang punya dua anak dan satu anak tiri bernama Salsa." ujar Sandrina yang baru datang belanja di warung bu Maryam.



Zaki pun kaget mendengar ada orang menyebut nama Salsa dan pura pura diam mendengar gosip tiga wanita itu.


"Kamu tahu dari mana Sandrina." tanya Elsa.



"Ya elah kamu ketinggalan berita Elsa, kan beritanya masuk tv dan polisi berhasil mengungkapkan siapa mayat yang ada di dalam mobil itu melalui kedokteran apa tuh namanya kalau nggak salah namanya DNA atau apa gitu au ah pokoknya itu lah. aku juga tidak tahu kenapa mobilnya bisa meledak karena polisi juga sedang menyelidikinya." ujar Sandrina.


"Ih seram juga ya.....sepertinya rumahnya itu tertimpa sial ya, pertama anak tirinya yang masuk rumah sakit terus anak keduanya yang bernama Bella meninggal kecelakaan kereta api dan setelah itu disusul oleh Monik, dia juga meninggal di temukan tewas terus sekarang bu Jasmine yang mobilnya meledak. Musibahnya terjadi secara beruntun jadi takut deh." ujar Sarah.


"Iya seram banget aku juga takut banget, atau jangan jangan itu rumahnya para pendosa kali ya makanya ketimpa sial terus." ujar Elsa bergedik ngeri.


"Iya bisa jadi karena kan secara bu Jasmine, Monik, dan Bella itu sombong banget sama tetangga dan juga sangat jahat sekali sama anak tirinya. Jadi rumahnya tertimpa musibah terus deh." ujar Sandrina.


"Ya bisa jadi itu.....bu Jasmine itu kan sangat jahat sekali sama anak tirinya, ih.....seram jadi takut deh lewat rumah itu. Pasti sekarang jadi angker karena kematian bu Jasmine, Monik, dan Bella." Sambar Sarah.



"Apa........(kaget), jadi ibu tirinya Salsa itu sudah meninggal karena mobilnya meledak. Ini kabar buruk buat Salsa kasihan Salsa sudah kedua saudara tirinya tewas. Eh.....ibu tirinya juga tewas." ujar Zaki yang kemudian langsung pulang dan membayar yang dia beli di warung.


"Ini bu." ujar Zaki yang segera pulang.


Rania selesai memasak bubur dan dia langsung ke kamar Salsa untuk menyuapi Salsa makan bubur ayam yang dia masak.



"Pokoknya kamu harus makan yang banyak Salsa oke, biar lekas sembuh dan bisa kuliah lagi. Karena kampus nggak ada lo nggak rame." ujar Rania mengikuti kata kata iklan rokok.


"Hahahahahahaha.......(tertawa) udah kaya iklan rokok aja Rana......" kekeh Salsa


"Betul Caca, biar kita bisa bermain lagi di taman kenangan kecil kita. Memangnya kamu nggak kangen apa sama sate ayam buatan bokap aku. Pokoknya nanti kalau sembuh aku kasih gratis makan sate ayam bokap aku." ujar Fani tersenyum.


"Iya benar ya Fan, oke kalau gitu aku mau makan yang banyak. Lagi pula bubur buatan Rania itu bikin nafsu makan meski lagi sakit. Enak banget....ya iyalah aku kangen sama sate ayamnya bokap kamu Fan......kan sate ayam buatan bokap kamu itu sate ayam terlezat yang pernah aku makan." ujar Salsa.


"Ets.....enak aja mau makan yang banyak cuma satu piring saja Salsa jangan nambah ya, kalau mau nambah bayar sendiri hahahahaha..... (tertawa) soalnya takut rugi." canda Fani tertawa, Rania dan Nayla pun ikut tertawa.


"Ya sudah aaaaa....Caca aaaa....(menyuapi bubur ayam ke Salsa dan Salsa pun makan) aaammm......anak pintar." ujar Rania tertawa sambil mengelus rambut Salsa.


Rania, Salsa, dan Fani terhanyut dalam canda tawa bahagia.


"Acu....acu pintel kan mama Rana, makanan acu habis." ujar Salsa sok imut bicaranya seperti anak kecil.


"Apaan sih kamu Caca sok imut banget. Geli tahu dengarnya." ujar Rania sambil tertawa Salsa dan Fani pun ikut tertawa.


