Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 10 Ketua Mafia


__ADS_3

Cukup lama Michel duduk di depan komputernya. Semua data yang ia peroleh dari hasil peretasannya sore tadi kini tengah ia pelajari. Bahkan hingga pukul 09.00 malam, data tersebut belum selesai ia pelajari.


Tentu sebelum ia mempelajari infomasinya, Michel telah menyalin semua data dan memindahkannya ke komputernya, tak lupa ia membersihkan jejaknya agar tidak bisa dilacak oleh siapapun.


Malam ini, Michel hanya keluar saat makan malam saja. Ia jarang bersuara, dan tidak seceria sebelumnya.


Robert yang sejak tadi memperhatikan tingkah Michel yang tidak seperti biasa, hanya bisa memberikan kode melalui gerakan mata kepada Nola. Memahami maksud Robert, Nola hanya menjawab dengan mengedikkan bahunya.


Setelah makan malam, Michel langsung masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Sayang, apa mungkin Michel saat ini sedang marah sama kita, atau bahkan membenci kita karena tidak jujur sejak awal?" tanya Robert yang saat ini sedang duduk di depan TV bersama sang istri.


"Nggak, Michel nggak marah ataupun membenci kita karena itu, aku kenal Michel. Mungkin dia hanya merasa tidak nyaman setelah mengetahui fakta bahwa kita bukanlah orang tua kandungnya." jawab Nola sembari melirik ke kamar Michel yang tertutup.


Sementara di kamar, Michel nampak kembali serius membaca seluruh informasi tentang Black Wolf.


"Jadi ketua dari Black Wolf ini bernama Darold Archer, CEO DA Group yang telah mengakuisisi perusahaan ayahku," monolog Michel setelah membaca beberapa informasi tersebut.


Michel kemudian lanjut membaca beberapa informasi tentang musuh sekaligus saingan Black Wolf.


"Apa? jadi ayahku adalah seorang ketua mafia juga? Red Sword?" pekik Michel terkejut sambil membungkam mulutnya sendiri agar suaranya tidak terdengar oleh Nola dan Robert.


"Apakah mafia bernama Red Sword ini masih ada? atau sudah tidak ada yah?" tanya Michel pada dirinya sendiri.


Sepertinya aku harus membuat sebuah rencana, agar orang-orang jahat ini jera. Michel tersenyum miring saat memandangi foto Darold Archer.


--


Markas Black Wolf


"Apa? data kita berhasil dibobol oleh seseorang?" Roby dan Ferdi hanya diam tak menjawab, "bahkan kalian tidak bisa melacak siapa orang itu?" lanjut Darold merasa geram terhadap Ferdi dan Roby, sementara mereka berdua masih tertunduk ketakutan.


"Dasar bod**! menghadang satu pembobol saja kalian tidak becus?" gertak Darold lalu menendang Ferdi dan Roby tanpa ada perlawanan dari mereka.

__ADS_1


"William!" panggil Darold kepada tangan kanannya di markas.


"Ya Tuan," sahut William.


"Habisi kedua orang ini!"


"Tidak tuan, ampuni kami, beri kami kesempatan untuk memperbaikinya." Ferdi dan Roby berlutut dihadapan Darold. Mereka sudah tahu apa yang akan terjadi pada mereka jika mereka tidak mendapat kesempatan dari Darold. Pulang ke rumah adalah hal yang mustahil lagi saat ini bagi Ferdi dan Roby. Yang ada sekarang adalah, dihabisi atau di asingkan. Mau kaburpun percuma.


"Ku mohon tuan." Ferdi dan Roby memelas dengan air mata yang mulai menganak sungai karena sangat ketakutan.


Darold awalnya sangat geram dengan ketidakbecusan mereka menjaga informasi rahasianya, tapi mengingat mereka berdua sudah lama bekerja untuk Darold dan kesalahan mereka juga bukan bagian dari pekhianatan, maka Darold mempertimbangkan hal lain untuk mereka.


"Baiklah, karena saat ini aku sedang berbaik hati, maka kalian tidak akan ku habisi, tapi kalian akan ku asingkan ke tempat Rossa, sekaligus untuk menjaganya disana," tukas Darold.


