Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 11 Memulai Rencana


__ADS_3

"Ma, Michel mau minta izin ke kota nanti siang, Michel ingin kerja disana. Bolehkan Ma?" kata Michel manghampiri Nola yang sedang memasak untuk sarapan pagi.


"Kenapa cepat sekali? kamu kan masih bisa istirahat beberapa hari disini Michel," kilah Nola.


"Iya Ma, Michel juga sebenarnya masih mau lama-lama disini, tapi besok Michel sudah interview," ujar Michel.


"Hmm.. ya sudah kalau gitu, mama dan papa mengizinkan kamu, tapi kamu jaga diri baik-baik disana yah," tukas Nola.


"Iya Ma, terima kasih banyak," ucap Michel memeluk tubuh Nola yang kini lebih pendek dari Michel.


-


"Ma, Pa, Michel berangkat dulu, doakan Michel semoga sukses," ucap Michel seraya memeluk Nola dan Robert bergantian.


"Iya sayang, kami selalu mendoakanmu dimanapun kamu berada. Ingat selalu pesan mama dan papa, jaga diri kamu, dan ingat, jangan pernah melibatkan diri kamu dalam hal-hal yang berbahaya," terang Nola sambil memeluk Michel.


"Iya Ma, Michel akan ingat pesan mama." Michel membalas pelukan Nola.


"Jika ada pria yang menyukaimu, suruh dia datang langsung padaku, oke?" tutur Robert membuat wajah Michel yang putih kini bersemu merah.


"Papa apaan sih, Michel kan masih 19 tahun," kilah Michel malu-malu.


"Zaman sekarang, umur bukan lagi penghalang bagi seseorang untuk jatuh cinta Michel. Papa saja jatuh cinta sama mama waktu masih SMP loh," ujar Robert yang kemudian mendapat cubitan di pinggangnya oleh Nola.


"Iya sih Pa, tapi Michel rasa kalau Michel belum siap." tutur Michel membuat Robert dan Nola tersenyum Simpul.


Nola dan Robert kini melambaikan tangan membalas lambaian tangan Michel di mobil yang sudah mulai menjauh.

__ADS_1


Michel tak pernah tidur selama di mobil, ia sibuk memikirkan rencana demi rencana yang akan ia lakukan selama di kota nanti.


Kurang lebih 10 jam perjalanan dari Desa ke Kota. Kini Michel tiba di rumah yang sudah ia kontrak satu hari sebelum ia tiba.


Tubuh Michel terasa sangat lelah, dengan langkah berat Michel melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut. Tubuhnya benar-benar terasa remuk, malam ini ia akan tidur dengan nyenyak agar besok ia bisa memulai rencananya.


Pukul 07.00


Michel sudah berangkat ke perusahaan tempat ia di interview hari ini. Sebelumnya, Michel telah mengirimkan lamaran kerja secara online, dan ia di nyatakan lulus.


Jarak rumah kontrakan Michel dan perusahaan tempat ia melamar pekerjaan sangat dekat, sehingga hanya dengan berjalan kaki, ia bisa sampai ke tempat tujuannya.


Dan disinilah Michel sekarang, ia berdiri tepat di depan sebuah perusahaan dengan tulisan besar yang terpampang dengan jelas, 'DA Group'.


Dengan semangat 45, Michel melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan. Baru masuk melewati pintu, Michel sudah mendapat tatapan ejekan bahkan tatapan meremehkan dari orang-orang. Michel memang masih mempertahankan kacamata tebalnya, namun kali ini rambutnya ia kuncir dan bukan lagi kepang dua.


Saat memasuki ruangan, ia melihat banyak orang yang akan interview menunggu di ruangan tersebut. Michel mengarahkan pandangannya mencari tempat duduk, dan pandangannya tertuju pada sebuah kursi dipojok ruangan.


Michel yang hendak duduk tiba-tiba dihentikan oleh seorang gadis yang tiba-tiba menarik kursi itu.


"Ini kursiku," katanya ketus lalu pergi meninggalkan Michel sambil tertawa mengejek bersama temannya.


"Hufth." Michel menghembuskan nafas kasar. "Ku pikir hanya anak-anak saja yang suka merundung, ternyata orang dewasa yang jelas sudah tahu baik dan buruk juga melakukannya," batin Michel.


Michel menunggu sambil berdiri menyenderkan tubuhnya di dinding, sesekali ia memainkan ponselnyanya. Tiba-tiba datang seorang wanita menghampiri Michel.


"Hai, siapa namamu?" tanya wanita itu ketus.

__ADS_1


"Michel," jawabnya singkat.


"Oh iya, kenalkan, aku Rena. Berapa umurmu? ku lihat kamu masih sangat muda," tukas Rena.


"Umurku 19 tahun." Rena tersenyum meremehkan mengetahui umur Michel. Ia mengira Michel hanyalah tamatan SMA yang ingin bekerja.


"Asal kamu tahu yah, semua orang yang ada disini itu sudah sarjana, bahkan ada yang sudah mengambil magisternya," papar Rena dengan angkuhnya.


Michel mengernyitkan alisnya, ia mulai memahami maksud dan arah pembicaraan Rena. Dengan senyum tipisnya ia mulai ikut masuk dalam permainan Rena.


"Oh yah?" Michel memperlihatkan wajah pesimisnya.


"Tentu saja, apalagi aku, aku ini lulusan terbaik di Universitas terbaik di kota ini. Jika kamu ingin bersaing denganku, maaf saja, lebih baik kamu mundur sekarang." Rena semakin memperlihatkan keangkuhannya yang sejak tadi memandang remeh Michel.


"Bagus sekali riwayat pendidikanmu, tapi sayangnya aku tidak akan mundur, jika kamu takut bersaing denganku, lebih baik kamu saja yang mundur," tegas Michel membuat Rena naik pitam.


"Eh berani sekali yah tamatan SMA sepertimu berbicara begitu padaku." Rena meninggikan suara dan menarik kerah baju Michel.


Seketika mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang diruangan itu.


"Lepaskan kerah bajuku." Michel menepis kasar tangan Rena.


"Nomor 105, Michel, silahkan masuk." Mendengar panggilan untuk dirinya, Michel langsung merapikan membali bajunya lalu bersiap untuk masuk. Tapi ia berhenti sejenak di samping Rena.


"Membanggakan diri sendiri itu baik, tapi jangan di depan orang lain, kenapa? karena jika orang lain itu ternyata lebih hebat, maka kamu sendiri yang akan malu," bisik Michel lalu pergi meninggalkan Rena dengan wajah yang memerah karena menahan emosi.


-Bersambung-

__ADS_1


Yuk dukung karya ini, dengan like, koment, gift dan vote. Terima kasih .


__ADS_2