"Iya nih balita tua." canda Salsa terkekeh.


"Memang aku imut." ujar Salsa bergaya sok imut kaya anak kecil.


"Iya deh iya yang imut kaya marmut hahahahaha......" canda Rania terkekeh.


"Kok marmut sih enak saja....." protes Salsa bibirnya manyun karena di bilang marmut.


"Iya deh bukan marmut tapi semut.....hahahaha...." ujar Fani tertawa.


"Kecil dong semut." ujar Salsa.


"Hahahahaha.......iya kan imut....." sambung Fani lagi terkekeh.


Rania, Salsa, dan Fani pun terhanyut dalam canda tawa.


Sementara itu di kediamannya Tasya.


"Sudah tiga hari ini Kakak kehilangan kamu Safira, Kakak kangen banget sama kamu Safira. Kakak masih merasa sangat menyesal sekali seandainya Kakak percaya sama kamu sebelumnya pasti musibah buruk ini tidak mungkin terjadi pada kamu. Dan sampai saat ini polisi belum dapat kabar tentang Aydan, Sandi, dan Reyhan." ujar Tasya masih terpuruk dalam kesedihan memandang foto Safira.


Polisi memencet bel rumah Tasya. Tasya menghapus air mata lalu keluar dari kamar Safira dan membuka pintu rumahnya.


"Selamat pagi bu." ujar Polisi.


"Iya pagi. Silakan masuk pak." ujar Tasya mempersilakan masuk ke rumahnya.


"Silakan duduk pak, gimana pak perkembangan kasus adik saya. Apa penjahatnya sudah tertangkap." Tanya Tasya.


"Maaf bu sepertinya penjahatnya sudah pergi ke luar negeri hingga sampai saat ini mereka belum ditemukan." ujar Polisi.


"Ya ampun Safira kasihan banget nasib kamu, maafkan Kakak sayang, Kakak belum berhasil menemukan Aydan, Gibran, dan Reyhan." ujar Safira sedih.


"Terus cari pak tolong jangan tutup kasus ini karena saya ingin pelaku dan pembunuhan adik saya di hukum seberat beratnya bila perlu hukum mati atau di penjara seumur hidup." pinta Tasya penuh dendam ingin menuntut keadilan untuk Safira kepada Polisi.


"Baik bu, kalau gitu saya pamit dulu." ujar polisi berjabat tangan pada Tasya. Wajah Tasya tampak murung karena ketiga temannya itu yang sudah membuat Safira menderita belum di temukan juga.


"Semoga mereka lekas ketemu biar Safira tenang di sana." ujar Tasya sedih lalu masuk le dalam rumah.


Zaki balik dari warung dan wajahnya tampak sedih karena mendengar kabar buruk dari ketiga wanita yang di warung.


"Wajah kamu kenapa Zaki, kok habis dari warung wajahnya tampak murung gitu." Tanya Azka.


"Iya aku bingung kak, tadi pas di warung ada tiga perempuan lagi bergosip tentang mobil meledak dan ternyata mobil yang meledak itu adalah mobil ibu tirinya Salsa, jadi wanita yang berada di mobil itu ibu tirinya Salsa. Berarti ibu tirinya Salsa sudah tewas kak, itu berarti rumah ini angker dong kak secara kan kedua saudara tirinya juga pada tewas sangat mengenaskan." ujar Zaki yang sambil ngelihat kanan kiri merasakan bulu kuduk berdiri ekspresi Zaki ketakutan.


"hahahahahaha......(tertawa) kamu ada ada aja Zaki rumah ini nggak ada hawa hawa angker Zaki. Eh tapi kamu serius Zaki. Kalau gitu kasihan dong Salsa kalau ibu tirinya juga ikut tewas. Dia jadi sebatang kara." ujar Azka.


"Iya makanya kak, aku nggak tahu gimana sedihnya Salsa mendengar kabar ibu tirinya meninggal. Pasti Salsa sedih banget." ujar Zaki dengan ekspresi wajahnya yang sedih sambil menghela napas lalu mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh ya sudah aku buatkan kopi dulu ya kak." ujar Zaki.


"Oke Zaki." ujar Azka di sertai anggukan.


Zaki lagi buat kopi di dapur tiba tiba ada sekelebat bayangan yang lewat. Zaki pun merinding.


