PUTRI CEO YANG CANTIK

PUTRI CEO YANG CANTIK
PERJUANGAN DIMAS


__ADS_3

Mobil ambulance terus melaju, Di dalam ambulance Bu Maya terus menangis dan memegangi tangan anak perempuannya. Sedangkan Dion menghubungi Dimas, memberitahu keadaan adiknya.


" Hiks Hiks Hiks... Heni sayang cepat sadar nak, mama mohon... " Ucap Bu Maya lirih.


" Ma... Heni pasti baik-baik saja, Jangan khawatir. " Dion mencoba menenangkan mamanya.


" Dion ini semua salah mama, coba saja mama bisa membujuk papa, pasti Heni tidak senekat ini " Bu Maya menghamburkan pelukannya di dada bidang Dion.


" Sudah ma... tenangkan diri mama, ini bukan salah mama " Dion mengelus punggung mamanya.


Setelah 10 menit menempuh perjalanan, mobil ambulance memasuki area rumah sakit. Dokter Han menyuruh seluruh perawat membawa Heni ke ruang perawatan.


Dion dan Bu Maya hanya menunggu didepan pintu kamar rawat inap.


Pak Hendra berlari mengejar dengan air mata yang terus mengalir, Pak Hendra benar-benar Syok melihat tindakan anaknya.


" Dimana ruangan anakku " Tanya Pak Hendra pada sang resepsionis.


" Di ruang VIP anggrek tuan... " Jawab resepsionis dengan gemetar.


Belum selesai berbicara Pak Hendra langsung meninggalkan resepsionis, dan berjalan kearah ruang anggrek.


Seluruh perawat dan dokter membungkuk memberi hormat, Karena mereka semua tahu bahwa Pak Hendra Wijaya adalah pemilik # WIJAYA HOSPITAL #


" Ma... Bagaimana keadaan Heni ?!? " Pak Hendra duduk di sebelah Bu Maya.


Bu Maya enggan menjawab, bahkan menoleh kearah suaminya saja dia sangat malas. Dan Dion yang menjawab pertanyaan Pak Hendra.


" Heni masih didalam pa, Dokter masih merawat lukanya. Heni juga kehilangan banyak darah. " Tutur Dion sambil memeluk mamanya.


" Baiklah, Semoga Heni baik-baik saja " Sahut Pak Hendra.


" Apa kamu sangat membenciku may, Aku sangat terluka melihat kemarahan Dimata mu,,, Maafkan aku sayang, aku gagal menjadi seorang suami. " ~Batin Pak Hendra.


Terjadi perang dingin antara suami istri yang biasanya sangat romantis...


Setelah menunggu 20 menit, Dokter Han keluar dari kamar Heni.


" Bagaimana keadaan putriku " Pak Hendra berdiri disebelah Dokter Han.


" Maaf tuan... Putri anda membutuhkan donor darah, Sedangkan stock darah AB+ kita sedang kosong tuan " Dokter Han menjelaskan semuanya.


Pak Hendra mengacak rambutnya frustasi, karena mengingat golongan darah miliknya berbeda dengan Heni. Bahkan Bu Maya dan Dion juga memiliki golongan darah yang berbeda.


" Gunakan darah saya dok " Ucap seorang pria dari balik pintu.


" Maxime " Ucap Bu Maya dan Pak Hendra bersamaan.


" Untuk apa kau kesini brengsek " Dion mendekati Maxime dan memberikan pukulan keras.


Bughh..... ( Maxime terjatuh ke lantai )


" Ayolah kakak ipar, Kenapa kau memukulku, aku bahkan ingin berbuat baik " Maxime berdiri tepat di depan Dion.

__ADS_1


" Jaga bicaramu Maxime !! Aku sudah membatalkan pertunangan mu dengan putriku " Bentak pak Hendra.


" Ayolah paman... Apa paman tega melihat Heni sekarat karena membutuhkan donor darah. " Maxime menatap Pak Hendra seperti mengejek.


" Pasti kau meminta imbalan untuk semua ini kan " Dion Menatap tajam mata Maxime.


" Wah wah wah... Rupanya kakak ipar sangat mengerti karakterku " Maxime tersenyum licik.


" Maka jangan harap kami mengambil darahmu. " Tegas Dion.


Ditengah perdebatan mereka Dimas dan Rani datang menghampiri Dion. dan berdiri disebelah sahabatnya, sekaligus kakak dari kekasihnya.


" Bagaimana keadaan Heni bro ?? " Dimas berdiri sejajar dengan Dion.


Dion belum sempat menjawab pertanyaan Dimas, ada seorang perawat wanita keluar dari ruangan Heni.


" Dokter... keadaan nona Heni sangat buruk, dia membutuhkan donor darah sekarang. " Ucap perawat itu.


" Apa golongan darahnya dok ?? " Dimas mulai panik mendengar ucapan perawat.


" Golongan darah nona AB+ tuan... " Jawab dokter Han.


" Ambil darahku Dok, Golongan darahku juga AB+ " Dimas mencoba meyakinkan dokter Han.


Maxime terus memperhatikan dimas, dia mulai bertanya-tanya tentang jati diri Dimas.


