
" Sweet banget sih kalian... " Cletuk Bu Bunga
Seketika membuat wajah Dimas dan Heni memerah. Bu Maya dan semua orang tertawa bersama.
Sementara itu pak Hendra yang sedang fokus didalam ruang kerjanya. tiba-tiba teringat dengan masalah Maxime. Pak Hendra langsung menyuruh seorang pelayan untuk memanggilkan Dion.
Tok Tok Tok...
" Pa ini Dion,,, " Sapa Dion dibalik pintu.
" Masuklah nak... " Sahut pak Hendra.
Dion langsung membuka pintunya, dan berjalan menuju kursi didepan ayahnya.
" Dion, apa kamu sudah mencari info tentang Maxime. " Pak Hendra menatap wajah putranya.
" Sudah pa,,, Papa tenang saja, Maxime ke sini untuk bisnis, Bukan untuk menyakiti Heni lagi. " Jawab Dion.
Pak Hendra hanya mengangguk sambil memutar bolpoin miliknya.
" Tapi ada satu kejanggalan pa... " Timpal Dion lagi.
" Kejanggalan apa nak ?? " Tanya Pak Hendra.
" Maxime akan Meeting dengan NugrahaCorp pa... " Jawab Dion penuh penekanan.
" Alex Nugraha... Semoga saja kedua bajingan itu tidak membuat ulah lagi. "
" Maksud papa apa ?? " Tanya Dion heran.
" Kau tahu nak, 1tahun yang lalu NugrahaCorp dan Maxime bekerja sama untuk menyaingi hotel kita yang ada di Prancis. Mereka ingin menghancurkan bisnis kita. " Jelas Pak Hendra.
Dion mengepalkan tangannya saat mendengar penjelasan dari sang ayah. membuat kemarahan memuncak. Sampai tidak terasa gelas yang digenggamnya percah, membuat tangan Dion berdarah.
" Nak, tanganmu berdarah... " Pak Hendra beranjak dari duduknya.
" Maxime... Tunggu pembalasanku " Ucap Dion berat.
" Apa yang kamu ucapkan, Papa tidak ingin kamu berurusan dengan Maxime. " Ucap Pak Hendra.
__ADS_1
" Tidak pa, aku hanya akan memberikan Maxime sedikit pelajaran. " Jawab Dion.
Pak Hendra terus menatap anaknya.
" Baiklah terserah kamu. " Jawab Pak Hendra malas.
Pak Hendra membantu membersihkan luka anaknya. Dion hanya nyengir kuda.
" Makasih pa, Oh iya aku ke kamar Heni dulu ya pa. mau nyamperin calon mertua. " Ucap Dion saat lukanya sudah selesai dibersihkan.
" Sebaiknya pernikahanmu dan Rani harus cepat dilaksanakan, papa gak tega lihat kamu menahan terus. " Ucap pak Hendra Sambil terkekeh.
" Menahan, menahan apa emangnya pa ?? " Tanya Dion dengan wajah keheranan.
" Menahan gejolak itu nak... " Jawab pak Hendra sambil cekikikan, menunjuk adik Dion.
" Dasar papa mesum " Dion berjalan keluar dari ruangan meninggalkan papanya.
Dion terus berjalan menuju kamar adiknya.
" Wah ada yang lagi mesra-mesranya nih... " Cletuk Dion saat memasuki kamar Heni.
Dion langsung menyapa Bu Nana dan Bu bunga Bergantian. Setelah itu Dion menghampiri Heni dan Dimas.
" Dek, kata papa kita nikahnya barengan aja, biar hemat budget... " Dion memukul lengan Dimas.
" Ide bagus kak Dion " Dimas ikut menimpali.
" Eh kenapa kamu ikut manggil aku kakak sih, geli deh. " Dion menatap tajam mata Dimas.
" Kan sebentar lagi aku jadi adik iparmu kak. " Kekeh Dimas.
" Panggil bro aja, menggelikan " Sanggah Dion.
Semua orang tertawa mendengar perdebatan Dion dan Dimas. Mereka terus mengobrol bersama.
" Sebaiknya kita keluar, biarkan Dimas dan Heni berdua saja. " Bu Nana berdiri dari duduknya.
" Iya benar kak, Sepertinya mereka ingin bermesraan tapi malu sama kita. " Sahut Bu Bunga.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu, Dion kamu juga keluar yah... " Bu Maya berjalan keluar kamar Heni diikuti oleh Bu bunga dan Bu Nana.
" Iya ma, nanti Dion menyusul. " Sahut Dion.
Kini tinggal Dimas, Heni, dan Dion yang berada dikamar itu. Dion langsung mengunci pintu kamar Heni. Dimas dan Heni kebingungan dengan tingkah kakaknya.
" Ada apa kak ?? " Tanya Heni kebingungan.
" Dek, bagaimana apa papa sudah memberikan restu untuk kamu dan Dimas. Maksudku apa papa sudah mengatakan tentang pernikahan kalian. " Dion berdiri didepan adiknya.
" Belum kak, lagian aku sama kak Dimas belum wisuda kak. " Jawab Heni santuy.
" huhh... " Dion menarik nafas dalam-dalam.
" Emangnya ada apa bro..?? " Dimas menepuk pundak Dion.
" Rani bro, Rani tidak mau nikah sekarang. " Jawab Dion memelas.
Dimas dan Heni saling bertatapan dengan wajah keheranan.
Dion yang melihat wajah keheranan adik dan calon adik iparnya melanjutkan ucapannya.
" Iya, Rani tidak mau menikah sekarang. Rani pengen nikah barengan sama kalian. " Lanjut Dion.
" Hahahahaha..... " Tawa Dimas dan Heni pecah seketika.
" Dasar Rani bocil, Santai bro biar aku bantu bicara sama Rani. " Dimas menepuk pundak Dion.
" Terima kasih bro, Kau memang calon adik ipar yang bisa diandalkan. " Dion tersenyum senang.
" Haissshh dasar kak Dion payah, Didepan Keluarga kayak singa, tapi didepan Rani kayak kucing anggora hahahaha... " Heni terus mencibir kakaknya.
" Menyebalkan... " Dion langsung mencubit pipi Heni.
" Aww sakit kakk... " Teriak Heni.
" Baiklah kalau begitu kak Dion ke kamar dulu ya. Kalian jangan macam-macam disini, ingat kalian masih belum halal. " Dion berjalan meninggalkan Dimas dan adiknya.
" Siap komandan... " Jawab Dimas dan Heni bersamaan.
__ADS_1
Setelah kepergian Dion, tinggal Heni dan Dimas yang berbeda dikamar itu. Mereka terus mengobrol sampai tidak sadar kalau hari sudah berganti malam.