PUTRI CEO YANG CANTIK

PUTRI CEO YANG CANTIK
HARI BAHAGIA HENI


__ADS_3

" Dasar singa galak,,, " Cletuk Bu Maya mancubit bahu suaminya.


Ucapan Bu Maya, membuat semua orang yang berada di ruangan itu tertawa. Semua perawat dan Dokter Han juga ikut tertawa.


" Han, Apa kau ingin aku memotong gajimu. " Pak Hendra menatap dokter Han sinis.


Mendengar ancaman itu, Dokter Han langsung menghentikan tawanya.


" Martabat ku bisa hilang, jika berlama-lama disini. "~Batin Pak Hendra.


Pak Hendra langsung memasang wajah dinginnya kembali, Dan langsung duduk disebelah anak laki-lakinya.


" Dion, apa kamu sudah menyuruh orang suruhan mu untuk mengurus Maxime ? " Pak Hendra menatap Dion.


" Nanti akan Dion urus pa. " Jawab Dion santai.


" Jangan menunda-nunda pekerjaan Dion, sebelum Maxime berbuat sesuatu yang tidak baik. " Tegas Pak Hendra.


Mendengar nama mantan kekasihnya disebut, membuat Heni kebingungan.


" Ada apa kak ? Kenapa menyebut nama itu ? " Heni membenarkan posisi tidurnya.


Dengan perhatian Dimas membantu Heni.


" Maxime ada di negara X dek. Dia tadi juga datang ke rumah sakit ini.... " Dion mulai menceritakan semuanya.


Heni hanya mengangguk tanda mengerti.


" Jadi kak Dimas yang mendonorkan darah untukku. " Heni menatap lembut wajah Dimas.


" Sudah kewajiban sayang, Aku juga baru tahu kalau kita punya golongan darah yang sama " Dimas tersenyum lebar kepada Heni. " Kalau aku boleh tau, siapa Maxime ?? " Lanjut Dimas.


" Em itu sayang, Maxime mantan pacarku. " Jawab Heni sendu.


Mendengar jawaban Heni, Membuat Dimas sedikit cemburu. Namun perasaan itu Dimas tangkis, saat melihat raut kesedihan di wajah Heni.


" Kenapa kamu terlihat sedih sayang ?? Apa kamu masih mencintainya ?? " Dimas bertanya pada Heni.


" Biar aku yang menceritakan semuanya, " Dion menyela pembicaraan Dimas.


Dion langsung menceritakan semuanya, bagaimana Maxime ingin melecehkan Heni, bagaimana Maxime selingkuh dari Heni. Mendengar cerita dari Dion, Dimas langsung mengepalkan tangannya.


" Itulah alasan Om Hendra, sangat posesif terhadap laki-laki yang mendekati Heni. " Pak Hendra menepuk pundak Dimas.


" Dimas akan selalu membahagiakan Heni om. " Dimas mencoba meyakinkan Pak Hendra.


Mendengar ucapan Dimas, Bu Maya tersenyum simpul.

__ADS_1


" Semoga hari ini dan seterusnya, menjadi hari kebahagiaanmu nak... " Bu Maya mengusap kening Heni, dan menciumnya.


" Iya semoga ma... " Heni memeluk mamanya.


" Rani kamu dari tadi hanya diam aja nak, sini duduk disebelah Tante " Bu Maya menepuk kursi disebelahnya.


Untung ruang inap Heni besar, jadi mereka tidak merasa bosan disana terus. Mereka mengobrol dengan sangat hangat. Namun tiba-tiba suara ponsel Dimas menghentikan obrolan mereka.


Dertt Dertt Dertt...


" Halo iya ma... " Dimas mengangkat telfonya.


{ Sayang, bagaimana keadaan Heni ? } Suara Bu Nana diseberang telfon.


Mendengar suara cemas mamanya, Dimas langsung mengubah panggilan menjadi Video call.


" Mama jangan khawatir, disini banyak yang menjaga Heni. " Dimas memperhatikan orang-orang bergantian.


" Halo Tante Nana... Rani juga disini loh " Rani menyapa tantenya.


