Psikopat Cinta

Psikopat Cinta
Kematian Alexa


__ADS_3

Emeli membawa Alexa dengan paksa dan membuangnya di depan rumah Alexa. Wajah Alexa rusak parah, tak berbentuk. Potongan rambutnya pun sangat berantakkan, mulutnya robek, lidahnya putus, dan jari jarinya juga putus.



Aleta yang mendengar ada mobil berhenti di depan rumah langsung berlari menghampiri dan tak di sangka sangka juga di bayangkan dia melihat ibunya penuh luka yang mengerikan. Bercucuran darah, Aleta langsung menghampiri maminya dan menjerit histeris penuh tangis lalu Aleta memeluk Alexa dengan penuh kesedihan dan rasa prihatin dengan keadaanya.


"Mami.....mami." teriak histeris Aleta menghampiri maminya dan memeluknya. Pakaian Aleta pun terkena darah dari tubuh Alexa.


Pembantu, supir, keamanan dan tukang kebun pun ikut keluar menghampiri Aleta dan Alexa.


"Mami, apa yang terjadi (bingung). Kenapa bisa seperti ini mi, siapa yang melakukan ini pada mami." tanya Aleta sambil menangis meratapi nasib ibunya lalu memeluk Alexa yang bersimbah darah.


Tapi Alexa hanya bisa terdiam dan menangis tanpa suara karena mulutnya sudah dirobek dan lidahnya pun putus, mau menulis pun jari tangannya juga udah dipotong-potong sama Emeli jadi tak bisa mengungkapkan siapa dalang di balik kejahatan kepada maminya.


"Astaga....kenapa nyonya bisa setragis ini." kata mbok Nah kaget.


"Pasti ini ada dendam orang yang pernah nyonya sakitin hatinya." sambar pak Dirga.


"Jangan jangan non Emeli lagi. Kan dia ada dendam karena nyonya sudah menikah dengan pak Ronald, sementara pak Ronald belum cerai dengan nyonya Hanna." sambar Sitha menerka nerka yang pasti itu benar tapi tak ada yang percaya dengan omongan Sitha.


"Emeli (bingung), ya tidak mungkinlah gadis cupu itu nekad buat mami seperti ini. Untuk membunuh semut saja dia tidak berani apa lagi melukai manusia, lagi pula mami itu bukan wanita yang lemah pasti dia bisa melawan Emeli jika dia berani macam macam pada mami. Jadi Aleta yakin bukan Emeli yang sudah melakukan semua ini." kata Aleta ragu tak percaya dengan omongan Sitha.


"Iya tidak mungkin non Emeli berani melakukan ini pada nyonya Alexa." kata pak Dirga.


"Sitha, kamu jangan menuduh tanpa bukti, itu sama saja fitnah, oke." kata pak Oji.


"Ya terus siapa yang melakukan perbuatan keji ini pada nyonya Alexa." tanya Sitha penasaran.


"Aleta juga tidak tahu mbak Sitha. Tapi yang jelas ini mungkin ada sangkut pautnya dengan papi (mikir), ya mungkin saingan bisnis papi yang mempunyai dendam pada papi untuk membuat papi tidak fokus akan kerjaannya agar perusahaan papi bangkrut, jadi pesaing bisnis papi ini menyakiti orang orang terdekatnya papi yaitu keluarganya, dan mami lah yang jadi korban pesaing bisnis papi." kata Aleta menerka nerka.


"Iya bisa jadi ya non. Tapi kalau itu memang modusnya yang dilakukan oleh pesaing bisnis tuan Ronald berarti non Aleta juga dalam bahaya, karena papi non Aleta kan sayang banget sama non Aleta meski non Aleta hanya anak tiri tuan Ronald tapi tuan Ronald sudah menganggap non Aleta sebagai anaknya sendiri. Jadi non juga harus hati hati non." kata Sitha.


"Hem.....kamu betul Sitha. Mulai sekarang aku juga harus hati hati pasti pesaing bisnis papi tidak akan puas untuk membuat mamiku menderita seperti ini, dia juga pasti akan menyakiti aku." kata Aleta panik takut jadi korban berikutnya.


"Tapi itu semua yang Sitha katakan benar (menangis tanpa suara) Emeli tidak selugu yang kalian kira, memang Emeli yang melakukan ini pada mami. Seandainya saja mami bisa bicara dan menulis mami akan mengatakan yang sejujur jujurnya pada kamu Aleta, kalau semua ini perbuatan Emeli, Emeli lah yang buat mami menderita seperti ini, Aleta." Batin Alexa sambil meneteskan air matanya.


Lalu Ronald datang dan kaget melihat wajah, tangan Aleta yang terluka parah juga rambut yang dipotongnya tidak jelas oleh Emeli.


"Aleta, Alexa. Kamu kenapa sayang." kata Ronald kaget melihat wajah Alexa yang sudah hancur.


Alexa hanya terdiam netranya mengeluarkan airmata, karena tidak bisa bicara mulutnya sudah dirobek robek dan jari jarinya pun dipotong, jadi Alexa tidak bisa mengungkapkan siapakah pelaku yang sebenarnya.


"Sekarang wajahmu sangat menjijikan dan buruk rupa, kamu tidak pantas lagi menjadi seorang istri pengusaha sukses sepertiku." kata Ronald menghina Alexa, bukan menenangkan tapi Ronald malah mencaci maki Alexa.


"Papi, kenapa papi bicara seperti itu. Mami lagi kena musibah papi." kata Aleta yang kaget mendengar perkataan suaminya.


