
Setelah dua Minggu menjalani perawatan intensif, Akhirnya dokter Han menyatakan bahwa Heni sudah sembuh total. Hendra Wijaya sangat senang melihat kesembuhan putrinya.
" Terima kasih Han... Bulan depan kamu akan naik jabatan. " Pak Hendra memeluk dokter Han.
" Sama-sama tuan, sudah kewajiban saya. " Dokter Han merapikan peralatan medis dibantu oleh beberapa perawat.
Sementara itu Bu Maya datang membawakan kue ulang tahun untuk Heni. Karena kebetulan sekarang ulang tahunnya.
" Selamat ulang tahun sayang... " Bu Maya duduk di sebelah putrinya.
Heni hanya diam saja, banyak hal yang terus mengganggu pikirannya sampai-sampai dia mengabaikan kehadiran ibunya.
" Sayang... Apa yang kamu pikirkan nak... " Bu Maya meletakkan kue diatas meja.
" Hiks Hiks Hiks... Ma kak Dimas dari kemarin engga ada kabar. Heni coba telfon juga enggak diangkat. " Heni menenggelamkan wajahnya ke pelukan ibunya.
Bu Maya dan Pak Hendra saling menatap, ingin rasanya Bu Maya mengatakan rencana Dimas, karena merasa tidak tega.
" Mungkin Dimas lagi sibuk nak " Sahut Pak Hendra dan duduk disebelah anak dan istrinya.
" Iya sayang... Positif thinking dulu " Bu Maya mengelus rambut Heni.
" awas saja kak Dimas, kalau ketemu aku bakal marah besar sama kakak. " ~Batin Heni.
" Lebih baik kita tiup lilin saja sayang " Pak Hendra mengambil kue diatas meja.
Setelah tiup lilin, Bu Maya dan Pak Hendra keluar dari kamar Heni. Sambil menahan tawa mereka. Saat sampai diluar mereka tertawa terbahak-bahak.
" Pa cepat telfon Dimas, apa persiapannya sudah selesai. Mama sudah tidak tega melihat Heni menangis. " Bu Maya menatap tajam mata suaminya.
" Sesuai perintah boss... " Pak Hendra langsung menelfon Dimas.
Setelah menelfon Dimas, Pak Hendra menyuruh Bu Maya bersiap-siap dan membujuk Heni untuk bersiap-siap juga.
Sementara ditempat lain, Dimas, Bu Nana dan Rani tengah mempersiapkan kejutan untuk Heni.
" Akhirnya selesai juga ya Tan... " Rani duduk disebelah Bu Nana.
" Iya sayang... Untung team dekorasinya berpengalaman. " Jawab Bu Nana.
" Semoga Heni senang ya ma... " Sahut Dimas.
Setelah mempersiapkan semuanya, Dimas mandi dan mempersiapkan dirinya. Dimas menggunakan kemeja warna putih dan jas berwarna biru. Tidak lupa Dimas menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
" Perfect... " Ucapnya saat melihat pantulan dirinya dari cermin.
Setelah selesai bersiap Dimas menuruni tangga dan menyapa para tamunya. Karena ini pesta private jadi hanya orang-orang tertentu yang diundang.
__ADS_1
"Apa kau akan melamar Heni sekarang bro... " tanya asisten Rehan.
Tanpa menjawab Dimas hanya tersenyum kearah Rehan. Mendengar percakapan Rehan dan Dimas membuat hati Vina sesak.
" Jadi pak Dimas sudah memiliki kekasih. Ya ampun Vina kenapa kamu jahat, kenapa kamu berusaha menarik perhatian kekasih orang. " ~Batin Vina.
" Selamat ya Pak Dimas. semoga lancar " Vina memaksakan senyumnya.
" Makasih Vina. Oh iya aku rasa kamu sama Rehan cocok, kenapa kalian tidak jadian saja. " Jawab Dimas dan langsung meninggalkan sekertaris dan asisten pribadinya berdua.
Vina mencoba mencerna perkataan Dimas, dengan canggung Vina menoleh kearah Rehan. Asisten yang kaku dan jarang tersenyum mana mungkin Vina tertarik dengan pria seperti itu pikir Vina.
" Oh ya ampun... Pria ini kenapa menatapku tajam. Lebih baik aku pergi dari sini, sebelum dia menyantap ku. " Batin Vina sambil berjalan menjauhi asisten Rehan.
" Vina tunggu... " Rehan menghentikan langkah Vina.
" Iya pak ada apa... " Vina diam ditempat.
" Vina, tolong temani aku sampai pesta ini berakhir ya. Aku enggak mau Tante Nana menertawakan ke sendirian ku. " Rehan memegang tangan Vina.
Vina hanya mengangguk dan tersenyum. Seperti mendapatkan uang milyaran Rehan tersenyum bahagia.
