Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 38 Kepulangan Calvin dan Rossa


__ADS_3

Malam yang gelap, udara yang sejuk berhembus dengan lembut menerpa wajah tampan seorang pria yang sedang duduk dibelakang rumah kecil. Calvin begitu menikmati udara segar dan bersih di desa tempat yang ibunya tempati selama ini. Sesekali ia memperhatikan Roby dan Ferdi yang sedang sibuk menyiram sayur dan buah-buahan yang mereka tanam untuk dijadikan makanan mereka selama berada di desa ini.


"Paman, Calvin berencana kembali ke kota besok, ikutlah dengan kami, tubuh paman sangat kurus semenjak diasingkan di desa ini," ujar Calvin.


Saat ini, Calvin telah mengetahui semua cerita mengenai ibunya yang di asingkan, marah dan kecewa sudah pasti di rasakan Calvin kepada Darold, namun, menunjukkan kemarahan hanya akan sia-sia, bahkan bisa saja akan menambah masalah baru.


Calvin sangat tidak tega melihat kondisi ibu dan 2 paman yang pernah bekerja untuk ayahnya berada dalam pengasingan seperti ini. Sehingga ia berencana membawa mereka kembali ke kota secara diam-diam.


"Tidak apa-apa tuan muda, kami takut ketahuan jika kami kembali ke kota dan malah akan mendapat masalah besar disana," tolak Roby secara halus.


"Tidak paman, Calvin akan menjamin keamanan kalian sampai tiba di desa keluarga kalian masing-masing," tampik Calvin dengan raut wajah serius.


"Tapi tuan muda, kami takut kedatangan kami nantinya malah akan membahayakan keluarga kami yang ada di desa," imbuh Ferdi.


"Tapi paman, Calvin tidak tega melihat kalian hidup seperti ini," tukas Calvin dengan wajah sendu menatap 2 pria yang kini memasuki usia kepala empat.


"Tidak tuan muda, biarlah nyonya Rossa saja yang kembali ke kota, kasihan dia, sudah hampir 21 tahun dia tinggal disini sendirian, kami akan tetap disini sampai masa pengasingan kami berakhir," tukas Roby.


Calvin kini menoleh ke arah kamar sang ibu yang mungkin sudah terlelap dalam tidurnya. Hatinya benar-benar sakit jika membayangkan ibunya tinggal di rumah kecil sendirian, berusaha makan seadanya selama 21 tahun.


Mata Calvin tiba-tiba terasa panas seolah ingin kembali mengeluarkan air mata, namun dengan cepat ia mengedipkan matanya beberapa kali agar air matanya tidak jadi keluar. Jujur saja, ia merasa malu jika ada yang melihatnya menangis. Namun, sebagai manusia biasa, Calvin tak bisa menampik kenyataan bahwa lelaki pun bisa menangis saat hatinya tersentuh.

__ADS_1


--


Keesokan harinya, Calvin beserta rombongannya dan Rossa tengah bersiap-siap untuk kembali ke kota. Sementara Roby dan Ferdi hanya bisa menatap aktivitas mereka dengan sendu, mereka sungguh sangat ingin ikut pergi dari desa ini karena merindukan keluarga mereka, namun keselamatan keluarga lebih utama daripada itu.


"Ferdi, Roby, terima kasih karena sudah banyak membantuku selama disini, semoga kalian sehat selalu dan bisa cepat kembali dan bertemu keluarga kalian, aku pamit dulu," pamit Rossa kepada Roby dan Ferdi dengan mata yang sudah berkaca-kaca menatap dua pria yang sudah ia anggap seperti saudaranya selama tinggal bersama di desa ini.


"Calvin juga pamit paman, Calvin akan meminta orang kepercayaan Calvin untuk mengunjungi paman disini dan membawakan barang-barang yang paman butuhkan," pamit Calvin memeluk Roby dan Ferdi secara bergantian.


"Terima kasih banyak Rossa, Calvin, kalian memang sangat baik, hati-hatilah dijalan, semoga selamat sampai tujuan" ujar Ferdi dan Roby.


Mobil Calvin pun mulai meninggalkan desa dengan diiringi lambaian tangan dari Roby dan Ferdi yang sesekali mengusap air mata haru bercampur sedih.


Calvin melirik arlojinya, pukul 2 dini hari, sebelum kembali ke mansion, Calvin mengantar ibunya terlebih dahulu untuk masuk ke dalam apartmennya.


"Mom, tinggallah disini, jika mommy ingin keluar, maka pakailah kacamata dan masker agar tidak ada yang mengenali mommy." Calvin memegang kedua pundak Rossa dengan lembut, kemudian ia mengeluarkan ponsel dan kartu atm yang berisi tabungan Calvin lalu memberikannya kepada Rossa, "dan ini, mommy bisa pakai untuk memenuhi kebutuhan mommy dan hubungi Calvin jika mommy membutuhkan sesuatu, Calvin akan sering-sering kesini untuk mengunjungi mommy, oh iya, Calvin sudah mengisi beberapa makanan dan bahan makanan di dalam kulkas," lanjut Calvin lalu memeluk Rossa.


"Terima kasih banyak sayang, mommy benar-benar merasa ini seperti mimpi," ucap Rossa penuh haru sembari membalas pelukan Calvin.


"Mommy tahu? ini adalah masa yang sangat Calvin impikan sejak dulu, merasakan pelukan hangat mommy," tukas Calvin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Maafkan mommy sayang, mommy tidak bisa menemani tumbuh kembangmu, mommy benar-benar berhutang waktu sama kamu," Rossa melepas pelukannya dari Calvin dan menatap wajah tampan putranya itu.

__ADS_1


"Nggak ada yang namanya hutang mommy, pokoknya Calvin akan menghabiskan waktu dengan mommy sesering mungkin mulai saat ini," ujar Calvin dengan senyuman sumringahnya.


"Oh iya Calvin, darimana kamu mengetahui lokasi keberadaan mommy, tidak mungkin kan daddymu memberitahukannya padamu," tanya Rossa yang sangat penasaran sejak kemarin.


"Calvin dapat dari seorang gadis mommy." Senyuman tipis tiba-tiba terukir di wajahnya saat mengingat wajah Michel, dan itu tak luput dari pandangan Rossa yang membuatnya ikut tersenyum.. "Nanti Calvin akan memperkenalkannya pada mommy," lanjut Calvin kemudian.


"Baiklah sayang, mommy tidak sabar jngin bertemu dengan gadis itu, sepertinya dia gadis hebat karena sudah membuatmu tersenyum hanya dengan mengingatnya," ujar Rossa sembari menaik turunkan alisnya melirik Calvin.


Wajah Calvin tiba-tiba bersemu merah mendengar perkataan Rossa.


--


Sementara itu di tempat lain


Uhuk uhuk..


"Hufth sepertinya ada yang sedang membicarakan aku, tapi siapa yang membicarakan aku tengah malam begini? Apakah itu Michel atau Rachel?" monolog Michel.


Meskipun jam telah menunjukkan pukul 02.30 dini hari, Michel masih terjaga. Ia sedang merakit sebuah alat rahasia dengan ukuran yang kecil dan mengemasnya dalam bentuk kerikil.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2