"Aaggghhh....saya jijik melihat mamimu Aleta. Lihat saja sekarang rambut dan wajahnya tak berbentuk seperti ini." kata Ronald geram sambil menunjuk Alexa.


"Papi, papi sadar yang papi bicarakan. Mungkin saja mami seperti ini, itu semua karena papi. Dengan sifat papi yang sombong dan angkuh pesaing bisnis papi pada dendam sama papi. Dan sekarang seenaknya papi bicara kasar seperti itu pada mami, wanita yang sangat papi cintai. Di mana papi di saat jiwanya mami lagi tergoncang gara gara teror itu papi malah pergi keluar kota." kata Alexa kesal.


"Kenapa kamu jadi menyalahkan papi, papi keluar kota bukan untuk liburan tapi ini masalah kerjaan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Alexa kenapa dia bisa ketemu sih peneror itu." tanya Ronald melihat para pekerjanya.


"Maaf tuan, nyonya pergi keluar rumah tanpa ijin. Tidak ada satu pun orang yang melihat dia keluar rumah. Jika nyonya mau keluar rumah pasti kami semua melarangnya karena diluar sana sangat bahaya untuk nyonya Alexa, ternyata benar nyonya Alexa pulang dengan keadaan seperti ini. Kami semua sangat menyesal tuan karena tidak bisa menjaga nyonya Alexa dengan baik." kata mbok Nah merasa sangat bersalah dan menundukkan kepalanya.


"Kamu dengar kan Aleta ini semua bukan kesalahan papi tapi kesalahan mami kamu yang nekad ketemu dengan sih peneror itu. Jadi kamu jangan menyalahkan papi. Dan yang kamu harus ketahui Aleta iya dulu papi memang sangat mencintai mami kamu karena wajahnya sangat cantik mempesona. Tapi lihat sekarang wajahnya sangat menjijikan, dan papi muak sekali sama mami kamu." kata Ronald geram.


"Ternyata cinta papi tidak tulus pada mami. Disaat mami masih cantik papi tergila gila pada mami. Tapi sekarang setelah wajah mami hancur papi malah menghinanya." Geram Aleta memeluk Alexa yang menangis tanpa suara.


Tapi dari tangisannya terlihat jelas kalau Alexa sangat terluka dan sedih sekali. Wajahnya yang dahulu cantik membuat para lelaki tergila gila namun sekarang hancur membuat semua orang jijik akan wajah Alexa.


"Aaaghhhh.....kamu urus sendiri mami kamu yang menjijikkan itu Aleta. Dan mulai malam ini dan seterusnya Alexa tidur di ruang tamu karena saya tidak mau tidur dengan wanita buruk rupa seperti Alexa paham." teriak Ronald sangat kesal tak bisa diungkapkan oleh kata kata lalu pergi meninggalkan Alexa yang menangis penuh duka.


"Papi.....papi mau ke mana." panggil Aleta yang kemudian memeluk Alexa yang sedang menangis.


Aleta segera memanggil dokter pribadi keluarga Kertajasa untuk mengobati luka Alexa agar tidak infeksi.


Ternyata Ronald hanya memandang kecantikan istrinya saja, setelah istrinya cacat permanen dia nampak jijik untuk memandang istrinya.


Marisa sudah selesai dinas diluar kota dan balik kembali ke jakarta. Marisa mengetuk pintu kantor Ronald.


"Iya masuk." kata Ronald.


"Selamat pagi pak." sapa Marisa.


"Eh.....Marisa kamu sudah balik dari bandung." tanya Ronald.


"Iya pak sudah." jawab Marisa.


Ronald melihat Marisa semakin hari semakin menarik dan sangat cantik. Karena Marisa selalu dandan cantik untuk menarik perhatian Ronald dan tampil seksi tidak seperti biasanya.


"Kamu cantik banget hari ini." puji Ronald.


"Terima kasih pak." kata Marisa tersipu malu.


Marisa melihat Ronald tampak murung.


"Maaf pak, saya perhatikan sepertinya bapak lagi ada masalah ya." tanya Marisa.


"Oh jadi kamu sering memperhatikan saya ya." kata Ronald tersenyum genit.


"Ma.....maaf pak." kata Marisa menunduk takut Ronald marah karena Ronald langsung berdiri dan mendekati Marisa. Memperhatikan Marisa dengan tersenyum dan mencium wangi parfum Marisa.


"Hahahahaha......(tertawa), kamu tidak usah ketakutan seperti itu Marisa. Saya suka kok di perhatikan sama kamu." kata Ronald.


"Yang benar pak." kata Marisa tak menyangka.


"Ya iyalah, saya baru sadar ternyata kamu wanita yang sangat cantik dan mempesona, hem.....harum lagi." goda Ronald.


"Yes......akhirnya pak Ronald merespon cinta aku, jadi tidak bertepuk sebelah tangan deh." batin Marisa tersenyum senang.


"Kenapa kamu tersenyum senyum seperti itu Marisa." tanya Ronald.


"Ah.....tidak pak tidak apa apa." jawab Marisa.


"Kalau gitu kamu mau dong nemenin saya untuk makan siang nanti." tanya Ronald.


"I.....iya pak mau." jawab Marisa tersenyum.


Ronald dan Marisa makan siang di cafe Seroja.


"Marisa, sebenarnya saya lagi ada masalah yang sangat berat." kata Ronald memasang wajah sedih.


"Masalah.....masalah apa pak." tanya Marisa menatap Ronald bingung.


