
Bima sangat merindukan Emeli, karena akhir akhir ini dia sibuk dengan pekerjaan di kantor. Jadi Bima menelepon Emeli untuk mengobati rasa rindunya di hatinya.
"Hallo sayang lagi apa." kata Bima.
"Kak Bima, Emeli kira udah lupa sama Emeli. Karena enggak ngabarin Emeli seminggu." kata Emeli.
"Maaf ya sayang, Kakak lagi sibuk akhir akhir ini sama pekerjaan kakak. Kan ini demi kita juga, kakak pernah bilang kalau kakak mau serius sama kamu Emeli. Jadi kakak harus ngumpulin duit untuk kita nikah." kata Bima.
"Oh, gitu. Iya deh kak Emeli paham kok (tersenyum) Oh iya kak, Salsa udah sadar kak." kata Emeli senang.
"Syukurlah kalau sudah sadar, kakak ikut senang sayang. Ya udah, besok ketemuan yuk. Kakak kangen sama Emeli." kata Bima.
"Iya kak, boleh. Besok ketemuan di mana." tanya Emeli.
"Besok kakak ke rumah sakit aja, Salsa kan masih sakit. Sekalian besok kakak mau jenguk dia." kata Bima.
"Oh oke deh kak." kata Emeli tersenyum.
"Emeli, tahu enggak hari ini kakak lagi menanggung rindu. Rindu itu berat, setiap saat kakak selalu memikirkan kamu terus. Tapi baru kemarin kakak kelar kerja eh kakak malah disibukkan sama urusan adik kakak yang mau dijahatin sama mantannya bokap kakak." kata Bima.
"Oh gitu ya udah enggak apa apa kak." kata Emeli.
"Iya, jadi kakak enggak sempat deh hubungin kamu. Padahal kakak pengen banget kemarin hubungi kamu. Tapi karena kejadian buruk yang menimpa adik kakak, hampir diculik sama mantan kekasihnya papi kakak. Jadi kakak tunda deh terus kakak nenangin adik kakak dulu yang ketakutan." kata Bima.
"Iya sayang, keluarga itu emang harus nomer satu. Aku juga enggak mau kakak mengorbankan keluarga kakak cuma demi Emeli kak. Karena sakit rasanya dicampakkin sama keluarga sendiri seperti yang Emeli alami. Bokap aku campakkin aku sama ibu aku demi keluarga barunya." kata Emeli sedih.
"Udah jangan di ingat ingat masa lalu yang buruk. Lupakanlah, karena kakak enggak akan ninggalin Emeli di saat kita nikah apa lagi sampai mencampakkan kamu dan anak anak kita nanti." kata Bima.
"Iya, Emeli percaya. Karena kita itu saling mencintai. Beda dengan nyokab bokap kakak yang menikah karena perjodohan." kata Emeli sedih.
"Udah jangan sedih gitu dong, kakak kan nelepon kamu bukan untuk bersedih sedihan tapi karena kakak benar benar rindu berat sama kamu." kata Bima merayu.
"Maca cih kakak." kata Emeli manja.
"Cuer ayank bebz my honey swetty muach muach muach....." balas Bima manja.
Mereka saling melepas rindu melalui telepon. Bima sangat mencintai Emeli begitu juga Emeli yang sangat mencintai Bima.
Keesokkan harinya Bima pun datang ke rumah sakit dengan membawa parcel buah untuk menjenguk Salsa.

"Hallo sayang." kata Bima membuka pintu kamar rumah sakit tempat Salsa dirawat.
"Hallo kak." kata Emeli tersenyum.
"Hai Salsa, gimana kabarnya." tanya Bima.
"Kabar Salsa udah baikkan kok kak." jawab Salsa.
"Syukurlah kalau udah baikkan. Ini kakak bawain buah buahan untuk kamu Salsa." kata Bima.
"Terima kasih ya kak." kata Salsa tersenyum.
"Sama sama Sal, dimakan ya buahnya Salsa biar tambah sehat, terus bisa lekas pulang." kata Bima.
"Pasti dong kak nanti Salsa makan." kata Salsa.
"Salsa minta izin ya. Pinjam Emeli bentar aja." kata Bima.
"Ya ampun kak, pakai acara pinjam segala. Ya udah bawa kak, lama juga enggak apa apa." kata Salsa tersenyum.
"Bentar ya Salsa." kata Emeli dengan tersenyum.
"Yoi Emeli. Aku tahu orang yang lagi kasmaran, jangan nahan rindu berat." canda Salsa tertawa, Emeli dan Bima pun ikut tertawa dan segera keluar dari kamar rawat Salsa.
Eva mantan pacar Bima dari kuliah dan diajak Bima untuk menjadi model disingapur tapi setelah sukses jadi model dia selingkuh dengan model baru yang ternyata hanya memanfaatkan ketenaran Eva saja yang sudah sukses menjadi model. Eva memencet bell rumah Bima.
"Ting nong.....ting nong....." bunyi bell rumah Bima.
