
Tiga tahun kemudian
Seorang gadis cantik berjalan dengan begitu anggun masuk ke dalam perusahaan yang bergerak dibidang IT Solution bernama Vera Solution. Perusahaan yang berlokasi di Amerika Serikat ini baru berusia 2 tahun sejak di dirikan.
Tap tap tap
Suara sepatu heels yang ia gunakan terdengar begitu khas. Ia berjalan masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan Chief Executive Officer (CEO).
"Selamat pagi nona Rachel," sapa pria tampan dengan rambut gondrong bersama seorang wanita cantik.
"Selamat pagi Morgan, Lucy, apa jadwal kita hari ini, Lucy?" tanya wanita berusia 22 tahun yang bernama Rachelia Edward, kepada sekretarisnya bernama Lucy.
Semenjak misinya berhasil tiga tahun lalu, kini Rachel dan Edward memutuskan untuk pindah ke Amerika Serikat untuk memulai hidup baru sekaligus membangun bisnis baru. Meskipun awalnya sulit dan banyak tantangannya, akhirnya perusahaan yang menggunakan nama ibunya itu kini berhasil menjadi salah satu perusahaan IT solution yang produknya selalu diminati oleh banyak perusahaan lain.
Sementara Edward Group kini melepaskan diri dari akuisisi yang pernah dilakukan secara ilegal oleh Darold selaku CEO DA Group saat itu. Dan kini perusahaan yang bergerak dibidang properti itu berada di bawah tanggung jawab Robert, selaku COO (Chief Operating Officer). Meskipun Rachel masih menjabat sebagai CEO di Edward Group, namun ia hanya sesekali saja turun langsung kesana, hanya pada saat kondisi penting yang berkaitan dengan perusahaan, seperti jika ada pertemuan dengan pemerintah yang tidak dapat diwakilkan.
"Hari ini kita ada pertemuan dengan delegasi dari perusahaan Brilliant pukul 09.00 dan ada meeting setelah jam makan siang membahas tentang aplikasi digital baru yang akan kita luncurkan," papar Lucy.
"Baiklah, terima kasih Lucy," jawab Rachel.
"Oh iya nona, malam ini, tuan ingin makan malam bersama nona di restoran Emerald," tambah Morgan.
"Ouh, baiklah, berarti agendaku hari ini hanya itu saja kan?" tanya Rachel, Lucy dan Morgan mengangguk kompak.
Rachel pun mulai melakukan agendanya satu per satu dengan begitu lancar, hingga tak terasa malam pun menjemput.
"Nona, tuan sudah menunggu di restoran." Morgan mengingatkan Rachel yang masih sibuk membereskan meja kerjanya.
"Baiklah, ayo," jawab Rachel sembari berjalan dengan semangat mendahului Morgan.
Morgan saat ini adalah asisten pribadi Rachel, sehingga kemanapun Rachel pergi maka ia akan ikut, kecuali jika itu menyangkut hal yang sangat pribadi atau Rachel sendiri yang memintanya untuk tidak perlu ikut.
__ADS_1
"Kita sudah sampai nona," ujar Morgan setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna di halaman parkir restoran mewah itu.
"Ikutlah makan malam bersama kami Morgan, kamu pasti belum makan malam bukan?" ajak Rachel.
"Saya sudah makan malam tadi nona, lagipula ada hal pribadi yang ingin dibicarakan tuan dengan nona secara 4 mata," tolak Morgan secara halus.
"Baiklah aku mengerti." Rachel kemudian keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran mencari ruang VIP tempat ayahnya saat ini menunggunya.
Tok tok tok
"Ayah.." ucap Rachel sembari membuka pintu ruangan itu.
"Rachel, akhirnya kamu datang juga, duduklah sayang, ayah sudah lapar," ajak Edward.
"Waah.. Banyak sekali makanannya, dan semuanya makanan kesukaan Rachel," seru Rachel sangat antusias melihat makanan kesukaannya yang berjejer rapi di atas meja.
"Tentu saja sayang, ayah telah menyiapkan semua ini khusus untuk mu," ujar Edward tersenyum bahagia melihat putri kesayangannya itu. "Oh iya, ini untukmu, spesial dari ayah, Happy Birthday my little girl," lanjut Edward sembari menyodorkan sebuah kotak kado kecil ke arah Rachel.
"Waah.. Terima kasih banyak ayah." Mata Rachel berkaca-kaca mendapat hadiah dan ucapan selamat dari Edward. "Oh iya, Rachel bukan lagi gadis kecil, kenapa ayah selalu memanggilku little girl?" tanya Rachel.
Mendengar perkataan Edward, air mata Rachel yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya seketika tumpah ke pipinya yang putih kemerahan. Tanpa berbicara, Rachel langsung menghambur memeluk Edward dan menangis haru dipelukannya.