"Istri saya Marisa istri saya." jawab Ronald mengambangkan kalimatnya dengan kesedihan.


"Istri bapak kenapa. Pak Ronald tidak usah takut kalau ada masalah ceritakan saja pada saya, siapa tahu saya bisa membantu." tanya Marisa lagi penasaran.


"Hem....baiklah Marisa (menarik napas lalu melanjutkan ceritanya) Kemarin pas saya pulang dari luar kota tiba tiba saya melihat Alexa di depan rumah ternyata wajahnya sudah hancur, jelek, dan menjijikkan. Karena kemarin sih peneror itu telah menculik dan menghancurkan wajah istri saya. Saya jadi merasa ilfil sekali dan laki laki mana yang merasa betah melihat wajah istrinya tidak cantik lagi." cerita Ronald pada Marisa.


"Masa sih pak." kata Marisa.


"Iya Marisa. Saya jadi tidak betah di rumah, saya malu punya istri cacat apa lagi dia sekarang sudah tak bisa bicara. Nanti kalau ada acara kantor bagaimana, saya tidak bisa membanggakan wajah istri saya lagi yang cantik pada relasi saya." kata Ronald membayangkan wajah istrinya lalu bergedik jijik.


"Yang sabar ya pak, lalu apa rencana bapak sekarang." tanya Marisa penuh harapan.


"Saya mau menceraikan dia tapi masih ada rasa kasihan Marisa, karena mungkin ini ulah pesaing bisnis saya. Jadi Alexa begini ya karena saya. Saya jadi merasa bersalah sekali pada Alexa." jawab Ronald penuh penyesalan.


"Tapi kok bisa begini kejadiannya." tanya Ronald.


"Iya Marisa. Mbok Nah pembantu saya bilang katanya, tanpa sepengetahuan yang lain Alexa pergi dari rumah untuk menemui sih peneror itu seorang diri. Entah apa yang terjadi pulang pulang sudah seperti itu keadaannya." jawab Ronald.


"Itu sudah jelas pak, ini semua bukan kesalahan pak Ronald. Tapi ini semua kesalahan bu Alexa. Jelas jelas ada teror tapi kenapa istri pak Ronald malah mancing sih peneror itu untuk keluar. Nah jadi kan seperti ini kejadiannya. Kalau sudah seperti ini malah menyalahkan bapak Sebagi suaminya, padahal kan pak Ronald lagi dinas di Bandung kemarin. Jadi pak Ronald tidak perlu menyalahkan diri sendiri seperti ini." kata Marisa mengimpor ngomporkan Ronald.


"Kamu benar Marisa, ini bukan sepenuhnya salah saya seperti yang Aleta katakan (menarik napas) Marisa, kamu mau tidak jadi kekasih aku." kata Ronald yang memegang tangan Marisa, Marisa jadi salah tingkah.


"I....iya pak saya mau karena sejujurnya saya sudah lama menyimpan perasaan terhadap bapak." ungkap perasaan Marisa dengan tersenyum cantik.


Ronald dan Marisa tersenyum saling bertatap pandang.


Hari berlalu tampak perubahan drastis prilaku Ronald kepada Alexa, dia lebih kasar dan selalu pulang malam, di kemejanya pun selalu menempel parfum perempuan juga lipstick.


"Setiap kali saya melihat wajahmu, saya merasa jijik sekali, eneg, mual, dan kamu tidak secantik dan seindah dulu lagi. Saya bosan lihat wajahmu yang buruk rupa." kata Ronald yang penuh hinaan, Alexa hanya menangis tanpa kata.

__ADS_1


"Pi....papi jangan bicara begitu sama mami pi." kata Aleta penuh kekecewaan.


"Tapi itu kenyataannya Aleta, sekarang mamimu itu sangat menjijikan. Tidak heran kalau papi mencari wanita yang lebih cantik dan seksi dari pada mamimu." kata Ronald.


"Papi....jahat." kata Aleta penuh kecewa.


"Mami yang sabar ya, kalau gitu Aleta berangkat ke kampus dulu." kata Aleta pamit pada Alexa.


Lalu Ronald berangkat kerja dan Aleta pun memeluk Alexa dan pamit untuk ke Kuliah, setelah kepergian Aleta lalu Emeli yang melihat tertawa bahagia dan menghampiri Aleta yang berada di taman sambil menangis.


"Hahahaha.....(tertawa). Tante Pelakor rasakan itu karma untukmu, karena sudah menghancurkan keluargaku. Dan kamu pantas mendapatkan itu, mukamu sudah sangat menjijikan sekali. Terang saja pak Ronald muak melihat wajah kamu yang sangat buruk rupawan. Enyahlah kau dari muka bumi ini, perempuan pelakor berwajah buruk rupa seperti kamu tidak pantas hidup di dunia ini." kata Emeli lalu meninggalkan Alexa seorang diri dan Alexa menangis tanpa suara.


Setiap hari sifat prilaku Ronald sangat berubah kasar dan menghina Alexa juga cuek, dia juga jarang di rumah. Selalu pergi dengan sekertaris selingkuhannya. Alexa semakin terpuruk dan sedih dengan perlakuan suaminya kepadanya.


Alexa memegang suaminya dan menggeleng kepalanya mengisyaratkan jangan pergi tapi Ronald menepis tangan Alexa kasar.


