PUTRI CEO YANG CANTIK

PUTRI CEO YANG CANTIK
PENGAKUAN II


__ADS_3

Dion langsung memeluk Heni, dan mencoba menenangkan adiknya.


" Itu lebih baik dek, kamu juga harus menghubungi Dimas, Suruh Dimas datang ke mansion, dan menceritakan semuanya kepada papa. " Ucap Dion Sambil menggenggam tangan Heni.


" Apa kak ?? Apa mama belum mengatakan pada papa, ?? " Tanya heni sambil mendongakkan wajahnya, menatap Dion.


" Belum dek, mama tidak ingin mengganggu pikiran papa, karena hari ini papa ada meeting penting " Dion mengulas senyuman.


" Kak Dion, apa salahku kak?? Kenapa aku tidak pernah beruntung dalam hal percintaan Hiks hiks hiks.... " Heni tidak kuasa menahan tangisannya.


" Sudahlah dek, kakak yakin kamu dan Dimas pasti bisa melewati semua ini, Ini ujian cinta, kamu harus lebih semangat melewatinya "


" Tapi Heni takut kak.. " Ucap Heni lirih.


" Sudahlah kakak selalu ada untukmu, biar kakak yang menghubungi Dimas " Ucap Dion dan menatap nanar ke arah Heni.


" Kasihan sekali kamu dek, Semoga keputusan papa tidak menyakitimu lagi " ~Batin Dion.


Sedangkan di kampus * universitas Gunadarma * Dimas menunggu kedatangan Heni.


" Di mana Heni, kenapa dia belom berangkat, tadi pagi aku WhatsApp dia bilang dia masuk, kenapa belum datang, apa terjadi sesuatu pada Heni, huh kenapa pesanku tidak dibalas. " ~Gumam Dimas.


Dimas terus melamun, menghawatirkan Heni, namun tiba-tiba suara ponsel menyadarkan lamunannya.


Dertt Dertt Dertt....


{ Halo, Dimas } Suara orang di sebrang telfon.


" Halo bro, bro Bagaimana keadaan Heni ?? Apa Heni baik-baik saja ?? Aku khawatir, dia tidak menjawab pesan dan telfon dari ku. " Ucap Dimas dengan nada khawatir.


{ Heni baik-baik saja, jangan khawatir, mungkin dia sedang mematikan ponselnya, Oh iya tolong nanti kamu datang ke rumah ya, papa ingin bicara } Sahut Dion.


" Syukurlah kalau Heni baik-baik saja, iya nanti aku datang "


{ Baiklah bro, aku tutup telfonnya ya ? }


" Iya bro " Jawab dimas, dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


" Apa yang ingin om hendra katakan, apa jangan-jangan om hendra sudah tahu semuanya, Semoga semua baik-baik saja " ~Batin Dimas.


Setelah Jam kuliah selesai, Dimas langsung Melajukan mobilnya menuju mansion Heni WIJAYA.


# MANSION KELUARGA WIJAYA #


Dion masih tetap didalam kamar Heni, menenangkan Heni, sampai akhirnya Heni tertidur pulas, Dion menyelimuti tubuh adiknya, dan keluar dari kamar Heni, Saat Dion membuka pintu kamar Heni, Dion kaget melihat mamanya menangis di luar kamar.


" Mama, kenapa mama disini, kenapa mama tidak masuk saja " Dion duduk di sebelah Bu Maya.


" Nak apa Heni sudah makan ? "


" Sudah ma, tadi Dion berhasil membujuk Heni untuk makan " Ucap Dion Sambil memegang tangan Bu Maya.

__ADS_1


" Maafkan mama nak, kali ini mama tidak bisa membantu Heni Hiks Hiks Hiks... " Ucap Bu Maya terbata-bata.


" Sudahlah ma, semoga papa merestui hubungan Heni & Dimas, " Dion mencoba menenangkan mamanya.


" Tapi nak kali ini mama meragukan papa " Ucap Bu Maya masih menangis.


" Sama ma, Dion juga sedikit ragu, bahkan Dion takut kalau papa akan marah besar pada Heni. " Sahut Dion.


Tanpa mereka sadari, ternyata pak Hendra mendengar percakapan Bu Maya dan Dion.


Pak Hendra langsung berjalan mendekati Dion dan Bu Maya.


" Bagaimana keadaan Heni ?? " Tanya pak Hendra.


" Eh papa sudah pulang, tumben pa, ini kan baru jam 4 ?? " Tanya Dion dengan wajah heran.


" Meeting papa sudah selesai, Papa sangat khawatir dengan heni, dan juga mama, " Jawab pak Hendra dan langsung duduk di sebelah Bu Maya.


Bu Maya tetap mengabaikan kehadiran pak hendra, Sampai akhirnya ada pelayan yang naik ke lantai atas.


" Tuan, Nyonya didepan ada den Dimas " Ucap pelayan sambil menunduk.


" Baiklah ani, antar dimas naik ya " Titah Bu Maya kepada Ani seorang kepala pelayan.


