Queen For The King

Queen For The King
50. Membatalkan Taruhan


__ADS_3

Acara berjalan dengan cukup meriah dan seperti biasa Queen dan King berhasil kembali mendapatkan predikat terpopuler di kampus mereka. Selama acara berlangsung King tak pernah meninggalkan Queen sendirian, dia terus mengikuti kemana pun Queen pergi, dalam hati King masih terasa mengganjal dan ingin segera menemui Ace. Setelah mengantarkan Queen kembali ke rumahnya, King langsung mengendarai mobilnya menuju sebuah café yang sudah dia janjikan melalui pesan singkatnya kepada Ace, untungnya Ace mau menemui King dan tidak mempersulit keadaan King.


King berjalan masuk ke dalam cefe, mencari Ace yang sepertinya sudah terlebih dahulu sampai. “Jadi ada apa King? Kau ingin memperjelas kemenangan mu bukan?” kekeh Ace yang terlihat tampak tenang, tidak merasa kesal sedikit pun atas kekalahannya. “Aku sudah mengurus surat kepindahan ku, besok aku sudah memiliki kampus baru yang sepertinya lebih menyenangkan.”


Dengan penuh kebingugan King hanya bisa mengepalkan tangannya kuat, dia kemudian menggelengkan kepalanya. “Tidak, lupakan saja taruhan ini, kembali saja ke kampus. Aku tidak sepenuhnya serius dengan taruhan yang kita buat,” ucap King pada akhirnya.

__ADS_1


Ace terlihat membuka mulutnya tak percaya, lalu kemudian dia tertawa kecil. “Wow, ada apa ini? Kau ingin aku menjadi orang yang terlihat lemah karena terkalah kan oleh mu?” tanya Ace dengan raut wajah seakan mengejek. “Aku tidak bisa tetap di kampus ini jika aku tidak menjadi yang popular.”


Benar*benar menyebalkan bukan? King berniat untuk berdamai namun Ace seakan berpikir jika ini adalah penghinaan untuknya. “Tidak, aku benar*benar mencintai Queen, aku ingin melupakan taruhan itu,” jawab King yang mulai kesal, mengapa susah sekali Ace mengatakan iya lalu berterima kasih pada King. Oh, tidak mungkin pria seperti Ace mengucapkan kata terima kasih.


King berdecak pelan, harus berapa kali dia katakan jika Ace benar*benar menyebalkan, dia terus mengatakan taruhan dan bahan taruhan yang membuat telinga King sakit. “Queen bukan bahan taruhan, dia teman masa kecil ku. Sudahlah, aku tidak ingin berbicara dengan mu lagi, aku tegaskan pada mu sekali lagi jika aku membatalkan taruhan ini, tidak perlu keluar dari kampus.” Setelah selesai mengucapkan kalimat penegasan itu King pun berdiri, namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Ace.

__ADS_1


“Aku akan tetap keluar, aku tidak pernah menarik janji ku sendiri. Aku tidak sepengecut itu King, semoga aku bertemu dengan orang seperti mu lagi di kampus baru, dan yang pasti kali ini aku yang harus memenangkan taruhan,” ucap Ace dengan begitu santai seakan memiliki kampus baru sudah biasa baginya.


King menggelengkan kepalanya pelan menatap Ace yang kini sedang meminum kopi dingin miliknya sendiri, bingung mengapa ada manusia seperti Ace di dunia ini. “Aku baru sadar jika kau benar*benar gila Ace. Semoga kau menemukan cinta mu sendiri, berhentilah mengajak seseorang yang baru kau kenal untuk bertaruh.”


“Tidak, aku tidak ingin cerita membosankan seperti itu King, aku menyukai setiap tantangan seperti ini dan aku menyukai kemenangan,” jawab Ace sambil mengangkat sebelah alisnya. King hanya bisa kembali menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Ace, dia harus kembali fokus pada Queen dan mengungkapkan perasaannya sendiri yang sudah sangat jelas ini. Dia mencintai Queen dan dia baru benar*benar mencintai seseorang seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2