"Lepaskan saya (menepis tangan Alexa kasar), saya jijik dipegang dengan tanganmu yang sudah tidak ada jari jarinya (menghina). Sebenarnya saya sudah tidak tahan sama kamu, lihat wajah kamu saja saya sudah mau muntah apa lagi menyentuhmu (tanpa melihat Alexa (Alexa hanya bisa meneteskan airmata). lebih baik kamu mati Alexa dari pada hidup hanya jadi boomerang bagi saya." kata Ronald.


"Papi....jaga mulut papi, mami lagi sakit papi (marah membela maminya). Seharusnya papi menjaga dan merawat mami, mami itu kan istri papi." kata Aleta kesal.


"Kalau saya tidak mau bagaimana, dia memang istri saya tapi sebentar lagi saya akan menalaknya. Karena saya akan menikah dengan Marisa sekertaris saya, dia wanita yang cantik dan sempurna." kata Ronald membanggakan Marisa.


"Oh ya, papi yakin pi. Nanti jika wajah tante Marisa hancur kaya mami papi pasti juga akan meninggalkan dia lagi, dan terus mencari wanita yang lebih cantik, lebih seksi dari pada tante Marisa kan. Karena papi selalu mencari wanita lain jika istri istri papi sudah tak cantik dan terlihat seksi lagi, belum tentu tante Marisa sebaik mami yang tulus mencintai papi. Aleta tahu pi kalau tante Marisa hanya mengincar harta papi saja." kata Aleta kesal menghina Marisa.


"Papi yakin tante Marisa tidak akan seperti itu, dia sangat tulus mencintai papi." kata Ronald.


"Oh iya kita buktikan saja pi kalau Tante Marisa tidak sebaik yang papi pikir. Dan ini juga karena papi, mami bisa seperti ini karena menikah sama papi. Baru tiga bulan pi mami menikah sama papi tapi mami sudah dalam masalah besar, dan lebih buruknya lagi wajah mami hancur semua karena papi. Seandainya mami tidak pernah menikah sama papi pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Musibah yang terjadi pada mami itu semua karena papi, dan seenaknya papi setelah kehancurannya mami papi bicara menghina dan memaki mami seperti itu. Papi jahat..... papi kejam.....papi tidak punya perasaan....papi tidak punya hati....." geram Emeli.


"Lancang kamu Aleta....plak....." Ronald melayangkan tangan ke pipi Aleta.


"Papi menamparku." kata Aleta.


"Iya karena kamu sudah lancang bicara kepada papi, dan papi tidak akan segan segan menghajar kamu jika kamu bicara tidak sopan lagi pada papi." kata Ronald.


Marisa datang ke rumah Ronald. Dan Ronald pun sangat senang dengan kedatangan Marisa, dan memperkenalkan pada Alexa dan Aleta.


"Pak maaf ada tamu." kata mbok Nah.


"Siapa mbok." tanya Ronald.


"Saya pak." kata Marisa yang tiba tiba masuk tanpa permisi lagi.


"Maaf pak saya mengganggu." kata Marisa pura pura merasa tidak enak.


"Tidak Marisa kamu tidak mengganggu saya, kebetulan kamu datang ke sini. Saya akan memperkenalkan kamu dengan istri dan anak saya." kata Ronald tersenyum dan segera merangkul Marisa.


"Iya pak." kata Marisa tersenyum.


"Alexa, Aleta perkenalkan ini Marisa sekertaris saya, yang kebetulan akan menjadi istri saya nanti setelah saya menalak kamu Alexa." kata Ronald, Alexa pun netranya mengeluarkan airmata kesedihan.


"Pi.....papi kok tega sih, papi juga jahat sama mami. Sementara mami lagi sakit papi malah main gila sama wanita ini." kata Aleta.


"Aleta, lihat penampilan mami kamu sekarang tak bisa papi pungkiri kalau Marisa itu lebih cantik dibandingkan mami kamu sekarang. Wajahnya sudah sangat menjijikan sekali." kata Ronald memuji Marisa. Marisa tersenyum penuh kemenangan.


"Papi tidak bisa melakukan ini pi, papi tidak bisa meninggalkan mami di saat kondisi mami seperti ini." kata Aleta.


"Kenapa tidak bisa Aleta, papi punya hak melakukan semua ini dan menikah lagi. Karena papi pengusaha sukses jadi papi tidak mau punya istri menjijikan seperti mami kamu, karena nanti jika ada undangan bisnis yang membawa istri papi malu kalau harus membawa mami kamu yang wajahnya hancur seperti ini." kata Ronald yang membuat Alexa sakit hati.


"Bentar ya sayang. Kita akan segera berangkat ke kantor, tapi saya mau ke ruang kerja dulu. Karena ada berkas yang ketinggalan." kata Ronald.


"Baik pak." jawab Marisa.


"Jangan panggil pak dong, kan sebentar lagi kita akan menikah. Panggil mas saja ya sayang kalau kita sedang tidak di kantor." kata Ronald.


"Baik pak eh mas." kata Marisa tersenyum.


Lalu Ronald segera ke ruang kerja mengambil berkas yang ketinggalan.


"Oh.....ternyata benar ya kata mas Ronald. Mbak Alexa sangat menjijikan sekali, wajahnya hancur tak berbentuk. Saya saja yang cewek melihat mbak Alexa saja ilfil apa lagi cowok. Terang saja kalau mas Ronald berpaling padaku, karena aku lebih cantik dan seksi dari pada mbak Alexa hahahahaha......" kata Marisa.


"Jaga mulut kamu ya tante. Kamu tidak berhak menghina mami aku." kata Aleta.


