
Semua mahasiswa memperhatikan Heni dan para bodyguard yang ditugaskan oleh pak Hendra Wijaya.
" huh... apa aku seorang artis yang harus dijaga ketat seperti ini " Heni bergumam sambil menatap tajam para bodyguard.
" Nona, Sesuai perintah tuan Hendra, setelah jam kuliah selesai nona harus langsung pulang. " ucap bodyguard itu dengan dingin.
" Saya mau ke toilet sebentar, kalian bisa tunggu di depan. " Ketus Heni.
" Baiklah nona, kami akan menunggu didepan toilet. " jawab ketua bodyguard.
" Hisssshh menyebalkan.... " Heni berlalu berjalan menuju toilet kampus.
Tanpa sepengetahuan bodyguard, Rani dan Dimas sudah berada di dalam toilet kampus.
" Sayang... aku sangat merindukanmu " Ucap dimas saat melihat kedatangan Heni.
" Aku juga sangat merindukanmu sayang " Heni langsung menghamburkan pelukannya.
" Hem Hem Hem... ingat disini ada orang " Rani mulai menggoda Heni dan Dimas.
Mendengar ucapan Rani, Heni langsung melepas pelukannya.
" Aku juga merindukanmu calon kakak ipar " Heni memeluk Rani.
" Aku juga adik ipar " Sahut Rani.
" Sayang... apa kamu yakin akan melakukan misi itu " Dimas memasang wajah khawatir.
" Misi ??? Misi apa kak Dimas ?? " Rani mulai kebingungan dengan kata-kata Dimas.
" Apa kak Dion sudah bercerita sayang ??!! " Heni memegang tangan kekasihnya.
" Iya... dan aku sangat khawatir. " Dimas mengelus pipi mulus Heni.
" Doakan saja sayang, semoga tidak terjadi apapun denganku. " Heni tersenyum manis ke arah Dimas.
" Apa kalian tidak akan menceritakan semuanya kepadaku ?? " Rani mengerucutkan bibirnya, merasa diabaikan.
" Nanti tanya saja sama kekasihmu " Ketus Dimas.
__ADS_1
" Haissshh menyebalkan " Gumam Rani.
Heni dan Dimas hanya tertawa kecil melihat tingkah Rani, namun tawa itu tiba-tiba hilang, saat suara ketukan pintu terdengar.
Tok Tok Tok....
" Non Heni... apa masih lama, tuan Hendra sudah menelfon " Teriak seorang bodyguard dibalik pintu toilet.
" Sayang aku pulang duluan ya, Rani aku duluan ya " Pamit Heni dan langsung keluar dari toilet kampus.
" Tunggu sayang, ini ponsel untukmu, aku tidak bisa hidup tanpa kabar darimu " Dimas mengeluarkan box handphone dari tasnya.
" Wah.. Makasih sayang " Heni mengambil ponsel pemberian Dimas.
" Sama-sama sayang " Dimas mencubit hidung Heni.
" Awww sakit sayang, Baiklah aku pulang duluan bye... " Heni keluar dari toilet.
Dimas hanya terkekeh menatap punggung Heni yang menjauh.
" Kak, aku juga mau ponsel baru " Rani mulai merengek seperti anak kecil.
" Dasar, nanti aku belikan saat hari wisuda " Dimas berlalu meninggalkan Rani sendirian di toilet.
Dimas mulai menaiki mobilnya, dan Rani duduk disampingnya. Mobil mereka melaju dengan kecepatan tinggi.
" Kak... Aku ikut ke apartemen kakak saja " Ucap Rani sambil mengeraskan volume musik didalam mobil.
" Aku sama mama sudah pindah, ke rumah baru. " Dimas fokus menyetir.
" Baiklah... aku ikut ke rumah baru " Jawab Rani bersemangat.
" Baiklah... " Jawab Dimas.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, mobil Dimas memasuki Mansion baru milik Dimas.
" Wah... ini bukan rumah kak, ini Mansion, ternyata sepupu dinginku sekarang kaya raya " Rani menatap takjub mansion milik Dimas.
" Sudah cepat ayo masuk, " Dimas memasuki mansion.
__ADS_1
Namun langkah Dimas terhenti saat melihat mobil yang tidak asing terparkir di luar mansion.
" Untuk apa laki-laki pengecut itu kesini " gumam Dimas Menatap tajam ke arah pintu mansion.
" Assalamu'alaikum Tante Nana ... " Rani mencium punggung tangan Bu Nana.
" Waalaikumsalam nak, " Jawab Bu Nana.
" Assalamu'alaikum om Alex " Rani bergantian mencium tangan mantan suami tantenya.
" Waalaikumsalam, Rani lama banget kita enggak pernah ketemu " Sapa Alex namun hanya dibalas senyuman oleh Rani.
" Untuk apa anda kesini tuan Alex Nugraha " Suara Dimas menggelegar memenuhi ruangan.
" Papa ingin meminta maaf nak... " Pak Alex mulai mendekati anaknya.
" Sudah terlambat tuan, Apa surat perceraian itu kurang jelas " Tegas Dimas.
" Papa dan mama masih bisa rujuk nak, mamamu juga sudah memaafkan papa " Alex duduk di sebelah mantan istrinya.
" Ha-ha-ha... jangan pernah mimpi tuan Alex. Mungkin mama memaafkan anda, tapi belum tentu mama mau rujuk dengan anda " Dimas menarik tangan Bu Nana.
" Dimas benar, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu, tapi aku tidak bisa kembali kepada seseorang yang tidak pernah mempercayaiku. " Bu Nana mulai angkat bicara.
" Tapi na... aku ingin memulai semua dari awal, tolong beri aku kesempatan ke-dua."
" Kesempatan... aku bahkan sudah memberikan banyak kesempatan untukmu. tapi kau menyia-nyiakan itu. " Tegas Bu Nana.
" apa sudah jelas tuan Alex ?? Pintu keluarnya ada disana " Dimas menatap jijik kepada ayahnya.
" Baiklah na, maaf darimu sudah cukup, dan untuk hubungan Dimas dengan anak Hendra, aku akan memperjuangkan itu " Ucap Alex Nugraha.
" Sejak kapan anda peduli dengan saya. tidak usah repot-repot, saya sendiri yang akan memperjuangkan cinta saya, karena saya bukan pengecut Sepertimu " Dimas berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Seperti mendapat tamparan keras, Alex Nugraha langsung keluar dari mansion milik anaknya.
" Aku memang sangat menjanjikan, bahkan anak kandungku sangat membenciku, " Gumam Alex dan langsung memasuki mobilnya.
" Jalan pak... " titah Alex pada sang supir.
__ADS_1
" Baik tuan... "
Supir menjalankan mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang.