PUTRI CEO YANG CANTIK

PUTRI CEO YANG CANTIK
MAAFKAN PAPA


__ADS_3

" Apa sebesar itu cinta Dimas untuk Heni, Apakah Dimas tidak akan menyakiti hati Heni, Sepertinya aku harus mempertimbangkan keputusan ku, Terlepas dari dendam ku dengan Alex Nugraha, Dimas adalah anak yang baik " ~Batin Pak Hendra.


Dokter Han kembali masuk kedalam ruangan Heni. Diikuti Rani dan Dion, Sedangkan Bu Maya dan Pak Hendra masih diluar ruangan.


" Apa papa sudah melihat sikap Dimas, dia sangat beda dengan ayahnya kan. Mama harap papa merubah keputusan papa. " Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Bu Maya langsung masuk kedalam ruangan Heni.


Pak Hendra hanya mengelus dadanya, dan mengikuti Bu Maya dari belakang. ini pertama kalinya Bu Maya bersikap seperti itu, Karena sebelumnya pernikahannya sangat hangat.


" Nak Dimas, Terimakasih banyak ya nak, Kamu sudah menolong Heni. " Bu Maya menghampiri Dimas yang sedang duduk disebelah ranjang Heni.


" Sama-sama Tante, Dimas juga senang bisa membantu kesembuhan Heni. " Dimas melirik ke arah kekasihnya yang masih terpejam.


" Wah... luar biasa, ini diluar dugaan, Dimas datang diwaktu yang tepat. golongan darah mereka juga sama, aku yakin setelah ini papa akan memberikan lampu hijau. " ~Batin Dion.


" Semoga kalian berjodoh... " Cletuk Bu Maya sambil menatap tajam mata suaminya.


" Aamiin,,, " Sahut Dion dan Rani bersamaan.


" Pasti seru bro, Kita bisa nikah barengan. " Sahut Dion.


Seketika membuat wajah Dimas memerah, dia tersenyum bahagia, Namun senyumnya tiba-tiba menghilang saat melihat wajah sinis Pak Hendra.


Heni mulai membuka matanya perlahan, Melihat satu persatu orang yang ada di ruangannya.


" Ada kak Dimas, Apa papa sudah merestui hubunganku dengannya. "~Batin Heni.


Dion yang mengerti kebingungan di wajah adiknya, langsung mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Heni.


" Kamu sudah sadar dik, Kakak sengaja memanggil Dimas, pasti kamu bahagia kan " Dion menghampiri adiknya.


" Oh... rupanya si singa masih belum memberikan restu untukku. Baiklah aku tambah lagi dramanya " Heni terus merutuki nasibnya.


" Kak... Buat apa kakak membawa Heni ke rumah sakit. Lebih baik Heni mati kak... Hiks Hiks Hiks... " Heni memulai aktingnya lagi sambil menatap malas sang ayah.


" Sayang jangan bicara gitu... kamu tahukah mama sangat menyayangi kamu " Bu Maya beranjak dari duduknya, dan memegang tangan Heni.


" Tapi ma... Heni tidak bisa melihat kebencian papa untuk kak Dimas "


Rani merasa tidak enak berada di antara mereka, karena dia belum menjadi Keluarga.


" Om, tante... Rani dan Dimas kedepan dulu ya, " Rani berpamitan dengan canggung.


" Tidak usah sungkan sayang,,, kamu akan menjadi menantu Tante. " Bu Maya mencegah tangan Rani.


" Baiklah Tante Dimas saja yang keluar. " Dimas membuka pintu ruangan Heni.

__ADS_1


" Tunggu !! Bagaimana bisa kamu berniat pergi, sedangkan kamu adalah sumber dari masalah ini " Pah Hendra berkata dengan suara berat.


Dimas seketika menoleh kearah Pak Hendra.


" Maaf Om, Dimas tidak bermaksud untuk memberikan masalah di keluarga Wijaya. " Dimas berkata dengan sopan.


" Tapi kamu akar dari perdebatan kami !! " Teriak Pak Hendra.


" Cukup pa cukup... " Heni berteriak sambil melepaskan infusnya.


" Sayang jangan dilepas infusnya, badanmu masih lemah " Bu Maya menghawatirkan keadaan Heni.


" Pa... Kak Dimas tidak salah, Heni yang mencintai kak Dimas. " Heni turun dari ranjang rumah sakit.


" Tidak sayang aku juga mencintaimu, Kita perjuangan cinta kita ya " Dimas menghampiri Heni.


" Huh... Sweet banget sih mereka " ~Batin Rani.


" Heni apa yang membuatmu jatuh cinta pada laki-laki itu. " Pak Hendra menatap putrinya.