"Oh ya, kenapa tidak. Mulut mulut saya, jadi suka suka saya dong mau menghina mami kamu." kata Marisa tersenyum.


"Aduh.....Aleta salah saya apa, saya tahu Aleta kamu memang tidak suka sama saya karena saya akan menikah dengan papi kamu, tapi tolong hargailah keputusan papi kamu." kata Marisa berakting tersakiti.


"Marisa kamu kenapa." tanya Ronald yang segera membangunkan Marisa.


"Ini loh mas, tadi Aleta marah sama saya. Dia menyuruh saya untuk menjauhi mas, terus saya menolaknya eh Aleta marah sama saya dan mendorong saya mas. Dia bilang saya ini pelakor mas." kata Marisa yang pura pura menangis merasa tersakiti.


"Apa.....kamu jangan kurang ajar sama calon istri saya Aleta." kata Ronald geram.


"Pi tapi itu tidak benar pi. Tante Marisa yang sudah menghina mami duluan pi." kata Aleta membela diri.


"Tuh kan mas dia sekarang memfitnah saya mas. Kalau kaya gini mending saya tidak jadi menikah sama mas ah.....dari pada saya di fitnah dan disakiti begini." kata Marisa pura pura ngambek.


"Jangan gitu dong sayang, saya sudah terlanjur sayang sama kamu. Lebih baik saya kehilangan mereka dari pada kehilangan kamu Marisa." kata Ronald.


"Pi tolong percaya pada Aleta pi, tante Marisa itu tidak sebaik yang papi pikirkan." ujar Aleta.


"Diam kamu plak.....(menampar Aleta). Kalau kamu kurang ajar lagi sama tante Marisa, papi tidak akan segan segan menghajar kamu paham kamu (marah), ayo sayang kita berangkat ke kantor." ujar Ronald yang merangkul Marisa.


"Iya mas ayo." kata Marisa lalu setelah pergi Marisa melihat Alexa dan Aleta yang sedang sedih dengan tersenyum penuh kemenangan.


Alexa hanya bisa menangis, tidak bisa membela Aleta karena dia tidak bisa bicara lagi. Aleta juga sangat sedih papi tirinya yang tadinya sayang pada Aleta berubah kasar pada Aleta hanya karena perempuan selingkuhannya.


"Ternyata tante Marisa sangat jahat sekali mi, dia bukan wanita yang baik. Mami yang sabar ya mi." kata Aleta yang memeluk maminya. Alexa pun hanya mengangguk.


"Ya sudah kalau gitu Aleta berangkat ke kampus dulu ya mi." kata Aleta.


Alexa pun hanya bisa mengangguk. Aleta berangkat ke kampus dengan perasaan khawatir sama Alexa karena keadaan maminya yang lagi sakit dan terluka oleh sifat papinya. Tapi Aleta harus ke kampus kalau tidak akan ketinggalan pelajaran.


Di saat Alexa sendiri dalam sakit hati karena ulah suami dan selingkuhannya. Alexa hanya bisa menangis sedih tak menyangka rumah tangganya akan hancur seperti ini.


"Oh, ini yang dirasakan mbak Hanna waktu dulu (meneteskan airmata). Di saat menikah dengan laki laki yang tidak pernah mencintainya, sampai dia harus mati dalam kepedihan karena tersakiti oleh ulah suamiku. Aku tidak kuat dengan semua ini. Ini adalah karma dari semua yang pernah aku lakukan." batin Alexa.


Lalu ketidak sanggupan membuat dia putus asa, dan dia pergi ke gedung tua yang terbakar dan naik hingga lantai 15 lalu dia menjatuhkan dirinya dan mati sangat mengenaskan. Alexa bunuh diri karena tidak sanggup menerima perlakuan suaminya yang membuat Alexa kecewa dan mencampakan Alexa demi wanita yang lebih cantik dan seksi darinya.


Alexa mengingat kejadian terburuk saat diculik Emeli sampai di siksa dengan keji, kata kata Emeli dan penghinaan suami juga calon istrinya hingga dia nekad melakukan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Airmata membanjiri pipinya, sungguh penderitaan yang teramat sangat untuk Alexa.


"Aku, aku sungguh tak sanggup menghadapi semua ini. Lebih baik aku mati biar kamu bebas mas Ronald menikah dengan Marisa sekertaris kamu itu, karena aku tidak rela melihat kamu bersanding dengan wanita lain tertawa di atas penderitaanku mas Ronald. Buat apa aku hidup dengan wajah cacat dan menjijikan ini selalu jadi hinaan semua orang dan suamiku sendiri. Selamat tinggal suami tercintaku, selamat tinggal anak anakku tersayang, selamat tinggal duniaku." Batin Alexa netranya deras mengeluarkan airmata, setelah itu loncat ke lantai dasar.


Darah bercucuran di TKP, ramai orang melihat peristiwa bunuh diri Alexa yang sangat tragis kepalanya pun bocor, dari kerumunan orang ternyata ada yang mengenal Alexa, dan jenazah Alexa langsung dibawa oleh polisi dengan menggunakan ambulance dan warga yang mengenalnya ke rumahnya.


Mobil ambulance sampai di rumah keluarga Kertajasa.



Pak Dirga yang menerima masuk mobil ambulance itu, tapi sebelumnya pak Dirga bertanya pada petugas yang keluar menyapa pak Dirga.


"Selamat siang pak." sapa petugas mobil ambulance.


"Iya ada apa ya, bisa saya bantu." tanya pak Dirga.