__ADS_1
Aleta penasaran saat Bi Nah membuka pintu rumah dia pun ingin melihat siapakah yang datang ke rumah.
"Siapa ya." kata Aleta penasaran.
"Bima nya ada bi." tanya Eva.

"Maaf nona ini siapa ya." tanya Bi Nah.
Sebelum Eva melanjutkan kata katanya, Aleta datang menyapa senang Eva.
"Kak Eva." kata Aleta senang yang kemudian cepika cepiki.
"Aleta.....hai.....apa kabar." kata Eva.
"Baik kak, baik. Kakak sendiri gimana." kata Aleta.
Iya kakak juga baik, tambah cantik aja kamu let." kata Eva memuji Aleta yang tersipu malu.
"Bisa aja kak Eva ini, kak Eva juga tambah cantik. Udah lama banget ya kak kita enggak ketemu." kata Aleta tersenyum memuji Eva.
"Btw....kak Bima nya ada enggak." tanya Eva.
"Kak Bima, lagi keluar kak." jawab Aleta.
"Lagi keluar kemana ya." tanya Eva.
"Aleta juga enggak tahu kak (diam sejenak) Oh iya kak, udah lama banget ya kita enggak ketemu. Btw kakak tahu rumah baru kita dari mana kak." kata Aleta.
"Ada deh, mata mata kakak kan banyak di mana mana." kata Eva tersenyum.
"Oh, gitu kak." kata Aleta.
Bi Nah mengantarkan minuman buat Eva.
"Silahkan non diminum." kata mbok Nah.
Di cafe dekat rumah sakit Bima mengajak Emeli untuk makan melepas rindu. Bima dan Emeli sangat mesra sekali saling menyuapi. Melepas rindu.
"Sayang, kamu tahu enggak. Aku itu kangen banget loh sama kamu, seminggu rasanya seperti bertahun tahun enggak bertemu." kata Bima yang sambil memegang tangan Emeli.
"Kak Bima gombaaal." kata Emeli tertawa bahagia.
"Beneran, ih enggak percaya. Belah lah dada kakak jika Emeli tidak percaya dengan kakak." kata Bima bak bagai baca puisi.
Emeli tersipu malu dan mereka saling berpandangan terhanyut dalam tatapan mesra. Terlihat dari mereka berdua saling mencintai, sampai saat ini Emeli belum mengetahui kalau ternyata Bima itu saudara tirinya terlahir dari wanita yang telah merebut ayahnya dari ibunya. Jika Emeli tahu bisa jadi bukan cinta yang ada di hati Emeli melainkan kebencian dan dendam yang teramat sangat.
Eva gelisah karena Bima tak jua datang setelah bicara panjang lebar bersama Aleta. Dari dulu Eva sama Aleta sangat akrab sekali, malah Aleta sangat setuju kalau kak Eva jadi kakak iparnya kak Bima.
"Aduh, Aleta lama amat kak Bima." kata Eva.
"Sabar kak bentar lagi paling juga datang. Tunggu aja." kata Aleta menghibur.
Setelah menghabiskan waktu bersama Emeli pun pamit karena hari sudah sore. Bima mengantar Emeli ke kamar Salsa sekalian pamit pada Salsa. Salsa lagi makan apel yang dibawa oleh Bima.
"Hai gimana udah kangen kangenannya." canda Salsa.
"Sebenarnya sih masih kangen, tapi sudah terobati sedikit. Tapi apa daya tak sampai kakak harus pamit karena besok harus tugas negara lagi." kata Bima.
"Oh gitu. Ya udah ngumpulin deh uang yang banyak kak. Untuk nikahin Emeli." canda Salsa.
"Niatnya sih juga gitu Salsa doain aja ya semoga secepatnya tunggu aja undangannya." kata Bima.
"Siipp deh kak."kata Salsa sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Ya udah kakak pamit dulu ya." kata Bima.
"Ok kak." kata Salsa.
__ADS_1
"Seperti biasa tolong jagain Emeli." pinta Bima.
"Lah kan Salsa yang sakit harusnya Emeli yang jagain Salsa, bukan Salsa yang jagain Emeli." canda Salsa sambil tersenyum.
"Ya udah kak, tenang aja pokoknya kak. Emeli akan Salsa jagain tapi bukan kaya cctv ya.....24 jam." lanjut Salsa sambil tertawa, Emeli dan Bima pun ikut tertawa.
"Ah.....kamu bisa aja Salsa." kata Bima yang lalu pamit sama Emeli.
"Sayang, kakak pulang dulu ya." kata Bima yang langsung mencium kening Emeli mesra.
"Ehem...ehem....(berdehem) ingat ada Salsa, Salsa bukan obat nyamuk." canda Salsa yang buat Bima dan Emeli pun ikut tertawa lagi.
"Iya.....iya Salsa kamu bukan obat nyamuk tapi obat serangga." canda Emeli dengan tertawa. Salsa dan Bima pun ikut tertawa bahagia. Lalu kemudian Bima pun pulang.
