
King menghela nafasnya dalam, langit sudah menggelap dan King masih diam di balkon rumahnya. Sudah genap dua minggu sejak tantangan itu dibuat, namun King masih belum juga berhasil membuat Queen luluh.
Semangat yang dulu tercipta kini hilang kembali, mendekati Queen melalui keluarganya memanglah berhasil, namun King tidak merasa puas karena Queen masih cukup menjaga jarak padanya. "Benar-benar hati sekeras batu," gumam King. "Apa dia masih menanti si rambut pirang itu?" ejek King pada Arthur, pria yang disukai Queen sedari dulu.
Sedang asik merenungi nasibnya, suara panggilan Kimberly membuat King semakin berdecak kesal. "Ada apa Mom? aku sedang tidak ingin diganggu," protes King tanpa menoleh ke arah Kimberly yang kini tengah berjalan ke arahnya.
"Astaga King, kau belum bersiap?" tanya Kimberly marah, dia menggelengkan kepalanya tidak percaya sambil menatap jam cantik yang melingkar di tangannya. "Masih ada waktu 20 menit, cepatlah bersiap King!"
__ADS_1
Kedua alis King bertaut, dia menoleh ke arah Kimberly dengan tatapan bingung. "Bersiap? memang kita mau ke mana Mom?" tanya King lalu sebuah ingatan muncul di kepalanya tepat saat Kimberly sudah membuka mulut dan bersiap akan memakinya. "Aku benar-benar lupa Mom! aku akan bersiap sekarang!" pekik King sambil langsung berlari ke arah kamarnya, dia benar-benar tidak ingat jika Pamannya mengadakan perta ulang tahun pernikahan malam ini.
King dengan cepat mengganti pakaiannya dengan kemeja lalu mengambil jas yang dia gunakan secara asal. "Mengapa tidak boleh mengenakan kaos pada acara seperti itu!" gerutu King sambil merapikan kemeja yang sebelumnya berantakan kini jauh lebih rapi. King merapikan rambutnya dengan sisir lalu mengacaknya pelan agar tidak terlihat terlalu formal dan membosankan. "Oke, cukup sepuluh menit kau sudah menjadi seorang pria tampan King," ucapnya sambil menatap bayangan dirinya di dalam cermin dengan puas.
Setelah merasa cukup dan tidak ada yang terlewat King kembali ke luar kamar dan menemui kedua orangtuanya yang tampak begitu serasi. "King?" tanya Adam bingung lalu menoleh ke arah Kimberly. "Bukankah kata mu King akan sedikit telat sayang?"
"Entahlah, yang tadi aku lihat seperti itu sayang," jawab Kimberly. "King, bersikap baik selama acara di mulai oke? jangan pernah menggoda sepupu mu lagi hingga menangis." Kedua mata Kimberly menatap King dengan tatapan memperingati.
__ADS_1
Selama di perjalanan King hanya sibuk pada ponselnya, berdiskusi dengan Sam untuk cara yang lebih mainstream agar hati Queen luluh.
"King, simpan ponsel mu, kita sudah sampai."
"Jangan terlalu keras pada anak kita sayang, dia mungkin lelah pada tugas kuliahnya," ucap Adam yang cukup membuat King lega karena itu artinya masih ada yang cukup pengertian padanya.
"Mungkin dia lelah karena masalah yang sedang dia buat sendiri sayang, aku ibunya dan aku tahu mengapa dia bersikap seperti ini," jawab Kimberly cukup menyebalkan di telinga King.
__ADS_1
Saat King merasa acara malam ini akan terasa begitu membosankan, mata King tak sengaja melihat Queen yang baru saja turun dari mobil. Dia mengenakan gaun berwarna gelap yang begitu indah, seketika semangatnya pun muncul. "Apa keluarga Matthew pun di undang?" tanya King.
"Tentu saja sayang, dia kenal baik dengan Wil," jawab Adam lembut.