
Dan sekarang tinggal, Heni dan orang tuanya yang menjaganya di rumah sakit.
Setelah merasa Dimas menjauh dari ruangan Heni, Pak Hendra berjalan menghampiri putri Cantiknya.
" Heni sayang... Apa kamu benar-benar yakin dengan Dimas. " Pak Hendra duduk disebelah kanan Heni.
Heni melihat keraguan di wajah papanya.
" Heni sangat yakin pa. Kenapa papa meragukan kak Dimas ?? " Heni tersenyum kearah orang tuanya bergantian.
" Papa cemas nak, papa takut jika Dimas menyakiti perasaan mu seperti Maxime. " Pak Hendra berkata dengan sendu.
" Maafkan Heni pa, pasti tadi kata-kata Heni menyakiti perasaan papa. Heni hanya kecewa dengan keputusan papa, jadi Heni senekat tadi. " Heni menciumi tangan papanya.
Heni mulai merasa bersalah, karena saat dia ingin menggores tangannya dia terus mengolok semua keputusan papanya.
" Papa sudah memaafkan semua sayang. " Jawab Pak Hendra.
" Lagian kamu juga tidak salah nak, papamu saja yang terlalu keras kepala. " Bu Maya ikut menimpali.
" Tapi ma... " Kata-kata pak Hendra terputus.
" Sudahlah pa, Wanita selalu benar. " Sahut Bu Maya.
" Hem... Baiklah. " Pak Hendra hanya bisa pasrah.
Heni dan Mamanya tersenyum puas.
__ADS_1
" Mama khawatir dengan mu nak, mama bisa merasakan kecemburuan Dimata Maxime tadi. saat Dimas mendonorkan darahnya untuk kamu. " Bu Maya mengelus bahu Heni.
" Tidak akan terjadi apapun ma. Maxime hanya masa lalu Heni, " Heni berusaha menutupi kecemasannya, Bagaimanapun dia juga takut dengan tindakan konyol Maxime.
" Papa juga akan selalu menjagamu nak " Pak Hendra tersenyum kearah putri Cantiknya.
" Makasih pa... "
Setelah itu pak Hendra meraih ponselnya, menelfon sekertaris pribadinya. melanjutkan rapat penting yang sudah di agendakan.
" Papa ke kantor saja, biarkan mama yang menjaga Heni. " Bu Maya duduk disebelah suaminya.
" Tidak ma, papa akan kembali bekerja saat Heni sudah sembuh. " tegas Pak Hendra.
" Okelah terserah papa. "
" Dokter Han, siapkan alat medis yang diperlukan untuk Heni. Aku ingin perawatan putriku di rumah. " Titah Pak Hendra kepada dokter pribadinya.
" Baik tuan. Kapan rencana pemindahan nona Heni. " Jawab dokter han.
" Malam ini " Jawab Pak Hendra dingin.
" Baik akan saya persiapkan tuan,,, saya permisi dulu. " Membungkuk memberi hormat.
Dokter Han pergi dan menyiapkan pemindahan perawatan Heni.
" Orang kaya mah enak, Semua mintanya cepat. " ~Batin dokter Han.
__ADS_1
Setelah menyiapkan alat medis bersama dengan para suster. Dokter Han kembali ke ruangan Heni, dan memberikan suntik bius untuk Heni.
Pak Hendra dan Bu Maya mengikuti mobil ambulance Heni dari belakang.
" Pa, Besok Nana mau main ke rumah boleh?? " Tanya Bu Maya dengan ragu.
" Boleh ma... " Jawab pak Hendra sambil memegang tangan Istrinya.
Seperti mendapat berlian, Bu Maya bersorak gembira.
" Papa memang terbaik " Bu Maya memeluk suaminya.
" Mama jangan menggodaku, Ini masih jauh. di dalam mobil juga ada Pak Mamat. " Pak Hendra berbisik ke telinga Bu Maya.
" Hisssshh dasar " Gerutu Bu Maya.
Pak Hendra terkekeh melihat wajah malu Istrinya.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit ambulance dan mobil Pak Hendra memasuki mansion keluarga Wijaya.
Nampak para perawat memindahkan Heni ke kamar pribadi milik Heni.
Setelah selesai, Pak Hendra menyuruh para pelayan memasukkan kasur ukuran besar ke kamar Heni. Bu Maya semakin kebingungan dengan tindakan konyol suaminya.
" Pa... untuk siapa kasur ini ?? " Bu Maya memasang wajah heran.
" Untuk para perawat ma, kan kasihan kalau mereka tidur di sofa. " Jawab Pak Hendra.
__ADS_1
" Suamiku ini memang the best deh... " Bu Maya mengacungkan jempolnya kearah Pak Hendra.