
" Apa Nona Heni dan Dimas Nugraha bertunangan,,, Aku harus segera memberitahu tuan Maxime. " Gumam asisten Willy.
Setelah menebus obat untuk Vannesa,
asisten Willy langsung berlari menuju ke ruangan Vannesa. Sesampainya di ruangan Vannesa asisten Willy langsung menghubungi nomor Maxime.
" Halo tuan... Saya ada info baru tuan. Nona Heni Wijaya bertunangan dengan Dimas Nugraha tadi malam. " Ucap asisten Willy saat panggilannya tersambung.
{ Apa kau sedang bercanda Willy... } Teriak Maxime diseberang telfon.
" Tidak tuan, aku benar-benar mendengarnya dari para perawat. " Tegas asisten Willy.
{ Apa kau dirumah sakit, Secantik apa wanita yang aku tabrak sampai kau rela menemaninya. } Cibir Maxime pada asistennya.
" Dia koma tuan, dan kemarin dia baru sadarkan diri. Saya tidak tega meninggalkannya sendirian. " Jawab asisten Willy.
{ Baiklah terserah kau saja. } Ketus Maxime dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
" Dasar boss enggak punya ahlak, dia yang menabrak aku yang disuruh tanggung jawab. " Gumam asisten Willy.
" Jadi yang menabrak saya bukan anda ?? " Tanya Vannesa.
" Bukan. " Jawab asisten Willy dingin.
" Oh iya tadi aku dengar Dimas Nugraha bertunangan... Dengan siapa ?? " Tanya Vannesa lagi.
" Apa kau mengenalnya...?? " Tanya Willy.
" Iya aku mencintainya.... " Ucap Vannesa, dia. juga menceritakan bagaimana dia memperjuangkan cintanya pada Dimas.
" Itu obsesi bukan cinta... " Ketus asisten Willy.
Willy dan Vannesa semakin dekat, bahkan Willy juga menceritakan tentang obsesi Maxime kepada Heni. Namun tidak keburukan Maxime, asisten Willy tidak mungkin menceritakan keburukan bossnya kepada orang lain.
" Menarik, Aku ingin bertemu dengan Maxime, aku ingin mengajaknya bekerja sama. " Ucap Vannesa dengan senyum devilnya.
" Bekerja sama ?? Maksudmu??? " Tanya asisten Willy memastikan.
" Sudahlah, atur saja pertemuan ku dengan boss mu, aku yakin dia Asti mau bekerja sama denganku. " jawab Vannesa.
" Sepertinya dia juga perempuan licik, Apa mungkin dia dan Maxime berjodoh. habisnya sama-sama licik dan jahat. " Batin asisten Willy.
" Besok kau sudah boleh pulang, Oh iya apa kau tidak punya keluarga ?? Kenapa tidak ada yang menjagamu. " Tanya asisten Willy.
" Cihhh keluarga hanya membuat hidupku semakin rumit. " Ketus Vannesa.
__ADS_1
" Baiklah, aku sudah menyimpan nomor ku Hpmu, Aku juga sudah membayar semua tagihan rumah sakit. " Ucap asisten Willy dan berlalu dari ruangan Vannesa.
" Hey tunggu... Ingat aku ingin bertemu dengan boss mu. "
Asisten Willy terus berjalan sambil menggunakan kacamata hitam, dia malas menggubris perkataan Vannesa.
" Sialan, kenapa dia tidak mendengar perkataan ku " Dengan emosi Vannesa melempar vas bunga yang ada diatas meja.
Mendengar ada barang yang jatuh, seorang perawat memasuki ruangan Vannesa.
" Ada apa nona, ada yang bisa saya bantu ?? " Ucap perawat itu.
" Tidak ada sus, Kapan saya diperbolehkan untuk pulang sus ?? " Tanya Vannesa.
" Kata dokter besok nona sudah diperbolehkan pulang. asalkan keadaan membaik. Oh iya nona ini berkas-berkas administrasi, sudah dibayar lunas. " Perawat menyodorkan map hijau.
Vannesa tersenyum dan mengambil map itu dari tangan perawat.
" Maxime Alexander... ??? Siapa dia, bukannya yang tadi namanya Willy. ?? " Tanya Vannesa pada perawat.
" Entahlah nona, dia memberikan cek atas nama Maxime Alexander. " Jawab perawat itu.
" Baiklah Terimakasih sus. " Ucap Vannesa.
Vannesa masih terus berfikir siapa Maxime Alexander, apakah itu nama boss Willy, Ataukah Willy menggunakan nama samaran.
