
Calvin duduk berhadapan dengan seorang wanita yang tampak seperti wanita di dalam foto, hanya saja wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah versi 10 tahun lebih tua.
"Wah, ku pikir pria yang akan ku temui adalah pria yang lebih dewasa dariku, tapi sepertinya dugaanku salah," ujar wanita itu yang bernama Celine.
Calvin tersenyum samar, "sepertinya aku bukan tipe anda, mungkin sebaiknya kita akhiri kencan buta ini," ujar Calvin yang mulai merasa tidak nyaman berada di tempat itu.
"Siapa bilang? sepertinya tidak ada salahnya jika aku mencoba menjalin hubungan dengan berondong," tukas Celine tersenyum genit, membuat Calvin bergidik ngeri.
"Aduh, kenapa mommy bisa mencarikan aku teman kencan yang lebih dewasa seperti ini, yang ada nanti aku di kira pria PETANG alias pria PEmuja waniTA mataNG," gerutu Calvin dalam hati.
Siang itu, mau tidak mau, suka tidak suka, Calvin tetap menemani wanita bernama Celine itu makan siang, sambil setia mendengar cerita wanita itu yang lebih banyak menceritakan kisah pengalaman hidupnya.
Setelah satu jam duduk bersama Celine dengan sejuta cerita, kini Calvin kembali ke ruangannya.
"Bagaimana kencan butanya pak?" tanya Dicky yang heran dengan ekspresi wajah bosnya bak kertas kusut.
"Jangan tanyakan itu, yang jelas tadi itu aku tidak sedang kencan buta, tapi sedang mengikuti kajian dengan tema Pengalaman Hidup wanita tangguh," ucapnya dengan mimik wajah datar seperti dinding.
"Buahahahahah," tawa Dicky pecah seketika. Ia yang sejak tadi ingin menjaga sikapnya di hadapan teman yang kini menjadi bosnya tidak dapat menahan tawanya. Namun, belum selesai tertawa, Calvin melempar tutup pulpen ke arahnya dan mendarat tepat di dalam mulutnya, membuat tawa Dicky berhenti seketika.
"Rasain, lain kali aku akan atur jadwal kencan buta untukmu bersama wanita tadi agar kau tahu bagaimana rasanya berada di posisiku," sungut Calvin.
"Maaf bos, tapi itu tidak akan pernah terjadi karena aku sudah memiliki kekasih, kencan buta hanya diperuntukkan untuk kaum jomblo sepertimu," kilah Dicky lalu kembali tertawa, sementara Calvin hanya bisa mendengus kesal melihat Dicky yang sedang tertawa di atas penderitaannya.
--
Tidak terasa, kini malam mulai mulai membentangkan gelapnya diseluruh penjuru kota. Calvin masuk ke dalam rumahnya dengan langkah cepat, ia tidak sabar ingin segera menemui ibunya untuk protes tentang kejadian tadi siang.
"Gimana kencan butanya sayang?" langkah kaki Calvin terhenti di ruang tamu saat mendengar suara Rossa yang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.
"Mommy, mommy sengaja ingin menjodohkanku dengan wanita yang lebih dewasa dari Calvin?" tanya Calvin langsung tanpa basa-basi.
"Lebih dewasa? bukannya dia masih muda?" kali ini Rossa yang kembali bertanya, ia tidak mengerti dengan maksud perkataan Calvin.
"Iya mom, foto yang mommy kirimkan itu foto dia 10 tahun yang lalu," jelas Calvin. Rossa terdiam sejenak sambil mengingat sesuatu.
"Ah, mommy baru ingat, teman mommy itu memang menikah muda, dia menikah saat dia masih SMP, sementara mommy, menikah saat lulus kuliah, hahaha," gelak Rossa yang kini memahami maksud Calvin. "Maafkan mommy sayang, lain kali mommy akan carikan yang lebih muda dari itu," lanjut Rossa di sela tawanya.
Sementara Calvin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sang ibu yang bukannya merasa bersalah malam tertawa malah menertawakan anaknya.
---
Satu minggu kemudian.
"Nona, sebentar lagi CEO dari perusahaan bernama CA Corp akan datang untuk membahas rencana kerja samanya dengan perusahaan ini," ujar Lucy kepada Rachel.
__ADS_1
"Baik, silahkan arahkan mereka langsung ke ruangan ini," ucap Rachel yang masih sibuk memeriksa berkas-berkasnya.
Beberapa menit kemudian.
"Nona, mereka sudah disini," ucap Lucy
Setelah dipersilahkan, CEO dan sekretaris dari CA corp akhirnya masuk ke dalam ruang CEO dari Vera Solution itu.
"Selamat pagi tu.... an," sapa Rachel yang tiba-tiba terkejut saat melihat siapa yang datang.
"Selamat pagi nona," sapa Dicky. Sementara Calvin juga begitu terkejut saat melihat sosok wanita yang ada di hadapannya saat ini, ia hanya diam sambil memandangi Rachel, wanita yang masih setia bertahta di dalam hatinya meski tidak bertemu dalam waktu yang lama.
"Silahkan duduk," ujar Rachel kemudian mempersilahkan mereka duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.
