Queen For The King

Queen For The King
42. Perasaan Aneh


__ADS_3

Sudah satu jam lebih King di sini, dia ingin lebih lama dan jika bisa dia tidak keberatan untuk ikut menjaga James. King selama ini tidak pernah merasakan kasih sayang seorang nenek atau pun kakek, dia hanya mendapatkan kasih sayang tersebut dari sosok James yang tidak pernah membedakan dirinya dan Queen, kasih sayangnya begitu tulus dan membuat King mencintai James sepenuhnya. King sudah menganggap James adalah bagian dari keluarganya sendiri. Pandangan King lagi-lagi tertuju pada Queen yang sedang berada di samping ranjang, rambut panjangnya yang indah membuat King seakan melihat seorang wanita yang begitu cantik dengan raut wajah sedih. “Kakek tidak apa-apa sayang, bukan kah kau akan pergi?” tanya James yang masih terbaring di ranjang rumah sakit, tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya.


Queen menggelengkan kepalanya dengan pelan, dia meraih tangan James dan mengusapnya lembut. “Bagaimana bisa aku pergi dan meninggalkan mu Kakek,” jawab Queen lembut, sekali lagi dia mengusap pelan air mata yang masih menetes di pipinya, rasanya dia baru saja bangun dari mimpi buruk, dia benar-benar tidak siap jika harus berpisah dengan James.


“Kedua cucu ku sudah dewasa, kalian jangan menangis lagi ya, kakek merasa bersalah jika melihat kalian seperti ini.” James mengusap kepala Ernest dan Queen sambil menatap keduanya sendu, bagaimana jika hari ini dia benar-benar tiada, tidak bisa membayangkan sedihnya kedua cucu yang ada dihadapannya kini.

__ADS_1


“King, ayo kita pulang,” bisik Kimberly membuat fokus King langsung buyar dan menoleh kearah Adam yang sedang berjabatan tangan untuk pamit pulang pada Axton dan Arabella. Tiba juga perpisahan ini ternyata, Arabella terlihat mengalihkan pandangannya kearah ranjang.


“Queen, antarkan King dulu sampai—“


“Oh tidak perlu Bella, kami sendiri saja, besok aku akan menjenguk lagi Daddy mu,” tolak Kimberly dengan halus.

__ADS_1


“Mengapa kau menghindari ku?” pertanyaan yang dilontarkan Queen membuat King langsung menoleh dan menatap bingung karena Queen tidak seperti biasanya yang selalu mengacuhkan King.


“Tidak,” jawab King dengan cepat.


Queen tidak menunjukkan sisi seorang musuh dihadapan King, dia tampak ragu-ragu namun cukup berani dengan membuat perbincangan lebih awal. “Terima kasih sudah menenangkan aku tadi dan aku minta maaf sudah menolak mu di depan umum, tapi kau tidak perlu menghindari aku seperti ini, aku tahu kau hanya bercanda dan aku cukup bingung dengan cara menghilang mu yang—”

__ADS_1


“Aku tidak bercanda Queen,” ucap King dengan nada serius. “Tapi yang terpenting sekarang adalah kau harus menepati janji mu untuk tidak menangis lagi, aku tahu? Kau jelek jika sedang menangis seperti itu,” lanjut King dengan tawa kecil di ujung ucapannya.


Queen tak bisa berkata, dia langsung terdiam dengan ucapan King yang baru saja jujur jika pernyataan cintanya bukanlah sesuatu yang bercanda. Jantung Queen tiba-tiba berdetak dengan kencang, rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. “Queen sampai sini saja sayang, kami harus menemui teman yang ternyata dirawat di sini juga,” ucap Kimberly dengan begitu lembut sambil memeluk Queen yang masih terdiam karena reaksi jantungnya yang belum netral kembali. “King, ayo kita temui Mr. Ryder,” ajak Kimberly kemudian. King mengangguk dan mulai membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan Queen seorang diri.


__ADS_2