
Bu Nana yang sedang menuruni tangga, merasa heran melihat anaknya sudah rapi dengan pakaian kantornya.
" Dimas, masih jam 5 kenapa kamu sudah Serapi ini nak " Bu Nana duduk disebelah Dimas.
" Iya ma, Hari ini jadwal Dimas sangat padat ma. Pagi ini Dimas ada meeting penting dengan kolega bisnis, siangnya Dimas kuliah, dan nanti sore Dimas ke rumah sakit. " Dimas meminum susunya.
" Ke rumah sakit ?? Untuk apa nak ?? " Sahut Bu Nana.
" Untuk menjenguk Heni ma... " Jawab Dimas sambil menyantap sarapannya.
" Kamu belum tahu, Heni sudah dipindahkan ke rumah nak... tadi malam Maya sendiri yang menghubungi mama. " Sahut Bu Nana.
" Dipindahkan ke rumah ma ?? Kenapa Heni tidak mengabari aku ma. " Dimas tersenyum kecut.
" Mungkin Heni belum sadarkan diri, Kata Maya semua mendadak. " Jelas Bu Nana.
Dimas hanya mengangguk sambil mengunyah makanan.
" Oh iya nak... nanti siang mama mau menjenguk Heni. "
" Sore aja ma, sekalian Dimas jemput. " Sahut Dimas.
" Tidak usah nak, mama sudah janjian sama Tante Bunga... " Tolak Bu Nana.
" Baiklah kalau begitu aku pamit dulu ya ma... Assalamu'alaikum... " Dimas mencium tangan Bu Nana.
" Waalaikumsalam nak... " Jawab Bu Nana.
Bu Nana kembali naik ke atas menuju kamarnya. Untuk bersiap-siap karena sebentar lagi adik iparnya menjemputnya.
Diluar Mansion sudah ada Rehan yang menunggu Dimas. Rehan adalah sahabat sekaligus asisten pribadi Dimas.
Rehan yang menggantikan posisi Dimas, saat Dimas sedang berkuliah. Kadang Rehan juga memimpin rapat untuk menggantikan Dimas.
" Selamat pagi tuan muda " Sapa Rehan saat melihat Dimas.
" Apaan sih Rey... Jangan berlebihan, Saat diluar kantor panggil saja namaku. " Jawab Dimas sambil memukul pundak sahabatnya.
" Hahaha kamu kan bos, mana mungkin aku menyebut namamu... " Jawab Rehan sambil terkekeh.
Dimas malas meladeni candaan Rehan. dia lebih memilih masuk kedalam mobilnya.
" Heyy tunggu bos... ada apa denganmu ? Sepertinya Mood mu sangat buruk " Rehan duduk bangku kemudi sebelah Dimas.
" Heni sakit Rey... " Jawab Dimas lirih.
" Bukannya dia sudah sembuh... " Tanya Rehan sambil menyetir mobil.
" Iya kemarin... Sekarang dia menggores tangannya sendiri " Jawab Dimas.
" Apa dia ingin bunuh diri, karena Pak Hendra melarang hubungan kalian " Rehan mulai menebak-nebak.
" Kau seperti dukun, bahkan perkataan mu benar semua " Ketus Dimas.
Rehan hanya terkekeh mendengar ucapan Dimas.
__ADS_1
Mobil Dimas memasuki area kantor milik Dimas. Dimas dan Rehan turun dari mobil dan memasuki ruangannya.
Melihat kedatangan Presdir PT Freeport datang, membuat semua karyawan menunduk memberi hormat.
Vina sekertaris pribadi Dimas & Rehan asisten pribadi Dimas berjalan disebelah Dimas. Dan memasuki ruangan Dimas.
" Selamat pagi pak, ini berkas-berkas yang harus ditandatangani " Ucap Vina.
Tanpa menjawab Dimas langsung membaca dan memahami isi berkasnya. setelah mengerti Dimas menandatangani kertas tersebut.
Setelah menandatangani surat tersebut, Dimas mengembalikan berkasnya kepada Vina.
" Vina, apa laporan untuk meeting hari ini sudah siap ?? " Tanya Dimas dengan nada dingin.
" Sudah siap pak... Saya juga sudah mengcopy file tersebut. ini pak laporannya ada di laptop saya. " Vina mendekatkan tubuhnya ke sebelah Dimas.
Dimas melihat datanya. dan tanpa sengaja Dimas menyenggol lengan Vina. Rehan yang merasa cemburu langsung menegur tindakan Vina.
" Vina, tolong jaga sikap. " Ucap Rehan dingin.
" Baik pak... " Vina menjauh dari Dimas.
" Vin Vin... kenapa kamu terus merayu Dimas. bahkan Dimas tidak pernah melirik mu, Apa kamu tidak melihat cintaku. " ~Batin Rehan.
Setelah selesai melihatkan laporan untuk meeting, Vina keluar dari ruangan Dimas.
