Psikopat Cinta

Psikopat Cinta
Pernikahan Ronald


__ADS_3

Udara pagi menyejukkan jiwa terdengar suara ayam berkokok dan burung berkicau sangat merdu sekali, menyemangati hati Emeli untuk pergi ke kampus karena ingin menggapai cita cita untuk membanggakan ibu tercintanya dan bertemu dengan sang pujaan hatinya karena sejak jadian sama Gerry, Emeli pun jadi lebih rajin ke kampus. Begitu pun dengan Hanna semangat untuk berjualan kue memenuhi kebutuhan hidup anak tercintanya.


"Kue.....kue.....kue....kue.....kue enak untuk sarapan pagi." teriak Hanna dan ramai pembeli yang membeli kue buatan Hanna.


"Bu kue....." panggil bu Anita di taman dekat rumahnya karena bu Anita habis joging bersama anaknya Disyah yang bermain di taman.


"Selamat pagi bu, silahkan di pilih kuenya." kata Hanna.


Anita dan Disyah langsung memakan kue yang dipilih dan di beli olehnya.


"Hem.....enak banget ya kuenya, besok lewat sini lagi kan bu." kata bu Anita salah satu pembeli kue.


"Iya besok saya lewat sini lagi bu. Terima kasih kalau ibu suka kue buatan saya." kata Hanna.


"Iya ma, enak sekali kue buatan ibu ini. Disyah juga suka ma." kata anak bu Anita yang berumur 6 tahun.


"Oh....kamu suka ya sayang, kalau gitu saya minta bungkus lagi 10 ya bu. Ini uangnya ya bu." kata bu Anita mengeluarkan duit lima puluh ribuan.



"Terima kasih ya bu, tapi maaf tidak ada kembaliannya." kata Hanna.


"Kembaliannya ambil saja bu." kata bu Anita.


"Terima kasih ya bu." kata Hanna tersenyum.


"Sama sama bu, ayo Disyah." kata bu Anita.


"Iya bu, ayo. Dadah bu Hanna." kata Disyah.



"Dadah, sayang." kata Hanna.


Lalu Hanna melanjutkan perjalanannya untuk menjual kue.


"Kue.....kue....kue....lezat.....kue nikmat.....untuk sarapan pagi.....kue....kue....kue....yuhuuu.... kuenya." kata Hanna.


Banyak yang memanggil Hanna untuk membeli kue buatannya yang super lezat dan enak. Setiap hari Hanna tidak patah semangat untuk berjualan kue buatannya. Dan selalu laris manis, banyak langganan Hanna yang menyukai kue kue basah buatannya.


Hari libur pun Hanna tidak patah semangat untuk berjualan kue. Begitu seterusnya hanya untuk mencari nafkah demi anak tercintanya.


Pagi hari yang tampak cerah, Hanna berjualan kue keliling.


"Kue.....kue.....kue.....enak dan lezat, untuk sarapan pagi. Ayo beli beli beli.....kuenya." kata Hanna.


Banyak yang ngantri untuk membeli kue dagangan Hanna yang sangat lezat meski murah tapi tidak murahan.


"Iya terima kasih ya." kata ibu kepada pelanggan.


Lalu Hanna melanjutkan perjalanannya untuk berjualan kue. Siang semakin terik, keringat mengucur deras membasahi baju Hanna.


Tiba tiba Hanna melewati gedung mewah berdekorasi pernikahan, dan ada Janur Kuning bertuliskan Pernikahan Ronald Dan Alexa. Hanna pun langsung syok, kue kue yang masih tersisa jatuh berantakkan Hanna langsung berlari pulang.


"Ti.....tidak ini tidak mungkin, tidak mungkin mas Ronald menikah secepat itu. Tidak mungkin." teriak Hanna sambil berlari sedih.


Sesampainya di rumah Hanna ngamuk dan memberantakkin seluruh pajangan di rumah hingga hancur pecah berkeping keping, lalu Hanna memecahkan kaca riasnya.


"Aaaggghhhhh.....mas Ronald, kamu jahat. Belum saja surat pernikahan kita keluar kamu sudah menikah lagi. Kamu tidak pernah menghargai aku sebagai istri syahmu. Aaaaggghhhhh....." kata Hanna yang menangis terjatuh di lantai, Emeli baru pulang kerja kelompok dari rumahnya Salsa dan Emeli kaget ketika melihat rumahnya berantakan dan ibu sedang menangis histeris di kamar. Emeli pun segera masuk ke kamar.


"Ibu.....ibu......oh....my god ibu, ibu kenapa?" tanya Emeli menghampiri ibunya melihat pecahan pecahan pajangan rumah dan kaca rias yang juga pecah.


"Emeli....." kata Emeli sambil memeluk Emeli.


"Ibu, ibu kenapa bisa semarah dan sesedih ini bu." tanya Emeli.


"Ayah kamu sayang, ayah kamu." kata Hanna tersendat sendat.


"Ayah......ayah kenapa bu?" kata Emeli bingung.


