
Edward masih tertegun usai mendengar pengakuan Rachel. Bagaimana bisa ia mencintai pria yang ayahnya pernah membu**h ibunya? Begitu pikirnya.
"Sejak kapan?" setelah berperang melawan gejolak hati yang seakan tidak bisa menerima, akhirnya satu pertanyaan itu berhasil terlontar dari mulut Edward.
Rachel menoleh ke arah ayahnya yang tiba-tiba kembali bertanya.
"Se-sejak Rachel belum mengetahui siapa orang tua Calvin, Calvin berbeda ayah, dia baik, bahkan ajakan Darold untuk bergabung bersama klan Black Wolf selalu ia tolak," tutur Rachel.
"Darimana kamu tahu?" tanya Edward cepat.
"Dari Damon, saat kami berdua sedang menghalangi Damon yang ingin melarikan diri waktu itu," jelas Rachel.
Edward kembali diam, ia bahkan beranjak pergi tanpa berkata apapun meninggalkan Rachel yang menatapnya menjauh dengan tatapan sendu.
Kini Rachel beralih menatap Morgan yang masih berdiri bagai patung dengan setia tanpa ekspresi, namun dari sudut matanya tampak sedang berusaha menguatkan diri sendiri.
"Maafkan aku Morgan," batin Rachel lalu kembali melihat pintu dengan tulisan 'ruang operasi'.
Beberapa jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka, dokter yang menangani Calvin kini keluar dari ruangan itu.
"Dokter, bagaimana kondisinya?" tanya Rachel.
"Operasinya berjalan lancar, syukurlah karena peluru yang melukai organ perutnya dapat di angkat tanpa menimbulkan masalah apapun. Sekarang kita tinggal tunggu dia sadar saja," jawab dokter itu.
Rachel seketika merasa lega, beban yang sejak tadi berada di pikirannya terasa berkurang. Kini Calvin di bawa ke ruang perawatan. Oleh Rachel, Calvin di tempatkan di sebuah kamar VIP agar ia dapat menjaga Calvin dengan leluasa.
Tak lama setelah itu, Rossa datang dengan raut wajah panik setelah Rachel menghubunginya dan mengatakan keadaan Calvin saat ini.
"Calvin," panggil Rossa yang baru masuk dan langsung berlari ke arah putranya yang masih terbaring lemas.
"Apa yang terjadi pada Calvin? Bagaimana keadaannya?" tanya Rossa kepada Rachel yang saat ini berada di ruangan itu sendiri, sementara Morgan sejak tadi telah pergi mengantar Edward untuk pulang.
"Maaf nyonya, ini semua terjadi karena Calvin ingin melindungiku, tapi kata dokter, Calvin sekarang baik-baik saja," jawab Rachel.
Rossa terdiam, "Syukurlah kamu sudah baik-baik saja sekarang," ucap Rossa sambil mengelus rambut Calvin dengan lembut, "terima kasih telah membawa Calvin ke rumah sakit," lanjutnya berbalik ke arah Rachel.
"Tidak masalah nyonya, justru saya yang harus berterima kasih," jawab Rachel. "karena anda sudah disini, sebaiknya saya pamit dulu," ucap Rachel lalu berbalik hendak pergi.
"Tunggu!" seru Rossa, membuat Rachel seketika menghentikan langkahnya lalu kembali berbalik ke arah Rossa.
"Kamu yang bernama Rachel kan?" tanya Rossa sambil berjalan mendekati Rachel.
__ADS_1
"Iya, nyonya," jawab Rachel sambil menunduk.
"Apakah kamu sudah menikah?" tanya Rossa membuat Rachel menggeleng lemah.
"Belum nyonya," jawab Rachel.
"Apakah kamu memiliki kekasih?" Rachel mengernyitkan alisnya saat mendapat pertanyaan seperti yang Calvin pernah tanyakan kepadanya.
"Belum nyonya," jawab Rachel, seketika senyuman terbit di wajah Rossa.
"Syukurlah, berarti kamu harus tetap disini dan jangan kemana-mana," ujar Rossa lalu menarik tangan Rachel duduk di sofa bersamanya. Rachel yang terkejut hanya bisa pasrah saat di tarik oleh Rossa.
Cukup lama mereka saling diam, pandangan Rossa sejak tadi hanya tertuju pada Calvin, sementara Rachel hanya menunduk dengan pikirannya sendiri.
"Apakah kamu mencintai Calvin?" tanya Rossa tiba-tiba, membuat Rachel seketika mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Rossa tanpa menjawab.
Sementara Rossa yang masih memandangi Calvin ikut menoleh ke arah Rachel yang sedang menatapnya.
"Calvin telah menceritakan semuanya kepadaku, jika memang kalian ditakdirkan bersama, percayalah, tembok yang menghalangi cinta kalian pasti akan hilang dengan sendirinya, tidak peduli sebesar apapun tembok itu," tukas Rossa lalu kembali memandangi Calvin.
