
Di Mansion Darold Archer
Waktu baru menunjukkan pukul 06.00 pagi. William datang tergesa-gesa untuk menyampaikan kabar yang saat ini telah ramai di bicarakan publik.
"Pagi tuan," sapa William sesopan mungkin.
"Apa yang membawamu kesini pagi-pagi begini William?" tanya Darold yang saat ini sedang duduk di halaman belakang sambil membaca koran kemarin yang belum sempat ia baca.
"Maaf tuan, tolong lihat berita ini." William menyerahkan tabletnya kepada Darold.
Mata Darold seketika membulat dan mulutnya terbuka saat melihat berita itu. Namun beberapa detik kemudian, tatapan matanya berubah tajam dan rahangnya mengeras.
Rupanya berita itu menginformasikan tentang proses akuisisi perusahaan Edward oleh DA Group yang dilakukan dengan cara curang, dimana surat kuasa Edward yang ia pakai sebagai salah satu cara untuk mengambil alih saham Edward adalah palsu dan tidak disahkan oleh Edward. Hal itu dibuktikan dengan lampiran bukti surat kuasa palsu tersebut.
"William, hubungi pemilik situs berita ini kalau perlu datangi dia, dan suruh dia hapus berita ini sekarang juga!" Perintah Darold dengan nafas yang mulai memburu karena menahan amarah.
"Baik tuan," jawab William.
"Sepertinya orang yang kemarin mengusikku dan orang yang menyebar berita ini adalah sama. Dan aku yakin, dia adalah Rachelia Edward. Kita lihat saja, sampai kapan dia akan bersembunyi seperti itu," ujar Darold sambil mengepalkan tangannya.
--
Pagi ini, seorang wanita cantik berkacamata hitam, rambut coklat panjang yang terurai, dengan setelan kemeja biru muda dan celana panjang navy serta blazer berwarna senada, lengkap dengan sepatu heelsnya, berjalan dengan anggun masuk ke sebuah gedung firma hukum yang cukup besar.
"Permisi bu, saya ingin bertemu dengan pak Thomas," kata wanita itu kepada bagian resepsionis.
"Apa ibu sudah membuat janji sebelumnya?"
"Balum"
"Kalau begitu, mohon tunggu sebentar saya akan menghubunginya."
__ADS_1
Tak lama kemudian, wanita itu dipersilahkan langsung menuju ke ruangan Thomas, seorang pengacara terkenal di kota itu.
Tok tok tok
"Masuk" ucap Thomas dari dalam ruangannya.
"Permisi, pak Thomas,"
"Iya, silahkan duduk bu, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin minta tolong kepada bapak untuk mengurus hak waris saham untuk saya,"
"Tolong jelaskan secara detail bu, agar saya bisa tahu dari siapa dan untuk siapa saham yang ibu bicarakan."
"Bapak tentu sudah melihat berita pagi ini mengenai kecurangan akuisisi perusahaan Edward Group bukan? pengalihan saham Edward kepada Darold selaku CEO DA Group yang mengakuisi perusahaan Edward Group itu tidak sah, maka saya ingin bapak mengurus pengalihan saham Edward yang legal kepada saya selaku ahli warisnya."
"Maaf, ibu ini siapa?"
Mata Thomas seketika membulat, "Edward," itulah nama yang pertama kali terlintas dipikirannya saat melihat wajah wanita itu.
"Perkenalkan, saya Rachelia Edward, putri dari Edward Davidson dan Vera M. Ramsey.
"Apa?" Thomas tentu sangat terkejut dengan kedatangan Rachel yang sangat tidak disangka-sangka. Namun, ia juga sangat yakin jika gadis yang ada dihadapannya saat ini memang adalah Rachel, itu sangat terlihat jelas di wajah Rachel yang sangat mirip dengan Edward.
"Apa bapak meragukan saya? saya membawa bukti hasil tes DNA jika bapak tidak percaya."
"Tidak, saya percaya, namun saya ingin memastikannya dengan melihat tanda lahir nona yang pernah pak Edward katakan kepada saya,"
"Tanda lahir? apa maksud bapak yang ini?" ujar Rachel lalu memperlihatkan bagian bawah sikunya yang terdapat tanda kemerahan dan memang selalu ia tutupi.
"Benar, berarti nona memang adalah Rachelia Edward, kalau boleh tahu, darimana nona mendapatkan nama dan alamat saya?"
__ADS_1
"Saya meretas informasi ayah saya dan saya mendapatkan nama bapak sebagai pengacara terpercayanya,"
Thomas kembali terkejut saat mendengar kemampuan Rachel. "Baiklah, apakah nona yang menyebarkan informasi rahasia mengenai Darold sehingga muncul di halaman berita hari ini?"
"Iya, saya meretas situs berita mereka lalu memasukkan informasi itu di halaman berita utama mereka, dan mereka tidak akan bisa menghapusnya," jawab Rachel sembari menarik satu sudut bibirnya.
Thomas mengangguk, "baiklah nona, namun, ada yang ingin saya perlihatkan kepada nona terlebih dahulu, mohon tunggu disini sebentar," ujar Thomas lalu pergi ke ruang pribadinya untuk mengambil sesuatu di brangkasnya.
Saat ditinggal sendiri, Rachel memakai kesempatan itu untuk memasang penyadap suara di bawah meja Thomas, serta alat pelacak di jas Thomas yang saat ini sedang digantung. Bagaimanapun, ia harus memastikan sendiri bahwa Thomas memang pantas untuk dipercaya.
Tak lama kemudian, Thomas datang dengan sebuah map coklat ditangannya.
"Ini adalah surat wasiat pak Edward yang ia berikan pada saya satu bulan setelah kelahiran nona, katanya saya baru boleh membukanya saat ia telah meninggal, dan memberikannya kepada nona." Thomas memberikan map coklat itu kepada Rachel.
Rachel mengambil map itu lalu membukanya dan membacanya, perlahan ia mengerutkan keningnya "inikan?"
"Benar nona, ini adalah surat wasiat sekaligus surat kuasa yang mengatakan bahwa semua saham milik Edward di Edward Group akan di wariskan kepada Rachelia Edward selaku putri tunggalnya."
"Jika memang surat ini ada, kenapa bapak membiarkan orang itu mengambil alih saham ayah secara curang, ini kan bisa jadi bukti?"
"Maafkan saya nona, saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengungkap kebenaran itu, saya mendapat ancaman dari pihak Darold, bahkan keberadaan surat ini saya sembunyikan untuk menjaga keamanannya jika suatu saat pemiliknya datang."
"Apa maksud bapak? apakah bapak tahu kalau saya memang masih hidup?"
"Iya nona, saat itu saya sempat mencari tahu sendiri kebenarannya bersama teman saya yang detektif. Dan benar, saat di lokasi saya tidak menemukan nona, bahkan jasad yang diduga pak Edward, saya ragu jika itu memang pak Edward. Saat itu hanya nyonya Vera yang saya bisa pastikan meninggal di tempat," terang Thomas.
"Itu sebabnya saya merahasiakan keberadaan surat ini agar Darold tidak datang mencarinya, karena ia sendiri bekerja sama dengan oknum polisi, sehingga melaporpun tidak akan berguna," lanjut Thomas menjelaskan.
"Apa maksud bapak ayah saya belum meninggal?"
"Saya tidak tahu pastinya nona, namun sampai saat ini, tidak ada tanda-tanda keberadaan pak Edward, ia seperti benar-benar telah meninggal."
__ADS_1
-Bersambung-