
Matahari kian meninggi, berada tepat di atas bumi, bersinar sempurna menerangi sanubari, menambah semangat Rachel untuk berjumpa dengan kedua orang tua angkat yang sangat ia cintai. Tepat tengah hari ketika mobil yang di tumpangi Rachel, Edward dan Morgan tiba di depan rumah mewah Robert dan Nola.
"Mama, papa," suara melengking Rachel terdengar begitu jelaa tatkala ia keluar dari mobil dan mendapati kedua orang tuanya itu sedang menunggunya di depan rumah. Ia berlari menghambur memeluk keduanya secara bergantian.
"Mama, papa, Rachel rindu sekali sama kalian," ucapnya dengan sedikit bulir bening lolos dari matanya.
"Kami juga merindukanmu sayang," ucap Robert dan Nola.
"Tuan Edward, Morgan, selamat datang, silahkan masuk," ucap Robert ramah saat melihat dua pria itu keluar dari mobil.
Sementara Nola dan Rachel telah masuk lebih dulu ke dalam rumah saling bertukar cerita seru mereka.
"Sayang, kenapa sikap manjamu ini masih tidak berubah," ujar Nola karena sejak tadi Rachel selalu saja menempelinya bagai prangko.
"Kapan lagi Rachel manja kayak gini, nanti mama rindu loh sama sikap manja Rachel kalau Rachel udah nikah," celoteh Rachel.
"Memangnya kamu udah mau nikah?" tanya Nola serius.
"Belum," jawab Rachel singkat sambil nyengir bodoh.
"Apa kamu mau mama bantu carikan calon suami untukmu?" tanya Nola dan langsung di jawab dengan gelengan kepala oleh Rachel.
"Nggak perlu ma, nanti juga datang sendiri kok kalau udah waktunya, jadi untuk saat ini biarkan Rachel bermanja ria dulu bersama mama," jawab Rachel santai tanpa melepas rangkulan pinggangnya pada Nola, hal itu membuat Nola terkekeh geli.
Setelah puas menempel pada Nola, Rachel akhirnya masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Di rumah Robert dan Nola, mereka memang menyediakan kamar khusus untuk Rachel jika sewaktu-waktu Rachel datang di rumah itu.
"Hah lelahnya," ucap Rachel setelah berhasil mendaratkan tubuhnya di atas kasur empuk di kamarnya.
Dret dret dret,
Rachel mengernyitkan alisnya saat melihat nama kontak yang saat ini meneleponnya.
"Calvin?" gumamnya heran, pasalnya ia merasa tidak pernah memberikan nomor barunya kepada Calvin, sementara Rachel masih menyimpan nomor Calvin sejak dulu di ponselnya sehingga ia tahu bahwa yang meneleponnya kali ini adalah Calvin.
"Halo?" ucapnya setelah menggeser ikon telepon berwarna hijau di layar ponselnya.
"Halo, Rachel kamu dimana?" tanya Calvin di seberang telepon.
"Calvin, darimana kamu mendapat nomorku?" alih-alih menjawab pertanyaan Calvin, Rachel justru bertanya balik kepadanya.
"Apa kamu lupa? Siang itu kamu meminjamkan ponselmu kepadaku untuk menghubungi ponselku yang jatuh di dalam mobil," jawab Calvin.
"Astaga, benar aku lupa," batin Rachel sembari memukul pelan kepalanya.
"Rachel? Kamu belum menjawab pertanyaanku,"
__ADS_1
"Eh iya, aku ada di kotamu, orang tua angkatku akan merayakan anniversary mereka nanti malam,"
"Apa aku boleh datang?"
"Datanglah jika kamu ingin di tendang oleh ayahku dan papaku, oh iya jangan lagi menghubungiku kecuali itu terkait kerja sama kita, aku tidak ingin dekat denganmu selama belum ada lampu hijau dari ayahku," tutur Rachel lalu segera mengakhiri panggilannya secara sepihak.
"Hufth, yang aku lakukan ini sudah benar," monolognya, lalu memejamkan matanya.
Tidak terasa, malam kini telah tiba, acara perayaan anniversary Robert dan Nola hanya dilakukan di halaman rumah mereka yang memang cukup luas, tidak terlalu banyak orang yang datang hanya kerabat dekat saja dan para pegawainya di Edward Group.
Rachel tampak anggun, kulitnya yang putih membuatnya terlihat sangat bersinar dalam balutan gaun hitam yang ia kenakan.
"Morgan, apa kamu melihat ayahku?" tanya Rachel karena sejak tadi ia tidak melihatnya.
"Tadi aku melihatnya masuk ke dalam kamar," jawab Morgan.
"Tapi aku baru saja dari kamar mencarinya dan ayah tidak ada disana, aku sudah kesana-kemari mencarinya tapi tidak ada," ujar Rachel sedikit khawatir.
"Apa nona sudah menghubunginya? Siapa tahu tuan Edward ada urusan sebentar di luar," tukas Morgan.
"Baiklah, aku akan mencoba menghubunginya," ucap Rachel lalu segera mengambil ponselnya dan menghubungi sang ayah.
