
Sam berlari mengelilingi kampus, memberikan pengumuman pada seluruh mahasiswa untuk berkumpul di lapangan basket karena akan ada kejadian besar yang mengejutkan untuk mereka semua. Setelah banyaknya mahasiswa yang berkumpul ada banyak bisikan yang mempertanyakan sedang apa King berada di tengah lapangan dengan sebuket bunga di tangannya. “Apa King untuk pertama kalinya akan menyatakan cinta di depan umum?” bisik salah satu wanita yang tertangkap oleh King.
Genggaman tangan King pada buket tersebut bertambah erat, rasanya dia akan sungguhan melamat seorang wanita untuk pertama kali, jantungnya berdegup kencang dan berharap Queen sedikit lebih lama lagi sampai di lapangan untuk memberikannya waktu untuk menyatakan cinta, namun di sisi lain King berharap Queen datang dan dengan begitu dia bisa lega saat itu juga. “Astaga aku terlalu mendalami peran,” gerutu King kesal pada dirinya sendiri yang tampak berbeda. “Ini hanya sebuah tantangan King!” berulang kali King menyadarkan dirinya jika semua ini adalah karena dia harus mendapatkan Queen, tidak ada perasaan apapun yang akan dia dapatkan setelahnya.
Sementara di lorong, Queen merasa akan ada yang tidak beres, dia belum siap bertemu dengan King, dia masih begitu teringat dengan kejadian semalam, semakin bodoh lagi saat Queen merenung semalam dia malah mengingat wajah King yang tampak lebih tampan semalam. “Ah, aku bisa gila,” gumamnya pelan sambil menghembuskan nafasnya pelan, semangat untuk hari ini sepertinya sudah habis.
“Ayo Queen, King pasti sudah mengunggu mu di lapangan. Kau sudah menemukan jawaban yang tepat untuk mengatakan padanya jika kau cukup terganggu dengan sikapnya yang berlebihan?” tanya Fiona membuat Queen langsung menoleh dengan cepat.
__ADS_1
“Haruskan aku memikirkan jawabannya? Aku akan langsung mengatakan itu sebelum dia mengajukan permintaan maaf,” gerutu Queen.
“Astaga!” pekik Fiona sambil menghentikan langkahnya membuat Queen mengerutkan keningnya bingung dan mengalihkan pandangannya pada apa yang sedang dilihat Fiona. “Ada apa semuanya berkumpul di sini? Apa kakaknya Ace ada di sana? Ah ayo Queen, aku ingin melihatnya!” pekik Fiona bersemangat, dia menarik tangan Queen dan menembus banyaknya mahasiswa yang sedang berkumpul di sana.
Queen berdecak keras, dia tidak terlalu menggemarkan kakaknya Ace, dia tidak ingin berdesakan hanya untuk foto bersama, namun saat Queen sampai di barisan paling depan, kedua matanya membulat. “Zack! Apa yang sedang kau lakukan!” pekik Queen tertahan, dia seperti seorang pria yang sedang ingin menyatakan cinta, sebuah buket yang dia pegang membuat Queen merasa salah tingkah. Ini terlalu berlebihan jika untuk permintaan maaf, tidak perlu di hadapan banyak orang seperti ini.
Dengan cepat Queen menghampiri King, ingin rasanya dia menyeret King untuk berteriak marah dengan hal gila yang sedang dia lakukan. “Baiklah, aku sudah memaafkan kejadian semalam, ayo bubarkan semuanya Zack, ini memalukan,” desis Queen di sebelah telinga King.
__ADS_1
“Tidak Queen, sebenarnya ada yang ingin aku katakana sedari dulu.” Beberapa wanita terdengar menjerit tertahan saat mendengar apa yang dikatakan King.
“Apa dia akan menyatakan cintanya pada Queen?” bisik salah satu wanita yang terdengar sampai di telinga Queen. Wajahnya kini sudah seperti kepiting rebus, sangat merah dan gugup.
“Lihat! Semua orang berpikiran gila, sudah lebih baik dibubarkan saja Zack, aku sudah memaafkan mu,” desis Queen sekali lagi.
King menggelengkan kepalanya cepat, dia mengulurkan sebuah buket yang sedari tadi dia genggam. “Queen, maukah kau menjadi kekasihku?” tanya King di depan semua mahasiswa.
__ADS_1
Deg. Jantung Queen seakan berhenti sejenak lalu berdegub dengan begitu kencang. Permainan apa yang sedang King mainkan? Ini sangat tidak lucu bagi Queen, ini memainkan perasaannya! “Apa kau gila? Tentu saja tidak!” jawab Queen cepat lalu menolah ke arah Fiona dan berjalan pergi dengan detak jantung yang masih belum stabil.