
Satu tahun telah berlalu, Zayyand kini disibukkan dengan aktivitas kuliahnya. Seperti sang ibu, Zayyand juga menyukai mengoperasiakan komputer selain hobinya yang sama seperti ayahnya yaitu membaca komik.
"Pa, ma, Zayyand ke kampus dulu," pamitnya lalu berlari keluar tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya.
"Astaga, anak itu, kali ini apalagi yang membuatnya terburu-buru ke kampus seperti itu?" gumam Rachel sambil menggelengkan kepalanya.
"Entahlah, sudah beberapa hari dia seperti itu, dan semakin hari waktu ke kampusnya semakin cepat," timpal Calvin lalu melanjutkan kembali sarapannya.
Sementara Zayyand saat ini tengah mengendarai motor besarnya dengan kecepatan tinggi menuju kampus. Bukan karena urusan kuliah, atau pun janji dengan temannya sehingga ia selalu ke kampus lebih awal, melainkan ia ingin mencari tahu siapa orang yang selalu memasukkan buket bunga ke dalam lokernya. Pasalnya, setiap pagi, Zayyand akan selalu menemukan buket bunga dengan jenis bunga yang berbeda-beda tiap hari di dalam lokernya. Ia mencoba menggunakan kemampuannya untuk meretas CCTV kampus namun di CCTV justru sama sekali tidak menampilkan seseorang datang ke lokernya, seolah rekaman CCTV tersebut juga telah di retas sebelumnya oleh orang itu.
"Kali ini pasti akan ku temukan orang itu," gumamnya setelah memarkirkan motornya di halaman parkir kampus.
Dengan cepat ia berlari masuk ke dalam gedung kampus menuju ke tempat lokernya berada. Hingga langkahnya mulai melambat saat ruang lokernya semakin dekat, perlahan ia berjalan dan bersembunyi di balik dinding.
Benar, saat ini ada seseorang misterius yang sedang berdiri tepat di depan lokernya. Dengan menggunakan pakaian serba hitam serta hoodie yang menutupi kepalanya, membuat Zayyand tidak mampu menebak apakah orang ini pria atau wanita.
Sebelumnya Zayyand telah mengatur kunci lokernya agar tidak mudah di ketahui, namun orang ini tampak begitu mudah menemukan rangkaian seri angka yang menjadi kode loker Zayyand, membuat Zayyand tercengang sesaat.
Kembali Zayyand memperhatikan saat orang itu mengeluarkan sebuah buket bunga dari dalam tasnya dan memasukkannya ke dalam loker Zayyand. Tak lama kemudian, orang itu berbalik lalu melangkah pergi. Dengan cepat, Zayyand berlari menghalangi jalan orang itu.
"Tunggu, siapa kau?" tanya Zayyand dengan kedua tangannya ia rentangkan ke samping.
Mengetahui Zayyand yang berada di hadapannya saat ini, orang itu refleks menunduk agar wajahnya tidak terlihat oleh Zayyand. Ia hendak berlari, namun Zayyand menahan pergelangan tangganya yang tertutupi hoodie. Tak ingin tertangkap basah, orang itu melakulan perlawanan dengan mulai menyerang Zayyand, sayangnya kemampuan bela diri Zayyand yang cukup hebat membuat orang itu dengan mudah di kalahkan dalam waktu singkat. Zayyand mengunci tangan orang itu ke belakang, membuat orang itu meringis kesakitan.
Mendengar suara orang itu, Zayyand tampak terkejut. "Hei, kau seorang wanita?" tanya Zayyand sambil melepaskan kunciannya, lalu membuka penutup kepala orang itu. Dan benar, orang yang saat ini berada di hadapan Zayyand adalah seorang gadis muda dengan kacamata bulat dan rambut yang di kuncir. Melihat bola mata biru dari gadis itu, membuat Zayyand seperti merasa de javu namun ia tidak mengingat siapa dan dimana ia pernah melihat gadis dengan bola mata biru unik seperti yang dimiliki gadis itu.
"Siapa kamu? Kenapa kamu selalu memasukkan buket bunga ke dalam lokerku," tanya Zayyand.
"Maafkan saya, saya hanya mengagumi anda," jawab gadis itu.
"Mengagumi?" ulang Zayyand dengan alis berkerut dan gadis itu hanya mengangguk sambil menunduk.
"Hahah" gelak Zayyand, ia benar-benar tidak percaya ada yang mengaguminya sampai seperti itu.
"Siapa namamu?" tanya Zayyand kemudian.
__ADS_1
"A-alice," jawab gadis itu sedikit tergagap.
"Senang berkenalan denganmu, Alice," ucap Zayyand sambil melambaikan tangannya pada Alice.
