
" Bagaimana kabarmu nak... " Sapa orang itu dan langsung merangkul pundak Dimas.
" Dimas sehat pa, Papa sendiri apa kabar?? " Jawab Dimas cool dan sedikit malas.
" Papa juga sehat nak. " Jawab Alex.
Terdengar suara seorang MC menyuruh seluruh pengusaha memasuki ruangan untuk melangsungkan rapat. Seluruh pengusaha memasuki ruangan tersebut. Nampak Dimas dan Pak Hendra sedang berbincang hangat.
" Ada apa ini, kenapa Dimas dan Hendra sangat dekat. Bukankah Hendra tidak merestui hubungan Dimas dan putrinya. " Batin Alex.
Alex terus memperhatikan kedekatan Dimas dan Hendra. Ingin rasanya Alex Nugraha menyapa Hendra Wijaya. Namun Alex takut jika dia tidak akan ditanggapi, dan itu akan membuat semua orang mengetahui permusuhan mereka.
Rapat sudah dimulai dan semua orang mempresentasikan data mereka masing².
Dimas terus mempresentasikan laporannya. Semua mata tertuju padanya, Pak Hendra merasa bangga memiliki calon menantu seperti Dimas.
" Calon mantu idaman, Pantas saja Heni sangat mencintai Dimas. dia pintar, baik, dan bijaksana. Aku yakin pasti Dimas memenangkan tender ini. " ~Batin Pak Hendra.
Dimas menutup presentasinya dan menutup sambutannya. Semua orang memberikan tepuk tangan dan tersenyum ramah kearahnya, Maxime mulai merasa iri dengan Dimas. dia menatap tajam mata Dimas.
Dan Dimas yang memenangkan tender besar itu. Semua orang memberikan selamat kepada Dimas. Tanpa mengatakan apapun Maxime langsung meninggalkan gedung itu.
" Selamat ya nak,,, Papa sangat bangga dengan pencapaian mu. " Alex menepuk pundak Dimas.
__ADS_1
" Jadi Dimas ini anak tuan Alex ?? Kenapa dia tidak meneruskan bisnis NUGRAHACORP. Kenapa dia membuka perusahaan sendiri. " Tanya seorang kolega bisnis.
" Iya paman... saya anak Alex Nugraha. Saya ingin belajar mandiri. " Dimas mencoba menutupi keburukan ayahnya.
" Anda memang luar biasa pak Dimas, Sukses terus pak. " Jawab kolega bisnis itu.
" Paman dan Dion duluan ya nak... " Pamit Pak Hendra sambil tersenyum simpul ke arah Dimas.
" Baiklah paman hati-hati ya... " Dimas mencium tangan Pak Hendra.
Pak Hendra dan Dion meninggalkan Dimas dan ayahnya. Pak Hendra merasa tidak enak harus dekat-dekat dengan Alex.
" Apa Hendra sudah memberikan restu untuk hubungan kalian " Alex menatap tajam mata putranya.
Dimas berjalan kearah parkiran diikuti asisten Rehan. Rasa benci Dimas terhadap sang ayah sangat besar. Dimas hanya menghargai ayahnya karena permintaan sang ibu.
" Bro selamat ya... kau berhasil memenangkan tender ini. " Ucap Rehan dipertengahan jalan.
" Selamat untukmu juga Rey... ini juga hasil dari kerja keras mu, Aku akan mentraktir mu hari ini. " Sahut Dimas.
" Aku minta sabuk keluaran terbaru dari Dior Dim.... " Ucap Rehan sambil terkekeh.
" Tidak masalah akan aku pesankan. " Dimas langsung membuka laptopnya dan memesankan sabuk yang diminta Rehan.
__ADS_1
" Aku bercanda Dim.... " Lirih Rehan.
" Sudah selesai... Lima hari lagi pesanannya sampai ke rumahmu. " Jawab Dimas dan langsung memasuki mobilnya.
" Makasih bro... Kau benar-benar sultan. " Rehan ikut memasuki mobil.
Mereka menjalankan mobilnya ke arah restoran kesukaan Dimas dan Rehan. Sejak kecil mereka sudah bersahabat, itulah yang membuat mereka semakin akrab.
Mereka berdua makan sesekali mereka membicarakan tentang bisnis dan problem yang ada di kantor. Ditengah pembicaraan mereka ponsel Dimas berdering muncul nama Heni didepan layar.
" Halo sayang... " Ucap Dimas setelah menggeser tombol hijau.
" Sayang kata papa kamu memenangkan tender itu,,,, Selamat ya sayang... " Ucap Heni diseberang telfon.
" Iya sayang makasih... ini juga berkat doamu sayang, " Jawab Dimas.
" Yasudah sayang Sepertinya kamu sedang sibuk, kamu lanjut aja. aku cuman mau ngucapin selamat. " Sahut Heni.
" Iya sayang aku masih ada rapat sama Rehan, nanti malam aku ke rumahmu ya sayang. " Jawab Rehan.
" Oke sayang aku tunggu... Assalamualaikum. "
" Waalaikumsalam " Jawab Dimas.
__ADS_1