Queen For The King

Queen For The King
33. Kacau


__ADS_3

Pagi harinya Queen bangun dengan mata yang begitu sayu, dia benar-benar terganggu dengan apa yang dilakukan King semalam. Bagaimanapun itu adalah hal pertama yang pernah Queen terima, belum pernah ada pria manapun yang berani mencium pipi Queen selama ini! Lagi-lagi wajahnya memerah karena mengingat hal itu. "Astaga dia benar-benar membuatku gila!" desis Queen sambil menghempaskan tubuhnya kembali di atas kasur.


Ketukan pintu kembali terdengar dan kali ini terbuka yang langsung menampilkan wajah Arabella. "Astaga kau baru bangun? Ini sudah jam berapa Queen! Cepatlah bersiap, kau ada kelas pagi bukan hari ini?"


"Mom? Bagaimana bisa kau membuka pintu kamarku?" protes Queen sambil menarik kembali selimut tebal untuk menutupi seluruh tubuhnya.


"Kau pikir Mom tidak memiliki kunci cadangan kamarmu? Jangan bermalasan Queen, kau sudah mengurung diri selama semalaman," ucap Arabella sambil menarik selimut tebal dari genggaman Queen. "Astaga kau benar-benar berantakan! Apa semalam kau mabuk bersama King?"


"Mom! Jangan sebut nama dia, aku benar-benar membencinya mulai sekarang." Saat Queen akan menarik kembali selimutnya, Arabella terlebih dahulu menggulung selimut tersebut ke dalam pelukannya. "Mom! Aku ingin istirahat!" rengek Queen sambil menggerakkan kedua kakinya cepat di atas ranjang.

__ADS_1


"Sedari dulu kau memang sudah membencinya Queen. Dengarkan kata-kataku, jangan terlalu membenci seseorang terlalu dalam karena pada akhirnya kau akan mencintainya. Benci dan cinta itu perbedaannya terlalu tipis."


Raut wajah Queen seketika berubah, seperti ekspresi yang menyatakan bahwa dia tidak menyukai kata-kata tersebut. "Apa yang baru saja kau katakan Mom! Aku tidak akan pernah mencintainya sampai kapanpun!"


Arabella menghela nafasnya panjang. "Astaga anak ini!" Dengan tatapan tajam Arabella melihat Queen. "Jangan bilang ini hanya alasanmu untuk menghindari mata kuliah pagi ini Queen! Satu-satunya nilai C yang kau dapatkan saat ulangan kemarin adalah mata kuliah ini, jadi kau tidak bisa mengelabui Mom!"


——


Tidak ada yang bisa Queen lakukan jika Arabella sudah memaksanya. Dengan sangat tidak bersemangat Queen pun turun dari mobil Arabella, Mommy nya bahkan sampai mengantarkan ke depan gerbang kampus. "Belajarlah dengan sungguh-sungguh Queen, beruntung Daddy mu tidak mempermasalahkan kejadian semalam, jadi jangan sampai transkrip nilaimu berantakan."

__ADS_1


Queen hanya bergumam pelan lalu berjalan melewati lapangan basket menuju gedung kelas pertamanya dimulai. Sebuah pesan masuk membuat Queen dengan malasnya mengeluarkan ponsel. [Queen, kau di mana? Kelas sudah dimulai.] Pesan yang Fiona kirimkan benar-benar membuat harinya semakin buruk, dia langsung mempercepat langkah kaki dan masuk ke dalam kelas. "Maaf Sir aku—"


"Ya langsung saja duduk di bangku mu," jawab seorang dosen yang tak pernah Queen sukai, sebenarnya bukan nilai Queen yang buruk karena memang semua mahasiswa di kelas ini mendapatkan nilai C pada ujian kemarin. Mungkin ada beberapa yang mendapatkan nilai B, namun percayalah tidak ada nilai A yang diberikan dosen tersebut.


Queen langsung duduk di samping Fiona, dia menghembuskan nafasnya pelan dan sedikit bimbang apakah harus menceritakannya pada Fiona atau tidak. "Ini untukmu," ucap Fiona pelan yang tiba-tiba memberikan sebuah coklat di bangkunya.


Dengan kening yang berkerut samar Queen menerima coklat tersebut. "Tidak biasanya kau memberikanku coklat," bisik Queen.


"Itu bukan dariku Queen, tadi King menitipkan nya untuk mu, Queen menitip pesan agar kau memaafkannya atas kejadian semalam." Seketika Queen memejamkan matanya, apa maksud King menitipkan pesan tersebut pada Fiona di saat pria itu memiliki nomor Queen yang bisa dia gunakan untuk mengirim pesan. "Memangnya ada apa dengan kalian semalam?" bisikan Fiona yang tidak diharapkan Queen.

__ADS_1


__ADS_2