"Tadi ibu melewati gedong mewah yang ada janur kuningnya dan ternyata yang menikah itu adalah ayah kamu Emeli. Ayah kamu hari ini sudah menikah lagi dengan Alexa mantan pacarnya dulu padahal surat resmi cerai ibu dan ayahmu belum keluar dari pengadilan dan ibu masih istri syah ayah kamu." kata Hanna menangis.


"Apa......ayah benar benar keterlaluan, belum surat resmi dari pengadilan itu datang tapi ayah sudah menikah lagi, ini tidak bisa dibiarkan bu. Emeli harus ke sana." kata Emeli kesal yang menuju ke gedong mewah.


"Emeli jangan Emeli.....jangan." kata Hanna yang segera menyusul Emeli.


Di Pernikahan yang mewah Ronald dan Alexa sangat bahagia tapi sayang kebahagiaan itu di atas penderitaan istri dan anaknya kandungnya.



"Ayah......" teriak Emeli penuh amarah.


"Emeli, mau ngapain kamu ke sini." Ronald kaget dan menghampiri Emeli.


"Ayah benar benar tega ya belum surat resmi dari pengadilan keluar ayah sudah menikah lagi dengan wanita ini. Eh.....tante, tante sadar tidak sih tante sudah merebut ayah dari ibu dan menghancurkan kebahagiaan keluargaku." kata Emeli marah.


"Apa saya tidak salah dengar hah.....tante tidak merebut ayah kamu (tersenyum), tapi ibu kamulah yang merebut ayah kamu dari tante dulu waktu kami masih pacaran. Jadi tidak ada salahnya dong kalau saya mengambil hak saya kembali." kata Alexa tanpa ada rasa bersalah.


"Tante, memang tidak tahu malu ya sudah merebut ayah aku tapi tidak merasa bersalah sama sekali." kata Emeli kesal.


"Emeli, kamu kalau bicara yang sopan. Walaupun bagaimana tante Alexa itu sudah menjadi ibu kamu." kata Ronald membentak.


"Dengar ya ayah, sampai kapan pun ibu Emeli cuma satu yaitu Hanna. Dan sampai dunia berhenti berputar pun, Emeli tidak akan pernah mengakui bahwa tante Alexa itu adalah ibu Emeli dan Emeli tidak mau punya ibu tiri murahan seperti tante Alexa." kata Emeli.


"Lancang kamu Emeli.....plak.....jaga mulut kamu ya Emeli." kata Ronald marah yang menampar Emeli.


"Terus saja ayah, terus saja ayah tampar Emeli sampai ayah puas (memegang pipi). Dan untuk kamu tante apa kamu yakin kalau ayah akan menjadi suami yang baik untuk tante, dan ayah yang baik untuk anak anak tante yang bukan darah dagingnya. Sementara itu ayah sudah tega menelantarkan istri dan anak kandungnya." kata Emeli.


"Iya, tante yakin 100% kalau mas Ronald akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga barunya. Karena ayah kamu sangat mencintai tante tulus dari dalam hatinya. Sedangkan ayah kamu menikah dengan ibu kamu karena perjodohan. Ya jelas beda lah perlakuan ayah kamu terhadap ibu kamu dan saya." kata Alexa dengan santai.


Aleta yang melihat kejadian itu kaget melihat Emeli yang mengacaukan pernikahan maminya dengan papi tirinya. Langsung menghampiri Emeli bersama Monik dan Vero.


Aleta adalah anak kedua dari Alexa, sedangkan Bima kakaknya Aleta yang kerja kontrak selama dua tahun di luar negri sebagai fotografer. Jadi Bima tidak bisa menghadirkan ke pernikahan mami dan papi tirinya karena tidak boleh pulang sebelum masa kontraknya habis tinggal beberapa bulan lagi.


"Emeli.....ngapain kamu ke sini (ketus), bukannya kamu tidak diundang." tanya Aleta.


"Aleta......kamu yang ngapain di sini (marah pada Aleta), aku ke sini karena aku kecewa ayah aku menikah lagi dengan wanita ini. Sementara surat resmi perceraian ibu dan ayah belum keluar." kata Emeli.


"Apa (kaget), jadi papi Ronald adalah ayah kandung kamu." tanya Aleta kaget.


"Kamu, kenal dia sayang." tanya Ronald.


"Ya jelaslah pi, Emeli itu yang sudah membuat Aleta di skor pi." kata Aleta mengadu pada Ronald.


"Oh, jadi kamu yang sudah menyebabkan Aleta di skor dari kampus. Plak......(menampar), ibu kamu salah mendidik kamu. Makanya kamu menjadi anak yang kurang ajar, suka buat masalah." kata Ronald.


Aleta, Monik, dan Vero tertawa senang sambil tos.

__ADS_1


"Oh....jadi ayah lebih membela anak pelakor ini dari pada anak kandung ayah sendiri. Tanpa mendengar alasan yang jelas kalau merekalah yang sudah duluan menyiksa Emeli. Ayah benar benar bukan ayah yang patut dibanggakan, ayah tidak adil. Emeli kecewa sama ayah, ayah selama ini belum pernah membuat ibu dan Emeli bahagia. Ayah selalu membuat kami menderita, ayah jahat.....ayah kejam.....dan ayah bengis....." kata Emeli marah dan menangis.