" Baik Nyonya. " Ucap Ani dan langsung menuruni tangga berjalan menjemput Dimas.


" Kenapa mama juga memanggil Dimas, ya Allah ada masalah apa sebenarnya, kenapa maya begitu cuek, Dion juga lebih diam, aku benar-benar bingung. " ~Batin pak Hendra.


" Assalamu'alaikum Om, Tante, Dion "


" Silahkan duduk nak " Pak Hendra menyambut kedatangan Dimas dengan ramah.


" Baik om, dimana Heni ? " Sahut Dimas.


" Heni sedang dikamar, Dion Tante minta kamu mengatakan yang sebenarnya kepada Om Hendra " Titah Bu Maya.


Deg, Jantung Dimas bagaikan dihantam ombak yang besar ketika melihat kemarahan Bu Maya.


" Mengatakan tentang apa Tante ? " Tanya Dimas kebingungan.


" Jati diri kamu yang sebenarnya " Ucap Bu Maya cuek.


" Baiklah Tante " Jawab Dimas lirih.


" Apa maksud mama ?? jati diri Dimas ? " Tanya Pak Hendra wajah kebingungan.


" Diam pa, Biarkan Dimas yang menjelaskan "


Tegas Bu Maya, Dion hanya menjadi pendengar.


" Baiklah, Dimas cepat katakan " Titah pak Hendra.

__ADS_1


" Iya om, sebelumnya maafkan Dimas om, Dimas tidak mengatakan kepada Tante Maya dan Om Hendra, kalau Dimas adalah anak dari keluarga Nugraha. " Dimas mulai mengatakan dengan pelan.


" Dimas kau !! " Pak Hendra naik pitam, Dia ingin menampar pipi Dimas, namun Heni keluar kamar dan langsung mencegah tangan papanya.


" Papa !! Heni mohon jangan Hiks Hiks Hiks........" Teriak Heni.


Pak Hendra langsung menurunkan tangannya dan mengepalkan tangan.


" Pa Heni mohon dengarkan penjelasan Heni dan kak dimas. " Heni berkata sambil menatap orang tuanya bergantian.


" Apa lagi yang ingin kamu jelaskan Heni !! " Bentak pak Hendra, Membuat semua orang yang mendengar ketakutan.


" Banyak pa, Satu papa tau orang yang ingin papa tampar adalah orang yang Heni cintai, yang kedua kak Dimas tidak pernah berbohong pa, bukankah papa dan mama tidak pernah bertanya kepada kak Dimas tentang keluarganya, Lalu kenapa papa marah ?? " Heni menatap tajam mata papanya.


" Heni, berani sekali kau Membantah papa !! " Teriak pak Hendra.


" Dengarkan Heni dulu pa " Bu Maya angkat bicara, membuat pak Hendra terdiam dan duduk dikursi.


" Om jangan marahi Heni, Heni tidak salah yang bersalah Dimas. " Tegas Dimas.


" Tidak, Kak Dimas tidak bersalah, asal papa tahu, kak Dimas ingin mengatakan yang sebenarnya, namun Heni yang melarangnya pa " Heni bersimpuh di depan pak Hendra.


" Kenapa kamu melarangnya ?? " Tanya pak Hendra.


" Karena heni takut, papa akan membatalkan pertunangan kak Dion " Jawab Heni dengan senyum kecut.


Dion yang mendengar alasan Heni, hanya mampu menitihkan air matanya.


" Berdirilah, Papa sudah mendengar semuanya " Pak Hendra memegang pundak Heni, dan mendudukkan Heni di kursi.


" Pa Heni minta maaf, Heni sudah membohongi papa, ini salah Heni pa " Ucap Heni lirih dan pingsan di pangkuan Bu Maya.


" Heni " Teriak Dimas dan langsung menepuk pipi Heni.


Semua orang khawatir melihat kondisi Heni. Dimas langsung menggendong Heni dan menidurkan Heni dilamarnya.


" Ngapain kamu masih disini, Cepat pergi !! Sudah puas kamu menghancurkan keluargaku " Pak Hendra membentak Dimas.


" Tapi om, Heni sedang pingsan " Jawab Dimas.


" Aku ayahnya aku bisa mengurus Heni, cepat pergi " Bentak pak Hendra.


" Sebaiknya kamu pulang bro, jangan khawatir, aku akan menghubungimu tentang kondisi Heni " Ucap Dion sambil menepuk pundak Dimas.


" Baiklah bro, Om, Tante aku pamit dulu, Assalamu'alaikum " Ucap Dimas dan keluar dari kamar Heni.


" Waalaikumsalam " Jawab Bu Maya dan Dion bersamaan.


Pak Hendra hanya diam saja, Dan langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter Han.


" Halo dokter Han, cepatlah kesini " Ucap pak hendra.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari dokter Han, pak Hendra langsung menutup sambungan telfonnya.


" Heni papa mohon, cepatlah sadar nak " Ucap pak Hendra sambil mengelus rambut Heni.


__ADS_2