Eva dan Aleta masih sibuk berbincang bincang membicarakan masa lalunya. Sambil tertawa tawa bahagia.
"Oh iya kak, kirain kakak udah enggak sama kak Bima. Habisnya udah lama banget kakak enggak main ke rumah kan Lusi jadi kangen enggak ada teman curhat." kata Bima.
"Waktu itu sih emang kakak lagi ada masalah sama kak Bima tapi sekarang kakak lagi dalam rangka memperbaiki, jadi kakak datang kesini deh." kata Eva.
"Baguslah kak kalau gitu, pokoknya Aleta enggak mau punya kakak ipar yang lain. Karena kakak wajib jadi kakak ipar Aleta." kata Aleta tersenyum.
"Iya iya so pasti kakak akan jadi kakak ipar kamu Aleta karena kakak dan kak Bima kan saling mencintai tak akan terpisahkan." kata Eva, dan Aleta pun tersenyum senang.
Bima pun tiba di rumah, Eva pun tersenyum bahagia.
"Nah itu kak Bima datang kak." kata Aleta.
"Oh iya." kata Eva.
"Kalau gitu Aleta tinggal ya kak. Mungkin kakak perlu waktu untuk bicara berdua sama kak Bima." kata Aleta.
"Iya Aleta terima kasih ya." kata Eva.
"Good Luck kakak cantik." kata Aleta menyemangati Eva.
Bima pun masuk kedalam rumah tanpa melihat Eva, dan Eva segera bangun.
"Bima." kata Eva yang kemudian memeluk punggung Bima
"Eva, mau ngapain kamu kesini." kata Bima wajahnya tampak enggak menyukai kehadiran Eva.
"Maafin aku Bima, maafin aku. Kemarin aku khilaf karena pernah mengkhianati kamu sama Delvan." kata Eva sambil mengeluarkan airmata buayanya.
"Maaf va, kamu udah buat aku sangat sakit sekali. Dan sekarang aku udah mendapatkan pengganti kamu, yang lebih baik dari kamu dan lebih aku cinta." kata Bima.
"Enggak, itu pasti enggak mungkin. Kamu cintanya sama aku. Buktinya waktu aku mutusin kamu dan memilih Delvan kamu berlutut sama aku memohon agar aku enggak mutusin kamu." kata Eva.
"Iya itu dulu waktu aku masih mencintai kamu Eva dan masih berharap lebih dari kamu. Waktu itu perlu waktu cukup lama aku harus mengobati luka itu semua dan melupakan kamu untuk selamanya dari hidupku. Tapi ada seorang wanita yang benar benar membuat aku jatuh cinta dan melupakan kamu untuk selamanya jadi buat apa lagi kamu datang kembali setelah apa yang kamu lakukan padaku Eva." kata Bima penuh amarah.
"Siapa wanita itu Bima, siapa." kata Eva penasaran.
"Enggak ada untungnya juga kan kamu tahu, siapa wanita yang aku cinta sekarang. Untuk apa. untuk menyakiti wanita itu (marah) enggak akan aku enggak akan mengizinkan kamu menyakiti wanita yang aku sangat cintai. Paham kamu Eva, sekarang lebih baik kamu pergi dari rumahku karena aku sudah muak dengan kamu....pergi dari rumah aku Eva." kata Bima kesal yang langsung menarik Eva keluar dari rumahnya.
"Tolong Bima jangan usir aku." pinta Eva.
"Pergi dari rumah aku Eva, dan jangan pernah kamu kembali lagi ke sini, pengkhianat." kata Bima penuh amarah.
"Bima....Bima aku mohon maafin aku Bima maafin aku." kata Eva sedih sambil mengetuk ngetuk pintu rumah Bima tapi Bima enggak membukakan pintunya.
"Kak Bima kakak kenapa mengusir kak Eva kak." kata Aleta yang mendengar teriakan Eva.
"Karena kakak sudah sangat kecewa dengan kak Eva Aleta, dia udah mengkhianati kakak dengan pria lain jadi kakak minta kalau dia ke sini lagi usir dia karena kakak enggak mau menemui dia lagi paham." kata Bima yang emosi, Aleta pun takut melihat kakaknya penuh emosi dia bingung mau membukakan pintu untuk Eva dan pada akhirnya Aleta untuk memilih tidak membukakan pintu untuk Eva daripada Bima tambah marah.
"Yah.....maafin aku ya kak Eva." kata Aleta yang langsung masuk ke kamarnya lagi.
"Bima aku enggak akan menyerah. Untuk mengambil hati kamu kembali, suatu saat nanti. Kamu akan kembali pada aku Bima." kata Eva sangat bar bar memaksakan cinta Bima yang sudah tak mencintainya lagi.
Eva sangat kecewa karena Bima mengusir Eva dan Eva pun ingin merebut hati Bima kembali gmana pun caranya karena Eva sangat menyesal memutuskan Bima dan selingkuh dengan teman modelnya yang ternyata cuma memanfaatkan Eva aja dengan ketenaran Eva sebagai model sukses.
__ADS_1
* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