"Dasar, anak kurang ajar. Plak....(menampar lagi, lalu menjatuhkan Emeli, dan menginjak injak, semua pada berteriak melihat kekacauan itu. Ibu datang melerai ayah yang sedang menganiaya Emeli). Sudah berani kamu mempermalukan ayah di depan umum, dasar anak durhaka. Kurang didikkan." kata Ronald geram


"Aaa.....(jerit Emeli). Bunuh saja Emeli ayah, biar ayah puas. Memang ayah, Emeli memang kurang didikkan karena ayah yang selalu sibuk main wanita nakal tidak ada waktu untuk mendidik Emeli." kata Emeli.


"Kamu benar benar tidak ada sopan santunnya ya Emeli, kamu sudah menjadi anak yang pembangkang. Rasakan ini karena kamu sudah mempermalukan ayah kamu sendiri di depan umum." kata Ronald yang terus menendang dan memukuli Emeli juga menginjak nginjak Emeli.


"Sudah cukup mas, cukup (teriak Hanna yang memegang tangan Ronald), jangan kasarin anakmu lagi." pinta Hanna.


"Lepaskan biar saya hajar, anak durhaka ini." kata Ronald tetap menghajar Emeli.


"Lepaskan mas lepaskan Emeli, saya tidak akan diam saja kalau mas tidak mau berhenti untuk menganiaya Emeli. Saya akan selalu membela Emeli, meski nyawa saya taruhannya." kata Hanna yang langsung menghalangi Ronald di depannya.


"Kamu salah didik Emeli Hanna, hingga dia tumbuh menjadi anak yang pembangkang." kata Ronald.


"Kenapa harus saya yang tugasnya mendidik Emeli, dia kan juga anak kamu. Jadi bukan hanya tugas saya saja yang mendidik Emeli, tapi kamu juga ada hak mendidik Emeli mas Ronald. Karena sebagai ayah kamu tidak pernah memberikan kasih sayang kamu terhadap anak kandung kamu mas." kata Hanna mengutarakan isi hatinya.


"Saya tidak mau punya anak yang pembangkang dan tidak hormat pada orang tua seperti Emeli. Dan di depan semua tamu undangan saya, saya akan memutuskan tali hubungan darah pada Emeli. Mulai sekarang dia bukan anakku lagi." kata Ronald dengan emosi yang tinggi.


Emeli dan Hanna kaget mendengar ucapan Ronald. Sedangkan Aleta, Monik, dan Vero senang mendengar ucapan Ronald.


"Kamu tidak bisa memutuskan hubungan darah dan anak mas. Karena di dalam tubuh Emeli itu mengalir darah kamu (Ibu membangunkan Emeli), lagi pula Emeli jadi seperti ini karena kamu tidak pernah memberi perhatian dan kasih sayang pada Emeli sedikit pun. Jadi jangan pernah kamu menyalahkan aku dalam mendidik Emeli, kamu juga tidak berhak menyalahkan Emeli dengan sikap dia yang seperti ini, koreksi saja pada diri kamu sendiri apa kamu sudah menjadi ayah yang baik untuk Emeli. Anak kandung kamu sendiri yang selama ini kamu acuhkan, dan kamu siksa. Ayo Emeli kita pergi dari sini." kata Hanna emosi.


"Tunggu, bu (melepaskan pegangan ibunya pelan). Bapak Ronald Kertajasa yang terhormat, saya Emelia Vernanda tanpa Kertajasa saya setuju kalau hubungan darah antara ayah dan anak putus. Karena saya tidak sudi punya ayah yang kejam dan tak punya perasaan seperti anda. Dan ingat pak Ronald suatu saat nanti akan ada hari pembalasan..... karena darah dibalas dengan darah.....airmata dibalas dengan airmata......jeritan dibalas dengan jeritan.....sakit hati dibalas dengan sakit hati.....penghinaan dibalas dengan penghinaan.....penderitaan dibalas dengan penderitaan.....kehancuran dibalas dengan kehancuran.....Dan airmata ibu juga sakit hati ibu akan terbalaskan bersama jerit tangis anda, camkan itu pak Ronald (ancam Emeli dengan sangat marah yang penuh kebencian), ayo bu." kata Emeli yang pergi meninggalkan pernikahan Ronald dan Alexa bersama ibunya.


"Yeee.....hari ini adalah pemandangan yang sangat....sangat....sangat indah, akhirnya papi lebih memilih aku dari pada sih cupu anak kandungnya sendiri." kata Aleta senang.


"Iya aku juga tidak menyangka Aleta ternyata kamu bersaudara dengan Emeli. Sama seperti aku yang bersaudara dengan Salsa." kata Monik.


"Ets.....sudah tidak lagi kamu dengar sendiri kan Monik kalau papi sudah memutuskan hubungan darah antara papi dengan Emeli hahahaha......" kata Aleta tertawa.