"Bayangan apa itu." ujar Zaki merinding memegang lehernya.


"Kok jadi merinding gini ya." Lanjut Zaki tapi tetap meneruskan membuat kopinya dengan melihat sekitarnya.


"Ih seram......" ujar Zaki yang lekas ke ruang keluarga membawa dua cangkir kopi dengan terbutu buru.


"Kamu kenapa sih Zak." Tanya Azka.


"Tadi waktu aku ke dapur kaya ada yang lewat kak sekelebat itu, terus Zaki jadi merinding kak." ujar Azka.


"Itu sih kamu saja yang parno, karena tadi kami mendengar kalau saudara tiri Nayla dan ibu tirinya sudah pada tewas sangat mengenaskan iya kan Zak." ujar Azka.


"Ya mungkin kali ya kak." ujar Zaki yang sambil menegak secangkir kopi.


"Ya sudah terima kasih ya kopinya, aku minum ya." ujar Azka.


"I....iya kak minum saja, kan Zaki buat untuk di minum hehehehehe...." kekeh Zaki tersenyum yang masih bingung akan kejadian barusan.


Azka dan Zaki menginap di rumah Salsa dan mereka tidur di ruang keluarga, sementara Rania dan Fani tidur di kamar Salsa.


Pagi hari Rania sudah rapi mau ke kampus. Salsa baru bangun dari mimpinya.


"Pagi Salsa, pagi Fani." sapa Rania.


"Pagi juga Rania." ujar Salsa yang menggeliatkan tubuhnya.


"Pagi Rania kamu sudah rapi Rania mau ke kampus ya." ujar Fani.


"Iya aku mau ke kampus." jawab Rania.

__ADS_1


"Kalau aku hari ini lagi nggak ada pelajaran jadi libur deh." ujar Fani.


"Oh gitu ya, kalau gitu kebetulan kamu bisa temani Salsa di rumah." ujar Rania.


"Iya aku bisa temani Salsa, Ran." ujar Fani.


"Ya sudah Caca aku ke kampus dulu ya, kamu di temani sama Nini dulu. Jangan kangen ya hahahahaha....." kekeh Rania.


"Idih siapa juga yang kangen sama kamu Rana hahahahaha......(tertawa). Ya sudah kamu hati hati ya Rania, kalau jatuh bangun sendiri." Canda Salsa.


"Nggak mau ah minta dibangunin sama yayang Azka aja." seloroh Rania terkekeh.


"Iya deh yang lagi bucin." ujar Salsa tertawa, Rania dan Kayra pun ikut tertawa.


Rania pun pergi ke kampus Azka pun juga berangkat kerja. Tinggal Zaki sendiri di ruang keluarga sangat ketakutan lihat sekelilingnya.


"Aduh aku sendiri lagi, kan jadi parno." ujar Zaki memegang leher dan tangannya.


Wajah Salsa sangat sedih sekali dan Fani pun menyadari kesedihan Salsa.


"Caca......kamu kenapa kok sepertinya kamu lagi sedih. Curhat saja sama aku, aku kan juga sahabat kamu. Ya meski kita baru ketemu lagi Ca." Tanya Fani.


"Aku merasa sangat kehilangan keluarga aku Fan, dan aku juga sangat sedih sekali karena harus kehilangan calon anakku." ujar Salsa.


"Yang sabar ya Salsa. Meski kamu sudah kehilangan keluarga tiri kamu dan calon anak kamu. Tapi kamu kan masih punya sahabat sahabat yang sangat menyayangi kamu. Kamu harusnya bersyukur Ca karena kamu masih diberi kehidupan." ujar Fani menenangkan jiwa Salsa yang rapuh.


"Kamu harus bangkit Salsabilah Yunita Abraham (memegang pundak Salsa) lawan masa lalu kamu yang silam. Jangan terhanyut dalam keterpurukkan yang panjang, karena itu hanya membuat kehancuran dalam hidup kamu. Kamu kan masih muda, cantik, dan wanita yang kuat juga tangguh jadi kamu pasti akan menemukan pasangan hidup yang lebih baik dari Gantha. " Lanjut Fani.


"Iya kamu benar Fanisyah Trasyah Zildan. Terima kasih ya nasehatnya." ujar Salsa tersenyum.


"Sama sama sahabatku." Jawab Fani membalas senyuman Salsa dengan manis.