" Apa kamu sedang cemburu Rey ?? " Dimas membuyarkan lamunan Rehan.
" Apaan sih Dim... " elak Rehan.
" Tapi Vina tidak pernah menganggap ku Dim... " Jawab Rehan lirih.
" Perjuangkan cintamu, Soal cemburu mu kau tidak usah khawatir. Hanya Heni yang ada didalam hatiku. " Dimas memukul pundak sahabatnya.
Dimas keluar dari ruangannya dan berjalan ke ruang meeting. meeting berjalan dengan lancar. Kontrak dengan kolega bisnis sudah didapatkan oleh Dimas.
Setelah selesai Meeting Dimas berangkat ke kampusnya, dan Rehan melanjutkan pekerjaan Dimas.
# MANSION KELUARGA WIJAYA #
" Assalamu'alaikum... " Ucap Bu Maya dan Bu Bunga saat memasuki kamar Heni.
" Waalaikumsalam " Jawab Bu Maya, Pak Hendra dan Heni bersamaan.
" Bagaimana keadaan kamu sayang... " Bu Nana duduk di sebelah Heni.
" Sudah mendingan Tante eh mama... " Jawab Heni kikuk.
" Kamu benar-benar manis nak, pantas saja Dimas yang dingin bisa luluh... " Bu Nana mengusap kening Heni.
" Aku yang mengajari Heni untuk mendapatkan hati pria dingin Na hahaha " Sahut Bu Maya sambil melirik suaminya.
" Iya kamu memang hebat may... " Jawab Bu Nana sambil terkekeh.
" Ya sudah kalian lanjut saja, Aku ada sedikit pekerjaan sebentar, mari Bu Bunga " Pak Hendra keluar dari kamar Heni.
__ADS_1
" oh iya silahkan pak Hendra... " Jawab Bu Bunga kikuk.
Setelah kepergian pak Hendra, Bu Maya dan Bu bunga duduk di sofa. memperhatikan Heni yang akrab dengan Bu Nana.
" Kenapa kakak sangat akrab dengan Pak Hendra dan jeng Maya. " Bu Bunga mulai mengeluarkan unek-uneknya.
" Ya jelas akrab dek, kan kakak udah lama kenal mereka. " Bu Nana ikut duduk di sofa.
" Bahkan kita bersahabat. " Sahut Bu Maya.
" Bukannya kalian bermusuhan, em maksudku kata Briyan kalian bermusuhan. " Bu Bunga langsung menutup mulutnya.
" Jadi dulu aku dan Nana itu sahabat dari kecil... Bahkan kita pacaran dengan wajah yang sama " Jawab Bu Maya.
" Tapi nasib kita berdua berbeda ya May... " Sahut Bu Nana dengan wajah sendu.
Melihat wajah sedih sahabatnya, membuat Bu Maya tidak tega.
" Sudah-sudah jangan di terusin, mending kita bahas pernikahan Rani dan Dion bagaimana... " Cletuk Bu Maya.
" Ide bagus... Tante Bunga setuju kan " Sahut Heni.
" Bukannya pernikahan mereka diadakan setelah Rani wisuda jeng " Jawab Bu Bunga.
" Sepertinya itu sangat lama jeng, Aku pengen cepet-cepet punya cucu... " Sahut Bu Maya.
" Iya dek, lagian lebih cepat lebih baik... " Bu Nana ikut menimpali.
" Baiklah, biar nanti aku tanyakan ke suamiku kak, aku tidak berani mengambil keputusan sendiri. " Jawab Bu Bunga.
" Baiklah jeng... keluarga Wijaya selalu mendengar keputusan Keluarga Bramasta. " Jawab Bu Maya.
" Iya jeng... Bagaimana kalau mereka berempat kita nikahkan bareng jeng " Cletuk Bu Bunga Membuat Heni tersipu malu.
" Ide bagus " Jawab Bu Maya dan Bu Nana bersamaan.
" Ah Tante Bunga... kan Heni sama kak Dimas masih kuliah, kalau kak Dion udah cukup umur Tan... " Elak Heni sambil tersenyum.
" Aku juga sudah cukup umur sayang " Jawab Dimas dibalik pintu.
" Nah ini calon mempelai pria sudah siap " Ucap Bu Maya sambil terkekeh.
" Salam dulu nak... " Bu Nana menegur tingkah Dimas.
" Assalamu'alaikum semua... " Dimas mencium tangan Bu Nana, Bu Maya dan Bu Bunga bergantian.
" Waalaikumsalam... " Ucap semua orang.
Dimas berjalan ke arah Heni, dan memberikan buket bunga mawar untuk Heni.
" Bagaimana keadaanmu sayang... "
" Lebih mendingan sayang. " Jawab Heni sambil mencium bunga mawar pemberian Dimas.
" Sweet banget sih kalian... " Cletuk Bu Bunga.
__ADS_1