" Siapa dia, kenapa dia sangat peduli dengan Heni. Apakah dia kekasih baru Heni, " ~Batin Maxime.


Dokter Han Menoleh kearah Pak Hendra dan Bu Maya bergantian, mencoba menanyakan jawabannya.


Pak Hendra hanya diam saja, keselamatan Heni adalah segalanya.


Setelah mendapat persetujuan dari Bu Maya Dimas dan Dokter Han masuk kedalam ruangan Heni. Dokter Han menyuruh Dimas berbaring di tempat tidur sebelah Heni.


" Manis sekali, Bahkan saat sakit kamu tetap cantik honey " ~Batin Dimas sambil tersenyum simpul.


" Tuan Dimas, saya mulai ya ?!??? " Dokter Han Membuat Dimas sadar dari lamunannya.


" Baiklah dok... " Dimas menutup matanya.


Dokter Han menyuntik Dimas dan memasang selang penghubung untuk mengambil darahnya.


" Awww... " Teriak Dimas.


" Apa sebelumnya tidak pernah donor darah ?? " Tanya dokter Han dengan wajah keheranan.


" Aku bahkan sangat takut dengan jarum dok " jawab jujur Dimas.


Dokter Han dan para perawat terkekeh mendengar ucapan Dimas.


" Memang cinta butuh pengorbanan bro... " Ucap Dokter Han sambil memukul pundak Dimas.


" Benar dok, dan Heni adalah segalanya bagiku, ambil saja nyawaku jika itu dibutuhkan. " Dimas menatap Heni yang masih terpejam.

__ADS_1


" Wah wah wah... Benar-benar idaman, sudah tampan, berkharisma juga perhatian " Bisik salah satu perawat kepada temannya.


" Iya nona Heni beruntung ya mendapatkan kakak ini " Jawab perawat namun masih bisa didengar Dimas.


" Tidak... aku juga beruntung dicintai oleh Heni, dia sangat cantik dan pengertian " Sahut Dimas.


Tidak terasa Dokter Han sudah mengambil 3 kantong darah milik Dimas.


" Sudah selesai, anda bisa keluar tuan " Ucap Dokter Han.


" Dok... bolehkah aku disini menemani kekasihku. " Dimas memohon pada dokter Han.


" Baiklah... " Jawab Dokter Han pasrah.


Jika didalam ruangan para perawat memuji kegantengan Dimas, lain halnya dengan keadaan diluar kamar, Pak Hendra tidak henti-hentinya mengusir Maxime, Bahkan Dion juga menyuruh satpam mengusir Maxime.


" Aku kan pergi jika kalian menjawab semua pertanyaan ku " Teriak Maxime.


" Apa yang ingin kamu tanyakan ?? " Ucap Pak Hendra dingin.


" Siapa laki-laki tadi ?? Apa hubungannya dengan Heni ?? "


" Itu bukan urusanmu, cepat keluar dari sini atau aku akan menelfon polisi kesini " Tegas Dion.


" Aku pasti akan membalas tindakan kalian " Teriak Maxime dan langsung keluar dari rumah sakit.


Maxime masuk kedalam mobilnya, dan mulai menjalankan mobilnya. Banyak pertanyaan yang mengganggu pikirannya.


" Siapa laki-laki itu, Kenapa dia menghawatirkan keadaan Heni. Aku akan mencari tahu semuanya. " ~Batin Maxime.


Setelah kepergian Maxime, pak Hendra dan Dion kembali menemui Bu Maya.


" Dion, apakah itu Maxime ? Untuk apa dia datang ke negara kita " Bu Maya mulai menghawatirkan keselamatan Heni.


" Entahlah ma, biar Dion yang mengurus semuanya. " Jawab Dion.


" Ma... papa mohon maafkan papa, papa tidak bisa melihat kebencian dari mata mama " Pak Hendra duduk disebelah Bu Maya.


" Selama Heni belum sadar, mama tidak akan berbicara dengan papa... " Bu Maya menggeser posisinya menjauhi suaminya.


Dokter Han keluar dari ruangan Heni.


" Bagaimana keadaan anak saya dok " Bu Maya menghampiri Dokter Han.


" Transfusi darah sedang berlangsung, dan Dimas masih disana memulihkan kondisinya, karena sebelumnya Dimas sangat takut dengan peralatan medis. " Jelas dokter Han.


" Apa dok maksud Dokter Dimas takut dengan suntik dan lainya " Dion merasa heran.


" Iya sayang, kak Dimas sangat takut dengan peralatan medis, bahkan dia tidak pernah disuntik, dan saat kak Dimas sakit, Tante Nana hanya memberinya obat dari apotik " Rani menjelaskan semuanya secara detail.


" Wah perjuangan Dimas patut diacungi jempol ya sayang " Jawab Dion sambil terkekeh.


" Iya sayang... " Sahut Rani.

__ADS_1


" Apa sebesar itu cinta Dimas untuk Heni, Apakah Dimas tidak akan menyakiti hati Heni, Sepertinya aku harus mempertimbangkan keputusan ku, Terlepas dari dendam ku dengan Alex Nugraha, Dimas adalah anak yang baik " ~Batin Pak Hendra.


__ADS_2