"Tetap saja Aleta, benar kata ibunya Emeli. Meski papi kamu sudah memutuskan hubungan darah antara anak dan ayah tapi di dalam darah Emeli itu tetap mengalir darah papi kamu loh." kata Vero.


"Sudah deh Vero kamu jangan merusak mood aku. Lebih baik kita have fun saja yuk, dan merayakan kemenangan kita. Besok kan kita sudah masuk kuliah jadi aku sudah tidak sabar ngebully sih cupu lagi. Dan aku juga tidak peduli darah yang ada dalam darah sih cupu itu mengalir darah papi karena kenyataannya papi sendiri yang memutuskan hubungan darah antara ayah dan anak di depan semua orang." kata Aleta tetap senang.


"Yoi Aleta, sorry mayori. Kamu benar kita have fun merayakan kemenangan kita." kata Vero yang mengambil minuman dan bersulang bersama Aleta dan Monik.



"Iya, ini demi kebahagiaan kita hari ini. Dan lusa kita bully lagi sih Emeli tapi kali ini dengan cara cantik, jangan sampai bu Tamara menghukum kita lagi hahahaha......" kata Monik tertawa.


"So, pasti." kata Aleta dan Vero serentak.


"Awas kamu Hanna dan Emeli. Tunggu pembalasan saya, saya tidak akan biarkan harga diri saya di injak injak apa lagi dihadapan tamu undangan saya. Jadi kalian harus terima akibatnya (batin Ronald, dan meminta izin untuk menemui rekannya). Bentar ya sayang, mas mau nemuin teman mas dulu." kata Ronald.


"Iya mas." kata Alexa tersenyum.


Ronald berbohong pada Alexa bukan menemui temannya Ronald, melainkan menemui anak buahnya.


"Oscar, Rifal kalian berdua harus mengikuti mereka dan jika ada kesempatan beri mereka berdua pelajaran, biar tidak macam macam sama saya lagi. Bila perlu habisi mereka." perintah Ronald.


"Baik bos." jawab Oscar dan Rifal serentak.


Oscar, Rifal mengikuti Emeli dan Hanna sampai rumahnya. Tapi Oscar dan Rifal belum bisa bertindak karena lagi melihat situasi rumahnya, masih ada orang yang berlalu lalang meski pun hanya sedikit.


"Rifal lebih baik kita pulang dulu. Nanti tengah malam kita balik lagi ke sini dan mulai beraksi." kata Oscar.


"Baik bang." kata Rifal.


Tengah malam suasana jalan sangat sepi, tidak ada lagi orang lain yang berlalu lalang di rumah Emeli. Pagi dan siang hari saja cuma beberapa orang yang nampak melewati rumah Emeli apa lagi tengah malam, jalan rumah Emeli seperti kota mati. Di rumah ibu Emeli sedang melamun menangis di tempat tidurnya karena pernikahan Ronald dengan Alexa.


"Mas kamu tega memperlakukan aku seperti ini, meski aku hanyalah istri terpaksa kamu tapi kamu tidak berhak memperlakukan aku seperti ini mas. Bertahun tahun aku selalu sabar menghadapi sikap kamu dan berharap kamu mencintaiku. Tapi ternyata pengorbananku selama ini sia sia karena sekarang pernikahan yang bertahun tahun aku pertahankan telah kandas dan tinggal kenangan buruk. Kamu jahat mas kamu jahat....." tangis Hanna histeris memecahkan malam karena Hanna tak bisa tidur dalam kesedihan yang panjang.


Tibalah Oscar dan Rifal di rumah Emeli untuk membuat kekacauan. Oscar dan Rifal mengetuk pintu dengan sangat kasar sekali hingga mengagetkan Hanna dari lamunan karena kesedihan kehilangan suami tercintanya. Sementara Emeli sudah terlelap tidur.



"Tok....tok....tok....." suara ketukan pintu rumah Emeli dan Hanna mengagetkan Hanna akan kedatangan tamu di malam hari.


"Aduh, siapa ya yang bertamu malam malam." kata Hanna bangun dari duduknya.


Hanna segera membuka pintu dan kaget, karena ternyata ada dua orang berwajah besar dan sangar yang datang ke rumahnya yang langsung masuk memecahkan semua pajangan rumah Hanna.


"Aaaa.....ka....kalian si....siapa. Ma....mau apa kalian, kenapa kalian datang membuat kekacauan di malam hari. Pergi kalian pergi dari rumah saya." kata Hanna ketakutan.


Oscar mendorong Hanna hingga terjatuh.


"Aaa.....tolong tolong.....pergi kalian pergi." teriak Hanna, tapi sayang tidak ada yang mendengar teriakan Hanna karena rumah warga jarang dekat rumahnya seperti di tengah hutan rumah Hanna. Dan kalau malam suasana sangat sunyi sekali seperti kota mati hanya ada suara jangkrik dan kodok yang bernyanyi di malam hari.


"Silakan teriaklah sesuka hati kau nyonya Hanna, karena percuma di sini lingkungannya sangat sepi seperti kota mati jadi tidak ada satu orang pun yang akan mendengar teriakan kamu nyonya. Oh iya dapat salam dari bos Ronald dan ini akibatnya karena anda telah mempermalukan bos kami dihari pernikahannya tadi siang." kata Oscar.