"Khusus dari aku dan Darold, kami telah merestui hubungan kalian, tapi semuanya kembali kepadamu dan ayahmu, Calvin hanya berusaha tapi dia tidak akan memaksa," lanjut Rossa tanpa mengalihkan pandangannya dari Calvin.
--
"Apa yang harus ku lakukan," gumamnya sembari megusap kasar wajahnya.
Tak terasa, pagi mulai menjemput. Edward beranjak dari tempat tidurnya, ia bahkan belum tidur sama sekali. Dengan langkah gontai, ia berjalan ke taman belakang rumah yang terdapat kolam ikan. Berharap pikirannya bisa lebih tenang.
"Anda kenapa tuan? Apa ada yang sedang mengganggu pikiran anda?" tanya Robert yang datang menghapiri Edward.
"Robert, aku ingin bertanya sesuatu, selama Rachel berada dalam penjagaanmu, apakah Rachel pernah menyukai seseorang?" tanya Edward.
"Tidak tuan, Rachel tidak pernah sekalipun terlihat menyukai seseorang selama berada di desa, bahkan sebelum ia berangkat ke kota untuk bekerja," jawab Robert.
"Lalu, setelah dia ke kota, apakah dia pernah mengatakan bahwa dia menyukai seseorang atau bahkan memiliki kekasih?" tanya Edward lagi.
"Tidak tuan, Rachel adalah gadis yang memegang teguh prinsipnya, ia tidak ingin menjalin hubungan apapun selain pernikahan, bahkan ia sangat tidak suka jika ada pria lain yang menyentuhnya," terang Robert.
Edward menghembuskan nafasnya kasar, "berarti Calvin adalah pria lain yang pertama kali ia cintai selama hidupnya," gumam Edward.
"Apa maksud anda tuan?" tanya Robert.
__ADS_1
Edward kembali menghembuskan nafasnya, ia lalu menceritakan tentang Calvin yang datang untuk minta maaf kepadanya hingga pengakuan Rachel malam itu mengenai perasaannya yang selama ini ia tahan karena persoalan kedua orang tuanya di masa lalu.
"Jika menurut pendapat saya, silahkan ikuti kata hati anda tuan, kadang jika kita mengikuti akal pikiran, kita masih mendapatkan keraguan karena keegoisan kita yang masih sangat besar, tapi jika kita mengikuti kata hati, maka ketulusan yang akan kita dapat," tutur Robert.
Edward lagi-lagi terdiam, ia merenungi apa yang sebenarnya diinginkan hatinya saat ini.
Cukup lama ia berpikir sambil memandangi ikan-ikan yang bergerak bebas di dalam air.
"Robert, kita ke rumah sakit sekarang," ujar Edward kemudian.
--
Di rumah sakit.
Calvin perlahan membuka matanya, beberapa kali ia mengedipkan mata untuk menyeimbangkan cahaya yang masuk ke retina matanya. Ia melihat seluruh sudut ruangan itu hingga membuatnya sadar bahwa saat ini ia berada di rumah sakit.
Calvin kemudian menoleh ke samping dan sedikit terkejut saat mendapati seorang wanita berambut cokelat panjang sedang tertidur di sampingnya dengan posisi duduk dan kepala berada di atas tempat tidur Calvin berbantalkan kedua lengannya.
Senyuman bahagia seketika terlukis di wajahnya, ia mencoba mengangkat tangannya kemudian mengusap rambut cokelat itu dengan lembut, hal itu menyebabkan Rachel terganggu dan langsung bangkit sambil mengucek matanya.
"Calvin, kamu sudah sadar?" ucapnya setelah melihat Calvin yang kini sedang menatapnya.
Calvin mengagguk pelan sambil tersenyum, "apakah kamu menjagaku semalaman disini?"
Rachel tidak menjawab, jantungnya yang berdegup kencang saat ini membuat lidahnya terasa kelu.
"A-aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu," ucap Rachel yang sedikit salah tingkah, hendak pergi keluar.
"Tunggu," ucap Calvin membuat langkah Rachel terhenti dan berbalik ke arah Calvin.
"Aku sudah lebih baik, kemarilah," ujar Calvin sambil menggerakkan tangannya agar Rachel kembali mendekat.
"Ada apa? Apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Rachel sambil mendekat.
"Aku tidak membutuhkan apapun, aku hanya ingin kamu menemaniku disini," jawab Calvin membuat wajah putih Rachel seketika memerah bak kepiting rebus.
Calvin yang melihat ekspresi Rachel semakin melebarkan senyumnya, "kenapa kamu kaku seperti itu, senyumlah sedikit, Rachel," ucap Calvin.
"Bagaimana aku bisa tersenyum saat kamu terluka gara-gara aku," entah kenapa, kata-kata itu berhasil lolos dari mulut Rachel dengan cepat, hingga membuatnya langsung menunduk karena merasa malu.
"Siapa bilang ini karena kamu? Aku melakukannya karena dorongan dari diriku sendiri, bahkan aku bahagia karena bisa melindungimu," jawab Calvin, membuat Rachel menatap Calvin seolah ingin mencari kebenaran di dalam sorot matanya.
__ADS_1
-Bersambung-