
" MAXIME BERULAH LAGI " Batin asisten Rehan.
Dimas langsung mengetuk pintu itu dengan keras dan penuh emosi.
" Tok Tok Tok...... Maxime brengsek keluar kau... MAXIME... " Teriak Dimas dari luar.
Mendengar kerusuhan dari luar asisten Willy langsung membuka pintu apartemen milik Maxime.
" Dimas Nugraha.... Bagaimana mungkin secepat ini dia sampai sini. " Asisten Willy terus bermonolog di dalam hati.
" Siapa kau... Dimana Heni kekasihku. " Dimas langsung mendorong tubuh asisten Willy sampai tersungkur ke lantai.
Asisten Rehan mengikuti Dimas dari belakang, diikuti dengan rombongan bodyguard.
Saat Dimas ingin memasuki kamar Maxime, ada tiga pengawal Maxime yang mencoba menghalanginya.
" Rey... Urus mereka. " Titah Dimas.
Mendengar perintah dari bos mereka, para bodyguard langsung memukuli para pengawal Maxime. Dimas dan asisten Rehan langsung mendobrak pintu kamar Maxime.
Dimas sangat marah saat melihat Heni yang menangis sambil memegang vas bunga, dan kancing baju Heni terlepas. Sedangkan Maxime mencoba untuk meraih tubuh Heni.
" MAXIME APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP " Marah Dimas langsung memukul pundak Maxime.
Betapa terkejutnya Maxime melihat kedatangan Dimas. Maxime mencoba melawan Dimas dia juga memukul Dimas. Asisten Rehan tidak tinggal diam, dia juga ingin menghajar Maxime, namun dicegah oleh Dimas.
" Biar aku saja yang menghabisi nyawa manusia brengsek ini Rey. " Teriak Dimas.
__ADS_1
Asisten Rehan mengikuti perintah Dimas, asisten Rehan langsung menoleh kearah Heni. Heni yang melihat tatapan asisten Rehan langsung membenarkan kancing bajunya. Dan menangis sejadinya didalam selimut.
Dimas terus memukul Maxime, sampai Maxime tidak sadarkan diri.
" Bawa mereka semua ke gudang eksekusi Rey... " Perintah Dimas.
" Baik bos... " Jawab asisten Rehan membopong tubuh Maxime dibantu seorang bodyguard.
Dimas menghampiri Heni yang sedang menangis terisak.
" Sayang.... Semua sudah aman. " Dimas membuka selimut Heni.
" Aku kotor sayang... aku kotor " Cicit Heni sambil memukul-mukul dadanya sendiri.
" Sudah sayang... Lupakan itu, Kamu masih Heni yang sama. Heni yang aku cintai. " Tegas Dimas dan langsung memeluk tubuh Heni.
" Tapi aku kotor sayang... " Ucap Heni lemas dan langsung tidak sadarkan diri.
" Tuan,,, Ada apa dengan nona Heni. " Tanya seorang bodyguard.
" Cepat siapkan mobil, Kita ke RS wijaya sekarang. " Titah Dimas.
Para bodyguard langsung turun ke lantai bawah dan menyiapkan mobil, sesuai perintah Dimas.
Tubuh Dimas yang kekar tinggi, tidak kesulitan membopong tubuh Heni sendirian. Saat Dimas ingin memasuki lift yang terbuka, Dimas melihat Dion yang keluar dari lift itu.
" Dion bagaimana kamu bisa ada disini. " Sapa Dimas.
__ADS_1
Pandangan Dion langsung tertuju pada Heni adiknya, yang sedang lemas ditangan Dimas.
" Ada apa dengan adikku Dimas... Heni bangun Henn.... apa yang kau lakukan, kenapa Heni seperti ini. " Dion benar-benar cemas dengan kondisi Heni.
" Nanti aku ceritakan, kita harus bawa Heni ke rumah sakit sekarang juga. " Sahut Dimas.
Keduanya langsung memasuki lift itu. Nasih banyak pertanyaan di benak Dion. yang belum mendapatkan jawaban dari Dimas.
" Kenapa kamu bisa ada disini juga bro. " Dimas mengulang pertanyaannya.
" Tadi Heni sharelock, Seperti biasa saat feeling Heni tidak enak dia selalu membagikan lokasi ponselnya kepadaku. tapi tadi aku sangat sibuk, dan baru melihat pesannya. Dan aku langsung kesini.... Sebenarnya ini ada apa Dimas?? " Tanya Dion.
" Ini perbuatan Maxime.... Aku akan menceritakan semuanya didalam mobil. " Jawab Dimas.
" Maxime lagi.... " Dion mengepalkan tangannya, dan memukulkan ke arah tembok lift.
" Tahan emosimu Dion, aku sudah memberikan pelajaran pada Maxime. " Ujar Dimas.
" Dimana dia sekarang ?? " Sahut Dion.
" Dia sedang berada di gudang eksekusi milik paman Firman.
Mendengar penjelasan dari Dimas, Dion langsung merogoh ponselnya dikantong. dan menelfon seseorang.
" Paman,,,, Jangan lakukan apapun pada Maxime. Biar aku sendiri yang memberinya pelajaran. " Ucap Dion dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
" Terimakasih Dimas, kau sudah datang tepat waktu untuk Heni. " Dion menepuk pundak Dimas.
__ADS_1
" Maafkan aku lalai menjaga adikmu. " Sahut Dimas.
Setelah itu mereka memasuki mobil, dan membawa Heni ke Wijayahospital.