Tuut.. Tuut.. Tuut
"Halo, ayah dimana?" tanya Rachel.
"Halo Rachel, lama tidak berjumpa," ucap pria itu, membuat raut wajah Rachel seketika berubah serius.
"Siapa ini? Dimana ayahku?" tanya Rachel dengan alis yang hampir bertautan.
"Tenanglah, ayahmu bersamaku, datanglah kemari, katanya ia ingin berbicara denganmu," jawab pria itu santai.
"Siapa kau?" suara Rachel mulai meninggi.
"Sudah ku katakan, datanglah kemari, kamu juga akan mengetahui siapa aku, ikuti alamat yang sudah ku kirimkan padamu," ujar pria itu lalu mengakhiri teleponnya secara sepihak.
"Ayah, oh tidak," guman Rachel lalu berlari mencari Robert, Nola dan Morgan.
"Rachel, ada apa?" tanya Nola yang heran melihat Rachel datang dengan tergesa-gesa.
"Ayah, ayah di bawa oleh seseorang, barusan orang itu berbicara padaku menggunakan ponsel ayah," ucap Rachel sedikit cemas.
"Apa? Dimana ayahmu sekarang? Ayo kita kesana?" seru Robert langsung mengambil kunci mobilnya,
"Aku ikut," ucap Nola dan Morgan bersamaan.
__ADS_1
Mereka pun pergi berempat, tidak ada lagi Red Sword, Edward telah membubarkannya sebelum ia pindah ke Amerika bersama Rachel.
Mereka menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, hingga mereka tiba di sebuah jalan sepi yang tidak jauh dari villa tempat Edward berada.
"Papa, mama, Morgan, biarkan Rachel yang keluar lebih dulu, kita bisa memakai ini agar bisa selalu terhubung," ucap Rachel lalu memberikan sebuah earpiece kepada masing-masing orang.
"Kita turun bersama Rachel, itu berbahaya," ucap Robert.
"Tidak pa, orang ini menyuruhku datang, artinya dia memiliki urusan yang harus ia selesaikan bersamaku terlebih dahulu," ujarnya lalu keluar.
"Hati-hatilah Rachel, ingat kami ada disini," ucap Nola dan diangguki oleh Rachel.
Rachel kini berjalan masuk dengan hati-hati, sebelum berangkat tadi, ia telah mengganti gaunnya dengan pakaian serba hitam yang membuatnya lebih leluasa bergerak.
Kini ia telah tiba di sebuah ruangan luas di dalam villa yang hanya disinari dengan lampu kecil yang temaram. Dari kejauahan Rachel bisa melihat ada dua orang yang sedang duduk di kursi, yang satu sedang pingsan dengan tubuh terikat dan yang satu sedang merokok.
"Lihatlah tuan Edward, putri kesayanganmu telah datang," ucap pria itu, membuat Edward memaksa mengangkat wajahnya.
"Ayah," lirih Rachel yang mulai mendekat ke arah dua pria itu.
"Halo, Rachel, lama tidak berjumpa," ucap pria itu.
"Franz? Bagaimana bisa?" lirih Rachel lagi dengan penuh tanda tanya.
"Kemarilah, aku ingin berbicara denganmu,"
"Aku tidak ingin basa-basi Franz, katakan apa maumu kali ini?" tanya Rachel sedikit emosi.
"Mauku? hanya ingin bersenang-senang," ucap Franz lalu menggerakkan tangannya seolah sedang memberikan kode kepada seseorang.
Tak lama setelah itu, dua orang pria muncul di belakang Rachel, mereka hendak menangkapnya, namun Rachel segera menghindar. Kadua pria itu langsung menyerang Rachel, namun Rachel mampu menangkis serangan mereka bahkan saat ada kesempatan, ia juga melayangkan tendangannya kepada pria itu hingga menyebabkan kedua pria itu terjatuh.
Saat pria yang satunya kembali bangkit dan berdiri, Rachel dengan cepat berlari ke arahnya, memanjat tubuhnya lalu mengapitkan kedua tungkainya di leher pria itu lalu memutar dan membantingnya ke lantai menggunakan teknik guntingan leher.
Pria yang satu lagi kini bangkit dan hendak melawan namun dengan cepat, Rachel memberikan tendangan putaran ke arah pria itu hingga tubuh pria itu berputar sebentar sebelum tersungkur ke lantai.
"Lumayan juga kemampuanmu Rachel," puji Franz saat melihat Rachel mampu mengalahkan dua anak buahnya dengan sangat mudah. Franz kemudian bertepuk tangan, seperti memberikan kode kembali.
Tak lama setelah itu, sekitar 10 orang kini datang menghampirinya. Mereka kini mengepung Rachel yang hanya seorang diri, semuanya memakai senjata tumpul.
"Tenang Rachel, kami ada bersamamu," ujar Robert yang kini datang bersama Nola dan Morgan.
"Aku juga bersamamu," ucap seseorang, membuat semua orang termasuk Edward menoleh ke arah sumber suara.
-Bersambung-
__ADS_1