PUTRI CEO YANG CANTIK

PUTRI CEO YANG CANTIK
MURKA SEORANG KAKAK


__ADS_3

Setelah itu mereka memasuki mobil, dan membawa Heni ke Wijayahospital.


Didalam mobil Dimas menceritakan semuanya pada Dion. Dion yang mendengar semua cerita Dimas merasa emosi.


" Benar-benar kurang ajar si Maxime. Lalu apakah kejadian tadi mengurangi rasa cintamu pada Heni???.. " Dion menatap manik coklat milik Dimas.


" Tidak... Karena aku yakin Maxime brengsek belum melakukan hal-hal yang aneh. " Tegas Dimas.


" Kalaupun Maxime sudah melakukan itu, apa kau akan tetap mencintai adikku sepenuhnya...?? " Tanya Dion lagi.


" Aku bersumpah akan mencintai adikmu melebihi cintaku pada diriku sendiri. " Dimas menjawab dengan tegas.


" Baiklah... Tolong jaga adikku, sudah banyak penderitaan yang dialami Heni. Dan semua itu karena Maxime Alexander yang bodoh. " Dion benar-benar membara.


" Iya aku akan menjaga Heni, dia cinta pertama Dan terakhirku. " Jawab Dimas pasti.


Mobil memasuki parkiran rumah sakit Wijaya. Dimas langsung membopong tubuh Heni kedalam rumah sakit.


Dokter Han yang melihat kedatangan Dion langsung menyapa dan menyuruh beberapa perawat untuk membatu Dimas, memasukan Heni kedalam ruangan FIF.


" Dokter Han, lakukan yang terbaik untuk Heni. Dimas tolong kamu temani Heni, sebentar lagi mama sama papa juga datang. Aku ada urusan sebentar. " Pamit Dion.


" Kau ingin kemana Bro... ?? " Dimas berdiri di samping Dion.


" Aku ingin membunuh Maxime. " Jawab Dion dengan suara baritonnya.


" Tenangkan dirimu bro... Ingat kau akan menikah, Jangan melakukan apapun yang akan kamu sesali. " Sahut Dimas.


Dimas mencoba menenangkan Dion, Karena Dimas tidak ingin acara pernikahan Dion dan Rani sepupunya terkena masalah.


" Aku akan melakukannya dengan baik, tidak akan ada masalah. " Dion tetap pada pendiriannya.


" Baiklah... " Pasrah Dimas.


" Jika papa menanyakan keberadaan ku, katakan saja aku sedang melakukan tugasku sebagai seorang kakak. " Imbuh Dion dan langsung berlari keluar rumah sakit.


Dimas hanya mengangguk, sambil menepuk pundak Dion.


Setelah kepergian Dion, Dimas hanya bisa mondar-mandir didepan ruangan, karena dokter Han sedang meriksa keadaan Heni.


sepuluh menit berlalu dokter Han keluar dari ruangan itu dan menghampiri Dimas.


" Apa tuan Wijaya belum datang " Tanya dokter Han.

__ADS_1


" Belum, Bagaimana keadaan Heni....?? " Tanya Dimas dengan panik.


" Maaf, saya tidak bisa mengatakan kondisi pasien pada orang selain keluarganya. " Jelas Dokter Han.


" Apa kau bodoh, Aku ini calon suaminya. Bukan orang lain " Bentak Dimas.


Ditengah perdebatan merek, pak Hendra dan Bu Maya datang dan menghampiri Dimas yang sedang marah-marah.


" Ada apa Dimas ?? Kenapa kamu memarahi dokter Han ??? " Tanya Pak Hendra.


" Maaf tuan, ini salah saya.... Saya tidak memberitahu keadaan nona Heni, Karena saya mengira Dimas bukan pihak keluarganya. " Dokter Han menjelaskan semuanya.


" Dimas ini calon suami anakku Han.... Bersikaplah yang baik,,, Lalu bagaimana keadaan putriku sekarang?? " Tegas pak Hendra.


" Maafkan saya tuan, Saat ini nona Heni sedang ditangani oleh psikiater, karena trauma nona Heni satu tahun silam terulang lagi. " Jawab dokter Han.


" Baiklah Dokter Han, terima kasih... " Ucap Bu Maya ramah.


" Trauma satu tahun silam, apa maksudnya om, Tante. " Dimas bertanya dengan penuh kebingungan.


" Satu tahun yang lalu,,,,, " Bu Maya menjelaskan semuanya pada Dimas.


" Apa kamu akan tetap mencintai Heni, setelah kamu mengetahui semua ini...?? " Pak Hendra menyela pembicaraan Bu Maya.


