
Queen baru saja keluar dari aula, pandangannya masih fokus pada kertas naskah yang ada di tangannya, menjadi pemeran utama sungguh*sungguh melelahkan karena begitu banyaknya dialog yang harus dia hafal. “Queen,” panggilan itu membuat langkah Queen terhenti, dia menoleh dan melihat King sedang bersandar di tembok samping pintu Aula.
“Kau? Sejak kapan di sana?” tanya Queen terkejut, King menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak ingin berbasa basi untuk sekarang, King ingin mengatakan pada Queen jika Ace memiliki niat buruk padanya. Namun disatu sisi King bimbang apakah harus dia bongkar masalah taruhan diantara dirinya dan Ace? “Zack, ada apa?” tanya Queen sekali lagi membuat King tersadar dari lamunannya.
“Oh, tidak, aku hanya ingin menanyakan keadaan kakek James, apakah sudah pulang?” tanya King yang mulai ragu jika Queen akan sangat marah dengannya jika mengetahui tentang taruhan itu.
Melihat senyuman yang muncul dari wajah Queen membuat King merasa lega, setidaknya masalah Kakek James sudah teratasi, namun kini King begitu kesulitan untuk jujur dan mengatakan Ace bukanlah pria baik. “Um, kalau begitu aku pergi dulu,” ucap King sambil merutuki dirinya yang begitu takut dan pengecut, dia tidak tega harus mengatakan hal yang menyakiti hati Queen disaat dia baru saja senang dengan kesembuhan kakeknya.
“King!” panggil Queen kencang saat King berbalik hendak pergi. “Um, maksud ku Zack,” lanjut Queen terbata. “Bisakah kita berbicara sebentar? Ini demi keluarga kita.” Ya, demi keluarga, pikir Queen meyakinkan dirinya, King tidak bisa menjauhi Queen terus menerus seperti ini, rasanya sangat hambar tanpa pengganggu seperti King.
King menatap Queen tidak mengerti, dia menaikan sebelah alisnya. "Demi keluarga? maksud mu?"
__ADS_1
"Um- maksudku aku ingin kita berhenti bertengkar seperti biasanya, keluarga kita cukup dekat—"
"Kita tidak pernah bertengkar, kau yang berlebihan membenci ku Queen, membuat semua yang aku lakukan seperti salah dimata mu."
Queen menarik nafasnya dalam, dia baru saja ingin memperbaiki hubungan mereka namun King malah memancingnya. "Oh ayolah, jangan membuat pertengkaran baru," gumam Queen pelan.
Seketika King tertawa, dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, maaf aku bercanda. Baiklah, dimana kita akan berbicara? ada sesuatu juga yang ingin aku katakan."
King terdiam sejenak, lalu dia menatap Queen. "Bagaimana jika di ruang Basket? tidak akan ada yang melihat kita di sana."
—
__ADS_1
Sesampainya di ruang Basket, Queen duduk disebuah kursi yang berada di samping loker sedangkan King berdiri di dekat lemari kayu. "Aku ingin kita menghentikan sikap kekanakan kita, maksudku kau jangan lagi memancing emosi ku dan aku sebisa mungkin tidak akan marah pada mu," ucap Queen dengan senyuman tipis yang meminta persetujuan atas ucapannya.
King hanya bisa mengangguk pelan, lalu dia sesekali melirik ke arah lain seolah bingung ingin memulai percakapan baru. "Baiklah, aku setuju. Oh ya Queen, aku harap kau tidak terlalu dekat dengan anak baru itu, aku rasa dia memiliki niat buruk pada mu."
Mendengar itu kening Queen langsung berkerut samar, dia menatap King bingung. "Maksud mu Ace? dia cukup baik menurut ku."
"Tidak! jangan pernah berpikir seperti itu Queen. Untuk kali ini tolong percaya padaku." Tepat saat King berhenti berbicara dan Queen aku membalas, terdengar dua orang sedang berada di depan ruangan basket, seorang wanita dan pria yang Queen dan King kenal.
"Aku tidak bisa seperti ini terus Ace, aku tidak tahan melihat mu mendekati Queen selama di aula!" sayup-sayup terdengar suara Poppy yang sedang protes pada Ace, King melirik Queen yang terlihat kebingungan dan fokus dengan percakapan hubungan gelap itu.
"Benarkan yang aku katakan tadi, Ace bukan pria baik Queen, jangan menyukainya," bisik King pelan yang kini sudah duduk disamping Queen dengan tatapan penuh memohon. Ada rasa bersalah yang terus menghantui King.
__ADS_1
Tanpa diduga Queen seperti menahan tawa melihat ekspresi King yang tampak serius seperti itu. "Memangnya siapa yang menyukai Ace?" kekeh Queen. Tatapan King perlahan berubah, dia seketika merasa senang dan keadaan seakan berubah menjadi kaku saat mata mereka saling menatap satu sama lain.