" Banyak pa... Apa papa tahu kak Dimas sudah mandiri sejak kecil, kak Dimas mengembangkan perusahaan miliknya sendiri. Aku memang belum pernah bertemu dengan Om Alex ( ayah Dimas ) tapi aku yakin kak Dimas sangat berbeda dengannya. "


Dimas masih setia membopong tubuh Heni yang lemah.


" Cinta tidak butuh alasan Om, yang pasti aku berjanji tidak akan pernah menyakiti Heni. " Jelas Dimas.


Bu Maya, Rani dan Dion hanya menjadi penonton perdebatan mereka. Sesekali Bu Maya menitihkan air matanya. Melihat perjuangan cinta Heni dan Dimas, Bu Maya juga Mengingat persahabatannya dengan Bu Nana, dan cita-cita mereka agar bisa menjadi besan.


" Na... sepertinya cita-citaku besanan dengan kamu akan menjadi kenyataan. " Batin Bu Maya.


" Baiklah... Aku harap kamu menepati janjimu. " Pak Hendra melepaskan pelukan Dimas dan Heni.


" Apa papa merestui hubungan kita ?? " Tanya Heni dengan wajah berbinar.


" Untuk sekarang papa masih belom bisa menjawab, Papa akan mempertimbangkan keputusan papa. " Pak Hendra membawa Heni kembali ke tempat tidurnya.


" Tapi pa... " cicit Heni pelan.


" Restu papa tergantung tindakan Dimas, " Cletuk Pak Hendra.


Membuat semua orang yang berada di ruangan itu tersenyum simpul.


" Terimakasih Om... " Dimas mencium tangan Pak Hendra.


" Om harap kamu menepati janjimu, dan jangan pernah meniru tindakan ayahmu. Perlakukan anak om seperti ratu. " Pak Hendra memukul pundak Dimas.

__ADS_1


" Pasti Om... " Dimas tersenyum bahagia.


Bagaimanapun Pak Hendra sangat takut jika Dimas menjadi seperti Alex Nugraha. Apalagi saat firman menceritakan tentang kekerasan yang dialami Nana Nugraha. Dan itulah yang membuat Pak Hendra menjauhkan Heni dari Dimas. Karena pak Hendra mengingat kata-kata pepatah { Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. }.


" Maafkan papa ya nak, Karena papa kamu menggores tanganmu sendiri. " Pak Hendra mengacak rambut Heni.


" Iya pa... Heni sangat bahagia pa... " Ucap Heni dan langsung memeluk ayahnya.


" Hem Hem... mama enggak di peluk nihh.... " Bu Maya mendekat ke arah Heni.


" Saat kamu pingsan, mama tidak mau bicara sama papa " Pak Hendra berbisik ke telinga Heni.


" Kasihan amat sihh " Jawab Heni sambil terkekeh.


Karena tidak mendapat jawaban, Bu Maya langsung memeluk Heni. Namun Pak Hendra menjauhkan tubuhnya.


" Papa mau kemana ?? " Bu Maya keheranan.


" Papa tidak mau bicara sama mama, sampai Heni membuka matanya " Pak Hendra menirukan gaya bicara Istrinya saat diluar tadi.


" Hisssshh menyebalkan...Kan malu ada Dimas sama Rani pa... " Bu Maya mencubit perut suaminya.


" Aww sakit ma... " Pak Hendra memegangi perutnya. Seketika dia juga malu dengan Rani dan Dimas.


Dion, Rani, Heni dan Dimas terkekeh melihat tingkah Orang setengah tua namun masih romantis.


" Kita kalah romantis kan sayang,... " Dion menyenggol bahu Rani.


" Iya sayang... " Jawab Rani.


" Keluarga yang hangat... Aku juga akan membangun keluarga sehangat ini dengan Heni " Dimas mulai membayangkan dia menikah dengan Heni, dan memiliki 4 buah hati yang sangat menggemaskan.


" Sayang... kenapa senyum-senyum sendiri " Tanya Heni membuat Dimas tersadar dari lamunannya.


" Eh itu sayang, Aku sedang membayangkan Keluarga kecil kita nanti " Bisik Dimas ke telinga Heni.


" Wah... kita saja belum wisuda sayang, Tapi kamu sudah berfikir jauh " Heni membalas bisikan Dimas.


" Tinggal satu tahun lagi sayang... " Bisik Dimas lagi.


" Kenapa kalian bisik-bisik, Kalian sedang membicarakan tentang papa dan mama ya " Tanya Pak Hendra dengan wajah galak.


" Enggak pa... " Jawab Heni.


" Dasar singa galak ,,, " Cletuk Bu Maya mancubit bahu suaminya.

__ADS_1


__ADS_2