"Begini pak, apa benar jenazah yang berada di mobil ambulance ini adalah istri dari pak Ronald Kertajasa. Karena ibu ini mengenal jenazah yang kami bawa, katanya itu ibu Alexa soalnya tidak ada identitas diri. Dia tewas bunuh diri di gedung tua yang sudah terbakar itu. Di jalan kaswari." ujar petugas ambulance.


"Iya benar itu nyonya Alexa pak." ujar Alma ibu yang mengenali korban.



"Ya Tuhan, nyonya Alexa. I....iya benar ini rumahnya. Silahkan masuk mas." kata Dirga membuka pintu pagar agar mobil ambulance bisa masuk.


"Terima kasih ya bu Alma, sudah memberi alamat nyonya Alexa kepada petugas ambulance ini." ujae Dirga.


"Oh iya pak sama sama, kalau gitu saya pamit pulang dulu ya pak." ujar Alma.


"Baik bu baik (lalu Dirga membuka pintu depan) mbok Nah, Sitha, Oji, Darwin, pak Andreas ke sini. Ayo pak silahkan masuk pak, taruh di situ saja jenazahnya pak." kata Dirga.


"Baik pak." jawab petugas ambulance.


"Ada apa pak Dirga." tanya mbok Nah ikut panik melihat mobil ambulance dan jenazah yang dibawa ke dalam oleh petugas ambulance.


"Siapa yang meninggal pak." sambar Sitha panik.

__ADS_1


"Nyonya Alexa yang meninggal." kata pak Dirga sedih.


"Apa kok bisa." kata Oji kaget.


"Iya dia ditemukan tewas bunuh diri, Oji kamu jemput non Aleta di kampus ya. Mbok Nah sebelumnya kamu telepon dulu mengabarkan non Aleta kalau maminya sudah meninggal." kata Dirga.


"Baik pak saya akan menjemput non Aleta." kata Darwin.


"Baik pak saya akan segera mengabarkan non Aleta." kata mbok Nah.


"Kasihan nyonya Alexa, gara gara masalah tadi pagi. Dia harus tewas bunuh diri." kata Andreas sedih.


Sepi sunyi Aleta seorang diri bercucuran airmata di koridor kampus, Monik dan Vero datang menyapa Aleta yang sedang termenung memikirkan kejadian yang di alami di rumah.


"Aleta kamu kenapa." kata Monik sambil memegang pundak Aleta.


"Papi aku Mon, papi aku Ver (diam sejenak menghela nafas kesedihan) berubah jadi kasar karena mami aku yang wajahnya hancur. Dan tadi sebelum aku mau berangkat ke kampus papi aku membawa selingkuhannya yang tidak lain adalah sekertarisnya dan mereka sebentar lagi akan menikah." kata Aleta sedih.


"Wajah, mami kamu hancur kenapa?" tanya Vero.


"Oh iya aku belum cerita ya sama kalian berdua, jadi waktu itu sih peneror itu menculik mami aku, pas aku lagi main ke rumah Monik itu loh yang tiba tiba gelas jatuh. Ternyata itu benar loh firasat buruk, terus waktu aku pulang ke rumah aku cari di rumah tidak ada mami aku, tiba tiba ada mobil berhenti di rumah aku. Eh.....tidak tahunya mami aku, wajahnya penuh luka (megang wajahnya) mulutnya robek lidahnya putus (megang mulut dan lidahnya) rambutnya pun berantakan (megang rambutnya) sangat mengenaskan sekali, dan jari jarinya ih pada hilang semua. Pokoknya menyeramkan sekali deh. Peneror itu berhasil merusak wajah mami aku." kata Aleta sedih.


"Ihhh....seram banget (menggedik ngeri bahunya) pasti itu sangat sakit ya Aleta. Sangat menderita, peneror itu pasti psikopat (membayangkan akhirnya takut sendiri) yang punya dendam sama mami kamu." kata Vero ketakutan.


"Ya jelaslah pasti sakit, kita tertusuk jarum saja atau kegores pisau sakit apa lagi di sayat sayat sampai hancur dan dipotong potong pasti sakitnya luar biasa banget Ver. Kasihan mami aku, pasti waktu itu dia sangat ketakutan dan menjerit histeris." kata Aleta sedih.


"Aku tidak bisa membayangkan Aleta, gimana kalau aku di posisi mami kamu (diam sejenak) pasti hidupnya penuh penderitaan banget, dengan wajah buruk rupa yang permanen. Mami kamu pasti sangat trauma banget ya Aleta." kata Monik.


"Ya pastilah Mon, mami aku sangat trauma." Kata Aleta sedih.


Aleta yang mendengar suara deringan telepon dari mbok Nah langsung mengangkatnya, dan suara mbok Nah sangat sedih untuk memberi tahukan kabar buruk kepada Aleta.


"Hallo.....mbok Nah ada apa." jawab Aleta setelah mengangkat telepon.


"Non......nyonya non nyonya." kata mbok Nah.


"Mami kenapa mbok." tanya Aleta khawatir.


"Mami tewas non (menangis) bunuh diri dari gedung tua dekat rumah yang sudah kebakar itu dari lantai 15, itu menurut pengakuan saksi mata warga yang melihat. Lalu jenazahnya dibawa kemari sama polisi dan warga yang mengenal nyonya Alexa. Darwin sedang menuju ke sana untuk menjemput non Aleta." kata mbok Nah.


