Queen For The King

Queen For The King
67. Kecewa


__ADS_3

Sesampainya di Cafe yang sudah mereka janjikan, Queen masuk dengan perlahan dan benar saja Arthur sudah menunggunya di sana. Pria itu tampan seperti biasa, terlihat segar dan jujur saja Queen cukup merindukan sahabatnya itu sekarang. Terkadang Queen berpikir mengapa dia tidak tetap mencintai Arthur dan tidak membuka hatinya pada King, mungkin saat ini Queen sedang merasakan perasaan luar biasa senang alih-alih merasakan sakit hati dan hampa seperti itu. "Arthur," panggil Queen membuat pria yang sedang sibuk dengan ponselnya menoleh dan tersenyum.


"Queen, astaga kau semakin cantik saja," ucap Arthur seperti biasa, dia selalu memujinya dan membuat Queen selalu salah paham. Mungkin memang karakter Arthur yang selalu memuji setiap orang, karena tidak pernah sedikit pun Arthur menunjukkan ketertarikannya pada Queen.


"Dan kali ini siapa kekasih mu Arthur?" tanya Queen sambil tertawa kecil. Dia duduk di kursi yang ada dihadapan Arthur, di atas meja sudah terdapat 2 gelas yang di mana kini Queen menatap minuman yang biasa dia sering pesan dulu. "Kau masih mengingat pesanan ku rupanya," kekeh Queen.


Arthur tampak bersemangat mendengar pertanyaan Queen, dia menunjukkan layar ponselnya dengan cepat. "Davika, dia model. Sangat cantik bukan? aku sangat sulit mendapatkannya Queen, aku pikir aku hanya akan menjadi penggemar seperti pria lainnya, tapi ternyata dewi keberuntungan ada di pihak ku," kekeh Arthur.

__ADS_1


Queen menganggukkan kepalanya pelan, jujur saja wanita yang ada dilayar itu sangat cantik, tubuh ramping dan sangat tinggi bahkan hampir setinggi Arthur. "Ya, dia sangat cantik, kau akan mengenalkannya pada ku?"


"Tentu saja, 3 hari lagi dia akan ke sini, aku akan menjemputnya di Bandara. Aku benar-benar serius pada Davika, aku akan mengenalkannya pada keluarga besar ku di sini, rencananya setelah aku selesai Kuliah aku dan Davika akan bertunangan. Walaupun dia lebih tua dari ku tapi dia tidak pernah menganggap ku sebagai anak kecil, dia tetap manja pada ku dan membuat ku merasa seperti lebih tua darinya," ucap Arthur tampak begitu senang menceritakannya.


Queen tersenyum mendengar itu. "Aku senang mendengarnya, aku tidak sabar melihat Davika secara langsung."


Dengan malas dan ragu Queen menganggukan kepalanya. "Tapi sepertinya sudah putus, dia hanya mendekati ku karena taruhan bersama temannya."

__ADS_1


"Sialan, siapa pria itu Queen? rasanya aku ingin menghajar pria bodoh itu," pekik Arthur marah.


Queen menahan Arthur agar amarahnya tidak terlalu tinggi, lagi pula mereka ada di tempat ramai sekarang, sangat mengganggu kenyamanan sekitar jika Arthur terus berteriak kencang seperti itu. "Kau tidak akan menyangka siapa orangnya, bodohnya aku sudah benar-benar mencintai pria itu," gerutu Queen pelan pada dirinya sendiri.


"Siapa orangnya? Apa aku mengenalnya?" tanya Arthur penasaran.


Queen mengangguk dengan cepat. "Kau sangat mengenalnya."

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, King yang baru saja masuk ke dalam cafe dengan buket di tangannya langsung terdiam membeku di dekat pintu. King baru saja merasa senang karena Arabella mengatakan Queen sedang bertemu temannya di cafe ini, King sudah berpikir akan bisa dengan mudah bertemu dengan Queen dan mulai berbicara padanya kembali. Namun, kini yang dia lihat adalah sebuah kekecewaan, Arthur, pria yang dicintai Queen sedari dulu sudah kembali, mereka tampak berbincang dengan nyaman. "Ini sudah benar-benar berakhir," gumam King pelan lalu berbalik dan berhenti sejenak melihat buket yang dia bawa, tanpa pikir panjang King langsung membuang buket tersebut ke dalam tong sampah.


__ADS_2