"Ja....jadi kalian anak buahnya mas Ronald." kata Hanna ketakutan.


"Hahahahaha.....(tertawa) iya kami memang suruhan bos Ronald. Kami di perintahkan untuk memberi pelajaran kepada anda dan anak anda biar anda tidak berani macam macam lagi sama bos kami." kata Rifal yang membanting keramik milik Hanna di hadapannya.


"Aaaaa......" teriak Hanna sangat ketakutan dan pecahan keramik itu membangunkan Emeli dari tidurnya.


"Ya Tuhan.....ibu." kata Emeli kaget dan langsung berlari ke ibunya.


"Pergi kalian pergi jangan buat kekacauan di sini." kata Hanna menangis.


"Astaga, ibu." kata Emeli yang menghampiri ibunya yang ketakutan.


"Kalian siapa, kalian sudah membuat ibu saya ketakutan. Pergi kalian dari rumahku." usir Emeli.


"Oh kamu nona Emeli, anaknya bos Ronald yang sudah mempermalukan bos Ronald di pernikahan tadi siang." kata Rifal.



"Oh jadi kalian berdua orang suruhan pak Ronald." tanya Emeli.


"Iya kami ke sini di perintahkan oleh bos kami, untuk memberi pelajaran pada kalian berdua. Karena kalian sudah membuat bos kami malu di pernikahannya." kata Rifal.


"Lebih baik kalian pergi dari sini, dan bilang sama bos kalian kalau saya tidak pernah takut sama bos kalian. Karena bos kalian hanyalah seorang pecundang wanita saja." kata Emeli penuh emosi.


"Dasar anak durhaka. Bos Ronald itu adalah ayah kamu jadi kamu harus hormat pada dia." kata Oscar.


"Ayah hahahahaha.....(tertawa menghampiri Oscar dan Rifal). Bukankah kalian berdua ada di sana, pasti kalian punya kuping kan untuk mendengar, kalau bos kalian itu sudah memutuskan hubungan darah antara ayah dan anak kepadaku. Tapi saya tidak sedih dan tidak kecewa sama sekali karena apa....karena saya juga tidak sudi mempunyai seorang ayah yang tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap keluarga seperti pak Ronald Kertajasa. Dan bos kalian itu tidak pantas untuk dipanggil ayah dia lebih pantas untuk dipanggil sebagai pecundang, karena dia bukan seorang ayah dan suami yang baik untuk keluarga. Dia tidak pantas untuk dihormati ataupun dihargai." kata Emeli matanya penuh kebencian terhadap Ronald.


"Dasar kurang ajar. Berani beraninya kamu menghina bos Ronald." kata Oscar yang geram dan langsung mendorong Emeli hingga terjatuh ke lantai dan tubuhnya sakit karena terbentur tembok.


"Awwww....." rintih Emeli.


"Emeli....." teriak Hanna.

__ADS_1


"Itu akibatnya nona karena kamu sudah menghina bos kami anak durhaka." kata Oscar.


"Saya tidak takut terhadap bos kalian atau pada kalian berdua, karena kalian hanya curut curut bayaran yang dikuasai oleh uang. Jadi kalian berdua rela melakukan apa pun demi uang. Sampai aku mati bos kalian adalah tetap pecundang bagiku. Dan kebahagiaan bos kalian tidak akan lama, karena sebentar lagi bos kalian dan keluarganya akan menderita.....dengarkan kata kataku baik baik curut curutnya bos Ronald." kata Emeli penuh emosi.


"Kurang ajar kamu berani bicara seperti itu. Baiklah kamu tidak akan bicara sekurang ajar itu lagi setelah apa yang akan lakukan kepada kamu gadis cupu." kata Oscar emosi yang langsung mengambil guci besar yang berada di dekatnya untuk memukul Emeli.


"Kamu mau apa, tolong jangan sakiti anak saya." pinta Hanna.


"Biarkan bu, biarkan pecundang itu membunuhku." kata Emeli menantang Oscar.


"Tidak sayang jangan, ibu tidak mau kehilangan kamu. Tolong jangan sakiti anak saya." pinta Hanna.


Oscar terus maju dengan membawa guci besar untuk di pukul ke kepala Emeli. Hanna khawatir wajahnya sangat cemas kepada anaknya. Lalu Hanna segera bangun dari duduknya dan berlari menghampiri Emeli, untuk melindungi Emeli yang ingin di pukul oleh Oscar dengan guci besar hingga kepala Hanna mengeluarkan banyak darah segar.


"Emeli.....ja....jangan kamu sakiti anak saya." teriak Hanna yang akhirnya guci itu mengenai kepala Hanna hingga kepalanya bocor dan mengeluarkan banyak darah segar dari kepala Hanna. Emeli pun tak tertahankan menangis melihat ibunya terluka dan sekarat lalu Emeli membaringkan ibunya di pelukkan Emeli.


"Ya Tuhan ibu." teriak Emeli histeris sedih.


