
Malam makin larut, satu per satu dari mereka mulai kembali ke tempat mereka masing-masing.
"Ren, kamu pulang naik apa?" tanya Rachel.
"Aku naik taksi, udah biasa kok," jawab Rena.
"Jangan, biar Morgan yang mengantarmu," sela Rachel, "iya kan Morgan?" lanjutnya bertanya sambil menoleh ke arah Morgan.
"Iya, biar aku yang mengantarmu," jawab Morgan.
"Baiklah, terima kasih banyak atas semuanya hari ini Rachel, Calvin, aku pulang dulu," pamit Rena.
Kini Rena berada di dalam mobil bersama Morgan, untuk sesaat tak ada yang buka suara di antara mereka.
"Dimana tempatmu?" tanya Morgan memecah keheningan.
"Beberapa hari ini aku tinggal di hotel X," jawab Rena.
"Oh baiklah," jawab Morgan singkat.
"Terima kasih atas semuanya hari ini, besok aku aan kembali ke negaraku, semoga suatu saat kita bisa berjumpa lagi," ucap Rena, membuat Morgan sedikit terhenyak.
"Jam berapa kamu akan pulang?" tanya Morgan.
"Jam 8 malam," jawab Rena.
"Apa kita bisa bertemu satu kali lagi sebelum kamu pulang besok?" tanya Morgan.
"Eh, te-tentu saja, aku akan meluangkan waktu untuk bertemu dengamu besok," jawab Rena sedikit gugup dengan jantung yang mulai bertalu-talu.
"Baiklah, besok pagi aku akan menjemputmu," ujar Morgan.
---
Sementara di rumah Rachel.
"Ayah, mommy, mama, papa, Rachel akan istirahat lebih dulu yah," ucap Rachel kepada Edward, Rossa, Robert dan Nola yang masih asik berbincang di ruang keluarga.
"Istirahatlah sayang, kamu pasti sangat lelah," jawab Edward.
"Betul, Calvin temani istrimu istirahat yah," seru Rossa kepada Calvin.
"Iya mommy, kami permisi dulu kalau begitu," jawab Calvin.
Rachel dan Calvin pun akhirnya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
"Apakah kamu sangat lelah sayang?" tanya Calvin setelah masuk ke dalam kamar mereka.
"Iya, aku istirahat dulu yah," jawab Rachel langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Baiklah sayang, istirahatlah di sampingku," ujar Calvin sambil menarik tubuh Rachel untuk tidur di dalam pelukan Calvin.
Rachel merasa begitu nyaman berada di dalam dekapan sang suami dengan berbantalkan lengan Calvin, ia hendak memejamkan mata namun suara jantung Calvin yang berdebar dengan begitu kuat sedikit mengusiknya. Sama dengan yang ia rasakan saat ini. Perlahan ia mendongak melihat ke wajah Calvin yang menutup mata.
"Kamu sudah tidur?" tanya Rachel, membuat Calvin membuka matanya dan ikut memandang Rachel yang berada sejajar dengan dadanya saat ini.
"Belum, apa kamu butuh sesuatu?" ujar Calvin.
Rachel menggelengkan kepalanya pelan."Tidak, aku hanya penasaran dengan apa yang kamu rasakan saat ini."
"Apa aku masih perlu menjelaskan tentang bagaimana perasaanku padamu?" tanya Calvin.
"Jelaskanlah, aku ingin mendengarnya," jawab Rachel tersenyum.
__ADS_1
Calvin perlahan meraih satu tangan Rachel dengan lembut lalu meletakkannya di dadanya.
"Coba kamu rasakan bagaimana keadaan jantungku saat ini, jika kamu menanyakan bagaimana perasaanku, aku memiliki dua jawaban, pertama, aku sangat bahagia karena kini bisa memilikimu tanpa ada lagi rasa dendam di antar kita. Kedua, jika boleh jujur, saat ini aku sangat gugup karena ini pertama kalinya kita berada di satu tempat tidur seperti ini, meski ini kali kedua aku memelukmu, tapi rasanya masih seperti saat pertama kali tubuhku bersentuhan dengan tubuhmu seperti ini," terang Calvin.