Mereka pun mulai membicarakan rencana kerja sama mereka, Calvin dengan begitu fasih memaparkan materinya dengan bahasa Inggris. Meskipun keduanya sama-sama terkejut dengan pertemuan mereka kali ini, namun mereka sama-sama berusaha bersikap profesional. Hingga tak terasa, pertemuan mereka siang itu pun berakhir dengan kesepakatan kerja sama yang di tandai dengan adanya penandatanganan kontrak.
"Terima kasih telah meluangkan waktu anda untuk kami, dan sebelum pamit, saya ingin mengajak nona Rachel untuk makan siang bersama saya siang ini, suatu kehormatan bisa mendapat kesempatan makan siang bersama nona?" ujar Calvin.
"Baiklah, kita berangkat sekarang," balas Rachel.
Calvin dan Rachel akhirnya berangkat bersama ke salah satu restoran mewah yang tidak jauh dari lokasi perusahaan, sementara Dicky telah kembali lebih dulu ke hotel tempat mereka menginap. Kini Calvin dan Rachel duduk saling berhadapan dalam diam. Belum ada yang berani bersuara.
"Ekhem.. Bagaimana kabarmu?" tanya Calvin yang akhirnya mulai membuka pembicaraan.
"Aku tidak menyangka, ternyata kamu sekarang tinggal di Amerika," ujar Calvin dan hanya di tanggapi dengan senyuman oleh Rachel.
"Hmm, baiklah aku akan to the point, apa sekarang kamu sudah menikah?" tanya Calvin.
"Belum," jawab Rachel singkat.
"Jika memiliki kekasih?" tanya Calvin kembali.
"Tidak," jawab Rachel lagi.
Calvin perlahan mengulum senyum, entah berapa kali ucapan syukur terlontar dalam batinnya saat ini.
"Baguslah," ucap Calvin kemudian, membuat Rachel mengernyitkan alisnya.
"Apa maksudmu?" tanya Rachel bingung.
"Bagus, karena itu berarti aku masih memiliki kesempatan untuk mengejarmu kembali," jawab Calvin.
"Apakah kamu lupa, di antara kita ada tembok besar yang menghalangi, kita tidak mungkin bisa bersatu, sebaiknya kamu urungkan saja niatmu itu," tolak Rachel.
"Tidak ada lagi tembok yang menghalangiku, kecuali itu berasal darimu," tukas Calvin.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Rachel semakin bingung dibuat Calvin.
Calvin perlahan menghembuskan nafasnya, "Kamu tahu, daddyku telah meninggal satu tahun yang lalu," lirih Calvin.
"Apa? A-aku turut berduka cita, maafkan aku karena tidak tahu akan hal itu," cicit Rachel.
"Iya tidak masalah. Sebelum meninggal, beliau memberiku pesan terakhir, beliau meminta maaf atas kesalahannya yang telah membuat orang tuamu meninggal, dan juga atas kecurangan yang ia lakukan terhadap perusahaan ayahmu." Rachel seketika tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lalu..-" Rachel mengangkat wajahnya saat ucapan Calvin terputus.
"Lalu apa?" tanya Rachel.
"Lalu beliau juga menyuruhku untuk mengejar cintamu jika aku memang tulus mencintai kamu," lanjut Calvin.
"Lalu?" tanya Rachel.
"Lalu itu yang sedang aku usahakan saat ini, ku pikir kemarin kamu sudah memiliki kekasih, itu sebabnya aku tidak langsung mencarimu satu tahun yang lalu," tukas Calvin.
Lagi-lagi Rachel menunduk, namun kali ini ia menunduk sambil mengulum senyum bahagia.
"Jadi, bagaimana perasaanmu kepadaku? Apa masih sama seperti dulu?" tanya Calvin kemudian.
Mendengar pertanyaan Calvin, senyum di wajah Rachel hilang, dan menampakkan wajah serius. "Maaf, aku tidak bisa," jawabnya.
Calvin menunduk lesu, "sudah ku duga, mungkin cintamu telah hilang oleh waktu, ini sudah 4 tahun berlalu sejak kamu mengatakan itu, aku paham kok," cicit Calvin.
"Bukan, bukan seperti itu, sebenarnya ada yang harus kamu tahu terlebih dahulu, dan itu yang menjadi alasanku masih memasang tembok di antara kita."
"Apa itu?" tanya Calvin.
"Sebenarnya, ayahku Edward masih hidup,"
"Apa? Bukannya orang tuamu sudah meninggal?" tanya Calvin heran.
Rachel pun menceritakan kejadian saat ledakan di rumahnya seperti yang pernah Edward ceritakan padanya.
Calvin terdiam menyimak cerita Rachel sambil ikut merasa sedih atas kejadian itu, ia tidak menyangka kejadian itu lebih parah dari perkiraannya.
"Maaf," ucap Calvin menunduk.
Rachel tersenyum, "aku sudah lama berusaha berdamai dengan kejadian itu, ku pikir aku bisa memaafkanmu dan daddymu, karena tidak ada gunanya menyimpan kebencian dalam hati, hanya saja..-" ucalan Rachel terjeda, membuat Calvin mengangkat wajahnya menatap Rachel.
"Hanya saja, kamu harus bertemu langsung dengan ayahku untuk menyampaikan permintaan maaf itu, sekaligus jika kamu ingin menghilangkan tembok penghalang di antara kita," lanjut Rachel kemudian.
-Bersambung-
__ADS_1