
Sudah beberapa hari ini dia tidak bersemangat, tidak berlatih basket lagi dan mulai putus asa bersama Sam untuk menemukan kampus baru yang akan dia tempati nanti. “Kau sudah menemukan yang cocok?” tanya King tanpa menoleh ke arah Sam yang tengah sibuk dengan beberapa website kampus terbaik di kota ini. Tidak mendengar jawaban dari Sam, King pun menolehkan kepalanya dan melihat Sam yang tengah fokus pada laptopnya. “Kau mendengarkan aku Sam? Kau sedang mencarikan aku kampus baru bukan? Awas saja jika kau sedang melihat akun wanita cantik,” gerutu King sambil berdiri dan menghampiri Sam yang tidak berbicara sedikit pun.
Sesampainya di samping Sam, King tidak lagi banyak bicara, Sam rupanya sedang melakukan tugasnya dengan benar. “Bisakah kau diam sebentar saja King? Aku bingung dengan kampus seperti apa yang kau harapkan, aku sudah memilih beberapa dan kau menolak semuanya, sekalian saja kau pindah ke Amerika King!” pekik Sam kesal. Dengan sorot mata yang melirik tak senang Sam sedikit berdecak dan menaruh dagu di atas telapak tangan yang sedang menopang di atas meja. “Lagi pula aku sedikit bingung pada mu King, tidak biasanya kau menyerah secepat ini, kau baru saja menyatakan perasaan sekali dan penolakan di awal bukannya cukup biasa? Kita bisa mencoba cara baru King, jangan biarkan Ace memenangkan semua ini, aku pun tidak akan memiliki teman jika kau benar-benar pergi King,” ucap Sam dengan nada melemah di akhir ucapannya.
King menarik nafasnya dalam, bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Sam. Sambil menggaruk tekuknya yang tidak gatal King duduk di samping Sam. “Begini Sam, aku mengenal Queen sedari kecil, dia sangat sulit di taklukan dan aku sudah banyak membuatnya kesal, tak ada kesempatan untuk aku memang dan melihat Ace sudah melangkah sangat jauh membuat ku yakin jika aku akan kalah.”
__ADS_1
“Kau mengakui kalah sebelum ending King? Lihatlah diri mu, sekarang begitu lemah dan kehilangan kepercayaan dirinya,” gumam Sam pelan.
“Bukan seperti itu!” King berdecak kasar, melibatkan perasaan terlalu jauh adalah hal yang tidak baik untuk King, keluarga mereka cukup dekat dan jika sampai Queen tahu ini semua hanya sekedar taruhan membuat perasaan King merasa tidak enak dan terlalu keterlaluan, ditambah selalu ada perasaan aneh jika dia berada di samping Queen. “Penolakan Queen melukai harga diri ku Sam! Jika aku mencobanya lagi dan dia kembali menolak itu sama saja mencoreng nama baik ku,” jawab King tak sepenuhnya berbohong.
“Kau!” pekik King kencang, dia menatap wajah Sam tidak percaya. “Siapa yang berkata jika pesona ku telah memudar? Dia meragukan ketampanan ku?” tanya King tak terima.
__ADS_1
Sam hanya mengangkat bahunya acuh lalu. “Kau sendiri yang menunjukkannya pada ku jika ketampanan mu telah memudar King, kau tidak bisa menaklukan wanita seperti Queen.”
“Queen berbeda, dia berhati batu, hanya akan menciptakan kekesalan jika aku berada di dekatnya,” jawab King dengan cepat.
Sam menoleh dengan tatapan malas. “Tapi aku sangat yakin Queen itu mudah di taklukan jika kau sudah bisa mengambil hatinya, kau harus membuatnya benar-benar terkesan.” Sam kembali mengangkat bahunya. “Tapi kau selalu membuatnya payah. Jadi ayo kita mencari kampus baru untuk mu, aku menjadi sangat yakin jika kau akan kalah,” gumam Sam membuat King meringis pelan.
__ADS_1