Di asingkan oleh Darold sama saja dengan dipenjara, bahkan lebih parah, sebab ketika diasingkan, mau makan harus usaha sendiri. Alat komunikasi tentu tidak dibolehkan, kalaupun berhasil dibawa secara sembunyi-sembunyi, itu tidak akan berguna di tempat pengasingan yang sangat terpencil itu.


Meskipun mereka tahu bagaimana kesulitan di tempat pengasingan, mereka tetap bersyukur, daripada mereka harus dihabisi saat itu juga dengan cara brutal.


Para anak buah Darold bersama William kini membawa Ferdi dan Roby ke tempat pengasingan yang sangat jauh. Tentu dalam keadaan mata ditutup.


Setelah membuka penutup mata, para anak buah Darold langsung meninggalkan mereka dirumah kecil yang menjadi tempat tinggal Rossa selama beberapa tahun seorang diri.


Ferdi dan Roby berjalan memasuki rumah kecil itu.


Tok tok tok


"Iya," suara wanita dari dalam rumah.


Ceklek


"Ferdi, Roby?" ucap Rossa, wanita paruh baya namun masih terlihat cantik, meskipun kini tubuhnya begitu kurus. Rossa memang mengenal Ferdi dan Roby, sebab dulu saat Rossa masih menjadi istri Darold, mereka sering datang ke rumah untuk bekerja lembur.


"Nyonya," sahut Roby dan Ferdi bersamaan.

__ADS_1


"Kenapa kalian bisa ada disini? tanya Rossa heran.


"Kami sudah membuat kesalahan nyonya, kami gagal menjaga keamanan informasi rahasia tuan dari peretas," terang Ferdi.


"Astaga kasihan sekali kalian, baiklah, kalian bisa menempati rumah dibelakang, kebetulan rumah itu kosong. Hanya saja, disana tidak ada apapun." kata Rossa menunjuk ke belakang.


"Baik nyonya, tidak masalah," sahut Roby.


"Tidak-tidak, jangan memanggilku nyonya, Panggil saja aku Rossa, usia kita tidak beda jauh, lagi pula aku bukan lagi istri Darold," sanggah Rossa.


"Baiklah nyo- maksud saya Rossa," ujar Ferdi.


Rossa mengantar Ferdi dan Roby ke sebuah rumah kecil kosong yang berada dibelakang rumahnya. Dalam perjalanan, Rossa ingin menanyakan sesuatu, namun ia agak sedikit ragu.


"Hmm.. Ferdi, Roby, apa kalian melihat anakku disana?" tanya Rossa membuat langkah kaki mereka terhenti.


"Iya nyonya, Calvin sering sekali datang ke perusahaan untuk belajar memimpin perusahaan," jelas Ferdi.


"Jadi namanya Calvin," batin Rossa tersenyum kecut. Mana ada seorang ibu yang tidak mengetahui nama anaknya sendiri. Kalaupun ada, mungkin hanya dialah orangnya.


"Bagaimana kabarnya disana?" tanyanya lagi. Begitu banyak pertanyaan seputar putranya yang selama ini ia pendam, namum ia berusaha keras menahannya.


"Dia baik, sekarang dia sudah berusia 21 tahun. Tubuhnya tinggi, wajahnya mirip dengan anda, dia sangat tampan. Dan..." Roby tidak melanjutkan kata-katanya.


Rossa mengernyitkan alisnya, "dan apa?".


"Dia juga seperti anda, tidak tertarik dengan dunia bawah tanah. Tuan sudah berusaha keras mengajaknya bergabung, namun dia tetap pada pendiriannya tidak ingin bergabung. Kata Calvin, 'dia siap meneruskan kepemimpinan Daddynya tapi bukan di dunia bawah tanah, melainkan di perusahaan'," terang Roby.


Rossa tentu saja merasa sangat legah jika Calvin menolak ajakan Darold, sebab itu adalah keinginannya sejak dulu. Maka kini, ia tidak perlu lagi khawatir pada anaknya yang tinggal bersama Darold sebagai ayahnya.


"Hufh, syukurlah, anakku memang pintar," batin Rossa, seakan ada beban dipundaknya yang terangkat begitu saja setelah mengetahui kabar tentang putranya.


-Bersambung-

__ADS_1


Yuk dukung karya ini, dengan like, koment, gift dan vote. Terima kasih.


__ADS_2