" Tante Maya juga disini Lo ma... " Dimas memperlihatkan wajah Bu Maya.


{ Apa Maya dan Hendra tidak marah, melihat kedatangan mu nak... }


Bu Maya langsung mengambil ponsel Dimas, dan menunjukkan wajahnya dan wajah suaminya.


Bu Maya benar-benar bahagia, dia bahagia karena bisa berhubungan baik, dengan sahabat lamanya lagi.


{ Alhamdulillah may, Aku sangat bahagia. Tapi mereka belum wisuda may... } Jawab Bu Nana antusias.


" Kita bisa langsung menikahkan Meraka na, Sebelum suamiku berubah pikiran " Ucap Bu Maya sambil cekikikan.


{ Ide bagus may... Oh iya may bolehkah aku minta nomor ponselmu. }


" Boleh dong, nanti aku yang WhatsApp kamu duluan yah... "


{ Baiklah Maya... Oh iya aku mau bicara sama putri cantikmu dong. }


" Baiklah bye... " Bu Maya langsung memberikan ponsel Dimas kepada Heni.


" Halo Tante Nana... " Heni menyapa calon mertuanya.


{ Halo sayang, Kan udah mama kasih tau, panggilnya mama aja. }


" Eh iya.. mama " Cicit Heni.


{ Bagaimana keadaanmu sayang ? Kamu kenapa se nekat itu demi Dimas nak, }

__ADS_1


Mendengar ucapan Bu Nana membuat Bu Maya dan Pak Hendra tersenyum bahagia.


Heni dan Bu Nana terus mengobrol, Bu Nana sudah menganggap heni, seperti anaknya sendiri.


" Semoga keputusan ini benar-benar membahagiakan untuk Heni " ~Batin Pak Hendra.


" Benarkan pa kata mama, Dimas itu menuruni sifat Nana. Bukan ayahnya. " Setengah berbisik Bu Maya mengucapkan itu.


" Iya iya ma... Mama kan tidak pernah salah, tapi nanti papa akan menghukum mama " Jawab pak Hendra.


" Menghukum ?? Emang mama salah apa. ?? " Tanya Bu Maya keheranan.


" Karena akhir-akhir ini, mama sudah mengabaikan papa. " Jawab pak Hendra Sambil cemberut.


" Emang apa hukumnya pa...? "


" Membuat adik untuk Heni " Pak Hendra tersenyum licik.


" Dasar mesum " Bu Maya sedikit memberi jarak dengan suaminya.


" Mau kemana ma... " Pak Hendra berbisik sedikit menggoda.


" Dion sama Heni udah waktunya nikah, masak iya kita kasih Adikk.." Gerutu Bu Maya sambil memanyunkan bibirnya.


Pak Hendra terkekeh melihat wajah cemberut sang istri.


Setelah Heni dan Bu Nana selesai berbicara, Dimas dan Rani berpamitan untuk pulang. Dion juga berpamitan untuk mengantar Rani pulang.


" Biar Dion antar Rani ya ma, pa... "


" Haissshh kakak kencan saat aku sakit. " Cicit heni.


" Makanya cepat sembuh, biar bisa double date lagi... " Dion mencubit hidung adiknya dan langsung menarik tangan Rani keluar ruangan.


" Aku duluan ya Heni, Assalamu'alaikum Om, Tante " Pamit Rani.


" Cepat sembuh ya sayang... Aku pamit dulu, Nanti setelah kamu sembuh aku ajak ke suatu tempat. " Dimas mengelus rambut Heni.


" Kemana sayang ?? " Tanya Heni antusias.


" Rahasia... " Jawab Dimas sambil cekikikan.


" Hisssshh menyebalkan. "


" Om, Tante Dimas pulang juga ya... Assalamu'alaikum " Mencium tangan Bu Maya dan Pak Hendra bergantian.


" Waalaikumsalam " Jawab pak Hendra dan Bu Maya bersamaan.

__ADS_1


Dan sekarang tinggal, Heni dan orang tuanya yang menjaganya di rumah sakit.


__ADS_2