" Saya permisi dulu Nona... " Pamit perawat.
Vanessa hanya mengangguk.
# APARTEMEN MAXIME #
Seperti orang gila, Maxime terus meneguk wine dan membiarkan botolnya berserakan dimana-mana. pikirannya menjadi kacau saat mendengar kabar pertunangan Heni dan Dimas.
" Heni Alisa Wijaya,,, Kau hanya milikku dan selamanya kau hanya menjadi milikku... Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut mu dariku. " Teriak Maxime sambil terus meminum wine di gelasnya.
Sesampainya di apartemen Maxime Asisten Willy langsung masuk kedalam kamar atasannya itu, dia sama sekali tidak kaget melihat keadaan Maxime yang menjijikkan.
" Pria ini seperti bintang yang menjijikkan. Dulu dia sendiri yang menyia-nyiakan nona Heni, sekarang dia seperti yang paling tersakiti. Jika bukan karena ayah, aku sudah mengundurkan diri dari dulu. " Batin asisten Willy.
" Tuan Maxime urusan kita di negara X sudah selesai, ayah tuan meminta kita kembali ke Prancis sekarang. Saya sudah menyiapkan jet pribadi untuk penerbangan besok " Jelas asisten Willy pada Maxime.
" Tunggu Willy, urusanku di negara X belum selesai. " Tolak Maxime.
" Tapi tuan... " Perkataan Willy langsung dipotong oleh Maxime.
__ADS_1
" Aku boss mu Willy, jangan membantah. " Ketus Maxime.
" Baiklah tuan. " Jawab Willy dan langsung keluar dari kamar Maxime.
" Heni Alisa Wijaya dan Dimas Nugraha,,, Bersiaplah kita akan bertemu besok pagi hahahaha.... " Gumam Maxime dan langsung tertidur di atas kasur.
# MANSION MILIK DIMAS #
Nampak Dimas dan mamanya sedang sarapan, Dimas sangat tergesa-gesa karena dia harus rapat dengan perusahaan WIJAYAGROUP perusahaan milik calon mertuanya.
" Ma doakan Dimas ya, hari ini Dimas ada rapat dengan om Hendra. " Ucap Dimas saat berpamitan dengan ibunya.
" Mama selalu mendoakan kamu nak, Semangat ya rapat dengan calon mertua hehehehe... " Bu Nana mencairkan kegugupan putranya.
" Bukan sama calon mertua saja ma, tapi ada mantan ayah juga di rapat penting itu. " Dimas mengingat bahwa NUGRAHACORP juga mengikuti rapat itu.
" Nak,,, jangan begitu tidak ada yang namanya mantan ayah, dia tetap ayahmu. kamu akui atau tidak bahwa kegigihan mu dalam bekerja itu turunan dari ayahmu. " Ucap Bu Nana.
" Maafkan Dimas ma, Dimas belum bisa memaafkan papa seutuhnya. " Dimas mencium pipi mamanya.
" Yasudah sana cepat berangkat, Rehan sudah menunggu di depan. " Ucap Bu Nana.
" Siap ibu negara.... " Dimas berjalan kedepan Mansion.
Dimas memasuki mobil dimana asisten Rehan sudah menunggunya dari tadi.
Mobil pun berjalan menuju tempat rapat penting itu, rapat dimana banyak kolega bisnis yang penting.
Didalam mobil Dimas asyik chatting dengan Heni kekasihnya.
" Dari pada senyum-senyum enggak jelas, mending pelajari ini Dim, " Rehan menyerahkan laptopnya yang berisi materi rapat.
" Chat dari kekasihku lebih menarik kali " Ketus Dimas.
" Dimas, hari ini rapat penting. kamu tahu kan jika kamu memenangkan tender ini maka perusahaan kita akan melambung tinggi. " Ucap Rehan dengan nada tinggi.
" Santai Rey... Aku sudah mempelajarinya tadi.. " Tolak Dimas.
" Baiklah kalau begitu. " Jawab Rehan datar.
" Harusnya hari ini aku masuk kuliah, dan bertemu dengan Heni. eh malah gagal karena meeting ini. " Batin Dimas.
Mobil Dimas dan Rehan memasuki gedung tertinggi di negara X, dimana tempat meeting untung memperebutkan tender dilangsungkan.
" Pagi Om Hendra... "Sapa Dimas.
__ADS_1
Dimas juga berjabat tangan dengan semua orang. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Dimas dari belakang. Dimas menoleh dan tersenyum kecut melihat orang itu.
" Bagaimana kabarmu nak... " Sapa orang itu dan langsung merangkul pundak Dimas.