"Oh iya Zaki sudah pulang belum Fan." Tanya Salsa.


"Belum masih ada di bawah." Jawab Fani.


"Ya sudah kalau gitu kita ke bawah yuk temani Zaki kasihan tahu dia sendirian."ujar Salsa.


"Iya benar, kasihan bebeb aku dia kan orangnya penakut (terkekeh). Sini aku bantu." ujar Fani yang membantu Salsa ke kursi roda.


"Ciyeee bebeb......" kekeh Salsa menggodanya Fani.


Kayra termenung karena sangat merindukan duo sahabatnya Vero dan Monik yang meninggal dunia. Kayra mengingat kebahagiaan saat bersama sahabatnya dengan airmata yang membanjiri pipinya. Kayra melihat liontin yang ada foto Kayra dan kedua sahabatnya.


"Monik, Vero aku tidak menyangka kamu berdua sudah tidak ada di dunia ini. Aku kangen banget sama kalian (menggengam liontin dengan amarah matanya penuh dendam) aku janji sama kalian berdua. Aku pasti akan cari pembunuh kalian, dan aku akan membalaskan dendam kalian." ujar Kayra penuh dendam, tiba tiba Vera menghampiri Kayra.


"Kayra aku cariin kamu ke mana mana dan ternyata kamu ada di sini." ujar Vera yang langsung duduk di sebelah Kayra Dan Kayra menghapus airmata kepedihannya.


Vera melihat wajah Kayra yang habis menangis.


"Kay kamu kenapa. Kamu habis nangis ya." Tanya Vera, tangis Kayra meledak kembali.


"Aku......aku kangen sama Vero dan Monik Ver." lirih Kayra menangis.


"Iya Kayra aku juga kangen sama mereka. Tapi kita tidak boleh menangis terus menerus. Kita harus bangkit, dan kita harus balas dendam sama pembunuh Vero dan Monik, kita harus cari tahu Kay jangan biarkan pembunuh berdarah dingin itu berkeliaran di muka bumi ini." ujar Vera.


"Iya Ver kamu betul, kita balaskan dendam Vero dan Monik biar mereka bisa tenang di sana." ujar Kayra matanya memancarkan dendam, sambil menggengam kedua tangannya.


Zaki sangat ketakutan dia melihat sekelilinhnya karena tiba tiba ada sekelebat bayangan lewat dan wanita menangis sangat memilukan.


"To....long......to....long aku.....Ja.....jangan.....Ja....ngan.....


bunuh aku hikh.....hikh.....hikh....." suara tangis memilukan memecahkan ketakutan Zaki.


"Ka.....kamu siapa, siapa yang mau bunuh kamu." tanya Zaki dengan ketakutannya.


Zaki mencari sumber suara itu hingga dapur. Zaki melihat sosok wanita berbaju dress merah persis yang di pakai oleh Jasmine sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Si.....siapa kamu. A.....apakah kamu saudaranya Salsa." tanya Zaki waktu melihat sosok wanita itu berdiri di hadapannya.


Zaki pun ingin memegang pundak sosok wanita itu sebelum tangan Zaki memegang pundak sosok itu, sosok wanita itu pun menoleh ke arah Zaki. Dan Zaki pun teriak ketakutan karena wajah wanita itu hancur tak berbentuk dan sangat mengerikan penuh darah.


Setelah teriak Zaki langsung berlari kembali ke ruang keluarga.


"Aaaaa.....tolong tolong....." teriak Zaki dan terjatuh dekat tangga pas sekali dengan Salsa dan Fani turun.


"Kamu kenapa sih bebz." Tanya Fani bingung.


"A......akhirnya kalian pulang juga. Aku tadi habis ngelihat hantu bebz di Dapur......" jawab Zaki sambil menunjuk arah Dapur.


Mendengar penuturan Zaki, Salsa pun spontan tertawa.


"Apa.....hantu.....hahahahahaha.....(tertawa) Fani kekasihmu ini lucu juga. Mana ada hantu di rumahku. Aku saja bertahun tahun lamanya tinggal di rumah ini nggak pernah tuh ngelihat yang namanya hantu." kekeh Salsa, Zaki pun bangun dari jatuhnya.


"Suer Salsa aku tadi lihat hantu." jawab Zaki.