"Kalian....kalian sudah membuat ibu saya terluka, kalian akan terima balasannya." kata Emeli penuh emosi.


"Hahahaha.....(tertawa), itulah akibatnya karena kamu sudah bicara lancang pada kamu. Kamu pikir saya takut dengan ancaman kamu gadis cupu. Oh....tidak saya tidak takut sama sekali dengan ancaman gadis cupu seperti kamu. Memangnya kamu bisa apa, melawan saya saja kamu terjatuh. Kamu itu hanya wanita lemah. Kamu tidak bisa melawan kita yang ada kamu yang akan mati di tangan kami. Jadi simpan saja ancaman kamu gadis cupu." kata Oscar.


"Hai dengar ya, kalian berdua memang laki laki tapi saya berjanji demi ibu saya. Saya akan membalas perlakuan kalian terhadap ibu saya. Jangan kalian pikir mentang mentang kalian laki laki saya akan takut sama kalian berdua hah....." kata Emeli.


"Sudahlah bos percuma ladenin gadis kampung, yang mimpi untuk balas dendam pada kita padahal dirinya itu hanya wanita lemah hahahahaha......" kata Rifal tertawa.


"Hahahahaha.....(tertawa) kamu benar Rifal, pokoknya saya peringatkan pada kamu gadis kampung jangan kamu macam macam lagi sama bos kami, dan keluarga barunya atau nasib kamu akan seperti ibu kamu hahahaha....." kata Oscar yang tertawa kemudian Ronald datang ke rumah Emeli dan Hanna. Ronald sangat senang dan puas sekali melihat Hanna yang sedang terluka dan Emeli yang lagi sedih akibat terlukanya ibunya yang mau meninggalkan Emeli selamanya dari dunia ini.


"Tolong tolong bawa ibu saya ke rumah sakit, ibu saya terluka parah. Kalian boleh sakiti aku, tapi tolong bawa ibuku ke rumah sakit karena aku tidak mau kehilangan ibuku. Aku mohon, apa pun akan aku lakukan asal selamatkan nyawa ibuku." pinta Emeli menangis.


"Hahahaha......(tertawa). Tadi saja kamu sombong menantang kami, eh sekarang kamu malah minta tolong agar ibu kamu di bawa ke rumah sakit. Enak saja kamu pikir kami mau membawa ibu kamu ke rumah sakit, jangan mimpi nona. Biarkan saja ibu kamu meninggal, biar tidak ada lagi pengganggu di keluarga bos kami." kata Oscar.


"Tidak jangan.....aku tidak mau ibuku meninggal (teriak). Kalian berdua memang tidak punya hati suatu saat nanti kalian akan merasakan apa yang aku rasakan, dan aku akan mengirim kalian ke neraka camkan itu." kata Emeli emosi.


"Hahahahaha......(tertawa), ngomonglah sesuka hati kamu nona Emeli. Karena kita tidak akan pernah takut sama bocah ingusan seperti kamu." kata Rifal tertawa.


Oscar dan Rifal tertawa dan tiba tiba bos Ronald pun datang menemui Hanna dan Emeli.


"Bos." kata Ronald dan Rifal serentak.


Ronald masuk ke rumah Emeli dan melihat Hanna yang sekarat dan Emeli sedang menangis.


"Hallo Emeli....Hallo Hanna." sapa Ronald tersenyum jahat.


"Pak Ronald....tolong pak tolong bawa ibu ke rumah sakit, ibu terluka parah jangan biarkan ibu meninggal. Aku mohon pak." pinta Emeli.


"Kamu pikir kamu siapa seenaknya kamu menyuruh nyuruh saya hah.....saya tidak akan sudi membawa ibu kamu ke rumah sakit hahahaha.....(tertawa). Sudahlah Emeli ikhlaskan saja ibu kamu mati Emeli." kata Ronald.


"Tidak.....jangan pak tolong pak bawa ibu ke rumah sakit, saya mohon." pinta Emeli penuh kesedihan.


"Saya tegaskan sama kamu mantan anakku, kalau saya tidak akan membawa ibu kamu ke rumah sakit karena saya sudah tidak peduli lagi dengan ibu kamu, juga dengan kamu jadi kalau kalian kenapa napa saya hanya bisa lepas tangan saja hahahaha....." kata Ronald tertawa.


"Pak Ronald anda memang tidak punya hati. Anda kejam, anda jahat." kata Emeli kesal.


"hahahaha.....(tertawa). Terserah kamu mau bilang apa tentang saya Emeli, tapi saya puas bisa melihat ibu kamu sekarat seperti ini si depan mataku. Jadi dendam saya karena sakit hati di permalukan oleh kamu dan ibu kamu tadi siang di pernikahanku terbayarkan. Dan selamat tinggal calon mantan istri yang tak pernah aku cintai." kata Ronald tersenyum.


"Pak Ronald kamu benar benar tidak punya perasaan. Selama bertahun tahun kamu sudah membuat ibu saya menderita, dan sekarang kamu mau menghilangkan nyawa ibu. Padahal ibu masih istri anda pak Ronald yang terhormat." kata Emeli.