"Apa anda tidak membenci saya setelah apa yang saya lakukan pada anda?" tanya Alice heran.
"Kenapa harus membenci, toh kamu tidak merugikanku, malah kamu yang rugi karena setiap hari membeli bunga untukku," jawab Zayyand.
"Saya tidak membelinya, semua bunga ini adalah bunga yang mulai saya tanam di kebun saya sejak satu tahun yang lalu," ujar Alice.
"Wah, luar biasa, terima kasih atas bunganya," ucap Zayyand.
Alice mengangguk masih dengan wajah kakunya, "Maaf, saya permisi dulu," ucapnya kemudian lalu memakai kembali penutup kepalanya dan berlari meninggalkan Zayyand.
"Kenapa dia kaku sekali, jika memang kagum yah setidaknya minta tanda tangan kek atau minta foto kek, aneh," monolog Zayyand sambil melihat Alice yang semakin menjauh.
---
Di mansion tempat Alice tinggal
Tok tok tok
"Alice, apa kamu sudah bangun sayang?" ucap Marie yang tidak lain adalah ibu Alice.
Tak mendapat jawaban, Marie memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Alice yang kebetulan tidak di kunci.
"Ya ampun, Alice bangunlah, hari ini kamu ada janji kunjungan ke dokter Metty," ujar Marie sambil menyibakkan selimut yang terlihat sedang menutupi tubuh seseorang, namun matanya membulat saat yang ada di bawah selimut kali ini adalah bantal guling dan bukan Alice.
Seketika raut wajah panik dan khawatir tergambar di wajahnya.
"Windy!" panggil Marie dengan suara nyaring memenuhi kamar itu.
"Iya nyonya?" sahut Windy dengan nafas tersengal-sengal setelah berlari ke kamar Alice.
"Dimana Alice?" tanya Marie.
__ADS_1
"Ampun nonya, tuan putri Alice tadi sedang keluar untuk berolah raga," bohong Windy.
"Windy, aku adalah tipe orang yang sabar, tapi aku paling tidak suka di bohongi, sekarang jujurlah padaku, dimana Alice sekarang?" tanya Marie kali ini dengan tatapan tajam.
"Ampun nyonya, tuan putri Alice sedang pergi membawakan bunga kepada seseorang, tapi saya juga tidak tahu dimana dan siapa orang itu," jawab Windy cepat sambil menunduk.
"Membawakan bunga?" gumam Marie sambil mengenyitkan alisnya.
Tak lama setelah itu, terdengar suara pintu di buka dari luar.
"Alice!" gumam Marie masih berdiri di samping tempat tidur Alice.
"Mommy?" gumam Alice berdiri di pintu kamarnya bagaikan patung.
"Kemarilah sekarang, mommy ingin bicara denganmu!" ujar Marie sambil menggerakkan tangannya memanggil Alice yang masih berdiri di pintu.
Dengan langkah ragu, Alice berjalan ke arah Marie sambil menunduk. "Ya mommy?"
"Sekarang katakan, kamu dari mana!" seru Marie.
"A-Alice," ia melirik sekilas ke arah Windy, satu-satunya pelayan yang mengetahui kepergian rahasianya tiap pagi. "Alice pergi membawa bunga kepada seorang pria," lanjutnya dengan suara lirih.
"Pria?" Marie mengulang perkataan Alice sambil mengerutkan keningnya seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan putrinya itu. Bagaimana tidak, semenjak kejadian buruk tahun lalu, Alice mengalami trauma mendalam yang membuatnya menjadi seorang introvert dan pendiam, jangankan berbicara langsung dengan pria, bertemu saja sudah mampu membuat tubuhnya berkeringat dingin. Dan semenjak itu pula, Alice mengubah penampilannya menjadi gadis culun tiap kali keluar rumah, ia juga meminta kepada ibunya agar ia dilatih beladiri secara privat oleh pelatih wanita.
"Siapa pria itu?" tanya Marie kemudian setelah cukup lama ia merenung.
"Dia pria yang pernah menolong Alice dari kejadian buruk itu," cicit Alice menunduk.
"Apa kamu tidak takut padanya, Alice?" selidik Marie.
"Tidak mommy, dia satu-satunya pria yag tidak membuat Alice takut dan berkeringat dingin saat berada di dekatnya," jawab Alice, membuat seutas senyum muncul di bibir Marie.
"Baik, sekarang katakan siapa nama pria itu, dan dimana dia tinggal," tanya Marie membuat Alice seketika mengangkat wajahnya terkejut.
"Mommy jangan mengganggunya, tolong," pinta Alice.
__ADS_1
"Mommy tidak mengganggunya, mommy hanya ingin melihatnya secara langsung," jawab Marie santai sambil menaik-turunkan alisnya.