Lalu dia melihat foto ini tiri Salsa yang lagi bertiga dengan Monik dan Bella. Salsa tidak diajak karena pas mereka foto ayah Salsa sudah mati terbunuh di tangan ibu tiri Salsa.


"Nah.....itu yang ada di foto ini Salsa, hantu yang tadi aku lihat di dapur." ujar Zaki yang sambil mendekat ke foto mama tirinya.


"mama." lirih Salsa kaget dengan foto yang di tunjuk Zaki.


"Iya mama kamu Salsa." jawab Zaki.


"Tapi mana mungkin mama jadi hantu, kan mama masih hidup." ujar Salsa tidak percaya dengan omongan Zaki.


"Salsa mama kamu sudah nggak ada di dunia ini Salsa." jawab Zaki.


"Sudah nggak ada (kaget tak percaya), kak Zaki please jangan ngomong ngelantur kaya gitu. Mama aku masih hidup, ja.....jadi nggak mungkin dia jadi hantu." ujar Salsa.


"Tapi itu benar Salsa, mama kamu udah nggak ada. Kemarin aku dengar dari perempuan yang gosip di warung kalau ternyata mobil yang meledak itu mama tiri kamu Salsa, jadi mama tiri kamu itu juga sudah tewas mengenaskan seperti saudara saudara tiri kamu." jawab Zaki memberi tahu berita buruk tentang mama tiri nya Salsa yang tewas mengenaskan seperti yang tetangganya gosipkan.


"Apa mama sudah tewas." ujar Salsa kaget.


"Iya Salsa." kata Zaki.


"Ka.....kamu nggak bohong kan kak." tanya Salsa tidak percaya.


"Buat apa sih Sa masalah seperti ini harus berbohong. Ini masalah serius Salsa." jawab Zaki yang meyakinkan Salsa.


"Nggak..... nggak mungkin mama tidak mungkin tewas dalam ledakkan itu. Mama....." ujar Salsa menangis histeris dan Fani langsung memeluk Salsa.


"Kamu yang sabar ya Salsa." ujar Fani memeluk Salsa memberi ketenangan lalu mengelus lembut rambut Salsa.


"Meski mama tiri aku jahat tapi aku juga tidak mau kalau mama tiriku tewas mengenaskan seperti itu. Aku sayang mama tiriku Fani seperti mama kandungku sendiri, meski mama tiriku tidak pernah menyayangiku bahkan dia tega membuat aku jadi anak yatim." ujar Salsa sedih.


"Maksudmu apa Salsa." tanya Fani bingung.


"Iya Fani, mama aku lah yang menyebabkan papa ku meninggal dengan memberi racun di kopi yang mama buat untuk papa." jawab Salsa sedih kedua netranya mengeluarkan airmata.


"Astaga kejam banget sih mama tiri kamu Salsa, mungkin ini karma untuk Mama kamu karena kejahatanya selama ini terhadap keluarga kamu Salsa." ujar Fani yang tidak percaya akan kejahatan mama tiri Salsa yang menghabiskan nyawa papa Salsa.


"Tapi Fani a....aku tidak menginginkan kematian mereka, meski mereka sudah jahat terhadap ku." ujar Salsa sedih.


"Aku mengerti Salsa, kamu memang punya hati selembut salju. Kamu tidak pendendam, kamu harus sabar ya Salsa. Sudah jangan terlalu dipikirkan ini semua demi kesehatan kamu." ujar Fani menenangkan hati Salsa.


"Iya Fani. Kak Zaki terima kasih ya atas infonya." ujar Salsa.


"Sama sama Salsa kamu yang sabar ya." jawab Zaki


"Iya kak." ujar Salsa.


Salsa masih sangat sedih mendengar kabar mama tirinya yang tewas mengenaskan dan Salsa jadi hidup sebatang kara di rumahnya karena Salsa telah kehilangan keluarga tirinya secara berturut turut. Tapi untungnya Salaa mempunyai sahabat masa kecil sebaik Rania dan Fani yang selalu menghiburnya di saat Salsa dalam keadaan sedih. Fani dan Zaki menghibur Salsa di saat Rania tidak ada di rumah karena Fani dan Zaki tidak mau kalau Salsa terpuruk dalam kesedihannya yang menyebabkan dia kembali sakit karena Salsa lagi dalam masa pemulihan.


* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘

__ADS_1


__ADS_2