Setelah beberapa menit mereka menghabiskan waktunya saling menumpahkan kasih sayang antara ayah dan anak, mereka pun mulai menikmati makanannya.
"Oh iya Rachel, usia kamu saat ini sudah 22 tahun, apakah kamu masih belum tertarik menikah atau bahkan sekedar memiliki kekasih?" tanya Edward, ia heran dengan putrinya yang selama ini tidak pernah dekat dengan pria manapun kecuali Morgan, itupun hanya sebatas urusan kerja. Meskipun sebenarnya sudah banyak pria yang ingin menjadikan Rachel kekasihnya, tapi Rachel selalu menolak.
"Ayah, dulu kan Rachel sudah bilang kalau Rachel tidak ingin memiliki hubungan selain hubungan pernikahan. Tapi untuk saat ini Rachel belum memikirkan ke arah pernikahan karena dari sekian banyak pria yang datang, Rachel belum menemukan yang memang serius ingin menikah," jawab Rachel.
"Jika kamu belum menemukan pria yang serius ingin menikah, bagaimana kalau ayah menawarkan seseorang kepadamu, ayah yakin orang ini serius dan siap untuk menikahimu?" tanya Edward dengan mimik wajah serius.
Rachel yang masih asik menikmati makanan favoritnya tiba-tiba menghentikan makannya. "Siapa ayah?" tanya Rachel.
__ADS_1
"Dia pria yang baik, dan setia, dia selalu berada di sekitarmu selama ini," ujar Edward sambil menaik-turunkan alisnya.
Rachel mengernyitkan alisnya, "selalu berada di sekitarku? Siapa ayah?" tanya Rachel lalu meminum segelas air.
"Siapa lagi, Morgan," jawab Edward santai membuat Rachel seketika batuk karena tersedak air dengan mata yang membola sempurna.
"Apa? Morgan?" ulang Rachel masih dengan ekspresi yang sama.
"Iya, memangnya kenapa? Bukan kah dia tampan, usianya juga sudah 32 tahun, usia yang sangat matang untuk menikah bukan?"
"Tapi ayah, Morgan itu sudah Rachel anggap seperti kakak sendiri."
"Apa kamu tidak memiliki perasaan kepadanya setelah sekian lama kamu selalu bersama dengannya?"
"Tidak ayah, Rachel tahu bagaimana rasanya saat berada di dekat orang yang Rachel cintai, jantung Rachel akan berdebar hebat, dan itu tidak pernah Rachel rasakan saat berada di dekat Morgan."
Edward menghembuskan nafasnya, jujur saja ia sangat menyukai jika Rachel menikah dengan Morgan, namun ia sadar bahwa yang akan menjalani pernikahan ini adalah Rachel sehingga Rachel lebih berhak memutuskannya.
"Tunggu dulu, tadi kamu mengatakan bahwa kamu mengatahui bagaimana rasanya saat kamu mencintai seseorang, apa kamu pernah mencintai seseorang sebelumnya sayang?" tanya Edward kemudian, membuat Rachel tiba-tiba terhenyak, ia tidak menyangka bahwa jawaban yang ia berikan kepada ayahnya akan menjadi boomerang baginya.
"Eh itu.. Anu.. Anu.." Rachel tergagap seperti tidak tahu harus berbicara bagaimana saat ini.
"Anu.. Anu.. Apa? jujurlah pada ayah," desak Edward yang mulai penasaran.
"Iya ayah, dulu Rachel pernah jatuh cinta pada seseorang," jawab Rachel yang kini berubah lesu.
"Siapa orang itu sayang? Apakah kamu masih mencintainya saat ini?" tanya Edward lagi.
Pertanyaan terakhir Edward berhasil membuat Rachel tergugu, lidahnya seketika kelu tak mampu menjawab. Rachel sendiri tidak tahu bagaimana keadaan hatinya saat ini. Dulu ia pikir saat pindah ke Amerika, perlahan ia bisa melupakan cinta pertamanya itu, namun saat di tanya mengenai perasaannya saat ini, ia masih tidak mampu menjawabnya.
-Bersambung-
__ADS_1
Note: Chief Operating Officer atau COO merupakan pimpinan yang memiliki tanggung jawab dalam pembuatan keputusan operasional perusahaan. COO ini sering juga disebut sebagai orang kedua setelah CEO, sebab COO bertanggung jawab dalam melakukan pengembangan produk, melakukan riset, hingga marketing dan dipilih sebagai pelengkap dari seorang CEO. Hal itu karena keduanya memiliki tugas yang sama-sama besar dan berkaitan.
Untuk penjelasan mengenai akuisisi, author sudah jelaskan di Bab 4 yah. 😃