
" Kenapa Heni harus di infus kak ?? dan kenapa banyak tenaga medis dikamar ku ? " Tanya Heni sambil memperhatikan beberapa perawat.
" Kamu lagi sakit dek, Lihat wajah kamu aja pucat. " Jawab Dion dengan senyum.
" Tapi kak... " Heni mendengus kesal.
" Dokter Han, Tolong tinggalkan kami berdua " Perintah Dion kepada dokter Han.
" Baik tuan muda " Ucap Dokter Han, dan mengajak beberapa perawat keluar dari kamar Heni.
Setelah Dokter Han dan perawat keluar kamar Heni, Dion langsung mengunci pintu kamar Heni.
" Dek, tolong kali ini kamu ikuti drama kakak " Dion berjalan ke arah Heni.
" Maksud kakak apa ?? " Tanya Heni dengan wajah bingung.
" Apa kakak tahu, tentang semua drama ku dan mama, tapi mama kan ga pernah ngasih tau kak Dion !! " ~Batin Heni.
" Iya drama dek, kakak sudah memikirkan semuanya, dan kakak yakin cepat atau lambat papa pasti akan merestui hubungan kalian " Sahut Dion.
" Maksud kak Dion apa ?? Heni bingung kak. " Sahut Heni.
" Dengarkan kakak, kamu dan Dimas tidak akan mendapatkan restu dari papa, jadi kita harus membuat drama untuk meyakinkan singa garong itu " Ucap Dion sambil terkekeh geli.
" Singa garong ?? Maksud kak Dion papa ?? " Heni menaikan nada bicaranya sedikit keras.
" Husssttt jangan keras-keras dek, atau Singa garong akan mendengar pembicaraan kita, " Dion membungkam mulut Heni.
" Jawab dulu kak, siapa yang kak Dion maksud ?? " Tanya Heni pelan.
" Iya papa, papa kalau marah seperti singa garong kan " Jawab Dion sambil cekikikan.
" Dasar kakak ga ada akhlak, Lalu apa rencana kakak ?? " Sahut Heni sambil ikut cekikikan.
" Kamu jangan mau makan apapun dari para pelayan, kamu harus bikin papa khawatir, Bagaimana ide kakak sangat bagus kan ?? " Dion mulai menjelaskan semua rencananya.
" Apa kak Dion sudah gila !! Kenapa ide kakak sangat konyol, Kalau aku tidak makan apapun pasti aku mati kak " Jawab Heni sambil memanyunkan bibirnya.
" Hahahaha Kenapa adik kakak jadi bodoh gini sih " Dion mengacak rambut Heni.
__ADS_1
" Haissshh rambutku rusak kak " Heni mendengus kesal.
" Maksud kakak, kamu jangan makan makanan dari pelayan, tapi makan makanan dari kakak " Sahut Dion.
" Sudahlah kak, ide kakak sangat konyol, biar aku aja yang cari ide " Sahut Heni.
Heni mulai memutar otaknya, mencari ide untuk meluluhkan hati sang papanya, Dion hanya diam memperhatikan wajah adiknya.
" Apa aku pura-pura bunuh diri aja ya kak ?? " Heni mulai memberikan idenya.
" Apa bunuh diri ???? " Dion melongo mendengar ucapan adiknya.
" Pura-pura kak,, bukan bunuh diri beneran " Sahut Heni.
" Bagaimana caranya dek ??? " Dion menggenggam tangan Heni.
" Sini kak " Heni mulai membisikkan rencananya ke telinga Dion.
" Ide yang sangat bagus dek, kakak akan mengatur semuanya. " Dion mencubit hidung Heni.
" Awww sakit kak " Pekik Heni yang membuat Dion terkekeh.
" Mungkin mama lagi berusaha membujuk papa dek, tapi kakak yakin mama pasti tidak berhasil. " jawab Dion.
" Kali ini aku juga meragukan kemampuan mama kak " Heni tersenyum kecut.
" Sudahlah dek, apa kamu tidak ingin menghubungi Dimas ? Dari tadi dia menanyakan keadaanmu " Dion mengalihkan perhatian Heni.
" Oh iya kak, kasihan kak Dimas, pasti dia kepikiran denganku " Heni mulai mencari ponselnya diatas meja namun tidak menemukannya.
" Kamu cari apa dek ?? " Dion memperhatikan wajah bingung Heni.
" Ponsel kak, perasaan tadi aku taruh di atas meja kak, apa kakak melihatnya?? "
" Oh ponselmu, tadi dibawa sama singa garong dek " Jawab Dion dengan entengnya.
" Ngapain papa bawa ponselku kak ?? "
" Ya di rampas lah dek, ini pakai ponselku aja. " Dion menyodorkan ponselnya.
__ADS_1
" Kenapa papa sangat membenci Dimas, Padahal kak Dimas kan engga bersalah " ~Batin Heni.
Heni mengambil ponsel Dion dan langsung menelpon Dimas.
{ Halo bro, kenapa kamu tidak mengabari aku sih, dari tadi aku menunggu telfon mu } Suara Dimas di sebrang telfon.
" Rupanya kak Dimas sangat mencintaiku, dia sangat mengkhawatirkan keadaanku, semoga papa cepat memberikan restunya. " ~Batin Heni sambil tersenyum sendiri.
Dion yang melihat adiknya melamun langsung menarik ponselnya dari tangan Heni.
" iih kak Dion bawa sini ponselnya, " Heni terus berusaha merebut ponsel dari tangan dion.
" Makanya bicara jangan melamun sendiri. " Ketus Dion, sambil menekan tombol speaker.
{ Halo, Dion ayo jawab pertanyaan ku, bagaimana keadaan kekasih ku }
Dimas terus mengajukan pertanyaan membuat Heni dan Dion tertawa bersama.
" Halo sayang, aku baik-baik saja " Jawab Heni.
{ Kenapa kalian malah tertawa, aku disini sangat menghawatirkan keadaanmu sayang } Sahut Dimas diseberang telfon.
" Habisnya kamu lucu, banyak sekali pertanyaan, Aku baik-baik saja " sahut Heni.
{ Ya namanya khawatir }
Heni dan Dimas terus berbincang di telfon, sedangkan Dion beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Heni, dan melihat mamanya sedang duduk di depan kamar.
" Mama, kenapa mama tidak mengetok pintunya ?? " Dion duduk disebelah Bu maya.
" Hiks Hiks Hiks.... Dion maafkan mama, kali ini mama tidak bisa membantu kalian " Bu Maya memeluk Dion.
" Sudahlah ma, mama jangan nangis lagi, Dion yakin papa pasti akan merestui hubungan Heni dan Dimas " Dion mengelus punggung mamanya.
" Semoga saja nak " Sahut Bu Maya.
Tanpa mereka sadari, ternyata pak Hendra memperhatikan dari kejauhan....
" Semoga kalian mengerti dengan semua keputusan ku, " ~Batin pak Hendra.
__ADS_1