"Apa.....Maamiii." teriak Aleta histeris dan menjatuhkan Hpnya lalu pingsan Monik dan Vero kaget melihat Aleta pingsan setelah menerima telepon dari bi Nah.


"Aleta.....Aleta....bangun Aleta bangun." Kata Monik dan Vero.


Monik memberi minyak kayu putih ke hidung Aleta hingga Aleta terbangun.


"Aleta, kamu kenapa." tanya Monik panik.


"Mami....mami (teriak histeris) mami aku guys mami aku." kata Aleta sambil menangis.


"Mami kamu kenapa." tanya Vero panik.


"Mami aku meninggal (menangis terisak isak) bunuh diri di gedung tua dekat rumah aku yang sudah terbakar dari lantai 15, aku tidak mau kehilangan mami aku. Mami jangan tinggalin Aleta mi jangan tinggalkan Aleta, ini pasti mimpi. Mami aku pasti masih hidup." kata Aleta menangis histeris, dan Monik memeluk Aleta.


"Sabar ya Aleta sabar." kata Monik.


"Iya kamu yang sabar ya Aleta." kata Vero yang memeluk Aleta juga.


"Tidak bisa, aku tidak bisa sabar (tangis histeris) aku dapat kabar buruk, mami aku Monik....mami aku Vero sudah tidak ada lagi di dunia ini dan sekarang kalian bilang aku harus sabar. Aku tidak bisa karena aku tidak mau kehilangan mami aku, aku sayaaaang banget sama mami aku." tangis Aleta histeris.


"Iya aku paham, waktu ayahku meninggal aku juga merasakan yang sama Aleta." kata Monik.


"Pokoknya kamu harus tenang. Ya sudah kita izin ke bu Tamara yuk. Sekalian aku juga mau ikut kamu, berada di samping kamu." kata Vero.


"Iya aku juga mau izin nemanin kamu Aleta di saat seperti ini. Karena kita kan bukan hanya sahabat dalam suka dan senang saja tapi dalam susah dan duka kita juga akan selalu ada." kata Monik.


"Iya terima kasih ya teman teman. Ayo." kata Aleta yang segera bangun dari duduknya.


Sebelum Aleta, Monik, dan Vero izin ke bu Tamara. Emeli yang mendengar kematian Alexa sangat senang sekali dan bahagia, Emeli menghampiri Aleta yang lagi bersedih dengan tersenyum.


"Hai Aleta, gimana rasanya kehilangan orang yang kamu sangat cintai sakit bukan. (tersenyum bahagia) Begitu juga dengan aku yang kehilangan ibu." kata Emeli matanya bersinar penuh dendam.


Aleta hanya terdiam dengan kesedihannya karena hatinya sedih dia tidak mau ribut, tapi justru Monik dan Vero yang marah dan tidak terima Emeli tertawa di atas kesedihan sahabatnya.


"Diam kamu Emeli (marah) kamu memang tidak punya hati ya (berdiri melawan Emeli) Aleta itu lagi berduka kamu malah mau cari masalah." kata Monik marah.


"Iya harusnya, kamu prihatin dengan keadaan Aleta (marah) dia baru saja kehilangan orang yang dicintainya. Tapi kamu malah tidak punya hati tertawa di atas penderitaan Aleta yang lagi sedih." kata Vero emosi.


"Lah.....lah....lah.....yang tidak punya hati itu siapa (mengerlingkan alis matanya) aku atau kalian (menunjuk ketiga genk CDS) Eh.....kalian lupa atau apa ya, jangan jangan kalian sudah pikun lagi hahahahaha....(tertawa) kalian juga terus terusan ngebully aku tanpa peduli penderitaan aku, sakit hati aku, dan kamu Mon (nunjuk Monik menyenggol dadanya kasar) ngaca diri dulu waktu mami aku meninggal memang kamu peduli (emosi) justru kamu terang terangan merebut Gerry dari aku. Padahal waktu itu aku baru berduka atas meninggalnya ibu aku. Gimana rasanya sudah ditinggal ibu, kekasihnya juga direbut cewek lain. Sakit banget kan (megang dada) dan untuk kamu Aleta (nunjuk Aleta) mungkin itu karma untuk kamu dan mami kamu karena udah menghancurkan keluarga aku, dan selamat menikmati karma keluarga kamu Aleta Putri Hermansyah." kata Emeli penuh emosi, dendam dan kebencian.


Aleta hanya terdiam menangis biasanya suka marah marah tapi kali ini dia tidak bisa berbicara apa apa karena kesedihannya, lalu Emeli pergi meninggalkan Aleta, Monik, dan Vero.


Setelah izin pada ibu Tamara Aleta, Monik, dan Vero pun pulang karena Darwin sudah menjemput Aleta.


Sesampainya di rumah Aleta menangis memeluk jenazah maminya, berteriak histeris sambil menggoyang goyangkan jenazah maminya tapi Monik dan Vero memeluk Aleta, menenangkan. Dia datang bersama Monik dan Vero.


"Mami.....mami.....bangun mi bangun, jangan tinggalkan Aleta, Aleta tidak mau kehilangan mami....mami....mami....." teriak Aleta.


"Tenang Aleta tenang, ikhlasin mami kamu Aleta." kata Monik sambil memeluk Aleta.


"Mami kamu sudah tidak ada Aleta, mami kamu sudah meninggal." kata Vero memeluk Aleta.


"Tidak, mami aku masih hidup. Mami aku hanya tertidur, bangun mi bangun. Aleta sudah pulang dari kampus nih mi." tangis Aleta histeris.


"Tenang Aleta tenang, tabah kan hati kamu. ikhlaskan mami kamu ya, biar mami kamu tenang di alam sana Aleta." kata Monik.


"Iya Aleta, mami kamu sudah tidak ada di dunia ini." kata Vero.


"Mami, jangan tinggalkan Aleta mi. Aleta tidak mau kehilangan mami." tangis Alerasemakin histeris.


"Sudahlah Aleta, jangan kamu tangisin. Mami kamu sudah meninggal." kata Ronald.


"Ini semua gara gara papi, seandainya papi tidak jahat sama mami. Seandainya papi tidak selingkuh dengan sekertaris papi dan berniat menikahinya mungkin semua ini tidak aka terjadi. Mami nekad bunuh diri itu semua karena tertekan oleh kata kata papi tadi pagi juga tante Marisa yang sudah menghina mami." kata Aleta.


"Jaga mulut kamu Aleta (marah) atau kamu akan papi usir dari rumah ini. Emeli saja yang anak kandung saya, saya tega memutuskan hubungan darah. Apa lagi kamu yang bukan darah daging saya, apa lagi mami kamu sudah tidak ada di dunia ini. Jadi saya tidak ada hak untuk menafkahkan kamu di rumah ini." kata Ronald.


Aleta hanya terdiam, dan Bima kakak Aleta datang dari luar negri.


"Cukup pi, cukup jangan marahin Aleta lagi." kata Bima yang membela Aleta yang baru datang dari luar negri.


"Kak Bima." kata Aleta kaget akan kedatangan Bima lalu berlari ke arah Bima memeluk Bima dengan tangis yang semakin histeris.


"Kak Bima.....mami kak.....mami....." tangis Aleta.


"Iya sayang kak Bima juga sedih mami sudah tidak ada di dunia ini, karena sudah lama kak Bima tidak bertemu sama mami. Padahal pas hari ini kak Bima mau pulang. Tapi kak Bima kaget sewaktu lihat ada janur kuning di depan dan tertulis nama mami di situ." tangis Bima yang sambil memeluk Aleta.


"Iya kak, ini semua karena papi yang sudah jahat sama mama." kata Aleta.


"Iya sayang, bentar kak Bima mau bicara pada papi." kata Bima yang melepas pelukkan Aleta.


"Oh.....ternyata begini sifat papi terhadap mami dan Aleta, papi jahat sama mami dan Aleta. Hingga mami tewas bunuh diri. Saya pikir papi orang yang baik ternyata saya salah. Karena saya baru melihat papi waktu video call pas nikahan papi dan mami." kata Bima marah.


"Kamu lagi datang datang buat masalah." kata Ronald marah.


"Saya tidak akan bicara seperti ini, kalau papi tidak jahat sama mami dan Aleta (kesal) papi mau mengusir kita, silahkan Bima bisa mandiri hidup sama Aleta meski hanya ngontrak rumah yang kecil yang penting bisa bahagia. Dan Bima juga sudah pindah kerja di sini lagi karena Bima sudah pindah agency, masa kontrak Bima kerja di Singapur sudah habis jadi Bima bisa jagain Aleta. Bima juga tidak sudi punya papi jahat seperti anda Pak Ronald Kertajasa, setelah pemakaman ibu kita akan angkat kaki dari rumah ini. Dek kamu mau ikut kakak kan." kata Bima.


"Iya kak pasti (mengangguk) karena Aleta juga sudah muak dengan kekasaran papi dan perselingkuhan papi dengan tante Marisa." kata Aleta melirik kesal Ronald.


"Oh.....jadi selama ini anda sudah selingkuhin mami, memang ya anda tukang selingkuh selalu cari alasan untuk mengkhianati wanita lain. Dan anda tante Marisa (tunjuk Marisa) apakah anda yakin kalau pak Ronald ini akan setia pada anda, jawabannya pasti tidak. Karena pak Ronald tidak akan merasa puas dengan satu wanita saja." kata Bima kesal.


Marisa tersenyum penuh kepalsuan, mendengar ucapan Bima dan tidak peduli dengan Ronald jika nanti suka bermain dengan wanita malam. Karena Marisa menikah bukan karena cinta melainkan karena kekayaan Ronald yang tujuh turunan tidak habis habis. Jadi kata kata yang diucapkan Bima hanya angin lalu untuk Marisa. Tapi di depan Ronald, Marisa pura pura mencintainya.


"Saya yakin pasti mas Ronald akan setia pada saya." kata Marisa tersenyum.


Ronald hanya tersenyum senang mendengar Marisa yang percaya pada Ronald dan langsung merangkul Marisa.


"Kita buktikan nanti miss Marisa yang terhormat." kata Bima.


Lalu Alexa di makamkan dan tak henti Aleta terus menangis akan kepergian Alexa. Bima memeluk Aleta yang terus menangis histeris memanggil maminya terus menerus.


"Sudahlah dek jangan menangis terus, kakak janji di depan makam mami. Kakak akan menjaga kamu, dan melindungi kamu sayang." kata Bima.


Monik dan Vero pun ikut sedih melihat sahabatnya bersedih dan terpuruk kehilangan mami tercintanya. Namun dia tak bisa berbuat apa apa untuk menghibur Aleta.

__ADS_1


* Untuk para Readers terima kasih udah mampir di novel Pertama aye yee guys....Jangan Lupa Vote, Cooment dan Likenya Yee...Semoga berkenan dihati yee guys * Maaf baru belajar berkarya nulis Novel 😘


__ADS_2