"Saya masa bodo dengan kalian berdua, pernikahan yang saya tidak pernah harapkan dan kamu anak dari wanita yang tidak pernah saya cintai. Jadi saya tidak akan sedih jika Hanna mati mengenaskan seperti ini dan kamu akan menjadi gelandangan Emeli yang tidak bisa bertahan hidup setelah ibu kamu meninggal. Jadi saya tidak perlu susah susah untuk menyingkirkan kamu juga, karena kamu akan mati dengan sendirinya hahahaha....." kata Ronald tertawa dan kemudian pergi meninggalkan Hanna yang terluka dan Emeli yang lagi sedih.


"Kerja yang bagus anak buahku." kata Ronald memuji Oscar dan Rifal.


"Terima kasih bos." kata Oscar dan Rifal serentak.


"Anda dengar pak Ronald. Saya akan buktikan kalau saya bisa bertahan hidup tanpa kamu pak, dan aku juga bisa sukses karena kecerdasaanku mendapat beasiswa di kampus. Justru anda dan keluarga tercinta anda yang akan merasakan penderitaan karena anda sudah membuat aku dan ibu menderita selama bertahun tahun camkan itu pak Ronald Kertajasa. Kejahatanmu sudah terekam oleh memori otakku, aku sangat membencimu sampai aku mati pun aku tak akan pernah memaafkan kesalahanmu apa lagi kalau sampai terjadi apa apa sama ibu, aku pastikan akan ku balaskan dendam ibuku pada kamu dan keluarga barumu pak Ronald." teriak Emeli melihat kepergian Ronald dan kedua anak buahnya yang sambil tertawa tak bertanggung jawab. Ronald ke rumah Hanna saat Alexa sedang tertidur pulas karena kecapean habis malam pertama dengan Ronald.


"Ibu.....ibu harus bertahan ya bu. Ibu pasti sembuh. Ya Tuhan darah darah astaga ibu darahnya banyak banget di kepala, kita harus ke rumah sakit ya bu. Emeli tidak mau terjadi apa apa pada ibu." kata Emeli sambil melihat tangannya yang berdarah. Emeli mencoba mengangkat ibunya tapi terjatuh, Emeli menangis takut kehilangan ibu tercintanya.



"Ibu bertahan ya bu, ibu pasti sembuh Emeli akan bawa ibu ke rumah sakit." kata Emeli yang mencoba menggendong ibunya lagi dan terjatuh lagi. Emeli selalu berusaha menggendong ibunya tapi Emeli tidak berhasil mengangkat ibunya.


"Ah.....aku memang anak yang tidak berguna mengangkat ibu saja aku tidak kuat (menangis menyalahkan diri sendiri), pokoknya aku tidak boleh cengeng aku harus bisa bawa ibu ke rumah sakit karena ibu harus segera dapat pertolongan. Emeli tidak mau ibu kenapa napa. Ibu bertahan ya bu, ibu harus sembuh." kata Emeli yang bangkit dalam ke putus asaan menggendong ibunya tapi masih terjatuh.


"Emeli tidak usah Emeli. Kamu jaga diri baik baik ya Emeli, maafkan ibu tidak bisa menemani kamu lagi. I....ibu sayang kamu, ka....kamu anak kesayangan ibu ka.....kamu harus buat ibu dan ayahmu ba....bangga bu....buktikan pada ayah ka....kamu kalau kamu bisa sukses ta....tanpa ayah ka...kamu." kata Hanna terbata bata menahan sakit.


"Iya bu, Emeli akan buktikan pada pak Ronald kalau Emeli bisa sukses tanpa dia tapi ibu harus sembuh ya. Emeli tidak mau sendiri bu. Ayo bu kita ke rumah sakit ya bu. Emeli tidak mau kehilangan ibu, kalau ibu pergi untuk selamanya Emeli sama siapa bu." kata Emeli membanjiri airmata di pipinya.


"Sayang meski ibu su....sudah ti...tidak a....ada di dunia ini ta....tapi ibu akan selalu bersemayam di da....dalam ha...hati kamu. To....tolong a....ambilkan ka....kalung ibu di leher ibu." kata Hanna.


"Iya bu." kata Emeli yang mengambilkan kalung di leher ibunya dan memberikan pada ibunya.


"Sini sayang mana leher ka...kamu." kata Hanna. Lalu ibu memasangkan kalung merah delima miliknya ke leher Emeli.


"Ini bu." kata Emeli.


"Ka....kalung itu sangat cantik sekali di leher kamu sayang kalung merah delima pe....peninggalan nenek ka....kamu. I....ibu be....berikan kalung itu untuk kamu to....tolong ja....jaga baik baik ka....kalung ibu ya sa...sayang." kata Hanna.


"Iya bu, pasti akan Emeli jaga kalung ini baik baik bu." kata Emeli.


"Dan to....tolong sebelum ka....kamu memakai kalung i....itu kamu rendam ti...tiga hari pa....pakai darah ibu dan ka...kamu minum da....darah itu ma....maka roh i....ibu akan se....selalu menemani ka...kamu dan ber....bersemayam di kalung itu." kata Hanna terbata bata.