" Tumben Pak Rehan tersenyum. " Cicit Vina namun masih bisa didengar oleh Rehan.
" Apa katamu tadi Vin...?? " Tanya Rehan.
" Ah lupakan saja pak... " Jawab Vina canggung.
Dan mereka berkumpul dengan semua orang.
Akhirnya seseorang yang ditunggu-tunggu datang. Mobil keluarga Wijaya memasuki Mansion Dimas. Keluarga Wijaya menuruni mobil, Bu Maya dengan setia memegang tangan putrinya agar tidak jatuh. Karena mata Heni ditutup dengan kain.
Heni nampak anggun dengan gaun berwarna biruđź‘— pilihan Dimas.
Dimas menghampiri Heni dan memegang tangan Heni.
" Ma ini dimana, apa sekarang Heni sudah boleh membuka penutup matanya.?? "
" Jangan dulu sayang... " Jawab Bu Maya.
Heni benar-benar tidak sabar. pasalnya Mamanya memaksa Heni untuk dandan cantik, memakai gaun cantik, tapi matanya ditutup.
Setelah sampai didepan kue besar, Dimas membuka penutup mata milik kekasihnya.
" SURPRISE..... " Ucap semua orang dengan kompak.
Heni yang merasa terharu tanpa sadar menitihkan air matanya. Heni langsung memeluk Mama dan papanya bergantian. Setelah itu Heni menatap tajam mata Dimas kekasihnya.
__ADS_1
" Kak Dimas jahat. " tiga kata yang terucap dari mulut Heni.
Semua orang Menatap heran ke arah Heni dan Dimas, Heni terus menangis dan menangis.
" Kenapa kamu menangis sayang... ?? Apa kamu tidak suka kejutannya. " Ucap Dimas gugup.
" Kamu jahat, kenapa tidak ada kabar selama tiga hari... Hiks Hiks Hiks.... " Heni memukul lengan Dimas berkali-kali.
Tanpa aba-aba Dimas langsung memeluk erat tubuh Heni, sambil menggenggam erat tangannya.
" Maafkan aku sayang... Aku sengaja membuat kamu rindu. Apa rindumu begitu dalam sampai kamu semarah ini " Dimas terus memeluk Heni.
" Aku sangat merindukanmu sayang... " Cicit Heni yang masih bisa didengar oleh Dimas.
" I Miss you too sayang... " Balas Dimas.
" Ehemmm Ehemmm.... Sampai kapan kalian akan berpelukan begitu... " Dehem Rehan sambil memegang tangan Vina.
Dimas dan Heni langsung melepaskan pelukan mereka. Bu Nana langsung menoleh kearah Rehan. dan berjalan menghampiri Rehan.
" Dasar pengganggu momen romantis aja... " Ucap Bu Nana sambil menjewer telinga Rehan.
" Awwww sakit Tante... " Teriak Rehan.
Semua orang tertawa melihat tingkah Bu Nana dan Rehan. Mata Bu Nana langsung gagal fokus kearah wanita cantik disebelah Rehan.
" Wah wah wah... Sudah enggak jomblo lagi Rey... " Ledek Bu Nana.
Vina berinisiatif memperkenalkan dirinya.
" Kenalin Tante, saya Vina se... " Ucap Vina terpotong oleh Rehan.
" Vina calon istri Rehan Tante. " Tegas Rehan.
" Kenalin saya Nana mamahnya Dimas. Kamu kok mau sih sama anak tengik kayak Rehan ? " Lanjut Bu Nana sambil tersenyum.
" Sudah nasibnya ma... Ma ayo kita mulai acaranya sekarang. " Dimas ikut menimpali.
" Baiklah ayo... " Jawab Bu Nana dan langsung menyambut kedatangan keluarga Wijaya.
Semua orang bernyanyi dan menikmati pesta ulang tahun untuk Heni. Ditengah pesta tiba-tiba lampunya dipadamkan, nampak semua orang kebingungan. Namun ada senter yang menyoroti Dimas dan Heni.
Dimas langsung bersimpuh di hadapan Heni dengan membawa kotak cincin. Diikuti lampu bertuliskan WILL YOU MARRY ME di belakang Dimas.
" Heni tidak ada kata yang mampu menjelaskan perasaanku padamu, Aku ingin menjadikan kamu ibu dari anak-anakku. Maukah kau menjadi milikku seutuhnya. Maukah kau menjadi ratuku, Maukah kau melewati suka dan duka bersamaku. ??? " Ucap Dimas bersungguh-sungguh.
Heni melihat ke arah orang tuanya, nampak Pak Hendra dan Bu Maya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Iya aku mau... " Jawab Heni sambil menitikkan air mata bahagia.
Dimas langsung memasangkan cincin dijari manis Heni. Setelah itu lampu menyala, dan alunan musik romantis dimulai lagi. Heni dan Dimas berdansa begitu juga dengan seluruh tamu undangan.