Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 47 Maaf


__ADS_3

Setelah Franz berhasil diikat, anggota Red Sword yang lain langsung menyerbu anggota Black Wolf. Kini pertarungan antara dua kelompok mafia itu tidak dapat di elakkan lagi, namun karena banyak anggota Black Wolf yang telah tumbang sebelumnya oleh Rachel, Calvin maupun Rena, sehingga saat ini jumlah anggota Red Sword lebih banyak. Hal itu membuat Red Sword dapat mengalahkan kelompok Black Wolf dengan mudah.


Sementara itu, Rena dan Calvin yang tidak mengetahui rencana Rachel tampak tercengang dan bingung saat melihat beberapa pria dengan pakaian yang sama justru saling menyerang satu sama lain.


Melihat wajah kebingungan Rena dan Calvin, Rachel pun menghampiri mereka. "Tenanglah, mereka adalah orang-orangku, sudah ku duga ini akan terjadi, itu sebabnya aku menyiapkan semuanya." mendengar penjelasan Rachel, Calvin dan Rena mengangguk paham.


"Oh iya, Rena, siapa kamu sebenarnya?" tanya Rachel yang sejak tadi penasaran.


"Perkenalkan, namaku Sisca Ariena, aku seorang interpol yang sedang bertugas menangkap Damon, dia adalah bandar Narkoba buronan kami yang kabur dari Australia dan datang ke negara ini untuk bekerja sama dengan Darold, sudah lebih 20 tahun kami mencarinya, namun berkat bantuanmu, kami bisa menangkap Darold dan juga tangan kanannya yang tidak lain adalah anaknya sendiri." Terang Rena membuat Calvin seketika menunduk lesu saat mendengar nama ayahnya disebut, Rachel yang melihat Calvin hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.


"Lalu, selama ini kenapa kamu merundungku? Dan sikapmu itu padaku tampak sangat membenciku," tanya Rachel lagi.


"Maafkan aku, itu hanya karakter penyamaranku. Aku minta maaf akan hal itu, dan aku juga minta maaf karena pernah menculikmu," ujar Rena lirih.


"Menculikku?" Rachel tampak sedang mengingat sesuatu. "Ah, apakah kau yang menyuruh 4 orang itu untuk menculikku?" pekik Rachel tidak percaya.


"I-iya, maafkan aku, saat itu aku hanya mulai menaruh curiga padamu, sehingga aku mencoba memancingmu untuk melihat bagaimana reaksimu, tapi jujur aku hanya ingin menculik saja, tidak ada niat jahat lain," terang Rena dengan tangan yang mengatup di depan dadanya.


Rachel terdiam sejenak, beberapa kali ia menarik nafas dan menghembuskannya, mencoba untuk menenangkan dirinya. "Kamu tahu, sebenarnya aku ingin sekali memenjarakanmu, tapi mengingat kamu telah menolongku, dan misi kita sama, maka aku memaafkanmu," ujar Rachel akhirnya.


"Terima kasih yah," cicit Rena yang merasa bersyukur. "Oh iya sebentar lagi polisi akan datang kesini untuk menangkap mereka, bahkan saat ini markas besar yang mereka gunakan untuk menyimpan narkoba sudah di kepung polisi," lanjut Rena.


"Baguslah kalau begitu," lirih Rachel yang sesekali melirik ke arah Calvin yang saat ini nampak sedang memikirkan sesuatu.


Tak lama setelah itu, beberapa mobil polisi mulai berdatangan dan menangkap semua anggota Black Wolf yang sudah terikat, termasuk Franz.


"Nona, aku baru saja menerima telfon dari Damon yang menelfon nomor Franz, katanya saat ini ia sedang menunggu Franz di sebuah Dermaga untuk segera meninggalkan negara ini," lapor Morgan.


"Apa?" pekik Rena dan Rachel bersamaan.


"Rachel, apa kamu ingin ikut bersamaku menangkap Damon Arthur?" tanya Rena.


"Tentu saja," jawab Rachel, namun seketika ia tersadar akan sesuatu, "tunggu Ren, orang tuaku," lanjutnya lalu berbalik ke arah semak-semak tempat Robert dan Nola bersembunyi.


"Orang tuamu?" tanya Rena dan Calvin bersamaan.

__ADS_1


"Orang tua angkatku, mereka yang membesarkanku saat di desa," jelas Rachel. "Rena, duluanlah, aku khawatir kamu akan kehilangan Damon lagi jika terlambat, aku harus memeriksa kedua orang tuaku terlebih dahulu," lanjut Rachel.