"Iya bu iya. Tapi bu, ibu harus tetap ke rumah sakit ya bu. Dan tolong bu jangan tinggalkan Emeli bu." pinta Emeli menangis pilu.


"Waktu ibu sudah dekat Emeli, i....ibu su...sudah tidak ku....kuat lagi. Se....selamat tinggal anak ke....kesayangan ibu. Jaga di...diri ka...kamu ba...baik baik dan balaskan de...dendam ibu pada mereka yang sudah meng....menghancurkan hi...hidup ki....kita. Yang sudah me....membuat i....ibu menderita da...dan ka...kamu ju...juga haru balaskan de....dendam para wa...wanita yang disakiti dan terluka oleh laki laki lain atau pelakornya ka....karena ru....rumah ta....tangga i....ibu ha....hancur karena pi....pihak ke....ketiga. I...ibu sa...sayang ka...kamu Emeli." kata Hanna yang memegang pipi Emeli dan wajah Emeli blepotan darah milik ibu, dan ibu menghembuskan napas terakhirnya.


"Ibu jangan bu jangan. Ibu jangan tinggalkan Emeli bu. Ibu....." teriak Emeli menangis histeris dan menggoyang goyangkan tubuh ibu namun ibu sudah tak bergerak lagi.


"Ibu jangan tinggalkan Emeli bu, Emeli tidak mau sendiri bu. Emeli janji bu Emeli akan membalaskan dendam ibu pada mereka yang sudah membuat ibu menderita selama bertahun tahun dan menghancurkan keluarga ibu, juga para preman yang sudah menyebabkan ibu tidak ada di dunia ini lagi. Dan Emeli juga akan balaskan dendam, untuk semua para wanita yang disakiti oleh laki laki lain dan perebut pacar orang bu." kata Emeli sedih.


"Emeli janji akan membuat mereka menyesal dan Emeli janji akan membuat ibu bangga di alam sana. Emeli pasti bisa sukses bu tanpa ayah." kata Emeli menangis dan menggotong Hanna dengan sekuat tenaga ke ruang bawa tanah, lalu Hanna dibaringkan di tempat tidur yang terbuat dari bilik bambu lalu Hanna didandanin supaya tampak cantik dan dipakaikan ibunya pakaian bagus.


"Darah dibalas dengan darah....Luka dibalas dengan luka....airmata dibalas dengan airmata.....teriakan dibalas dengan teriakan....penderitaan dibalas dengan penderitaan....kekecewaan dibalas dengan kekecewaan....maka pak Ronald beserta keluarganya akan mati sangat mengenaskan, dengan perih dan luka yang lebih sakit dari yang ibu rasakan. Mereka akan menangis berteriak memohon ampun untuk dilepaskan. Dan pada saat itu tak ada satu orang pun yang menolong mereka dari maut, hingga mereka akan mati mengenaskan di tanganku. Terkutuk kalian keluarga Kertajasa tunggu saja pembalasanku akan segera tiba." kata Emeli sambil menggenggam tangannya penuh dendam dan kebencian pada Ronald beserta keluarga barunya.



Lalu Emeli melepas kalung di lehernya, dan menaruhnya di gelas cantik yang ada tutupnya. Dan Hanna menggores nadi milik ibunya untuk merendam kalung dengan darah milik ibu.


"Ibu....Emeli sengaja tidak mau menguburkan ibu, biar ibu lihat sendiri Emeli akan membalaskan dendam pada mereka satu persatu, karena mereka yang telah membuat hidup ibu menderita dan darah mereka akan membayar sakit hati ibu untuk airmata yang ibu keluarkan selama bertahun tahun. Emeli janji bu Emeli akan membawa pak Ronald ke hadapan ibu, dan meminta maaf pada ibu ketika maut mengejarnya." kata Emeli matanya memancarkan dendam yang teramat dalam untuk penderitaan Emeli juga ibunya.


"Ibu maaf ya bu, Emeli ambil darah ibu dari nadi ibu. Tahan ya bu sakit sedikit." kata Hanna yang bicara pada mayat ibunya, lalu Emeli merendam kalung oleh darah ibunya dengan gelas cantik. Dan menaruhnya di lemari es yang berada di kamar tidur ruang bawah tanah.


"Bu Emeli ke pasar dulu ya bu, ibu tunggu di sini." kata Emeli yang mencuci wajah dan tangan yang bekas darah ibunya lalu mengganti pakaian yang bersimba darah.


Emeli ke pasar untuk membeli formalin untuk pengawet mayat ibunya. Biar tidak bau. Setelah sampai dari pasar Emeli memandikan mayat ibunya dengan formalin dan setelah itu Emeli langsung ke halaman belakang membuat makam palsu ibunya dan menaruhkan nisan yang bertulis nama ibunya serta menaburkan bunga di makam palsu, biar jika ada yang ingin tahu makam ibunya. Emeli bisa mengantarkan ke makam palsu ibunya, jadi tidak ada orang yang curiga kalau mayat ibunya masih ada di kamar ruang bawah tanah.


* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘

__ADS_1


__ADS_2