Rachel sejenak tersenyum dengan posisi masih mendongak ke arah Calvin.
"Terima kasih," ucap Rachel dengan senyuman dan mata yang mulai berair.
"Untuk apa sayang?" tanya Calvin lembut.
"Karena telah bersabar menungguku, dan telah berusaha meluluhkan hati ayah," jawab Rachel sambil mengelus wajah tampan Calvin yang sejak kemarin telah resmi menjadi suaminya, air matanya perlahan menetes dan membasahi lengan pria itu.
Calvin mengusap air mata Rachel lalu mengecup sejenak mata itu dengan begitu lembut. "Aku yang harusnya berterima kasih karena kamu mau menerima cinta pria sekaligus anak dari orang yang telah me...-" ucapan Calvin terpotong saat Rachel meletakkan jari telunjuknya di bibir Calvin.
"Sssst, jangan pernah lagi mengungkit masa lalu yang menyakitkan, jangan pernah lagi mengulangi kesalahan orang tua kita di masa lalu, aku ingin hidup damai tanpa ada lagi rasa dendam dalam hati, sebagai gantinya, aku ingin hidup bersamamu dengan cinta dan kebahagiaan, menyelesaikan masalah bersama dengan hati yang dingin, dan saling menjaga dalam suka maupun duka," lirih Rachel.
Hati Calvin menghangat mendengar penuturan Rachel, kini tangannya terangkat dan meraih kembali tangan Rachel yang masih berada di bibirnya, satu kecupan hangat kini mendarat di tengan Rachel, kemudian kecupan itu beralih ke kening Rachel.
"Aku sangat mencintaimu, Rachelia Edward," ucapnya setelah melepas kecupan di kening sang istri
"Aku juga sangat mencintaimu, Calvin Archer," jawab Rachel dengan senyuman yang merekah indah di wajahnya.
Wajah Calvin perlahan mendekati wajah Rachel, semakin dekat hingga Rachel dapat merasakan hembusan nafas Calvin yang begitu segar menurutnya. Dengan sentuhan lembut dari Calvin, membuat Rachel memejamkan mata menikmati sentuhan yang mampu menggetarkan hatinya, bersama mengarungi indahnya samudra cinta yang baru pertama kali mereka rasakan seumur hidup mereka. Saling melampiaskan rasa cinta yang selama ini mereka pendam satu sama lain, dan berbagi kehangatan di malam yang semakin larut dengan suhu dingin yang semakin menusuk.
---
Delapan tahun kemudian
Bugh bugh bugh suara pukulan pada samsak tinju kian memenuhi ruangan yang penuh dengan alat olah raga pagi itu.
"Hosh hosh hosh, pa, Zay capek," keluh seorang anak laki-laki berusia 7 tahun dengan nafas tersengal-sengal.
"Loh, ini baru 3 menit loh kamu latihan, ayo latihan lagi sampai genap 10 menit, nanti papa yang dihukum sama mama kamu kalau kamu terlalu santai seperti itu," lirih Calvin yang juga sedang berlari di atas treadmill.
"Hmm, ya ud..-" ucapan Calvin terpotong saat suara tegas seorang wanita mendahuluinya bicara.
"Hari minggu sama saja dengan hari yang lain, mama tidak suka jika ada yang menjadikan hari minggu sebagai hari untuk bermalas-malasan. Nanti akan ada waktunya istirahat, hanya 20 menit kok latihan kamu pagi ini," terang Rachel.
"Tapi ma," rengek Zayyand.
"Zay, melatih diri sejak kecil untuk disiplin itu sangat baik, kamu bisa mengalami kesulitan di masa dewasamu jika kamu tidak terbiasa disiplin. Lagipula berlatih bela diri itu baik, kita tidak tahu kapan bahaya akan menghampiri kita di luar sana, selagi itu belum terjadi, ada baiknya kita mempersiapkan diri kita lebih dulu agar siap kapan dan dimanapun kita berada," papar Rachel.
"Iya ma," jawab Zayyand lesu.