"Baiklah, aku duluan," ucap Rena lalu pergi.


Sementara Calvin yang melihat Rachel kesulitan memapah tubuh Robert dan Nola yang tampak lemah langsung ikut membantu Rachel.


"Biar ku bantu," ucap Calvin lalu memapah Robert, dan Rachel memapah Nola.


Mereka jalan bersama tanpa sepatah katapun. Hingga mereka tiba di mobil miliknya yang dibawa Morgan.


"Morgan, aku titip kedua orang tuaku dulu, tolong bawa mereka ke rumah sakit, aku akan ikut mengejar Damon terlebih dahulu," ujar Rachel.


"Aku ikut bersamamu nona," cetus Morgan sambil melirik ke arah Calvin, membuat Calvin menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Tidak usah, tolong urus dulu orang tuaku, lagi pula aku tidak sendiri, ada Rena disana yang menungguku," balas Rachel.


"Baik nona, kalau begitu pakailah mobil ini, aku akan menggunakan mobil lain," jawab Morgan.


"Pergilah bersamaku Rachel, aku menggunakan motor, motorku lumayan kencang jadi kita bisa lebih cepat sampai," tawar Calvin, membuat Rachel berpikir sejenak, sementara Morgan kembali menatapnya heran.


"Waktu kita tidak banyak Rachel," ujar Calvin mengingatkan Rachel yang masih berpikir.


"Baiklah," jawab Rachel akhirnya.


--


Motor Calvin melaju kencang membelah gelapnya malam yang sunyi dan dingin. Semakin sunyi dengan diamnya dua manusia yang dalam hatinya terpaut oleh cinta namun memilih memendamnya karena rasa bersalah.


"Maaf," ucap Calvin yang mulai membuka pembicaraan setelah hampir 20 menit saling diam.


"Untuk apa?"


"Untuk ulah daddyku, yamg menyebabkan orang tuamu meninggal."


Rachel terdiam sejenak. "Aku juga minta maaf,"

__ADS_1


"Untuk apa?" Giliran Calvin yang bertanya.


"Untuk ketidak jujuranku padamu sejak awal,"


"Aku mengerti, mungkin jika aku berada di posisimu, aku akan melakukan hal yang sama."


Rachel kembali terdiam, "apa sekarang kamu membenciku karena sudah membongkar kejahatan daddymu dan membuatnya tertangkap?" cicit Rachel kemudian.


"Aku tidak tahu, tapi apakah saat ini aku terlihat membencimu?" Calvin malah balik bertanya.


"Tidak, kamu justru terlihat sebaliknya,"


"Apa maksudmu?"


"Dari caramu melindungiku tadi saat Franz ingin menembakku, dan sekarang kamu rela memberikan jaketmu padaku, padahal jelas-jelas saat ini kamu sedang kedinginan, itu sudah cukup membuktikan bahwa ada cinta yang sedang kamu tunjukkan padaku,"


Calvin terdiam, ia membenarkan apa yang dikatakan Rachel, namun ia juga tidak bisa memungkiri rasa kecewa dan rasa takut mengecewakan pada ayahnya jika ia masih tetap bersikeras dengan perasaannya.


"Memang benar, tapi lupakanlah, lagipula perasaanku ini hanya bertepuk sebelah tangan."


"Siapa bilang?"


Calvin mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan Rachel, benar tidak ada orang yang mengatkan bahwa Rachel tidak mencintainya, bahkan Rachel pun tidak pernah mengatakannya.


"Aku hanya menerkanya, karena kamu selalu menjauhiku,"


"Aku pikir kini kamu sudah tahu alasanku menjauhimu setelah menonton video malam itu"


"Apa sebenarnya maksud yang ingin kamu katakan Rachel?"


"Maafkan aku Calvin, ku pikir aku egois jika aku mengatakannya sementara kita tidak bisa bersama, tapi aku juga tersiksa jika tidak mengatakannya. Meskipun pada akhirnya kita tidak bisa bersama, ku rasa aku harus berkata jujur padamu," Rachel terdiam sejenak, "aku juga mencintaimu Calvin," lanjutnya dengan jantung yang kini berdegup kencang.


Degh


Bagaikan sungai yang hendak mengalir, namun tiba-tiba seseorang membangun bendungan membentang di tengah sungai itu, hingga air sungai tersebut hanya bisa berkumpul di satu sisi saja, dan tidak bisa lagi mengalir.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2