
Kebahagiaan terpancar dari wajah Dimas dan Heni, Untuk pertama kalinya Dimas mencium kening Heni. Dan untuk pertama kalinya juga Heni mencium tangan Dimas.
Dimas membacakan do,a saat mencium kening Heni. Do,a pengantin yang sudah dia hafalkan sejak ada niatan meminang Heni.
Setelah itu Heni dan Dimas menandatangani surat nikah mereka.
"Baiklah kalian sudah resmi menjadi suami istri, ini buku nikah kalian." Ucap seorang penghulu.
"Terimakasih pak" Jawab Dimas dan Heni bersamaan.
Dimas dan Heni langsung sungkem dengan orang tua mereka.
"Selamat ya nak, Mommy senang akhirnya kamu menemukan pendamping yang baik." Bu Maya memeluk putrinya.
"Dimas, tolong jaga putriku aku percaya kamu bisa membahagiakan Heni." Pak Hendra menepuk pundak menantunya.
"Iya pa, Dimas janji akan menjaga istri Dimas dengan baik." Dimas tersenyum simpul.
Setelah selesai semua saksi dan pak penghulu menikmati hidangan yang disajikan. Karena pesta pernikahan mereka akan diadakan nanti malam.
Dion dan Rani sudah masuk kedalam kamar mereka, sedangkan Heni dan Dimas masih berbincang hangat dengan para tamu.
"Dimas, Heni apa kalian tidak istirahat dikamar?? Rani dan Dion aja udah naik keatas." Cletuk Bu Bunga.
"Iya Tante Dimas juga capek, tapi Heni enggak mau diajak ke kamar Tan..." Jawab Dimas pasrah.
"Heni takut kamu khilaf mungkin, makanya dia ga mau ke kamar." Balas Bu Bunga.
Semua orang tertawa lepas, saat mendengar jawaban Bu Bunga.
"Heni,,, dengerin Mommy, kamu istirahat dikamar dulu gppa, benar kata Tante Bunga, nanti malam pestanya lumayan lama. kalau sekarang kamu enggak istirahat pasti kamu kecapekan." Bu Maya menatap manik coklat milik Heni.
__ADS_1
"Baiklah Mommy, kalau begitu Heni naik keatas dulu ya" Heni tersipu malu saat Dimas menatapnya dengan penuh semangat.
"Boy,,,, Kamu harus bisa kontrol diri dulu ya. jangan main sekarang."Kekeh Bu Nana.
"Mama apaan sih, kan malu ada orang banyak." Sahut Dimas.
"Mamamu benar nak, prosesnya nanti malam saja, kan kasihan Heni masak pesta ga bisa jalan." Om Briyan juga ikut menimpali.
"Wah wah wah... Om sangat perhatian sama Heni, apa om tahu jangan-jangan Rani dan Dion sudah berproses sekarang. Mereka sudah dikamar loh." Dimas sengaja menjahili omnya.
Nampak wajah pak Briyan yang ketakutan, dia langsung menyuruh istrinya untuk melihat Rani dan Dion diatas.
"Kak Briyan Kenapa khawatir, kan Mereka sudah sah." Bu Nana menenangkan kakaknya.
Semua orang terkekeh melihat wajah panik pak Briyan.
Heni langsung mencubit lengan Dimas, Heni kesal karena Dimas berhasil menjahili pak Briyan yang sekarang menjadi mertua kakaknya.
"Haissshh kenapa Dimas jadi semesum ini sih,,,, Ya Allah aku benar-benar takut kalau kak Dimas meminta haknya sekarang..." Batin Heni.
Heni langsung naik keatas tanpa mengajak suaminya. Pikiran Heni benar-benar kacau, rasa takut, gugup, dan semuanya bercampur aduk.
"Hey sayang, tunggu aku..."Dimas berlari menyusul istrinya.
"Dimas,,, Segera buatkan cucu untuk papa ya..." Ucap Pak Hendra sedikit mengeraskan suaranya.
"Siap ayah mertua." Sahut Dimas.
"Papa apa-apaan sih, kenapa dia malah memberikan lampu hijau untuk si mesum itu."Batin Heni.
Heni terus mempercepat jalanya, sampai ditangga paling atas gaun yang Heni kenakan tersangkut, membuat Heni hampir terjatuh. namun dengan cepat Dimas merangkul tubuh istrinya. Mata mereka saling pandang, jantung mereka berdegup kencang.
__ADS_1
"Jalannya pelan-pelan dong sayang, kamu udah enggak sabar ya, sampai ga fokus berjalan" Tanpa aba-aba Dimas langsung mengangkat tubuh Heni ala bridal style.
"Sayang turunin, aku bisa jalan sendiri..." Rengek Heni sambil memukul-mukul dada bidang suaminya.
"Aku sudah tidak sabar sayang,,,,"Ucap Dimas sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Heni.
"Mampus kau Heni,,,,, Bagaimana ini, menurut artikel di google sangat sakit saat melakukan untuk yang pertama kalinya, bisa-bisa sampai gak bisa jalan. Sedangkan pestanya baru nanti malam." Heni terus membatin.
Dimas terus menggendong Heni, sampai mereka memasuki kamarnya. Dimas membuka pelan pintu itu dan langsung menguncinya dari dalam.
Tanpa aba-aba Dimas langsung mencium pelan bibir isterinya, ciuman yang tadinya pelan menjadi ciuman yang menuntut lebih. Heni yang gugup tidak membalas ciuman Dimas. karena tidak mendapat respon Dimas menggigit pelan bibir isterinya.
Heni yang merasa sedikit sakit langsung membuka bibirnya dan membalas ciuman pertama dari suaminya.
Seperti mendapatkan lampu hijau, naluri laki-laki Dimas langsung bangkit dan menuntut lebih.
Disela-sela ciuman mereka Dimas memuji kecantikan yang dimiliki Heni, Dimas sangat bersyukur memiliki istri yang sangat cantik, perhatian dan penuh kasih sayang.
Seperti tersengat aliran listrik, tubuh mereka menjadi panas, mengalahkan suhu ACC yang ada dikamar mereka.
Saat Dimas ingin melakukan lebih Dimas langsung mengingat kembali ucapan mamanya. Dimas harus bisa mengontrol dirinya. Karena pesta baru dilakukan nanti malam.
"Oh shit, kenapa pestanya harus ditunda nanti malam sih, aku harus mengontrol diriku sendiri. Sabar Dimas sabar,,," Batin Dimas dan langsung melepaskan ciumannya.
"Sayang kita tunda dulu ya, Aku keinget omongan mama." Dimas merapikan rambut Heni.
Heni hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya. Dia juga melihat wajah suaminya yang masam.
"Wajahmu lucu sekali sayang, seperti cacing kepanasan" Heni terkekeh didalam hati.
Setelah itu Dimas masuk kedalam kamar mandi, membersihkan badannya.
__ADS_1