Rahasia Si Gadis Culun

Rahasia Si Gadis Culun
BAB 21 Mencurigai Dia


__ADS_3

Pagi hari di DA Group


Michel duduk menatap layar komputernya yang menyala. Meski matanya tertuju pada komputer, namun pikirannya melayang dan beputar kemana-mana, kadang berputar pada laporannya ke polisi, kadang berputar pada orang tuanya di desa, dan yang bikin ia bimbang, kenapa sampai pikirannya berputar pada Calvin. Pria yang belum lama ini ia kenal, dan pria yang semalam menolongnya.


"Hufht," entah itu hembusan nafas kasarnya yang keberapa, yang jelas hal itu mengusik ketenangan pria yang duduk tepat di sampingnya.


"pssst" panggil Franz dengan kodenya, namun Michel hanya bergeming.


"psssst" panggilnya sekali lagi, namun Michel masih tak memberi respon.


"pssst pssst pssssssssst" panggil Franz yang mulai kesal dan berhasil menyadarkan Michel dari lamunannya.


Michel akhirnya menoleh ke arah Franz dengan malas "apaan?" tanyanya berbisik karena takut ketahuan atasan.


"Mukamu kenapa kusut begitu?"


Michel mengerutkan keningnya, "kusut? entahlah, sepertinya fikiranku sedang traveling kemana-mana," jawabnya asal.


"Ekhem," sindir atasan yang lewat dibelakang mereka.


Michel dan Franz langsung kembali menetap laptop.


"Emm, Michel." Franz ingin bertanya kembali namun terhenti saat Michel memotongnya.


"Fokuslah bekerja Franz, kita sudah kena sindiran tadi," lirih Michel tanpa menoleh ke arah Franz.


"Ck.. iya iya," jawab Franz malas.


Jam makan siang


Michel sedang duduk sendiri di pojok kantin yang kini menjadi tempat favoritnya sambil menikmati makan siangnya. Tiba-tiba Franz datang dihadapannya dan ikut bergabung untuk makan siang.


"Gabung yah," ujar Franz bersemangat.


"Hmm," jawab Michel dengan mulut yang sementara mengunyah.

__ADS_1


"Gimana? informasi apa saja yang kamu temukan?" bisik Franz sambil sesekali melirik kiri dan kanan.


Michel mengerutkan keningnya saat melihat mata Franz yang kesana kemari, "Aduh Franz, bisa nggak sih matamu itu nggak gerak kesana kemari kalau lagi berbisik?"


"Ya ampun Michel, ini namanya waspada agar orang tidak mengetahui pembicaraan kita," ujarnya masih dengan berbisik.


"Ya nggak gitu juga kali Franz, kalau kamu mau berbagi rahasia bicaranya biasa saja, yang penting suaranya dikecilkan. Kalau matamu kesana kemari seperti itu, yang ada orang malah tambah curiga," bisik Michel sambil menunduk pada makanannya.


"Oh gitu yah?" Franz hanya bisa tertawa hambar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hai.. boleh gabung nggak," tanya Rena yang tiba-tiba datang bersama Alena.


Franz mengerutkan keningnya melihat sikap Rena yang tidak biasa itu, sementara Michel hanya melihat mereka sekilas dengan wajah datarnya lalu kembali fokus pada makanannya.


"Michel, aku dengar kemarin kamu nggak ke kantor karena sakit yah? kamu sakit apa?" tanya Rena antusias.


"Tumben peduli, biasanyakan ngebully," sindir Franz menohok hati Alena, namun tidak dengan Rena yang memang bermuka tebal.


"Emang salah yah Franz, kita kan sekantor," cicit Alena.


"Michel, kamu belum menjawab pertanyaanku, kamu sakit apa?" Rena bertanya kembali, ia sama sekali tidak memperdulikan sindiran yang ditujukan Franz kepadanya.


Untuk sesaat Rena tak menjawab, ia masih mencerna perkataan Michel barusan.


Michel tersenyum miring melihat respon Rena. Ia lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Rena dan Alena begitu saja. Sementara Franz ikut pergi mengikuti Michel.


Sejak awal masuk bekerja, hanya Franz yang memperlakukan Michel dengan baik, dan tidak pernah memandang remeh Michel. Hal ini tentu sangat disyukuri Michel, sebab dengan begitu, ia jadi merasa tidak sendirian, serta ada yang membelanya seperti tadi di hadapan Rena.


"Ck.. kurang ajar sekali dia, aku yakin dia kemarin sakit karena aksi preman bayaranku semalam," lirih Rena bermonolog.


"Kamu bilang apa Ren?" tanya Alena yang tidak dapat mendengar jelas apa yang dikatakan Rena.


Rena menoleh ke arah Alena "nggak papa kok Al," dengan senyuman tanpa dosanya.


"Michel, pulang kerja nanti kita nongkrong yuk, ada yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Franz ikut berjalan disamping Michel.

__ADS_1


"Baiklah, kita nongkrongnya di Cafe Rolex, yang dekat dengan kantor kita ini, pukul 7 malam, oke?"


"Oke, siap,"


--


Malam hari di Mansion Darold


"Bagaimana Will, apa kamu sudah mengumpulkan data diri karyawan baru kita?" tanya Darold yang berada di ruang kerjanya.


"Sudah tuan, silahkan anda lihat." William memberikan sebuah map coklat kepada Darold.


Darold membuka amplop terebut, "hanya empat orang Will?"


"Benar tuan, hanya empat orang,"


"Pasti orang ini ahli dalam bidang IT," gumamnya sembari melihat-lihat data diri mereka. Tiba-tiba matanya tertuju pada data diri gadis berkaca mata tebal.


"Hey Will, kenapa perusahaan kita bisa menerima orang seperti ini?"


William terkejut, "apa ada masalah tuan?" ujarnya sembari mendekati meja Darold.


"Tentu saja, lihat! dia dari desa, pendidikannya memang di bidang IT tapi nilai-nilainya sangat di bawah standar." Darold menunjukkan semuanya pada William.


"Saya juga tidak tahu tuan, mungkin saja nilai interviewnya bagus, atau mungkin kinerjanya bagus tuan," kilah William.


"Aku tidak yakin, tapi coba kau tanyakan pada divisi IT bagaimana kinerjanya," seru Darold lalu membuka lembar selanjutnya.


"Baik tuan," sahut William.


"Hmm.. aku mencurigai dia Will, dia terlihat cerdas dan ahli dibidang IT," gumam Darold sembari memperhatikan dan menunjuk dengan tangannya data diri seorang pria tampan yang memang terlihat cerdas.


"Bawa dia besok ke ruanganku dan segera interogasi dia, Will," perintah Darold.


"Baik tuan."

__ADS_1


-Bersambung-


Mohon koreksinya jika ada yang salah dalam penulisan dan pengejaan katanya, author juga masih belajar. Terima kasih


__ADS_2