" Baiklah, om harap kamu menjadi imam yang baik untuk Heni. " Sahut Pak Hendra.


" Om, Tante,,, Setelah mendengar cerita tentang Heni, Dimas ingin segera melangsungkan pernikahan kami. Itupun kalau om dan Tante tidak keberatan. " Dimas mengatakan rencana baiknya.


" Kalau Om, terserah Heni, karena dia yang menjalani. " Jawab Pak Hendra.


" Tante juga sama, tapi lebih cepat lebih baik nak... " Bu Maya tersenyum simpul ke arah suaminya.


" Baiklah Om, Tante.... " Dimas membalas senyuman Bu Maya.


" Oh iya nak, dimana Dion...?? " Tanya Bu Maya.


" Kata Dion, dia sedang melakukan tugasnya sebagai seorang kakak Tante... " Jawab Dimas.


Mendengar jawaban Dimas membuat hati Bu Maya gusar, Bu Maya sangat tahu sikap Dion yang keras dan penuh emosi.


" Pa,,, Bagaimana jika Dion juga mengulangi hal yang sama... Mama khawatir sekali, mama takut Dion tidak bisa menahan emosinya, dan berakhir di jeruji besi seperti dulu pa. " Gusar Bu Maya.


" Tidak perlu khawatir ma,,, Dion tahu apa yang harus dilakukan. " Pak Hendra mencoba menenangkan istrinya.

__ADS_1


Bu Maya meremas tangan suaminya...


Sementara itu Dion yang dibicarakan sudah sampai ke gedung eksekusi yang dimaksud Dimas. Dion langsung masuk kedalam gedung itu. Dion melihat banyak sekali bodyguard milik Dimas. dan beberapa penjaga milik Firman.


Tanpa basa-basi Dion langsung mendaratkan beberapa pukulan di badan Maxime, Badan yang sudah memar akibat pukulan Dimas.


" Kau masih berani menyakiti Heni, apa kau tidak kapok HAH.... " Bentak Dion.


" Aku tidak menyakitinya, Aku hanya mengungkapkan cintaku. " Bantah Maxime.


" Plak.... " Dion menampar keras pipi Maxime.


" Cinta kau bilang??? Itu bukan cinta tapi ambisi... Kau tidak rela kalau Heni bahagia dengan Dimas, karena kau tahu Dimas lebih berkelas daripada kamu. " Imbuh Dion.


Dion beralih ke arah asisten Willy, Dion juga mendaratkan tamparan ke wajah asisten Willy.


" Dan kau Willy, Kau itu temanku tapi kau berani menyakiti keluargaku. teman macam apa kau. " Marah Dion.


" Maaf Dion aku hanya menjalankan tugas. " Jawab asisten Willy.


" Cihhh.... Tugas macam apa, " Dion langsung menarik jas asisten Willy.


" Penjaga cek jas itu, disitu pasti ada kamera kecil, Biasanya asisten bodoh ini merekam semuanya sebagai alat bukti ke polisi. " Dion melempar jas itu ke salah satu penjaga.


Dan benar kata Dion, penjaga itu menemukan kamera kecil di saku baju itu, kamera yang canggih bisa tembus pandang meskipun dimasukkan kedalam saku baju atau celana.


" Benar tuan ada ini, " Ucap seorang penjaga.


" Hancurkan barang itu, supaya kita bebas dari jeratan hukum. " Titah Dion.


Asisten Rehan dan firman berterima kasih kepada Dion, Bisa-bisa mereka masuk penjara, kalau saja Dion tidak mengatakan tentang kamera itu.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Dion berpamitan, dan menyuruh bodyguard mengirim Maxime ke negara asalnya.


Setelah itu Dion pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan adiknya.


Dari sambungan telepon asisten Rehan menjelaskan semuanya pada Dimas, Karena Dimas menyuruh asisten Rehan mengawasi semuanya. Asisten Rehan juga menjelaskan tentang kamera itu, Dimas bersyukur karena Dion menyelamatkan semua orang dari polisi.


" Satu lagi tugas mu Rey, Beli apartemen yang kamu tinggali yang ternyata milik Maxime itu. Dan kelola apartemen itu, Anggap saja itu hadiah atas kerja kerasmu. " Titah Dimas.


" Yang benar kamu Dimas.... itu apartemen bintang lima. " Jawab Rehan.


" Iya Rey,,, Besok aku siapkan notaris dan pengacara. " Jawab Dimas dan langsung mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Dimas menceritakan semuanya pada Bu Maya dan Pak Hendra, supaya mereka tidak mencemaskan Dion. Bu Maya tersenyum bangga mendengar tindakan Dion putranya.


__ADS_2