
Selama acara berlangsung pandangan King tak pernah lepas dari sosok Queen yang tampak banyak bicara pada Arthur, ada perasaan iri karena King ingin berada di posisi Arthur untuk saat ini. "Kau tidak akan menyambut kakak ku?" tanya Ernest yang kini baru sampai di hadapan King.
King menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafas pelan. "Aku tidak yakin dia akan menerima sambutan ku, dia pasti hanya akan menatap ku penuh benci," jawab King. Matanya menoleh ke arah Ernest yang kini sedang menganggukkan kepalanya, terlihat acuh dengan keadaan hubungan King dan Queen. Kedua alis King bertaut, dia menatap tak percaya pada Ernest. "Kau tidak akan membantu ku?" tanya King.
Ernest menoleh lalu menaikan bahunya pelan. "Untuk apa aku membantu mu? Sudahlah, kalian memang cocok selalu bertengkar seperti dulu, lihat, Arthur cepat dekat dengan keluarga ku," kekeh Ernest.
Mendengar itu King menjadi bingung bercampur kesal, ini bukan seperti Ernest yang dia kenal, padahal beberapa hari yang lalu Ernest masih mendukung dirinya bersama dengan Queen. "Apa aku membuat salah?" tanya King pelan.
__ADS_1
"Tidak, aku harus bergabung lagi kesana, aku hanya merasa kasihan pada mu kak, sedih sendirian sedangkan orang yang membuat mu sedih sedang bahagia," ucap Ernest lalu tersenyum kecil dan kembali bergabung dengan keluarganya.
King membuang wajah kesembarang arah, dia merasa dipermainkan oleh semua orang. Kedua orangtuanya pun ini sedang sibuk bersama yang lain, tidak ada yang menghiburnya sama sekali, keberadaanya seakan tak dianggap di sini. "Argh!" desis King pelan, dia menghentakkan kakinya lalu berjalan menuju pintu keluar, lebih baik dia pergi dari pada menjadi orang paling tidak berguna seperti itu.
Queen yang menyadari kepergian King tanpa sadar bergerak hendak memanggil King, acara utama belum saja di mulai dan dia sudah pergi terlebih dahulu. Namun, belum sempat Queen berteriak, tangan Arthur menahannya. "Jangan, ingat rencana kita Queen," ucap Arthur memperingati.
Arthur menggelengkan kepalanya, menatap adik dan kakak yang sama-sama terlihat tidak tega. "Oh ayolah, ini hanya sampai besok, setelah Davika sampai aku akan memperkenalkan nya pada semua, kita bisa melihat reaksi King seperti apa besok. Anggap saja ini sedikit pelajaran karena dia sudah mempermainkan mu Queen," ucap Arthur.
__ADS_1
***
King menghentikan taxi yang lewat, dia langsung masuk dan meminta supir untuk mengantarkannya ke rumah.
Saat di pertengahan jalan, beberapa panggilan masuk dari kedua orangtuanya tidak dia hiraukan, dia merasa malas jika harus kembali ke acara itu, dia benci terasingi sepertu tadi!
Sesampainya di rumah, King langsung masuk ke dalam kamar, menutup pintu kamar dengan kencang dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. "Argh! sial!" pekik King kencang, dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk kembali bersama Queen, Ernest sudah berbeda dan tidak memihaknya lagi, kedua orangtua Queen dan kedua orangtuanya seperti tampak acuh dan menerima putusnya hubungan mereka begitu saja.
__ADS_1
Jika King tidak malu dia akan menangis sekarang juga, dia hanya bisa melampiaskan amarahnya dengan cara seperti ini. Apakah tidak ada satu orang saja yang memihaknya untuk sekarang? memberikan semangat untuk terus melangkah dan tidak terlihat menyedihkan seperti ini? King bangun dan duduk di atas ranjang, tubuhnya menghadap ke arah cermin lemari dengan sedikit senyum yang dipaksakan. "Kau tampan King, masih banyak wanita yang menginginkan mu, kau pasti bisa melupakan Queen," ucapnya pada diri sendiri. Namun beberapa saat kemudian senyum itu menghilang, dia menggelengkan kepalanya lemah. Apakah bisa? disaat dia sudah mencintai seseorang sepenuh hati seperti ini?