Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 15 Siapa Gadis itu?


__ADS_3

"Aku.. hmm.. aku juga sedang melihat-lihat saja, ini kan hari pertama kita, jadi aku penasaran dengan semua ruangan disini," jawab Franz agak gugup.


"Oh.. Ya sudah, kalau gitu aku ingin pulang dulu, bye," pamit Michel kepada Franz.


Kali ini Michel tidak mempercayai apa yang dikatakan Franz, dari caranya berbicara, juga dengan gelagatnya, Michel dapat menyimpulkan bahwa Franz sedang menyembunyikan sesuatu.


Tapi apa itu?


Tentu Michel akan mewaspadainya. Untuk saat ini, tidak ada seorangpun yang bisa Michel percaya.


--


Malam hari Di Cafe dekat perusahaan.


"Hai Boy, apa kabar?" sapa Calvin ramah.


"Baik Calvin, oh iya ada apa kamu memanggilku kesini?" tanya Boy, seorang detektif sekaligus teman SMAnya.


"Gini bro, aku ingin minta bantuanmu, saat ini aku sedang mencari seseorang, namanya Rachelia Edward, informasi yang ku dapatkan dari orang suruhanku, dia adalah putri Edward Davidson, korban dari ledakan di rumahnya sendiri pada tahun 2002 lalu. Kalau kata berita, satu keluarga tewas dalam ledakan itu, tapi yang ku dapatkan berbeda, Rachelia Edward ini berhasil lolos dan di bawa kabur oleh seseorang saat ledakan itu terjadi," papar Calvin.


"Oh, jadi menurut kamu, Rachelia Edward ini adalah korban yang diculik saat itu?" tanya Boy memastikan maksud perkataan Calvin.


"Aku juga nggak tahu pasti, apakah dia diculik atau justru diselamatkan, sepertinya penyebab ledakan itu harus ditelusuri terlebih dahulu untuk menghubungkan dimana, dan kenapa Rachelia Edward ini seperti hilang di telan bumi," ungkap Calvin.


"Jika kejadiannya tahun 2002, usia Rachelia Edward saat itu berapa?" tanya Boy kembali.


"Kata Daddy, usianya saat ini 19 tahun, berarti saat tahun 2002 itu, dia baru berusia 1 tahun," terang Calvin.


"Nah sekarang, aku serahkan tugas ini kepadamu, kabari aku jika kamu menemukan sesuatu," tukas Calvin kembali.


"Siap bro, aku akan berusaha yang terbaik untuk membantumu," ujar Boy dan Calvin mengangkat jempol tangannya untuk Boy.


"Thanks Boy," ucap Calvin.


Tak lama kemudian Michel masuk ke dalam Cafe itu dengan pakaian yang sudah ia ganti sebelumnya. Michel ingin kembali melanjutkan pembuatan programnya, mengingat di rumah kontrakannya, jaringan internet tidak secepat di Cafe ini.


Calvin yang sejak tadi memperhatikan kedatangan Michel yang tidak melirik ke arahnya pun ingin kembali mendekatinya.


"Hey Boy, kamu boleh pulang sekarang, sekali lagi thanks ya bro," ucap Calvin.

__ADS_1


"Oke bro," ucap Boy lalu pergi meninggalkan Calvin sendiri.


-


"Permisi nona, apa aku boleh bergabung denganmu disini? tanya Calvin tersenyum seperti biasa.


Michel mendongak melihat siapa lagi yang ingin bergabung dengannya, dan ternyata dia adalah pria yang sama dengan pria yang tempo hari ia banting.


"Hufth, dia lagi, jika aku menerimanya bergabung, nanti aku malah nggak fokus buat program ini, tapi kalau ditolak, itu artinya aku tidak tahu balas budi," monolog Yasmin dalam hati.


"Nona?" panggil Calvin lagi karena tidak mendapat respon dari Michel.


"Eh iya, silahkan," jawab Michel singkat.


Mimik bahagia langsung terukir di wajah Calvin setelah mendapat izin Michel untuk bergabung dengannya.


"Makasih yah sudah diizinkan bergabung," ucap Calvin seraya duduk dihadapan Michel.


"Hmm iya," jawab Michel dengan mata yang masih fokus ke layar laptop dan jari-jari yang senantiasa menari di atas keyboard.


"Kenalkan, namaku Calvin," ujar Calvin mengulurkan tangannya.


Merasa tidak enak karena uluran tangannya tidak disambut, Calvin menarik kembali tangannya.


"Kamu lagi ngapain? kerja tugas kampus yah?


Michel menghentikan aktivitas jarinya sejenak, tanpa melihat Calvin, "maaf aku bukan mahasiswa," tukasnya lalu melanjutkan kembali aktivitasnya.


"Oh, jadi kamu masih pelajar SMA yah?"


Michel kembali menghentikan aktivitasnya dan menatap Calvin. "Maaf, aku sudah bekerja, bukan lagi mahasiswa ataupun pelajar."


"Oh yah? wah berarti wajahmu baby face sekali, kamu terlihat seperti masih berusia 18-19 tahun," puji Calvin takjub, ia lalu meminum minumannya yang ia bawa dari meja pertamanya.


"Aku memang masih 19 tahun,"


Uhuk uhuk uhuk


Calvin tersedak saat mengetahui usia wanita di depannya yang katanya sudah bekerja dan bukan lagi mahasiswa.

__ADS_1


"Kamu serius?"


"Iya, memangnya kenapa?"


"Yaa nggak papa, cuma takjub aja sama kamu," puji Calvin.


Michel tak menanggapi Calvin kali ini, ia memilih melanjutkan aktivitasnya kembali.


"Apa kamu pernah kuliah di AS?"


"Iya, kok kamu tahu?"


"Hmm, aku cuma mau menebaknya, apa benar kamu Michel sahabat Shally?" Michel langsung menghentikan semua aktivitasnya mendengar nama sahabatnya disebut.


"Siapa kamu sebenarnya?" selidik Michel tanpa menjawab pertanyaan Calvin.


"Aku sepupunya Shally,"


"Buktikan!" Michel tentu tak ingin langsung percaya.


"Kamu ingat waktu kamu dan Shally pergi ke perpustakaan dan aku tertidur di mobil? sebenarnya aku sempat bangun dan melihat kotak pensil yang sama dengan punya kamu kemarin. Jadi itu sebabnya aku berpikir kamu Michel sahabat Shally"


Michel kini nampak sedang berpikir.


"Apa aku perlu menelfon Shally agar kamu percaya?"


"Tidak, tidak perlu."


Calvin tersenyum samar melihat reaksi Michel.


-


"Hey Will, apa kamu tahu siapa gadis yang sedang bersama Calvin di dalam Cafe itu?" tanya Darold sambil sesekali memicingkan matanya untuk memperjelas pandangannya.


"Tidak tuan, saya juga tidak tahu," jawab William.


"Hmm.. siapa gadis itu? Tidak biasanya Calvin mau berduaan dengan gadis," selidik Darold penasaran.


-Bersambung-

__ADS_1


Yuk dukung karya ini, dengan like, koment, gift dan vote. Terima kasih.


__ADS_2