"Sayang, tolong bantu aku merapikan rumah dong, nanti malam kan keluarga kita akan makan malam disini," pinta Rachel kepada Calvin.
"Siap sayang," ucap Calvin.
--
Kini malam telah tiba, satu per satu keluarga Rachel dan Calvin berdatangan, di mulai dari Edward, lalu Robert dan Nola.
"Opaa," panggil Zayyand sambil berlari memeluk Edward.
"Halo, cucu kakek yang paling tampan, bagaimana kabarmu sayang?" tanya Edward.
"Baik opa, opa bagaimana?" tanya Zayyand balik.
"Opa baik, Zay, lihatlah, kakek dan nenekmu juga datang," ujar Edward lalu menunjuk ke arah pintu dimana Robert dan Nola berjalan masuk.
"Kakek, nenek," panggil Zayyand sambil berlari ke arah mereka.
"Hey, pelan-pelan saja, kami tidak akan melarikan diri kok," canda Robert.
__ADS_1
"Oh cucuku sayang, nenek sangat merindukanmu," ucap Nola sambil mencium gemas pipi Zayyand.
"Ayah, papa, mama," ucap Rachel dan Calvin lalu memeluk mereka secara bergantian.
Tak lama setelah itu, Rossa datang bersama Shally, diikuti oleh seorang anak laki-laki yang seumuran dengan Zayyand.
"Oma, aunty Shally," sapa Zayyand lalu memeluk Rossa dan menyalami tangan Shally dan suaminya.
"Wah, cucu oma sudah besar yah, tampan lagi,"
"Hai Zay," sapa Javier, anak dari Shally.
"Hai Jav, kemarilah, aku punya koleksi komik terbaru, kau pasti menyukainya," ujar Zayyand lalu merangkul Javier dan membawanya ke ruang baca di rumahnya.
"Mommy," ucap Calvin dan Rachel bersamaan lalu memeluk Rossa.
"Hey kalian tidak menyapaku?" ujar Shally dengan bibir manyunnya.
"Astaga, berhentilah memanyunkan bibirmu, bibirmu tampak seperti bebek jika seperti itu," goda Calvin, membuat Shally mendengus.
"Hei, jangan mengambil kata-kataku," desis Shally, membuat Calvin terkekeh.
"Sudah sudah, kalian itu sepupu tapi kayak tom and jerry," sela Rachel, "oh iya, dimana suamimu, Shally," lanjutnya bertanya.
"Dia sedang dalam perjalanan bisnis jadi hanya aku dan Javier yang bisa datang," jawab Shally.
Tak lama setelah itu, Morgan dan Rena pun datang bersama, yah mereka telah resmi menikah 1 tahun setelah pernikahan Rachel dan Calvin, dan mereka pun telah memiliki anak perempuan berusia 6 tahun bernama Aurora.
"Akhirnya kalian semua datang, aku selalu menantikan momen ini," ucap Rachel menyambut semua kedatangan keluarganya malam itu.
Zayyand dan Javier yang melihat kedatangan Aurora langsung datang menghampirinya dan mengajaknya bermain bersama.
Malam itu, di rumah yang cukup besar itu, kini terdengar suara anak-anak yang saling bercanda tawa bersama, terdengar juga suara para orang tua yang serius bercerita dan sesekali juga ikut tertawa.
Keluarga yang saling memberi dukungan dan perhatian satu sama lain. Tidak ada lagi kata dendam dan benci di hati mereka, yang ada adalah kata keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang.
-Tamat-
-----------------------------------------------------------------
Terima kasih untuk para kakak readers yang selalu mendukung author mulai dari awal cerita hingga cerita ini tamat.
Author sadar, masih sangat banyak kekurangan dari novel ini, kadang author merasa sedikit pesimis dan beberapa kali semangatnya down selama membuat novel ini, tapi saat author mendapat dukungan dari kakak readers, author menjadi semangat kembali.
Semoga karya author bisa memberi manfaat untuk kakak readers. Ambil yang baik dan buang yang buruk. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya, love you all 🥰
Salam hangat dari author
UQies
Bonus visual
Zayyand Archer
Javier
Aurora
__ADS_1